He?!

He?!
HE: 15



Selama seminggu mencari petunjuk lainnya akhirnya pencarian Levana bersama anak buahnya membuahkan hasil yang tak terkira. Titik terangnya tak sesederhana itu sampai Levana sendiri tak percaya.


Di tengah kesibukannya, Alkaezar dan Raisya berlari kecil berhambur ke pelukannya. Aroma bayi tercium menusuk ke hidungnya, aroma ini begitu menenangkan. Beberapa waktu melepas pelukan keduanya, ia lantas tertawa keras dengan wajah keduanya. Dua bocah berusia lima tahun itu terlihat seperti badut dengan bedak bayi yang berceceran di setiap inci wajah mereka.


Terdengar derap langkah bersahutan. Ketika dilihat itu adalah Geisya dan Raya, wajah keduanya memerah padam. Alkaezar maupun Raisya bersembunyi di belakang Levana.


"Ada apa kakak-kakakku yang cantik?" tanyanya dengan kekehan geli mengingat wajah keduanya.


Raya berkacak pinggang membuat Levana semakin tergelak tawanya. Gaya Raya ini sudah seperti kanjeng ratu di rumahnya, siapa lagi kalau bukan bunda Taryn nya yang tersayang. Apakah semua ibu-ibu seperti ini? pikirnya melayang.


"Mereka berdua sudah waktunya tidur siang malah berkeliaran membuatku dan Geisya kelelahan mengejar mereka," sungut Raya kesal.


"Tapi kan beberapa hari ini Al melihat bibi Raya dan bibi Geisya kelihatan gemuk jadi ya Al ajak saja Rai untuk membantu kalian menguruskan badan," jawab Alkaezar polos.


Milan dan Viona yang sedari tadi berada di ruangannya Levana dalam mengevaluasi kembali hasil pencarian mereka terhadap putri mahkota Nordiff malah mendapat tontonan gratis.


"Wah bagaimana ini, kak Raya? Rai diajar sesat sama Al," kompor Viona.


"Bibi Vio jangan berbohong ya," Alkaezar berdecak malas.


"Lho? bohong apa sayang? bibi benar kok," balas Viona dengan wajah mengejek.


Keduanya terlibat cekcok ringan. Jarang-jarang Alkaezar bersikap menggemaskan seperti ini, seringkali diamati ia selalu menjadi bocah paling dewasa di antara teman-temannya.


Tanpa sadar Geisya menggendong tubuh anak lelaki berusia lima tahun itu sedangkan Raya menggendong Raisya.


"Ayo tidur! supaya kalian bertambah tinggi," ucap Raya pada akhirnya meninggalkan ruangan bersama Geisya.


Tersisa tiga orang di sana. Mereka kembali memfokuskan diri paada permasalahan yang ada, petunjuk-petunjuk keberadaan sang putri mahkota telah nampak ke permukaan.


"Bagaimana? apakah data tentang anak-anak panti asuhan sudah kau dapatkan, kak Milan?" tanya Levana mengotak-atik berkas di tangannya.


"Sudah. Seperti dugaan kita, dia memang putri mahkota," ucap Viona menimpali.


"Haah, ini sepertinya semakin rumit," gumam Levana memijat pelipisnya.


Tak ada waktu lagi untuk bersantai sekarang. Sebelum penobatan putri mahkota digelar, kandidat putri mahkota masih harus menjalani serangkaian persiapan yang memakan waktu dua minggu. Apalagi pencarian sudah berjalan sebulan, waktu yang tersisa hanyalah seminggu lagi.


"Aku tak menyangka dia adalah seorang putri mahkota. Tapi itu menguntungkan kita," Milan berdecak kagum.


Ketiganya kemudian menatap Daftar nama yang berjejeran dari atas ke bawah. Sampai berhenti di sebuah nama yang sangat familiar, mereka mengklik nama itu dan tampaklah foto sedari kecil sampai berusia empat belas tahun seorang gadis.



Nama: E. camilla


TTL: -


Umur: 12 tahun


Ditemukan ketika berusia dua bulan di depan panti Cinta kasih.


Levana berdecak malas melihat identitas singkatsang putri mahkota. Ia kemudian, kembali melihat berbagai macam bukti kuat bahwa orang terdekatnya adalah seorang putri mahkota.


"Apakah itu aku? kenapa menyelidikiku? apakah aku pernah bertemu dengan putri mahkota?"


