He?!

He?!
HE: 08



Levana menatap pantulan di cermin. Gadis bertopeng itu masih belum meninggalkan tempat kejadian. Ia harus bertindak seperti tidak tahu apa-apa.


Terlalu ahli dalam membunuh sampai darah yang terciprat hanya mengenai bagian gaun. Sangat mudah untuk dihilangkan, dengan cekatan ia melepaskan bajunya lalu memgganti dengan yang lain. Gaun baru ini didesain secara khusus agar Levana bisa menyimpan barang bukti di dalam gaun tentu saja seperti gergaji dan palu sudah diambil oleh salah satu pelayan mansionnya yang ikut turun tangan dalam misi.


Levana mengenakan topeng kulit menutupi semua wajahhnya. Mengendap-endap menuju ke ballroom di mana teriakan masih terjadi. Tak ada yang menyadari bahwa kedatangan dirinya yang merupakan pelaku kejadian ini.


CCTV sudah diretas hingga tak meninggalkan bukti apapun. Diam-diam Levana mengulas senyum mengingat betapa bersihnya teman-temannya beraksi sepertinya.


Ketika bodyguard Melinda yang masih tersisa membuka pintu ruangan yang sedari tadi terkunci, semua orang berbondong-bondong keluar dari sini termasuk Levana yang asik memainkan perannya sebagai wanita yang ketakutan.


"Argh," Levana sengaja tersandung hingga terjatuh.


"Anda tidak apa-apa, nona," seorang laki-laki membantu Levana berdiri, dia adalah bodyguard tadi.


"A-aku ta-takut," deraian air mata menyapu pipinya.


"Sebaiknya anda segera pulang dan tenangkan diri anda nona, maari saya antar ke mobilnya," laki-laki itu menawarkan diri.


Levana mengangguk masih berusaha menahan getaran tubuhnya. Camilla yang memantau dari jauh tak bisa menahan tawa melihat bagaimana Levana menipu orang-orang di sana.


"Selamat beristirahat, nona," Bodyguard itu menunduk hormat lalu membiarkan Levana pergi.


Di dalam mobil Levana menyeringai puas. Ia tertawa hebat tanpa takut mobilnya disadap. Oh tentu tidak bisa karena tak akan ada yang bisa menyadap mobil Nyra si bidadari pembunuh jika mau hidupnya terguncang.


"Camilla apakah anak-anak itu sudah diamankan?" tanya Levana ketika mereka sudah semobil bersama.


"Ya, sudah ada di mansion. Setelah sampai temui mereka dan kita lihat apa saja yang sudah wanita iblis itu lakukan," jawab Camilla.


"Kau tahu gadis di sampingmu lebih iblis," tawa keduanya mengudara.


•••


Hutan rimbun menguasai pemandangan saat ini. Pelosok hutan yang dikira banyak hantu tapi ternyata itu hanyalah bualan dari teman-teman Levana.


Sesuai fakta yang dipaparkan kemarin, Levana mengumpulkan para perempuan yang hak mereka tak diberikan. Mantan wanita malam, pegawai yang di PHK, istri yang diselingkuhi maupun yang diceraikan, para gadis remaja yang ditelantarkan, aparat hukum, dan para pembunuh bayaran.


Semua bersatu di bawah kepemimpinan bidadari pembunuh.



Pintu utama mansion megah itu terbuka, Levana melangkahkan kaki masuk. Tiba saja seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dua memeluk kakinya. Dia Raisya, anak dari mantan wanita malam, Raya.


"Hai sayang, kenapa belum tidur? udah larut banget lho," Levana membawa gadis itu ke gendongannya.


"Rai rindu kakak dan bibi Milla, bisakah malam ini Rai tidur bersama kakak?"


Levana segera menghujami wajah Raisya dengan ciumannya. Satu-satunya anak kecil di mansion megah ini, Raya mendekat dan mengambil alih anaknya.


"Kak Vana capek sayang. Besok juga bisa bermain," ujarnya memberi pengertian.


"Tidak apa-apa kak Raya. Kak Raya bawa saja ke kamarku, aku dan Camilla akan melihat para anak-anak itu dulu," ujar Levana mengecup sekilas pelipis Raisya.



Ruang dengan nuansa mewah itu terdapat tiga belas anak berbeda jenis kelamin. Mereka duduk saling berdekatan, meringkuk seakan takut disiksa lagi. Akan tetapi, salah seorang anak lelaki duduk sendirian, tak ada ketakutan dalam matanya. Hampa dan kosong tampak menguasai manik matanya.


