
Suasana bersitegang masih dirasakan oleh tiga orang di sana. Bahkan, beberapa orang dari kelas Levana dan Damian mencuri dengar apa saja yang baru saja terjadi.
Air mata Rebecca meluruh tanpa diminta membuat Levana menyeringai. "Hah, mau jadikan gue sebagai antagonis dalam hidup lo Rebecca? gak puas sama Thea yang lo buat dicap buruk sekarang gantian gue?"
Rebecca terdiam sebentar lalu lanjut meluruhkan air matanya.
"Sayang ayo kita pergi," Damian berujar lembut . "Lo dasar tikus!"
Beberapa orang terkikik geli mendenhar umpatan dari Damian teruntuk Rebecca. Terlalu naif sampai menjaadi bodoh belum disentuh saja sudah mengeluarkan air mata seperti sekarang, siapa yang akan tahan dengan oranng seperti Rebecca. Topengnya terlalu tebal sampai ada yang tak menyadari bahwa itu semua hanya kepura-puraan untuk menaikan kepopulerannya.
Thea diam-diam menyeringai menonton pertunjukan singkat itu. Rebecca menatap benci Thea yang tertangkap basah mengintipnya diperlakukan oleh Damian dan Levana.
Rebecca melengos begitu saja.
Langkahnya berhenti di depan gudang terbengkalai yang terletak sangat jauh dari kawasan ramai lagi pula gudang ini rencananya akan direhabilitasi dan sarana baru sekolah. Tapi, untuk apa Rebecca si naif datang ke gedung ini?
Dia diam melangkah lallu menutup pintu buru-buru mengabaikan apakah pintu sudah tertutup rapat atau tidak. Ia menyusuri benda-benda yang sudah rusak seperti lemari yang dimakan rayap.
Asap rokok dihembuskan ke udara. Seorang pemuda bertelanjang dada dengan kaki disilangkan di atas kursi tengah menanti kedatangan Rebecca.
"Sudah datang? bangsat lo! gue udah gak bisa tahan ya babi!" umpat pemuda itu segera menindih tubuh Rebecca. Namun, pergerakan Rebecca lebih cepat dan menghindar.
Rebecca dengan santai melepas semua bajunya sampai ia sendiri sudah bertelanjang di depan pemuda itu. Pemuda itu mengedip nakal kemudian mejamah seluruh tubuh Rebecca.
Dua manusia yang tidak memiliki ikatan pernikahan malah melakukan tindakan terlarang di gudang itu. Suara-suara khas pergumulan panas itu mengudara dan keringat terus mengucur tanpa menyadari ada yang menatap mereka jijik dengan kamera ponsel yang terarah pada dua manusia yang kini sudah samaa-sama telanjang.
Beralih pada Levana dan Damian, keduanya asiik mengobrol di depan ruang kelas mereka sehabis dari ruang guru. Pemandangan ini cukup langkah untuk Matteo dan Calvin yang sedari dulu bersahabat dengan Damian.
"Padahal hubungan kita terjalin karena aku gak jijik sama kamu, Dami. Kenapa aku sangat dimanjakan?" tanya Levana.
"Kamu punya pesona yang bisa buat aku selalu bertahan sama kamu sayang," bisik Damian rendah.
Levana tertawa sambil menjauhkan wajah Damian dari telinganya. Pikiran Levana kemudian berkelana entah kemana, pikirannya bercabang ke sana kemari tak tentu arah. Ada yang ia khawatirkan sekarang.
'Gimana ya kalau Dami tau gue itu pembunuh bayaran? apa dia bakal ninggalin gue?' pertanyaan itu selalu hinggap.
Dua minggu berjalan hubungan kekasih antara keturunan Winona dan Silas itu tapi mereka masih belum membuka rahasia masing-masing. Masih terlalu awal untuk mengatakan semuanya.
"Sayang kenapa? keningnya sampai berkerut begitu," Damian dengan lembut mengusap kening gadisnya.
Levana tak menyahut, ia masih bergelisah diri.
●●●
Levana duduk dengan arogan tak lupa topengnya yang terpasang indah di wajahnya menutupi identitas aslinya. Ia sedang bermain peran sebagai Nyra sang bidadari pembunuh.
