
Tanah Kultivasi, adalah sebuah dunia dimana terdapat hukum rimba, yang kuat akan mendapatkan segalanya sedangkan yang lemah akan terus tertinggal jauh dan semakin jauh di belakang.
Di sebuah kabupaten yang berada dibawah kerajaan Xuanyu, ada 4 Klan besar yang memerintah masing-masing wilayah. Di antara keempat Klan itu, Klan Ye adalah yang paling kuat dan memerintah di wilayah bagian timur kota.
Kota Hitam, Wilayah Klan Ye.
Terdapat banyak bangunan besar berlantai dua di kota itu, sedangkan Kediaman utama Klan Ye berada di bawah kaki bukit yang berada beberapa ratus meter dari kota hitam.
Di dalam sebuah rumah bordil paling besar yang berada di dalam kota hitam, terjadi keributan yang cukup besar di sana.
"H,Hei … Bukankah dia adalah putra Patriak Klan Ye? Aib Klan Ye dan juga seorang sampah dengan meridian hancur, Ye Chen." Ucap seorang pria jangkung yang melihat seluruh kejadian di dalam rumah bordil.
Saat ini, orang yang berdiri di depan Ye Chen adalah seorang pemuda gagah dengan pakaian mewah. Otot-otot pemuda itu terlihat sangat terlatih, bahkan dia memiliki aura yang memaksa orang lain berlutut kepadanya.
"Ye Chen yang malang, setelah kalah dariku di kompetisi Klan tahun lalu, kau jadi seorang pemabuk seperti ini..? Sungguh menyedihkan!!" Pria itu menyeringai lebar, sorot mata yang dia arahkan pada Ye Chen terlihat jelas bahwa dia sedang menghina pemuda di depannya.
Sementara itu, Ye Chen yang melihat tatapan penuh penghinaan dari pria di depannya hanya bisa mnggertakkan giginya sambil mengepalkan tangannya. Tetapi Ye Chen sadar bahwa dia tidak bisa melakukan apapun untuk membalasnya.
Meski begitu, kebencian Ye Chen untuk pria di depannya sangat-sangat besar. Jika tatapan matanya bisa membunuh orang, pria yang berdiri di depannya mungkin sudah terbunuh ribuan kali.
Ye Chen masih mengingat kejadian setahun lalu dengan jelas. Pada saat final kompetisi Klan yang di adakan di pusat kabupaten. Ye Chen bertarung melawan pria yang tenga berdiri di depannya saat ini.
Pria di depannya berasal dari Klan Mo, salah satu dari 4 Klan besar yang memerintah wilayah utara. Pria gagah dan juga kekar yang mengina Ye Chen ini bernama Mo Jiang. Pada saat itu, Ye Chen jelas jauh lebih kuat dibandingkan Mo Jiang, dia bahkan bisa dikatakan sebagai monster dari kota hitam.
Sayangnya, Mo Jiang dengan licik melemparkan panah beracun pada Ye Chen di saat kewaspadaan Ye Chen menurut. Karena ukuran panah beracun itu yang sangat kecil, itu sangat susah untuk di identifikasi bahkan oleh Patriak Klan Ye yang melihat pertandingan itu dari jauh.
Pada akhirnya, setelah Ye Chen terkena panah beracun itu, energi spiritual di dalam tubuhnya menjadi kacau. Ye Chen tidak bisa mengalirkan energi itu dengan benar hingga membuatnya tidak bisa mengeluarkan energi spiritual melalui meridian tubuhnya.
Melihat racunnya bekerja pada Ye Chen, Mo Jiang tersenyum puas. Dia kemudian menyeka darah di bibirnya dan mulai memukuli Ye Chen dengan kejam. Dia bahkan dengan berani menghancurkan Dantian Ye Chen tepat di hadapan banyak penonton yang melihat kompetisi itu.
Patriak Klan Ye yang merasa sangat marah melihat itu mulai mengamuk karena amarahnya. Tetapi dia dihentikan oleh wasit, dia kemudian menjelaskan bahwa tidak ada kecurangan yang telah Mo Jiang lakukan.
"Hmph, aku Ye Tianchen pasti akan mengingat apa yang telah terjadi hari ini." Patriak Klan Ye kemudian berjalan pergi sambil membawa putranya yang kehilangan kesadaran dirinya karena luka parah dari Mo Jiang.
Setelah Kompetisi itu berakhir, Mo Jiang yang menjadi pemenang dalam kompetisi itu secara beruntung mendapat tawaran dari seorang tetua Akademi Kerajaan untuk menjadi muridnya.
