
Levana. Gadis itu berjalan mengendap-endap memasuki mansion utama tempat ia dan kedua orang tuanya tinggal, sudah seminggu ini ia tak pulang sebab mengurusi anak-anak korban prostitusi.
"Ck! bunda kira kamu lupa jalan pulang," Levana menegakan tubuhnya mendengar suara Taryn.
Bagai robot, ia memutar kepalanya lalu kemudian disusul badannya. Secara sempurna Levana sudah menghadap pada bunda yang asik membaca majalah sedangkan papinya yang menyilangkan kaki dan menatapnya tajam. Mata Levana melihat ke arah jam dinding besar yang dihiasi aksen emas berbentuk merpati.
"Pukul 21.00," ucapnya pelan.
Simon melambaikan tangan pada putri semata wayang. "Sini!"
Levana duduk diapit kedua orang tuanya. Rambutnya diusap sayang oleh Simon tapi berbeda dengan Taryn yang malah melayangkan cubitan maut di paha anaknya.
"Awss bunda, sakit lho," keluhnya menggosok pahanya kuat.
"Biarin. Untung abang kamu lagi pergi ke Meurotta jadi gak kepergok. Bunda izinin kamu habisin waktu di mansion kamu tapi pulang juga sayang," Taryn gemas sendiri dengan kekeras kepalaan putrinya yang turunan dari Simon.
"Nah kali ini papi setuju sama bunda. Kamu dibilangin maalah ngeyelnya minta ampun, katanya mau profesi kamu ini dirahasiakan tapi malah bertingkah," timpal Simon.
"Iya iya Vana salah," jawab Levana pasrah.
"Camilla gak kesini sayang?" tanya Taryn setelah diam beberapa detik.
Levana menggeleng. "Seminggu yang lalu ada misi prostitusi anak-anak dibawah umur. Jadi, korbannya tinggal di mansion. Camilla janji akan datang main lain kali soalnya masih sibuk ngurusin mereka," jawab Levana.
"Yaudah ke kamar sana tidur besok sekolah kan?" Simon bertanya.
"Hmm. OH IYA!"
Taryn maupun Simon tersentak dari lamunan sejenak karena teriakan membahana Levana.
"Apa?" Taryn masih berusaha menhaan emosi.
"Hehe, pacar Vana besok udah sekolah. Huahaha," Levana malah menyengir.
"Dih, OCD!" ejek Taryn.
"Biarin. Aduh Vana rindu sama ayang Dami deh," Levana menaiki tangga sambil tersenyum seperti orang gila menyisakan kedua orang tuanya di ruang tamu.
"Anak kamu, yang?" tanya Simon pada istrinya.
"LEVANA INI PAPI KAMU RAGUIN KAMU!" Taryn mengadu pada putrinya.
Levana yang sudah hampir ke kamarnya menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Papi Vana ngambek ya, jangan bicara sama Vana! hng!!" gadis itu membuanh pandangan sambil kakinya dihentak-hentakan dengan keras ke lantai.
Simon mendengus geli. Apa pula istrinya ini? ia kan hanya bercanda mana dibawa serius dan diadukan pada putrinya. Simon berpikir keras harus membujuk putrinya dengan apa nanti? Simon tidak bisa diacuhkan oleh kesayangannya.
"Bunda jangan lari! Sini biar papi hukum!" teriakan menggelegar dari suara bariton itu membuat Taryn semakin berlari kencang.
Hukuman yang dimaksud suaminya itu bisa membuat punggungnya sakit dan beberapa area tubuhnya. Apalagi ia tak akan dibiarkan tidur, huwaaa ia merasa menyesal membangunkan singa tidur.
"Papi awas ya besok Vana gak dapat kalian di ruang makan!" ancam Levana masih saja mengintip.
Levana tahu juga tentang hukuman itu. Hukuman tentang proses pembuatan anak, bahkan papinya itu tak akan melepaskan bundanya.
Drama salah satu keluarga Winona itu harus berakhir sebab malam semakin larut. Setelah saling kejar-kejaran dan beraktifitas padat sejak tadi pagi, mereka bertiga semua tepar di kamar masing-masing.
•••
Para pihak kepolisian masih mencari dalang dari kasus tersebut dan korban dari kekejian wanita itu. Seakan hilang ditelan bumi, tak ada jejak yang tertinggal sama sekali.