Pria parubaya di depannya harus berhati-hati dalam berbicara dan bertindak bisa-bisa kepalanya putus di kandang macan ini. Sekitar lima perempuan bertopeng juga memantaunya dari jauh jangan sampai menyakiti Nyra mereka.
Ruangan yang hanya diisi dua sofa yang dibatasi meja ini bernuansa hitam kelam, pencahayaan yang temaram semakin memperburuk suasana di ruangan.
"Jadi?" satu kata telah keluar dari belah bibir Levana setelah lima menit hening.
"Anda pasti tahu saya, nona Nyra. Saya Kaisar Nordiff, Cleo Arawnlucius von Cunningham," pria dengan gaya pakaian yang begitu mewah namun elegan itu berusaha tetap tegas.
Kekaisaran Nordiff, kekaisaran terbesar dan terkuat di seluruh dunia. Masa sudah modern tapi Nordiff masih tetap mempertahankan bentuk negara monarki mereka. Sungguh hebat semua kaisar dan permaisuri yang pernah memerintah Nordiff karena sampai saat ini tak ada sekalipun demonstrasi mengenai pergantian bentuk negara menjadi republik.
Levana terkagum. "Untuk apa kaisar yang terhormat ini menemui saya?"
"Saya ingin anda menemukan putri saya," ucapnya langsung pada inti.
"Putri? bukankah putri anda adalah putri Barbara Calista von Cunningham? putri yang akan dinobatkan sebagai putri mahkota," kaisar Cleo menggeleng pelan dengan wajah sendu.
"Dia bukanlah putri kandung saya. Dia hanya anak angkat, anak saya yang asli adalah Evanora Twycamilluxana von Cunningham. Anak angkat itu sangat arogan dan sejak istri saya mengadopsinya saya sudah tidak suka. Saya ingin anda menemukan putri saya sebelum upacara penobatan putri mahkota dua bulan lagi. Hanya Nora saja yang boleh menjadi kaisar selanjutnya," ada secercah harapan dalam matanya.
"Bagaimana jalan ceritanya?"
"Ketika Nora masih bayi ia diculik oleh seorang dokter yang merupakan assasin dari Hreta. Kami berhasil mendapat informasi dari dokter itu tapi informasi itu mengatakan bahwa rumah tempat Nora dititipkan hangus terbakar dan semua mayatnya tak dapat dikenali," kaisar Cleo berusaha meredam tangisnya.
"Jikalau begitu untuk apa saya mencarinya? ia sudah meninggal dalam insiden itu," Levana malas mencampuri urusan yang akan membuatnya ribet nantinya. Ia pemilih dalam sebuah misi.
"Saya mohon nona Nyra, saya dan istri saya yakin sekali jika putri kami Nora masih ada. Anda tidak boleh meremehkan naluri seorang ibu tentang anaknya," mohon kaisar Cleo.
Levana mengangguk membenarkan. Apa saja yang terjadi padanya pasti bunda Taryn akan selalu tahu walau tak akurat. Ikatanntaa dengan sang bunda begitu kuat.
"Saya terima misi ini. Saya berjanji akan menemukan putri Evanora secepatnya sebelum penobatan dimulai," ucap Levana yakin seratus persen.
Kaisar Cleo meraba sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak berisi kenangan Evanora selama dua bulan ia masih berada di pelukan ayah ibunya.
Levana sedikit tertegun melihat foto bayi kecil yang didandani glamor duduk di tahta ayahnya sambil memakai replika mahkota yang dirancang ringan dii kepalanya. Itu bukan fokusnya, netra merah terang yang familiar dan apa itu? tahi lalat berukuran sedang di tangan kanannya begitu unik sebab berbentuk seperti kepala burung elang.
"Kartika! antarkan baginda kaisar sampai ke kediaman istimewanya!" titah Levana menyimpan kotak itu sebagai petunjuk.
Kaisar Cleo memang punya urusan kenegaraan di negara ini makanya di setiap negara terdapat kediaman istimewa yang diperuntukan untuk keluarga kaisar Nordiff mengingat mereka lebih kuat dan lebih sangar dari negara-negara dunia.
●●●●