Dengan dukungan dari Akademi Kerajaan, reputasi Klan Mo di kabupaten Yunhai terus meningkat. Mereka bahkan mulai berani melawan Klan Ye secara terang-terangan.
***
Kembali pada saat ini, Mo Jiang yang melihat tatapan mata Ye Chen yang dipenuhi oleh amarah, dia tidak bisa menahan tawanya untuk keluar.
"Hahahaha, hei sampah apa kau pikir orang sepertimu yang tidak bisa berkultivasi bisa bersaing denganku? Bahkan dirimu di masa lalu tidak layak menjadi lawanku saat ini?" Mo Jiang tertawa lepas, dia berkata sambil membisikkan sesuatu di telinga Ye Chen.
"Biar kuberi tahu kau sebuah fakta, tidak lama lagi penguasa kabupaten Yunhai akan segera berganti. Bahkan ayah bodohmu itu bukan lagi tandingan ayahku sekarang.."
Bang!!
Ye Chen melepaskan pukulan kewajah Mo Jiang tepat setelah Mo Jiang selesai membisikkan sesuatu di telinganya. Tetapi dengan kekuatan Ye chen saat ini, bagaiamana bisa dia dibandingkan dengan Mo Jiang yang mendapatkan dukungan dari akandemi kerajaan.
Dengan begitu, Mo Jiang menangkap pukulan Ye Chen dengan sangat mudah, dia bahkan menyeringai tajam.
"Tch, kau benar-benar tidak tahu dimana tempatmu idiot!! Rasakan ini…"
Mo Jian melepaskan sebuah pukulan yang secara telak mengenai wajah Ye Chen. Pukulan keras itu menerbangkan Ye Chen hingga menghantam dinding rumah bordil.
"Khuakk!!..."
Ye Chen melebarkan matanya sambil memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Kekuatan pukulan itu bukanlah suatu hal yang bisa dia tahan tanpa basis Kultivasi.
Bahkan sebelum rasa sakit dari pukulan itu mereda, Ye Chen menerima Kembali pukulan Mo Jiang di perutnya. Itu terasa sangat sakit sampai-sampai Ye Chen hampir kehilangan kesadarannya.
"Hei idiot, beraninya kau mencoba memukulku dengan kekuatan lemahmu? Apakah kau sudah menyadari perbedaan di antara kita berdua sekarang?"
Mo Jiang secara terus menerus menampar wajah Ye Chen setiap kali dia berbicara. Hingga akhirnya, sebuah telapak besar dari luar rumah bordil mengarah kepadanya.
"Sialan, beraninya kau melukai tuan muda kami."
Mo Jiang meneteskan banyak keringat dari wajahnya saat melihat telapak tangan yang begitu besar mengarah kepadanya. Dia dengan cemas mulai memanggil nama seseorang dari mulutnya.
Tetua, tolong selamatkan akuu…"
Duarr!!
Pada detik itu juga, ledakan yang begitu besar terjadi tepat di dalam rumah bordil. Asap yang begitu tebal menutupi seluruh area tempat di mana Mo Jiang berada. Detik berikutnya, gelombang angin yang begitu besar menerbangkan asap tebal itu pergi.
Terlihat tepat di depan Mo Jiang, seorang perempuan cantik dengan cadar di wajahnya memegang sebuah kipas. Dia terlihat sangat anggun meskipun wajahnya tertutup oleh cadar.
"Cukup, lebih baik kita hentikan saja disini."
Perempuan itu mengeluarkan tekananya hingga mendorong prajurit Klan Ye mundur beberapa Langkah kebelakang.
"Tch, tekanan yang sungguh kuat sekali.." Prajurit Klan Ye menahan tekanan itu dengan kedua tangnnya.
Mereka terkejut sekaligus cemas merasakan tekanan kuat dari wanita bercadar yang melindungi Mo Jiang.
Berbeda dari yang mereka harapkan, wanita itu mengehela nafas kemudian berkata pelan.
"Hmm, kita pergi.."
Tanpa sepatah kata lagi, perempuan itu dan Mo Jiang tiba-tiba menghilang dari pandangan prajurit Klan Ye.
"Tuan muda…"
Prajurit itu segera berlari ke Ye Chen yang saat ini tergeletak lemas di lantai rumah bordil. Wajahnya membengkak dan darah secara terus-terusan mengalir keluar dari mulut dan juga hidungnya.
"Tuan muda cepat minum ini.."
Ye Chen melihat kekhawatiran di wajah prajurit itu, dia sedikit tersenyum sebelum kesadarannya menghilang.
***
To Be Continued.