He?!

He?!
HE : 13



Levana memgendarai motornya dengan pelan berusaha terhindar dari kecelakaan lalu lintas. Dia masih ingin hidup dan menemukan kebahagiaannya apalagi jika ia jatuh sakit para wanita-wanita Winona akan menceramahinya siang malam.


Mata gadis itu memyipit melihat seseorang berpakaian hitam di tengah gang sempit, lumayan penglihatannya begitu tajam. Di tangan orang itu terdapat cerurit yang sudah dibasahi darah dan darahnya menetes. Bukan itu yang menjadi fokus perhatiannya tapi postur tubuh pemuda itu yang begitu familiar tapi Levana tak tahu siapa itu.


Setelah lampu merah sudah berganti, gadis itu melenggang begitu saja tanpa memastikan siapa yang ia katakan familiar.


Siapa bilang pemuda tadi tidak menyadari kalau ada yang menatapnya. Ia tenggelam dalam kegelapan dengan genangan darah yang membanjiri dari arah berlawanan beberapa anak buahnya sudah siap membersihkan perbuatannya.


Melepas jas yang ia pakai kemudian dilemparkan ke dalam api. Wajah itu berseri-seri setelah puas menghukum mereka yang bermain-main dengannya. Bayang-bayang wajah kekasihnya membuat Damian ingin sekali pergi dari sini sann menemui Levana tapi apa boleh buat ia tak ingin Levana tahu sisi gelapnya.


Iya Damian, pemuda keturunan Silas itu bukanlah orang biasa. Damian diam-diam menjadi seorang mafia yang cukup berkuasa di dunia gelap, ia tak ingin menunjukan keburukan dirinya pada gadisnya.


"Bereskan!"


Damian masuk ke dalam mobil dan segera mengistirahatkan dirinya sebelum pagi nanti ia harus sekolah. Di usia delapan belas tahun ini ia harus menempuh dua profesi sekaligus, menjadi seorang siswa dan seorang mafia.


●●●


Berguling kesana kemari di atas ranjang sampai selimutnya entah kemana dengan bantal yang sudah terbaring lemas di lantai. Damian melihat jam dinding sudah menunjukan pukul satu dini hari. Tapi, matanya tak bisa diajak berkompromi.


"Arghh! Apakah tadi Leva melihatku?" ia memgacak rambutnya kesal.


Jika Levana tahu ia adalah seorang mafia, gadisnya itu pasti membencinya dann menjauhi dirinya. Apalagi OCD yang dideritanya pasti akan membuat Damian semakkin susah mendekatinya kembali.


Dari pada tidak bisa tidur, ia mengambil ponsel lalu mengetik satu nama di antara lima belas kontak.


^^^Anda^^^


^^^Teo^^^


Matti_O


Paan? napa lo gak tidur?


Anda


Leva mana?


Matti_O


Nih lagi meluk gue😚


^^^Anda^^^


^^^🖕^^^


^^^Ngapain dia peluk lo?^^^


Matti_O


Yaa... karena dia kangen abangnya lah. Lo cemburu kan?


^^^Anda^^^


^^^Luna masih lapar setelah kuberikan makan malamnya. Kau mau menawarkan diri?^^^


Matti_O calling...


Damian malas mengangkat panggilan dari sahabatnya itu. Ingin menolak malah salah tekan dan berakhir ia menerima panggilan itu. Damian akan kembali melancarkan ancamannya tapi suara di seberang membuatnya diam.


"Sayang? kenapa belum tidur hmm?" suara serak milik gadisnya membuat Damian memejamkan mata menikmati suara itu.


"Bang? emang beneran Dami?" tanda tanya terdengar dari seberang.


Di sisi lain, Levana yang tiduran di lengan kakaknya malas membuka matanya. Baru saja ia disodori ponsel abangnya itu dan berkata bahwa itu dari Damian. Hanya berbicara dan malas membuka mata, Levana ingin tidur lagi tapi mendengar kalau kekasihnya tidak bisa tidur, ia juga tak tega membiarkan pemuda tampan itu begadang.


"Bener, Damian Leva! baca namanya," Matteo mencapit hidung adiknya.


Mata yang semula terpejam kini terbuka sempurna sebab kelakukan Matteo. Ia memberontak dan menendang sembarangan.


"Sayang! Teo apain kamu?!" tanya Damian langsung panik.


"Ih ayang Dami masa abang capit hidungku gak bisa napas aku," Levana beringsut menjauh setelah berhasil menendang tubuh abangnya sampai terjatuh ke lantai lantas mengadukan semuanya pada kekasihnya.


