
•••
"LEVA! Mau sampai kapan kamu tidur?!" Bentak seorang wanita bernama Taryn Winona. Salah satu nyonya keluarga Winona yang disegani.
Gadis yang ia panggil menggeliat pelan dari bawah selimut, mengerjab pelan menatap sang bunda. "Berisik, bun!"
"Ya ampun! Bunda buang juga kamu!"
"Kalo Leva dibuang, bunda jadi janda dong."
"PAPI!! SINI CEPETAN!" teriakan Taryn memecah keheningan di pagi itu.
Tak lama setelah ia berteriak munculah seorang pria dengan baju tidurnya, di hidungnya bertengger kacamata yang membuatnya terlihat tampan.
"Apa sih bun? Masih pagi loh," Simon Winona, suami sekaligus papinya gadis itu berdecak sebal.
Taryn tak menggubris ucapan sang suami lalu menunjuk putri tunggalnya yang masih asik duduk di ranjang.
"Anak kamu nih! Titip aja di panti jompo! Malas bunda ladenin dia," ucapan Taryn membuat Simon melotot garang.
"Janganlah bun, nanti siapa yang habisin uangnya papi?"
"Dih! Yang suka abisin kan bunda bukan Leva jangan sembarangan, pi!" Gadis bernama lengkap Levana Nymeria Winona itu tak mau disalahkan begitu saja.
"Kan bunda belanjain semuanya itu keperluan kamu, baby" Simon membalas ucapan putrinya sesuai fakta.
Taryn mendelik pada keduanya, "Mau sampai kapan ini? Sekarang kamu Leva cepat siap-siap berangkat sekolah dan papi cepat berangkat ke kantor."
Tak mau berdebat lagi dengan singa betina itu, keduanya lantas bergerak cepat.
Beberapa menit kemudian, Levana sudah selesai dengan seragam batiknya. Ia turun ke bawah mencium pipi bunda dan papinya.
"Mau sama supir atau sama papi?" Tanya Taryn.
"Papi aja deh biar cepet," jawabnya sambil mengunyah roti dengan selai anggur.
"Bunda pakein papi dasi dong," rengek Simon manja.
"Makanya cari pacar!" Ketus Simon.
"Mungkin ada di minimarket kali ya," jawab Levana asal karena terlanjur kesal.
Taryn tersenyum melihat wajah putrinya yang ditekuk membuat dirinya sangat menggemaskan. Tangannya bergerak mengelus punggung kesayangannya itu lalu mengecup dahinya mesra.
"Udah jangan ditekuk mukanya, nanti bunda hukum papi karena udah buat anak bunda kesal," ujarnya.
Wajah itu sedikit tersenyum. "Oke bunda, kalau gitu Leva pergi ya dadah!"
•••
Leva keluar dari mobil papinya dengan raut wajah datar. Setelah menyalimi tangan sang papi dan mendapat uang jajan, gadis itu melangkah pergi ke kelas mengabaikan tatapan yang terarah padanya.
"Woy! Gue udah bilang kan?!" Belum sampai di kelas, Levana sudah dihadang oleh seorang gadis.
"Apa?"
"Gue bilang jangan deketin Galang, ngerti gak sih lo?!" Bentak cewek bernama Thea itu.
"Ooh si jamet, ok," sangat tenang sampai orang mengira ia adalah robot yang tak berperasaan.
"Lo!" Thea ingin sekali mencakar rambut Levana tapi mengingat identitas Levana tak bisa membuatnya bergerak bebas.
"Hm," seusai berdehem, Levana pergi begitu saja.
•••
CINTA DOKTER CANTIKNYA UDAH KELAR, RASANYA BANGGA BANGET DAN SEKARANG KITA MELANGKAH KE CERITA BARU YUHUUU!!
Cerita kali ini tu lebih ke masa remaja dan SMA gitu jadi bahasanya udah gak sekaku kayak cinta dokter cantik. Sekedar info, The Empress masih tetap aku update tapi pelan-pelan juga sih. Kadang udah gak dapat ide dan gak bisa nerusin tapi aku usahai bakal update. Makasih banget yang udah setia sama cerita-cerita aku, kalian emang the best.
Buat yang suka, koment dan selalu dukung aku, aku berterima kasih banget lho💞💞💞😘