
"DAMIAN!!"
Levana berteriak kesal. First kissnya sudah diambil oleh kekasihnya, padahal... padahal... padahal Levana juga suka.
Ahayy
Damian segera membekap mulut Levana teriakan gadisnya bukan main menyakitkan dan menusuk gendang telinga.
"Sst sayang diam. Gak papa ini pengalaman pertama jadi kita coba aja dulu. Btw bibir kamu manis pengen lagi," bisik Damian.
Dengan kencang Levana memukul dahi Damian, ia melayangkan beberapa cubitan pada pinggang dan paha tak lupa dada bidang Damian juga terkena cubitan mautnya.
"Udahlah aku ngambek!" Levana melipat tangan dan meletakan kepalanya di sana, tak butuh menit ia sudah tertidur pulas begitu pulas sampai terdengar dengkuran halus.
Damian memberi peringatan pada guru yang baru masuk bahwa jangan mengganggu kekasihnya yang sednag tidur. Tentu saja disanggupi karena tak mau berurusan dengan pewaris Silas itu.
•••
Waktu berlalu dengan cepat dan sekarang sudah tiba waktu istirahat. Damian menggandeng tangan Levana menuju kantin, mereka menjadi pusat perhatian. Levana yang begitu asing dengan sekitarnya tak pernah punya teman karena dianggap merepotkan. Terkecuali orang-orang di mansion miliknya sendiri.
Sedangkan Damian sendiri sudah terkenal dengan identitasnya didukung oleh paras rupawannya.
Levana mendengus kesal melihat tatapan lapar yang terarah pada Damian. Rasanya Levana ingin sekali mencongkel bola mata mereka lalu ditusuk seperti menusuk sate atau menggorengnya kemufisn diberikan pada harimau.
Brugh
Damian terdiam menatap gadis yang terduduk di lantai dengan air mata yang sudah mulai turun. Ia menatap pada Levana meminta pendapat, Levana hanya mengendikan bahu.
"Awws, kak Dami boleh bantu aku?" Rebecca, gadis yang merupakan pacar Gilang itu mengulurkan tangannya dengan deraian air mata.
Levana bergegas menepis tangan terulur itu membuat Rebecca merasa sakit dan mulai menangis sesunggukan. Sebagian siswa dari banyaknya penonton disana yang menyaksikan menyayangkan sikap tidak simpati Levana, mentang-mentang putri Winona saja ia berbuat semaunya, begitu pikir mereka.
"Lo yang nabrak lo yang jatoh lo juga yang nangis. Liat pacar gue aja gak cengeng kek lo," omel Levana menatap garang Rebecca.
"Ta tapi kak Dami co cowok," suaranya terbata-bata.
"Diam sialan! jangan manggil gue Dami, lo orang asing gak udah sokab!" tegas Damian penuh penekanan.
Tatapan tajam ia layangkan, nama Dami hanya diperuntukan untuk orang tertentu dan Damian benci dipanggil seperti itu oleh gadis sialan di depannya.
Bukannya berdiri setelah diremehkan, Rebecca semakin mengeraskan suara tangisnya dan membuat Damian dan Levana dipandang sebagai antagonis saat ini.
"Masuk akal ya kalo lo itu ******. Udah rebut pacar gue malah mau ganggu hubungan orang. Harga dirinya di mana?"
Levana tertawa keras mendengar perkataan Thea yang ada benarnya walau ia masih kesal denga. gadis itu yang tempo hari menudingnya dengan perkara yang tidak benar.
"Thea!" sentak Gilang emosi.
Gilang yang baru datang terkejut dengan posisi Rebecca di lantai dan Levana dan Thea yang tertawa keras seperti sefrekuensi. Ia lantas membantu Rebecca berdiri dan menghapus sisa air mata gadis itu.
"Lang, lo sadar gak sih? kalo sebenarnya lo yang buaya itu diperalat sama ****** ini?" tanyaa Thea.
"DIAM CHATHENNA!" bentak Gilang tak suka.
"Wow! Thea sialan lo kalah sama ****** dong, masa," ledek Levana.
"Diam lo tai! jangan samain gue sama ****** itu, gak level dan gue gak gila ketenaran sampai harus ganggu hubungan orang sih," setelah itu keduanya kembali tertawa.
"Ka kalian kok tega sih?" tanya Rebecca.
