Heaven Peak

Heaven Peak
Chapter 13 : Master! Aku Minta Maaf



Melihat Ye Chen menyuling pil seperti seorang amatir, para Alkemis magang dan juga penjaga gudang herbal merasa darah mereka mendidih karena amarah.


"Sialan, apakah dia tidak tahu dasar-dasar seorang Alkemis!" Penjaga gudang itu merasa kesal dan melontarkan cibiran pada Ye Chen.


Bagi seorang Alkemis, mencampur semua herbal secara langsung adalah sebuah tindakan yang bodoh. Karena setiap herbal memiliki sifat yang berbeda, mencampurkannya secara langsung hanya akan menyebabkan ketidakstabilan dan membuat tungku meledak.


Meskipun hal itu tidak salah, tetapi bagi Ye Chen yang telah menguasai Alkimia pada tingkat yang jauh lebih tinggi. Hal sepele seperti itu bukanlah suatu masalah baginya.


Ye Chen hanya perlu membuat beberapa pengaturan dengan memurnikan herbal tertentu terlebih dulu di dalam tungku kemudian bergantian memurnikan herbal yang lain.


Proses itu terus berlanjut selama setengah jam di bawah tatapan semua orang. Mereka semua memiliki ekspresi terkejut dan juga rasa penasaran pada saat yang bersamaan.


"I-Ini, metode apa yang dilakukan. Tidak mungkin tungkunya tidak meledak. Umumnya jika seorang Alkemis secara langsung mencampur semua bahannya, tungku akan meledak seketika. Tetapi tuan muda..."


Hinaan di wajah mereka menghilang sepenuhnya dan digantikan dengan rasa kagum pada sosok Ye Chen.


Mereka menunggu dengan sabar hingga akhirnya setelah setengah jam kembali berlalu, tungku pil itu tiba-tiba meledak.


"Apakah berhasil?" Mata Ye Tian melebar, dia penasaran dengan hasilnya.


Ye Chen menghela nafas, raut wajahnya menunjukkan bahwa dia kecewa dengan hasilnya.


"Tidak apa-apa Chen'er. Semua orang tidak mungkin berhasil pada percobaan pertama." Melihat raut wajah putranya, Ye Tian menepuk bahunya dan memberinya semangat.


"Tidak apa-apa ayah." Ye Chen tersenyum, dia kemudian membuka tutup tungku dan melanjutkan ucapannya. "Meskipun kualitas pil ini tidak sesuai ekspesktasiku, tetapi ini tetap sebuah pil kualitas sempurna."


Ketika tutup tungku terbuka sepenuhnya, energi spiritual yang sangat murni menyebar keluar dan memenuhi seluruh ruangan.


Alkemis magang dan juga penjaga gudang membeku ketika merasakan energi spiritual yang begitu murni ketika menarik nafas.


"K-Kualitas sempurna!!"


Mereka membuka mata lebar-lebar ketika meihat sebuah pil berwarna biru cerah di tangan Ye Chen. Mereka semua mengenalinya hanya dalam sekali pandang, itu adalah pil Refining.


Bedanya, energi yang keluar dari pil itu jauh lebih murni, bahkan Alkemis magang dapat mengatakan bahwa efek pil itu setara dengan pil bintang dua.


"Aku akan mengambil tiga butir pil untuk diriku, kalian bisa mengambil sisanya." Ucap Ye Chen.


Di dalam tungku Alkimia, masih terdapat puluhan pil Refining. Meskipun kualitasnya tidak sebagus yang diambil Ye Chen, tetapi itu jauh lebih baik puluhan kali lipat dari yang mereka buat.


"Kualitas ini, bahkan Han Jian yang merupakan seorang Alkemis tingkat Hitam tidak bisa membuatnya. Darimana putraku mempelajari keterampilan ini, padahal beberapa saat yang laluu.."


Ye Tian menggelengkan kepalanya, dia meletakkan kembali pil itu kedalam tungku lalu bergumam. "Tidak peduli darimana putraku mempelajarinya, dia tetaplah Chen'er."


"Anu patriak, bisakah kamu memberikan pil itu kepada kami? Dengan menganalisa pil yang dibuat oleh tuan muda mungkin akan membantu kemacetan kami dalam Alkimia." Penjaga gerbang berkata dengan sopan.


Sikapnya berubah 180 derajat, awalanya dia tidak menghormati Ye Chen karena sikap sombongnya. Tetapi setelah melihat keterampilan Ye Chen dengan mata kepalanya sendiri, pandangannya terhadap Ye Chen telah berubah sepenuhnya.


"Hmm, aku tidak masalah, jika kalian bisa meningkatkan keterampilan Alkimia kalian itu akan sangat membantu Klan Ye."


"Terimakasih! Terimakasih Patriak.." Penjaga gudang membungkukkan badannya, Alkemis magang yang berdiri di belakangnya juga melakukan hal yang sama.


"Aku tidak pantas menerima itu, kurasa orang yang lebih pantas menerimanya adalah putraku."


"Ah, anda benar Patriak, tolong maafkan kami."


Ye Tian mengangguk sambil melambaikan tangannya dan berjalan keluar dari Ye Alkimia. Ketika dia berada di luar Ye Alkimia, matahari sudah tenggelam di arah barat dan langit mulai menghitam.


