
Sesampaainya di rumah sakit. Kekasih dari Levana itu dibawah lari ke UGD sementara Levana dan Matteo menunggu di luar. Tak lupa Matteo mengabari keluarga Damian tentang keadaan putra mereka.
•••
Damian perlahan membuka matanya setelah beberapa jam ia dibius. Berusaha mencerna apa yang terjadi dan baru tersadar bahwa dindalam ruangan itu terdpaat empat orang. Kedua orang tuanya, sang sahabat, dan terakhir kekasihnya.
"Sayang, akhirnya kamu sadar. Bunda khawatir banget sama kamu. Kenapa bisa terluka gini sih, pacar kamu udah ceritain tapi kenapa sampe kejebak sama mereka. Kamu mau bunda jantungan denger kamu masuk rumah sakit," bahkan nyonya Wilona tak membiarkan putranya tenang sedikitpun.
"Bunda, itu anaknya baru sadar lo malah nyerocos," sungut ayah dari Damian kesal.
Wilona berkacak pinggang mendengar ucapan kekesalan sang suami.
"Ayah salahin bunda? gitu yah? ayah udah gak sayang sama bunda?"
"Aduh bukan gitu bunda, ayah stress lama-lama bund," Biandi meraup wajahnya kasar.
Matteo yang sudah biasa dengan pertengkaran suami istri itu hanya memberi senyum tipis kala sang adik melongo saja.
"Mon maap bapak ibu, yang tenang ya sebelum saya santet lo. Gini-gini kenalan dukun banyak," ujar Levana.
Gadis itu bahkan tak perduli dengan statusnya sebagai kekasih dari anak mereka. Damian yang baru sadar terperangah apalagi ayahnya melihat bunda mereka tenang dan duduk menggandeng tangan Levana. Wanita itu sama gilanya dengan Levana.
"Aduh maaf ya mantunya bunda," ujar Wilona mengelus punggung tangan Levana.
"Iya gak papa, tante," Levana mengangguk.
"Kamu apa-apaan sih? kamu itu anak bunda, biar Damian aja yang panggil tante," tukas Wilona membungkam mereka semua di sana.
Damian yang dari tadi diam malah menatap tak suka pada bundanya. Dia dianak tirikan oleh bundanya sendiri, di sisi lain ia senang sebab bundanya bisa menerima Levana sebagai kekasihnya.
"Tante, Teo gak kelihatan ya?" Matteo angkat suara.
"Astaga, si tiang ada juga. Udah makan belom?" Wilona menepuk paha pemuda itu.
"Udah tadi sama Vana," jawab Matteo.
Wilona mengernyitkan dahinya sampai kedua alis hampir menyatu.
"Kamu pacarnya anak bunda?"
Damian semakin emosi sebab Wilona malah mengacuhkan dirinya yang baru sadar dan malah menuduh yang tidak-tidak pada sahabatnya.
"Vana adik kecil yang sering Teo cerita itu lho tante," jawab Matteo menatap sinis pada Damian yang juga melakukan hal yang sama dengannya.
Wilona menutup mulutnya sambil menatap kagum pada Levana. Sekedar informasi, Damian selama delapan belas tahun hidup tidak pernah sekalipun berpacaran atau menyukai lawan jenisnya karena Wilona sendiri tidak pernah mendengar ia menceritakan tentang seorang gadis.
Ya Damian cukup terbuka dengan orang tuanya dan selalu menceritakan setiap masalahnya agar bisa dengan cepat menemuian solusinya.
"Astaga, Levana. Akhirnya musim semi tiba di hati Dami kalo gak udah tante hancurin itu hatinya," ucap Wilona mengelus rambut Levana.
"Bunda, anak bunda sini lho," Damian berujar kesal.
Levana terkekeh melihat wajah Damian yang cemberut. Rasanya ia ingin menggigit pemuda itu saking gemasnya.
"Ish iya iya," Wilona mengedipkan mata pada Levana lalu duduk di kursi samping brankar. Memberi kecupan di kening Damian sudah menjadi kebiasaan Wilona sejak putranya itu baru lahir.