"Tega! biarin rasain lo, emang enak?" Thea menyibakan rambutnya lalu pergi begitu saja setelah menepuk bahu Levana pelan.
'Ah kayaknya dia teman sekolah yang pantas ni,' batin Levana tersenyum penuh makna.
"Sayang abaikan ****** dan buaya itu ayo ke kantin," ajak Damian.
"Siapa yang kak Dami maksud ******?" Rebecca masish bertanya.
Levana mengepalkan tangan tak suka ketika nama Dami masih keluar dari mulut ****** itu.
Biar mereka menganggapnya kasar atau apalah tak perduli. Ia tak suka miliknya didekati orang seperti Rebecca ini.
Gilang hendak angkat suara membela pacarnya tapi ancaman Damian berhasil membuatnya bungkam.
"Bertingkah terus dan kalian berdua hilang dari muka bumi!"
Sepeninggal Damian dan Levana. Rebecca menatap sinis Gilang diam-diam yang tak bisa membelanya dari Levana, dasar tidak berguna, makinya dalam hati.
•••
Levana mematut dirinya di cermin, dengan segera memakai lipstik merah darah membuat ia terlihat semakin cantik. Mengambil tas lalu berlari menuruni tangga, terlihat Simon dan Damian yang asik bercengkerama.
"Bunda!" panggil Levana.
"Ya ampun. Suara kamu itu gak bisa dikecilin, sayang?" Taryn dengan masker wajahnya datang.
"Sadar diri bunda," tukas Levana cepat.
Sebelum adu bacot berlanjut Simon harus memisahkan mereka. Kan tidak elit bertengkar di depan calon menantu.
"Vana sana berangkat, kasian Damian sudah menunggumu sedari tadi," suruh Simon.
"Hng!" Levana menyalimi tangan bunda tercinta.
Damian membukakan pintu mobil untuk kekasihnya lalu ikut masuk setelahnya. Selama perjalanan Levana tak membiarkan keadaan hening, ia banyak bercerita tentang apa saja yang ia alami selama Damian pergi ke Meurotta.
Mereka berhenti di pom bensin. Damian meminta maaf karena lupa mengisi bensin yang akhirnya membuat Levana menunggu, ia yang mengajak tapi ia yang lalai.
"Kau tahu? siapa yang membunuh perdana menteri Hreta?" tanya salah seorang pengendara motor yang juga mengisi bensin.
"Kudengar dari beberapa pendapat bahwa kematiannya itu disebabkan oleh Nyra," timpal si SPG.
"Jangan bohong!"
"Benar, Nyra si bidadari pembunuh itu beraksi dan muncul setelah sebulan lalu ia membunuh polisi dari Meurotta karena mencabuli seorang remaja perempuan sampai meninggal."
"Tutup mulut kalian! Nyra begitu misterius bisa-bisa kita yang dibunuh karena menggosipkan dirinya."
Pembicaraan tentang Nyra dan Melinda itu masih panas-panasnya membuat Levana yang diam-diam mendengar tersenyum puas. Dunia begitu takut dengan bidadari pembunuh itu. Namun, di sisi lain masih ada seseorang yang dijuluki boss dunia bawah ia sana berbahayanya dengan Nyra. Nyra begitu penasaran dengan boss itu tapi ia tak punya kuasa sebesar itu untuk mengetahui siapa itu boss.
"...Na."
"Levana!"
"Ah iya sayang!" Levana tersentak kaget.
Damian melebarkan senyum mendengar panggilan dari Levana untuknya. Dengan merona ia menoel pipi tembam gadisnya membuat Levana yang tak biasanya malu jadi malu sendiri.
"Maksudku ada apa, Dami?"
"Tidak panggil aku seperti tadi," pinta Damian malu-malu.
"Da Dami kan?"
"Ayolah sayang, kini aku sudah memanggilmu sayang lalu kau tak mau memanggilku begitu?"
Levana gelagapan melihat raut murung kekasihya. Ia menyelipkan rambut ke belakang telinga dan berujar pelan, "Kenapa sayang?"
"Tidak apa-apa sayang. Kau tadi terus melamun aku takut kau kenapa-napa."
Levana ingin sekali menenggelamkan diri saja berhadapan dengan Damian. Selama perjalanan kencan mereka Damian gencar menggoda kekasihnya itu.
•••