He?!

He?!
HE: 03



Dia duduk menyilangkan kaki sambil menatap tajam keluar jendela. Entah apa yanga da di kepalanya sebab tiba-tiba dahinya berkerut bingung.


"Gadisku itu sedang apa?" tanyanya entah pada siapa.


Beberapa orang berbadan kekar saling berpandangan dan berusaha menimimalisir ketakutan yang terus mendera kala tuan mereka memasuki ruangan kebesarannya.


Lelaki itu membalikan kursi dan menatap tajam semua anak buahnya yang tidak mau menjawab pertanyaannya. Lebih tepatnya, takut salah jawab dan berakhir mati di tangan tuan tampan itu.


"Apakah Luna masih sangat lapar?"


Luna, ular kobra peliharaan lelaki itu. Butuh waktu untuk membuat ular itu jinak padanya dan melakukan perintahnya.


Para lelaki berbadan kekar langsung menciut. Tuan mereka sangat memyeramkan, terpaksa salah satu dari mereka menjawab sebelum nyawa mereka semua digantung.


"Nona sedang berjalan-jalan ke mall, tuan," jawab salah satu dari mereka.


"Keluar!"


Lantas dengan tergesa-gesa mereka meninggalkan ruangan bernuansa suram itu. Sepeninggal anak buahnya, lelaki itu kembali menatap keluar jendela memikirkan gadisnya. Padahal mereka baru bertemu beberapa jam tapi hal itu sudah memengaruhi debaran jantung lelaki itu yang menggila.


Di lain sisi, seorang gadis dengan manik mata hazelnya berkeliaran ke sana kemari mencari sesuatu yang cocok untuk bisa ia beli guna menghabiskan uang papinya. Tapi apakah itu bisa?


"Gini nih punya papi kaya, bunda juga malah nyuruh gue belanja, belanja apa coba?" gerutu Levana tak habis pikir dengan kedua orang tuanya yang selalu memintanya untuk menghabiskan hasil keringat mereka.


Matteo di belakang gadis itu hanya terkekeh pelan sambil menyamakan langkah dengan adik kecilnya yang tak berhenti menggerutu setelah didorong keluar dari kamarnya.


"Kakek tak percaya bahwa gadis kecil mereka sudah pacaran," Matteo angkat bicara menggandeng adiknya duduk di bangku yang tersedia.


"Menurut abang nih ya, dia baik gak baik. Gak bisa ditebak tapi abang harap dia orang yang tepat buat lanjutin tugas keluarga kita ngejagain adik manis abang ini," pemuda itu menciumi pipi Levana bertubi-tubi.


"Ah abang bisa aja," Levana malu dipuji.


"Malah malu-malu kucing, sini dempetin ke abang. Banyak yang naksir sama kamu entar," dengan teganya Matteo memeluk Levana erat sambil membuat kepala sang adik menghadap ke dada bidangnya.


Memang benar, sedari tadi Levana dan Matteo sudah menjadi pusat atensi para pengunjung mall. Atas saran Matteo, akhirnya Levana pergi ke toko baju dan sepatu membeli banyak sekali pakaian sebab tubuhnya sedikit gempal. Yang tiga bulan lalu 50 kg sekarang sudah naik 60 kg.


Levana tidak akan pernah merasa insecure dengan keadaan tubuhnya atau penyakitnya yang selalu dibenci orang asing sebab ia tahu Tuhan menciptakan manusia sesuai porsi yang sudah ditentukan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini.


•••


Mata Levana menjelajah ke sekitar jalan raya melihat keadaann yang begiru ramai. Pasti sangat menyiksa bila Levana berada di tengah kemacetan dan dikelilingi orang banyak. Sudah pasti ia akan pingsan, hey dia ini pengidap OCD.


Tapi, siksaan yang gadis bayangkan terjadi. Di bawah terik matahari dengan bunyi klakson bertubi-tubi membiat Levana merasa semakin kesal. Matteo juga menggerutu, ia memang sudah terbiasa dengan iklim Mesir yang dekat dengan gurun tapi di sana itu tenang tidak di sini.


"Masih lama ya bang?" mata gadis itu mulai memberat.