"Kamu pacaran kok gak bilang-bilang, bang," sinis ayahnya, Biandi.
"Ayah diam aja fokus sama kerjaannya biar duit bunda sama Dami ngalir terus," Damian memelototi sang ayah.
"Dih," Biandi heran ngidam apa istrinya sampai punya anak durhaka seperti Damian ini.
Levana paham akan hal itu langsung mengangguk antusias sambil mengangkat jempolnya.
"Sayang!" sentak Damian.
Matteo mendelik mendengar panggilan sayang yang keluar dari mulut sahabatnya yang terkenal dengan julukan benua utara itu teruntuk sang adik. Padahal baru dua hari yang lalu mereka berpacaran, DUA HARI!!
'Jijay banget,' batinnya menatap sinis lagi.
"Sudahlah. Dami ceritakan pada bunda apa yang terjadi sebenarnya sampai kamu terlibat dengan para preman itu?"
Suasana kembali serius setelah Wilona membahas perihal kejadian itu. Levana juga mempertajam pendengarannya. Namun, sesuatu melintas di otaknya. Ia seorang penderita OCD merasa tak apa disentuh oleh Wilona dan Biandi? sepertinya dari tadi tidak terjadi sesuatu padanya.
Menurut cerita Damian, ia sedang menuju ke suatu tempat tapi di tengah jalan ia dihadang sebab ia mengambil jalan pintas. Mereka terlibat perkelahian hingga datangnya Levana menghentikan perkelahian.
"Tapi... ada yang janggal menurut ceritamu, Dami," Levana bertopang dagu.
"Apa itu, nak?" tanya Biandi.
"Yang menghadang mobilnya ada delapan orang. Tapi, yang Vana hadapi tadi hanya enam orang dan mereka sudah diamankan polisi termasuk yang pamit pulang mandi. Nah, dua orang lainnya di mana?"
Aura hitam pekat menyelimuti ruang inap Damian tapi tak membuat Levana sadar akan perubahan itu. Ia terlalu serius memikirkan siapa yang berani mengganggu miliknya. Iya miliknya sejak mereka memutuskan untuk berpacaran.
•••
Tak tak tak
Ketukan high heels dengan lantai memecahkan kesunyian di lantai atas sebuah club. Hiruk pikuk di lantai bawah di mana manusia-manusia kurang kerjaan menghabiskan waktu berharga mereka.
Pintu sebuah ruangan terbuka menampakan seorang pemuda duduk dikelilingi para wanita-wanita malam yang bergelayut manja di setiap lekuk tubuhnya.
"Hai nona," sapa pemuda itu sebut saja di Lucas.
Gadis yang menyusuri koridor sepi itu memakai topeng kupu-kupu dengan gaun malam yang terbilang sexy. Lucas menatap penuh menilai akan kemolekan tubuh gadis yang bisa ia tebak seusia dirinya.
Dor
Satu tembakan melesat mengenaik dagu Lucas sampai sang empu berteriak kesakitan. Wanita-wanita di sampingnya tidak bereaksi apa-apa, melepas rengkuhan tangan itu lalu berjalan keluar ruangan.
(Anggap saja pakai topeng)
Gadis itu kembali melepaskan timah panas yang bersarang tepat di jantung Lucas. Lucas tewas di malam pukul 20.38 dalam keadaan mengenaskan setelah banyak peluru bersarang di perutnya apalagi darah merembes di lantai sudah membentuk genangan.
Gadis itu pergi sambil memainkan pistolnya, menemui para wanita tadi.
"Halo nona," sapa mereka.
"Biarkan mayatnya seperti itu untuk peringatan sudah menyentuh milikku," suruh gadis itu.
"Baik nona!"
Tak mau berlama-lama gadis itu pergi begitu saja dan melajukan motor sportnya hingga sampai di sebuah mansion megah di dalam hutan. Memarkirkan motornya lalu masuk ke dalam.
Mandi lalu beristirahat sebelum besok ia kembali menjadi gadis lugu. Ya, gadis itu menggunakan dua topeng dalam kehidupannya. Tak ada siapapun yang tahu hal itu.
•••