Dia menatap ke langit yang sudah menghitam sepenuhnya, "Kamu lihat itu Yue'er ... Putra kita telah berubah, aku harap kamu ada disini bersamaku untuk melihat masa depan Chen'er nanti.."


***


Dalam perjalanan kembali ke kediamannya, Ye Chen berhenti setelah mencium bau yang tidak begitu asing pada salah satu bangunan sederhana yang berada di tengah hutan.


Karena rumahnya dan Ye Alkima terpisah oleh hutan, dia memerlukan setidaknya sepuluh menit berlari untuk sampai di rumah. Tetapi saat ini, aroma yang tidak begitu asing tiba-tiba saja menarik perhatiannya.


"Haruskah aku melihatnya?" Batin Ye Chen.


Tok! Tok! Tok!


Detik berikutnya, pintu kayu itu perlahan terbuka. Seorang wanita berusia 30 tahun-an menatap Ye Chen dengan ekspresi datar. Penampilannya acak-acakan, bahkan terlihat kantung mata yang cukup hitam di bawah matanya.


Meski penampilannya terlihat acak-acakan, wanita itu sendiri terlihat cukup cantik. Kulitnya halus seolah dia telah merawatnya dengan baik, rambut hitamnya terurai panjang meski dia tidak menyisirnya sama sekali.


"Ada apa!"


Pertanyaan wanita itu seketika membuat Ye Chen kembali ke akal sehatnya, "Ahh, aku minta maaf jika kedatanganku mengganggumu. Aku hanya kebetulan lewat karena mencium bau yang tidak begitu asing."


Wanita itu tidak menjawab, bahkan ekspresinya sama sekali tidak berubah. Dia membuka mulutnya kemudian berkata, "Hmph, mengganggu sekali! Kembalilah aku tidak memiliki waktu untuk membicarakan omong kosong denganmu."


Ye Chen mengerutkan keningnya, dia hanya kebetulan lewat karena mencium aroma yang tidak asing. Tapi wanita aneh itu mengatakan hal yang tidak masuk akal.


"H-Hei, bukankah aku sudah meminta maaf. Mengapa kau bersikap begitu dingin seperti itu?"


"Lalu aku harus bersikap seperti apa? Pergilah! jangan menganggu waktuku yang berharga bocah."


Ketika wanita itu hendak menutup pintu rumahnya, Ye Chen seketika menerobos masuk sebelum wanita itu bereaksi.


"Apa!! dasar kau bocah sialan!."


Wanita itu menjadi marah, tetapi sebaliknya. Ye Chen terdiam setelah melihat hal yang sangat menarik di dalam rumah wanita itu.


"Ohoo!! Jadi aroma yang tidak asing berasal dari batu jiwa ini, sungguh menarik. Melihat dari pola yang kau ukir di lantai rumahmu, apakah kau berencana membuat array bintang 2, array ilusi hati?"


Deg-


Jantung wanita itu berhenti berdetak, kemarahannya menghilang dalam sekejap. Dia menatap pria muda yang berusia 17 tahun itu dengan ekspresi rumit, "Darimana kau tahu?"


Ye Chen tersenyum, "Mudah saja, hanya dengan melihat ukiran jni dan juga jumlah batu jiwa yang kau kumpulkan, kau pasti berniat membuat array ilusi hati. Sayangnya.." Ye Chen berhenti berkata, dia melirik wanita itu dan menghela nafas.


"Ada apa?" Tanya wanita itu karena penasaran.


Ye Chen memasang senyum jelek sambil berkata, "Kenapa aku harus menjawabmu, bukankah berbicara denganku hanya membuang-buang waktu?"


Kerutan terlihat di kening wanita itu, dia menatap Ye Chen dengan lirikan tajamnya. "Apa, cepat beritahu aku apa itu sialan."


Ye Chen mengerutkan alisnya, "Apakah begitu caramu memohon? Kau harusnya melakukannya lebih baik lagi.."


"Apa!! kenapa juga aku harus melakukan itu."


"Begitukah? Kalau begitu aku akan pergi." Ye Chen berjalan keluar tanpa mengatakan apapun lagi.


Melihat pria muda itu berniat pergi, wanita itu tersentak. Dia kemudian menggenggam lengan Ye Chen untuk menghentikannya pergi.


"Tidak tunggu!..."


Ye Chen menyeringai dan berkata dalam hati, "Kena kau!!"


"Ada apa? Bukankah kau sendiri yang berkata tidak ingin melakukannya."


Mendengar itu, wanita cantik itu mengigit bibirnya dan menatap Ye Chen sambil menahan amarahnya. "Katakan, apa yang harus aku lakukan?"


Ye Chen yang sudah menduganya tersenyum dan berkata, "Mudah saja, bertingkahlah imut dan berkata padaku ... Master, aku minta maaf!"


Seolah emosi wanita itu mendidih begitu mendengarnya, niat membunuh merembes keluar dari tubuhnya. Tetapi niat membunuh itu menghilang di detik berikutnya, "Baiklah..."


Wanita itu berlutut dan sambil mencoba bertingkah imut, wajahnya memerah saat dia berkata.


"Master! Aku minta maaf..."


***


To Be Continued.