He?!

He?!
HE: 05




Gadis itu terusik dengan sinar mentari yang menelisik masuk ke celah gorden yang disingkap oleh gadis lainnya. Jendela dibuka membjat angin segar bertiup menerbangkan rambut lembut sang gadis.


"Camilla bisakah kau jangan mengganggu putri tidur sepertiku?!" menyentak gadis yang membuka gorden itu.


Gadis bernama Camilla berdecak kesal mengambil segelas air dan menyiramkan ke kepala sang gadis. Sontak membuatnya terbangun tiba-tiba dengan bibir mengerucut tak senang.


Memilih bersiap berangkat sekolah sebelum Camilla mengomelinya sepanjang kereta tanpa henti.


Mendengar gemericik air dari kamar mandi akhirrnya Camilla bernapas lega kemudian pergi dari kamar bernuansa putih temaram itu.


Melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 09.30 tepat membuat gadis itu bergegas menuruni tangga tanpa menyadari bahwa di mansion pribadi miliknya terdapat lift khusus. Ya mau bagaimana lagi dia sudah tak memikirkan itu sebab terlalu tergesa-gesa.


"Hey gadis nakal! nikmatilah sarapanmu!" Camilla berteriak dari ruang keluarga.


"Haish pindahkan ke kotak makan, Camilla! aku mau menyiapkan mobil dulu," teriak gadis itu tak mengindahkan geraman rendah dari Camilla.


Camilla melakukan apa yang diminta karena ia hafal betul tingkah gadis itu yang tak akan makan walau kelaparan sedikitpun jika ketenangannya sudah terusik.


Gadis itu menyalimi tangan Camilla yang lebih tua sembilan tahun darinya. Camilla sudah seperti kakak. E. Camilla, yatim piatu yang dipertemukan oleh gadis misterius itu.


Camilla satu-satunya orang yang mengetahui seluk beluk gadis itu ah tidak juga sebab ada dua orang yang mengetahuinya. Tentang kebohongan besar yang disembunyikan oleh gadis itu.


Camilla tersadar dari lamunannya ketika mobil yang dikendarai sang gadis misterius susah melaju melewati hutan belantara.


"Padahal mau kuingatkan untuk hati-hati, Vana," gumam Camilla lekas menutup pintu.


Di mansiom besar itu hanya berisi Camilla dan beberapa pekerja yang ahli dalam beberapa hal. Beberapa pekerja yang merupakan mantan pembunuh bayaran dan aparat hukum yang diberhentikan secara tidak terhormat dan masih banyak lagi. Tak banyak hanya seratus orang. Mereka terbagi menjaga kawasan mansion dibawa pimpinan Camilla untuk sementara.


Bos besar mereka yang sering dipanggil Nyra masih fokus dalam sekolahnya dan akan menuntaskan satu masalah besar yang sampai sekarang belum ada kemajuan.


Di sisi lain, Levana berdecak malas melihat keadaannya sekarang. Kemeja yang basah dan kaosnya yang kentara menampakan lekuk tubuhnya yang bagus bak seorang model.


"Sayang, gue bawain lo air," pengganggu sudah tiba membuat mood Levana semakin jatuh ke dasar jurang.


Di belakang pemuda itu seorang gadis berwajah polos tapi manis mengintilnya seperti anak ayam. Sedetik kemudian ia memandang sinis Levana yang tak juga menerima pemberian Gilang.


"Gue gak butuh," Levana sedikit mengambil jarak, jangan sampai ia pingsan lagi gara-gara menyentuh Gilang.


"Gue beliin buat lo, terima aja," paksa Gilang perlahan mendekat.


"Kak Levana kok jahat banget. Masih baik dikasih," Rebecca angkat suara tak terima pacarnya diabaikan.


Yup, keduanya sudah berpacaran sehari yang lalu. Padahal Rebecca tahu sendiri sebannyak apa pacara pemuda itu sebelum mereka berpacaran. Memang cinta itu buta dan jangan sampai Levana dibaut buat oleh cinta. Mungkin, pacarnya masih punya kesempatan untuk membuat Levana yang tak perduli menjadi posesif.


"Gak urusan!" bentak Levana terbawa emosi.