Semua mata menuju ke arah gadis dewasa yang baru saja datang dan mengintip pekerjaan mereka. Tak lupa ia menyajikan minuman dan cemilan.


"Kak Milla," panggil Levana ragu.


Camilla duduk di samping gadis itu dan mengelus sayang surai pirangnya. Pertemuan mereka sejak empat belas tahun lalu membuat Camilla selalu ingin membahagiakan dan melindungi gadis kecil yang sudah ia cantumkan di jiwanya sebagai adiknya. Terlepas dari adanya hubungan darah atau tidak antara mereka berdua.


"Apa yang akan kakak lakukan jika kakak adalah seorang putri mahkota?" tanya Levana menyentak dirinya dari lamunan.


Deg


Jantungnya berdebar mendengar bunyi pertanyaan. Bahkan, kefua orang lain di sana terdiam membisu, Camilla sungguh berharga untuk mereka semua.


"Apa maksudmu? kamu masih memgingat khayalanku dulu, Leva," suaranya melirih di akhir.


"Aku serius kak! bagaimana jika kakak adalah putri mahkota yang hilang?"


"Itu tidak mungkin! aku hanya seorang yatim piatu, Levana!" suara Camilla sedikit meninggi.


Levana terdiam, air mata mengenang di pelupuk matanya. Ia mendonggak menatap wajah ayu Camilla yang selalu menjadi sosok kakak perempuan baginya.


Camilla membawa Levana ke pelukannya, ia juga menyuruh Milan dan Viona berhambur ke pelukannya. Suara memilukan timbul di antara keempat gadis itu.


"Kakak, aku menyayangimu," suara Levana hampir berbisik tapi masih terdengar.


"Kakak juga sayang, sudah jangan menangis. Ceritakan apa yang terjadi sampai kalian menuduhku sebagai putri mahkota," Camilla segera melerai pelukan mereka sebelum tangisan memecah.


Milan mengambil laptop dan menyodorkan pada gadis dewasa itu. Sejenak ia terdiam kemudian menggeleng tak percaya.


"Ini mungkin rekayasa," bantahnya berusaha tak percaya.


"Itu benar adanya. Kakak meragukan kemampuanku dan Viona?!" sentak Milan.


"Jadi...," suaranya tercekat.


"Ya, kakak adalah Evanora Twycamilluxana von Cunningham. Putri mahkota yang asli dari Kekaisaran Nordiff yang selama ini dikabarkan hilang setelah dua bulan kakak dilahirkan," Levana menjelaskan.


"Menurut pencarian yang kami dapati, ketika usia kakak masih dua bulan kakak diculik oleh perdana menteri Nordiff kemudian dibuang ke Qzeya, negara kita. Identitas kakak dihapus bahkan kalung yang seharusnya berada di leher kakak waktu bayi dirampas paksa agar keberadaan kakak tak pernah ditemukan," kali Ini Viona kembali menjelaskan.


Camilla masih belum bersuara. Ia tak menyangka ia adalah seorang putri mahkota, hati kecilnya bersorak karena akhirnya ia bisa memiliki orang tua yang lengkap tapi ia takut kalau semua ini hanya ilusi.


"Malam ini baginda kaisar akan datang. Kita akan langsung melakukan tes DNA," Levana menimpali.


Camilla akhirnya menyanggupi. Malam ini biarlah kebenaran terungkap, ia akan bersiap menerima apapun kenyataannya.


"Tahi lalat yang kakak punya dan semua ciri-ciri putri mahkota ketika bayi ada dalam diri kakak dan kami yakin kakak adalah Evanora. Bukankah nama depan anda terdapat huruf E bila dicocokan bisa saja itu Evanora."


"Perintahkan untuk semuanya bersiap dan kabari hasil pencarian kita. Atur agar kita makan mlaam bersama, aku akan hubungi papi dan bunda malam ini aku belum pulang," titah Levana.


Kabar ini harus secepatnya diberitahukan. Ia yakin semua orang penghuni mansion ini akan dengan berat hati melepas kepergian Camilla jika benar adanya dia seorang putri mahkota.


****


Negara-negara di cerita ini


Qzeya: negara yang Leva tinggal berada di benua Timur


Zwench: berada di benua barat


Meurotta: berada di benua selatan


Hreta: berada di benua Timur


Akan ada beberapa negara lagi yang muncul