"Hm, Vana tidur aja dulu nanti abang bangunin lagi kalau udah nyampe rumah," titah Matteo.


Levana terdiam dan matanya yang berat langsung melotot. Tak berkata apa lagi, ia turun dari mobil dan berlari menuju ke sebuah gang sempit.


"Dami awas!" teriak Levana yang sekiranya terlambat sebab punggung kekasih dari Levana itu sudah digores memanjang oleh salah satu pelaku.


Mendengar teriakan seorang gadis, mereka segera menoleh dan mendekat. Terlihat Levana menatap jijik mereka, apakah tidak ada preman yang berpenampilan sedikit rapi? membuatnya jijik saja.


"Jangan dekat-dekat gue sialan?! pulang sana mandi dulu terus kita berantem, dekil banget jadi preman," usir Levana mengibaskan tangannya sambil menutup hidung.


Para preman itu terdiam mendengar ultimatum dari gadis kecil.


"Please deh, zaman udah berubah masa kalian para preman gak berubah. Misalkan nih ya, mau malak orang ya pake baju yang rapi dikit kek biar pas yang dipalakin tuh kek gak terlalu sensi sama kalian," tambahnya.


"Kalo rapi kan tikus berdasi, dek," sahut salah satu dari mereka.


"Halah, kalo tikus aja bisa berdasi masa om-om yang manusia gak bisa berdasi, saran saya nih mending tiruin mereka. Siapa tahu kan bisa dapat jodoh," dengan bodohnya mereka mengangguk.


"Benar juga, emak gue juga minta menantu. Pulang ah, mau rapiin penampilan," pamit salah satu dari mereka.


"Om-om ini mikir dulu deh saran saya tadi, yaudah ya saya mau jemput pacar saya yang sekarat itu," tunjuk Levana pada Damian yang berusaha mendekat padanya.


"Pacar kamu toh?"


"Telepon polisi cepet, sini nangkap saya," ujar pria yang tadi melukai Damian.


"Lah?!" Levana bingung. Semudah itu para preman sadar diri.


"Videoin terus dibuat viral biar itu tikus berdasi sadar diri, kita yang orang kecil aja tau diri dan masuk penjara malah mereka sembunyi di balik pilar kekuasaaan," yang lain menimpali.


"Terserahlah, telepon aja," Levana mengabaikan dan mengalungkan kedua tangan Damian di lehernya. Damian menggeleng saat tahu niat gadis itu ingin menggendongnya.


"Cepetan Dami, kita harus ke rumah sakit. Mobil bang Teo ada di muka sana," suruh Levana tak sabaran.


Mau tak mau dan rela tak rela Damian akhirnya menjatuhkan tubuhnya di punggung mungil gadisnya. Ia akan menurut saja sampai Levana merasa lelah menggendong tubuhnya yang lebih besar.


Ternyata harapan Damian pupus begitu saja ketika wajah Levana tidak menyiratkan kesulitan saat menggendongnya. Hanya buliran keringat yang membasahi wajahnya sebab matahari begitu terik. Para preman tadi malah ternganga melihat pemandangan itu.


Gadis bukan sembarang gadis. Mereka juga duduk diam sambil menunggu polisi datang sambil siaran langsung dan mengakui kesalahan mereka dan bersedia akan ditangkap dari pada para pejabat negara.


"Astaga, Vana itu siapa yang kamu gendong. Badan kayak kurcaci gak usah sok-sokan," Matteo kelimpungan.


Levana memutar bola mata malas sebab kepura-puraan Matteo padahal ia tahu abangnya itu hanya bohong soal mengkhawatirkan dirinya. Buktinya ia bahkan tak menyusul Levana, sebab Matteo tahu Levana lebih ganas darinya. Gen kakek mereka yang seperti hiu dan singa mengalir di pembuluh darah gadis itu.


"Cih, ini si Dami, kita ke rumah sakit, bang. Sekarat nih mas pacar," suruh Levana.


Damian tidur menghadap perut Levana dengan tangan kanan Levana yang mengelus kepalanya dan tangan satu lagi menahan punggung Damian agar sang kekasih tak terjatuh.


•••


Mohon maaf baru up