Hey dia sedang panas-panasan dan dua tikus tanah ini datang membuat ia semakin panas, rasanya Levana ingin segera enyah dari sini tapi mengingat ini keterlambatannya yang ketiga kali bisa-bisa orang tuanya dipanggil. Masalahnya sang bunda akan berceloteh selama dua jam lebih, itu menjengkelkan.


Kembali ke waktu sekarang, Rebecca menyiram Levana dengan botol air yang ia rebut dari tangan Gilang.


Levana terhenyak sebentar dan hendak menjambak rambut gadis itu. Beraninya, gadis naif itu mengganggu ketenangannya. Emosi Levana semakin naik ke ubun-ubun.


"Becca!" sentak Gilang kasar.


Mata Rebecca pun berair karena dibentak pacarnya. Ia memberenggut dan memilin baju Gilang, Gilang tak tega lalu membawanya ke pelukannya.


"Sayang," Spontanitas dari Levana membuat pemuda itu terkejut.


"Ya, ini aku sayangmu. Abaikan mereka dan mari kita ganti bajumu, aku tak suka berbagi," Damian datang di waktu yang tepat sebelum Levana mengamuk.


Gilang dan Rebecca hanya menatap mereka tapi tangan Gilang terkepal erat. Ia kalah start dengan si murid pindahan yang sok kegantengan, biasa ia menyindir dirinya sendiri.


•••


Damian berdiri di depan pintu toilet putri sambil memainkan ponselnya menunggu kekasihnya berganti baju. Lima belas menit, Levana keluar dengan penampilan rapi dan muka kusut.


"Kenapa, hm? mukanya kusut begitu," Damian sedikit membungkuk meniup mesra wajah Levana.


"Lapar sayang," Levana jijik sendiri dengan tingkahnya.


'Gue kenapa sih?! kok manja gini?!' batinnya sendiri tak percaya.


"Ayo ke kantin, masalah pelajaran nanti aja Aku tahu kamu pintar," Damian menggandeng tangan Levana erat menuju kantin.


Levana menurut. Di kantin, keduanya mengabaikan berbagai macam tatapan yang tertuju dari siswa-siswi yang juga sama membolos bersama mereka.


Damian dengan telaten menyuapi makanan ke mulut Levana, sesekali ia menyingkap sedikit rambut Levana yang menjuntai.


"Kamu diapakan mereka, sayang?" tanya Damian menyuapkan sesendok bakso.


Levana menggeleng dengan pipi bergoyang sebab mengunyah.


"Diganggu. Masa mereka gangguin aku sih sayang," Levana bergelayut manja di lengan Damian.


Damian menyimpan sendok diatas meja setelah bakso Levana sudah dilahap habis. Ia mendekatkan diri dengan Levana dan mengelus rambut Levana sayang.


"Orang-orang itu berani sekali mengganggu kesayanganku," geram Damian tertahan.


Tanpa sadar Levana tertidur padahal suasana sudah mulai ramai saat ini. Waktu istirahat telah tiba ditandai dengan bel yang bergema di seluruh penjuru sekolah.


Kepala gadis cantik itu hampir beradu dengan meja di depannya tapi dengan sigap Damian menahan kepala Levana lalu menggendongnya menuju ke UKS.


"Adek gue kenapa?" Matteo langsung was-was melihat Damian menggendong sang adik ketika bertemu di pintu kantin.


Ada sahabat Damian yang lain yang juga sedikit terkejut dengan sikap gentleman seorang Damian. Mau seorang perempuan itu hampir mati sekalipun, Damian tidak akan turun tangan langsung palingan anak buahnya yang bergerak.


Tapi keajaiban terpampang nyata di hadapan mereka. Damian yang 'itu' menggendong seorang gadis.


"Ketiduran."


Hanya itu jawaban dari pertanyaan penuh rasa khawatir Matteo. Damian pergi begitu saja sebelum kekasihnya terbangun karena keramaian.


Matteo dan Calvin menatap punggung lebar Damian yang sudah hilang di belokan koridor. Matteo sendiri khawatir adiknya terancam bahaya oleh Damian. Sebab ia sangat tahu betul bagaimana kepribadian seorang Damian.


Matteo maupun yang lain berharap gadis itu akan baik-baik saja selama menjalin hubungan dengan Damian.


•••


Huhu, akhirnya bisa up teman-teman