He?!

He?!
HE: 16



Sebuah mobil sederhana yang tidak bisa dibilang sederhana juga sebab harganya yang mencapai ratusan juta memarkirkan diri di garasi. sekitar dua puluh orang berdiri sejajar menyambut orang terhormat yang ada di dalam mobil itu.


Pria parubaya keluar dari mobil dan tanpa basa-basi membuka pintu utama kediaman sang bidadari pembunuh.


"Selamat datang, yang mulia," semua membungkuk sopan termasuk Levana dan Camilla.


Camilla menegang di tempat ketika ia bertemu pandang dengan ayah kandungnya. Ayah yang selama ini ia idamkan, ayah yang selama ini ia nantikan kehadirannya.


Kaisar Cleo hendak menerjang tubuh putri kandungnya tapi langsung dihalangi oleh Levana. Ia berdiri di depan Camilla dengan kedua tangan direntangkan.


"Eitss! jangan main sentuh dong! belum resmi ya," Levana membuang rasa segannya pada seorang kaisar di depannya.


Kaisar Cleo maupun orang-orang di sana menganga tak percaya apalagi pengawal pribadi sang kaisar.


"Tenanglah Nyra jangan bertingkah," tegur Camilla mencubit lengan gadis itu.


Kaisar Cleo dipersilahkan duduk. Tatapan merindu ia arahkan pada putrinya yang dua puluh enam tahun ini hilang karena keteledorannya dan sang istri.


Ajudan kaisar meletakan sebuah berkas di depan Camilla. Camilla tak banyak bicara segera mengambil berkas itu dan membacanya, matanya berair membaca deretan kata yang muncul di kertas itu. Kemudian, ia mendonggak menatap wajah kaisar Cleo yang sudah berderai air mata.


Levana ikut mengintip, senyumnya terbit kala penyelidikannya tak pernah melesat. Ini sempurna! ia mempunyai sahabat seorang putri mahkota negara adikuasa.


"Bolehkah ayah memelukmu, Nora?" Kaisar Cleo bertanya dengan nada lirih.


Camilla berdiri dan menghujami tubuh pria itu dengan pelukan. Selama bertahun-tahun, pelukan ini yang ingin ia rasakan, pelukan yang tak sama dengan pelukan yang orang lain berikan.


pelukan hangat seorang ayah keepada putrinya. Apakah sudah saatnya Camilla bahagia? begitu pikirnya.


Levana diam-diam menghapus air matanya. Ia mempunyai keluarga cemara tapi tidak untuk Camilla dulunya, pertemuan mereka saat Camilla sedang sekarat di usia mudanya ditolong oleh Levana kecil.


"A ayah," Camilla merasa canggung dengan panggilan itu tapi ia ingin sekali memanggil orang nomor satu di dunia ini dengan sebutan itu.


Kaisar Cleo mengecup pucuk kepala putrinya yang hilang begitu lama dengan mata masih dipenuhi air mata. Ia bahagia, akhirnya penantiannya berhasil. Jika istrinya tau bahwa ia sudah menemukan putri asli mereka maka wanitanya itu akan membuat perayaan besar-besaran.


"Aku merindukanmu, Nora. Putri kecilku," lirih pria setengah baya tersebut.


"Ayah, aku tak menyangka ini semua nyata," gadis itu berulang kali menarik lendir yang keluar dari hidung.


"Kak, jangan ditarik terus ntar penyakitan," tegur Milan.


Levana terkekeh bersama yang lain. Malam ini menjadi saksi pertemuan perdana seorang ayah dan putrinya yang sudahh hilang dari dekapannya sejak bertahun-tahun lalu.


"Terima kasih sudah menemukan putriku, Nyra," Kaisar Cleo hampir saja lupa berterima kasih.


Beliau mengakui kehebatan Nyra sejak dulu. Ia bermain rapi dan hasil tugasnya tak diragukan, bisa saja jika Nyra membuat sebuah pemerintahan maka pemerintahan itu bisa mengalahkan negaranya sekalipun.


"Yang mulia, bisakah pengawal anda disuruh tunggu diluar," lebih ke perintah, Levana berbiat sesuka hatinya kini.


"Kami tidak bisa!" mereka menolak spontan, walau agak gemetar melihat tatapan bringas yang Levana berikan.