Levana memarkirkan motornya bersama dengan motor lainnya. Ia terkejut ketika merasa ada yang merangkul pinggangnya, ketika menoleh yang ia dapati dada bidang seseorang. Memilih mendonggak dan akhirnya wajah yang datar selama seminggu itu kembali memberikan senyum yang jarang sekali diperlihatkan.
Levana menghujami tubuh milik sang pacar tercinta, Iya CINTA! Damian bahkan terkekeh kecil melihat antusiasme Levana menyambutnya. Dengan gemas Damian menggigit pipi tembam Levana hingga sang gadis terpekik kaget.
"Dami!" pekiknya kesal.
"Haha, abisnya kamu gemesin," bisik Damian sambil masih dalam keadaan tertawa.
Wajah Levana segera merona sebab diperlakukan seperti itu apalagi suara serak-serak basah mengayun lembut di telinganya membuat bulu kuduknya berdiri semua. Damian sangat tidak baik untuk kesehatan jantung dan ketenteraman hidup bernegara berbangsa bersuku, eh berjanda!
"Abangnya Vana aman?" Levana sudah sangat merindukan abang kesayangannya.
"Teo belum mengabari?"
"Belum. Emangnya kenapa? abang sakit? atau abang lagi kenapa-kenapa?"
Damian merangkul mesra kekasihnya, ah sungguh selama di Meurotta mengurusi beberapa administrasi pindah sekolah. Karena mereka adalah para pewaris makanya banyak hal yang harus diurus. Damian tak berhenti memikirkan gadis di sampingnya ini, betapa rinduable Levana ini.
"Teo bilang dia masih ke rumah opa Randy dan ngajak opa ke sini," ucap Damian.
"Hm oke. Nah, gimana udah selesai urusannya?"
"Iya, selesai dengan tenang. Mau jalan-jalan?"
"Mau!" jawaban yang bernada senang dari kekasihnya tak ayal hati Damian menghangat.
Ingatkan mereka bahwa awal hubungan mereka dimulai dari Levana yang merasa tak jijik sekalipun mendekati laki-laki asing. Seperti anugerah mereka dipertemukan, ya begitulah jika jodoh mau sejauh apapun mau ia bersama dengan siapapun, kapanpun, bagaimanapun semuanya sudsh ditentukan dan menjadi garis takdir kita.
"Sayang," Gilang datang hendak mengambil alih Levana.
Bugh
Belum sempat menyentuh Levana tinjuan dari Damian lebih dulu mengenai dirinya. Begitu kuat sampai salah satu gigi depan Gilang copot, sekarang lelaki buaya itu menyandang status buaya ompong. Siswa siswi tak bisa menahan tawa menyaksikan pertunjukan di pagi hari, Levana tak terlalu suka keramaian segera menyeret Damian ke kelas. Biarlah Gilang menerima akibatnya.
Diam-diam Gilang mengepalkan tangan, lihat saja ia akan menjadikan Levana miliknya dengan utuh kalau perlu menggunakan cara kotor.
Hah?! memangnya dia bisa? tidak tahu saja jika gadis seperti Levana adalah gadis kematian, bidadari pembunuh yang keberadaannya begitu misterius.
Levana bergerak meraba ke dalam tasnya dan mengeluarkan tisu basah. Dengan telaten ia menghapus bekas kulit Gilang yang bersentuhan dengan tangan pacarnya, rasanya Levana ingin sekali mencabik-cabik wajahnya tapi mengingat ia tak boleh gegabah dan yang paling penting ia adalah anak baik hati dan patuh kepada orang tua jadi biarlah Levana menahan diri dan mengumpulkan banyak dendam terlebih dahulu.
"Lamunin apa sih sayang?" pertanyaan Damian menyentak Levana dalam keadaan semula.
"Gak suka aja beraninya hama itu menyentuh kamu," adu Levana kesal.
"Ya sudah, sebentar mau jalan kemana?"
Damian mengelus sayang kepala Levana, tak bisa menahan diri. Damian tiba-tiba nyosor ke bibir gadis itu membuat sang empu mematung tak percaya dengan apa yang terjadi. Kelas masih sepi dan pastinya tidak ada yang melihat tindakan Damian jikalau pun ada pasti tidak berani berkata apa-apa.
•••
Up lagi. Beberapa bab aku revisi, gak semuanya cuman nama negara aja, pakai nama fiksi aja.