Geisya, Milan, Beatrice, Viona, dan Lucia yang bertugas menyelamatkan mereka hanya berdiri diam. Kereta makanan yang mengangkut begitu banyak makanan bahkan tak disentuh sama sekali.


"Sebentar lagi Vana kesini," ujar Viona.


Tanpa kata, anak lelaki yang sendirian tadi bergerak mengambil sebuah pancake dan memakannya.


"Makanlah, kalian akan mati jika begini terus," akhirnya ia mengeluarkan suara.


Anak-anak lainnya yang melihat teman seperjuangan mereka menikmati makanan itu juga melakukan hal yang sama. Para gadis dewasa di sana tak berani mendekat, pasti mereka akan kembali takut. Setidaknya mereka menjaga jarak sekiranya lima meter dari para anak-anak.


"Selamat malam anak-anak!" sapa Levana ceria.


Kembali merasa takut dan salah satu dari mereka menjatuhkan piring hingga pecah. Pancake juga berserakan, dengan gemetar gadis kecil menunduk menggapai pancake.


Prang


Prang


Levana memecahkan dua guci mahal di ruangan itu. Membuat semua terperangah tapi tidak dengan Camilla. Levana mendekat pada Camilla.


"Apakah kau akan menghukumku karena memecahkan guci itu?" tanya Levana dengan suara hampir menangis.


Camilla tertawa, "Tentu saja tidak! Guci itu bisa dibeli dengan uang lalu untuk apa aku harus memarahimu?"


Gadis kecil tadi menatap Camilla takut-takut, "Apakah tidak apa-apa?"


"Tentu saja gadis manis, sekarang kamu menyingkir sedikit biar bibi bersihkan. Jangan takut."


"Bibi?" beo Milan.


"Ya, usiaku sudah dua puluh enam tahun. Sudah cukup bisa dipanggil bibi," jawabnya membersihkan bekas pancake di lantai.


"Anak-anak, ayo bermain denganku," ajak Levana.


"Dasar gila!" umpat anak lelaki tadi.


Levana yang kesal langsung menggendong anak itu walau ia berontak sekalipun Levana tak perduli. Membuka pintu, ia berbalik memberikan senyuman pada anak-anak yang lain. Melambaikan tangan mengajak mereka.


Dengan ragu mereka mengikuti langkah Levana, pintu terbuka dan menampakan kolam yang indah apalagi Geisya sudah menghangatkan airnya.



"Orang gila ini bakalan buang kamu ke air," Levana tertawa gemas melihat wajah panik lelaki kecil itu.


"TIDAK! ITU DINGIN!"


Byur


Levana memeluk lelaki itu dan terjun ke salam kolam. Ia tertawa puas bisa membuat anak lelaki itu kesal, siapa suruh mengatainya gila.


"Kalian juga ayo berenang bersama, airnya hangat," ajak Milan.


Dengan wajah berseri-seri mereka ikut berenang bersama Levana dan anak lelaki itu. Saling mencipratkan air dan bermain sampai waktu sudah semakin larut. Levana segera mengajak mereka untuk mengganti pakaian dan tidur.


•••


Pagi sudah menyingsing dan Levana masih asik bergelung dalam selimut. Raisya di sampingnya juga ikut tidur kembali setelah melihat gadis itu yak berniat bangun saat ia bangunkan.


Brak!


Camilla mendobrak keras pintu kamar Levana. Tak perduli apapun, Levana langsung bangkit dengan wajah kesal sedangkan Raisya sudah berpindah alih ke gendongan Camilla.


"Mandi sana, anak-anak menunggumu," suruh Camilla.


Tak berbasa-basi lagi Levana segera bersiap-siap mengingat mansion ini tidak hanya ada dia dan anak buahnya tapi anak-anak yang ia selamatkan.


Dan di sinilah mereka semua, ruang tamu semalam itu. Anak-anak itu diminta menyebutkan nama mereka agar Beatrice dan Lucia yang ditugaskan membuat identitas baru untuk mereka.


"Jadi namamu Alkaezar, huh dasar nakal," Levana mencubit anak lelaki semalam yang bernama Alkaezar.


"Berhenti mencubit pipiku kak," rengek Alkaezar.


"Nah, mulai sekarang kalian akan tinggal di sini. Kalian bisa keluar dari mansion jika mau tapi nanti saat usia kalian sudah mencapai sembilan belas tahun, dunia luar itu kejam," nasihat Levana.


Mulai hari itu, mereka saling mengamrabkan diri. Lewat uang orang tuanya, Levana bisa menyewa salah satu pembunuh berantai yang sayangnya mantan guru mengajari pendidikan pada anak-anak itu.


•••


Heyyyyy