"Biar nanti besok Dami balas ya," ujar Damian penuh kelembutan.


"Hemm," Levana mengangguk pelan dengar suara yang sudah pudar. Tanpa mengucap selamat malam ia sudah ambruk di kasur abangnya membuat Matteo merasa gemas paada adiknya.


Setelah berpamitan pada kekasih adiknya sekaligus sahabatnya. Kedua kakak beradik itu tidur sambil berpelukan. Matteo dalam menatap wajah damai adiknya yang tengah tertidur.


"Abang doain semoga kamu bisa bahagia dengan Damian dan menerima apapun yang ada padanya," ucap Matteo pelan.


Ia tahu semua rahasia Damian bukan hanya dirinya tapi Calvin juga mengetahuinya. Ketiganya sudah bersahabat sejak kecil apalagi menempuh pendidikan di Meurotta selama sebelas tahun bukanlah waktu yang singkat. Hal terdalam pun mereka tahu tentang sahabat mereka itu.


●●●


Ketukan berirama terdengar di atas meja poerselen tersebut. Gadis yang tak lain Levana sudah seharian ini berada di ruangan pribadinya yang ada di mansion utama.


Alisnya terus berkerut memikirkan hal yang begitu rumit. Menatap sebuah foto yang diberiikan Kaisar Cleo paadanya, foto putri asli kekaisaran Nordiff. Tahi lalatnya begitu familiar begitu pula wajahnya bayi kecil di dalam foto itu membuat Levana teringat seseorang.


"Mana mungkin dia?" tanyanya ragu.


Tok tok tok


"Masuk!"


Pintu terbuka dan menampakan tiga manusia berbeda gender sekaligus berbeda usia. Camilla, Raisya, dan Alkaezar. Alkaezar mengambil tempat di pangkuan Levana membuat Raisya mencibir.


"Apakah ini bibi Camilla waktu bayi," ucapan Alkaezar barusan mengundang tanya dua gadis dewasa di sana.


"Ini foto seorang bayi, Al. Mana ada Camilla seimut ini," dengus Levana kasar.


Camilla yang penasaran segera menuju ke meja Levana dengan Raisya yang ada di gendongannya. Mereka berempat menatap pada foto tersebut, Camilla menggeleng.


"Tidak mungkin! Aku dibesarkan oleh almarhum bundaku yang sudah meninggal, Al. Lagi pula bagaimana kau menyamakan aku dengan putri mahkota Nordiff," ucapnya kemudian.


"Putri kekaisaran? apakah seperti putri-putri di televisi itu?" tanya Raisya penasaran.


"Hampir sama tapi cakupan wilayah Nordiff lebih luas," jawab Levana.


"Seperti mansion kak Vana?" tanya Raisya lagi.


"Lebih luas dari mansion kakak. Jika dibandingkan pastilah mansion kakak ini hanya sebatas rumah semut," jawab Levana.


"Tidak ada perkembangan dari misi ini?" tannya Camilla.


"Tidak. Aku bingung sudah berjalan dua minggu dan aku tak mendapatkan hasil apapun, sebenarnya siapa bayi ini? putri mahkota kau sungguh merepotkan," kesal Levana.


"Bersabarlah, pasti sebentar lagi kau menemukan petunjuknya," Camilla memberi semangat.


"Semangat!" seru Raisya dan Alkaezar kompak.


Sudah begitu lama anak-anak korban prostitusi di bawah umur tinggal di sini. Di waktu singkat ini mereka bisa lebih membuka diri dan berani mengatakan pendapat mereka.


Begitu pula Alkaezar. Sosok pemuda kecil yang begitu kaku dan sedikit introvert ini lebih dekat dengannya dibanding teman-teman Levana di mansion ini. Jika ditanya mengapa begitu, ia akan menjawab karena Levana spesial dan membuatnya nyaman.


"Sudahkah adik-adikku yang manis ini tidur siang?" tanya Levana.


"Belum! ayo tidur bersama, kakak!" pinta Alkaezar penuh manja.


"Hmm, ayo. Camilla kau bereskan dulu ruanganku. Aku ingin istirahat dulu," pamit Levana.


Camilla tersenyum kemudian membiarkan ketiganya memasuki kamar Levana yang bersebelahan dengan ruang pribadinya. Di ruangan itu terdapat pintu untuk akses keluar masuk.


●●●


Huhuhu, disibukan dengan PBAK