"Pergilah!" titah Kaisar Cleo.


Mau tak mau mereka menunggu diluar menyisakan dua anggota keluarga kekaisaran itu bersama Levana dan anak buahnya.


"Jadi apa yang akan anda katakan Nyra?"


"Saya akan memperkenalkan diri saya dengan resmi, saya. Levana Nymeria Winona. Nyra hanya identitas samaran saya, saya rasa anda perlu tau karena anda ayah dari Camilla," Levana beurjar elegan.


Kaisar Cleo menatap putrinya dan Levana bergantian.


"Jangan bilang, selama ini Camilla kau yang jaga, Levana?"


"Tentu saja. Lebih tepatnya kak Camilla yang merawatku dan mengurusku selain kedua orang tuaku," kembali menjawab.


"Apakah itu benar, nak?"


"Ya ayah. Levana dan kedua orang tuanya lah yang selama ini membantu Camilla, mereka memberiku sama seperti apa yang mereka berikan pada putri mereka."


Kaisar Cleo tak tau harus berbuat apa lagi. Ternyata Nyra atau Levana ini sudah bannyak membantu dirinya.


"Aku sangat berterima kasih padamu, Levana. Kamu sanngat berjasa, apa yang kau inginkan sebagai imbalan?"


Levana menggeleng keras dengan tersenyum, "Saya menyayangi Camilla seperti kakak saya sendiri, tapi jika soal imbalan tolong rahasiakan identitas asli saya. Biarlah suatu saat akan saya gemparkan dunia jika itu dibutuhkan."


"Aku tak bisa berbuat apa-apa jika itu yang kau inginkan," pria itu balik menatap putrinya. "Jika ada barang kesayanganmu di sini tinggalkan dan biarlah jadi kenangan. Ayah akan menjemputmu tiga hari lagi dan langsung pulang ke Nordiff. Berpamitlah pada teman-temanmu."


"Baik ayah. Terima kasih selalu menantiku," kembali Camilla memeluk sospk tegap ayahnya.


Setelah melaksanakan makan malam antar mereka. Kaisar Cleo pamit pulang begitu pula Levana yang sudah diteror oleh papi bundanya untuk pulang. Belum lagi kekasihnya merengek jarena teleponnya diabaikan.


Levana sengaja membuat ponselnya mati daya bair tak ada yang mengganggu dalam perbincangannya dengan tamu terhormat.


***


Levana menyeringai melihat sebuah mobil mengikutinya setelah ia kekuar dari hutan tempat markas besar seorang Nyra tersimpan. Tapi, ia yakin penguntit itu tak akan tahu lokasi mansion Levana.


Levana bermain sedikit dengan menembakan tiga peluru ke penguntit itu. Tak ayal, mereka tetap tegguh pendirian dan mengikuti mobil Levana. Mobil yang sudah dimodif itu berjalan dengan sendirinya sedangkan Levana menumpahkan minyak bumi ke jalanan yang dilewati mereka.


Ketika mobil di belakangnya sudah hampir dekat, Levana melemparkan lilin yang menyala. Dalam sekejap mobil tersebut meledak dan meneranngi langit malam, beberapa warga yang tinggal di sekitaran situ menghubungi beberapa pihak yang berkaitan.


Tanpa merasa bersalah, Levana bersenandung dengan suara indahnya.


"Siapa suruh ganggu gue di saat gue udah ngantuk gini," keluhnya.


Sepuluh menit akhirnya ia berhasil sampai di rumah. Melewati beberpaa penceramah dadakan barulah Levana berhasil sampai ke kamar tepat pukul 22.45.


"Halo sayang," sapa Levana di teleponnya.


"Sayang! kenapa tadi pas aku nelpon gak aktif?"


Levana melebarkan senyum mendengar suara Damian yang manja dan sangat menggemaskan. Andai lelaki itu ada di depannya, Levana pastikan pipi kekasihnya sudah ia gigit.


"Jalan-jalan sama bunda. Bunda gak bisa diganggu kalau sudah begini, maklumi ya sayang. Besok kan ketemu di sekolah," Levana mencoba memberi pengertian.


"Iyaudah."


Mereka saling berbincang sampai Levana tidur lebih dulu. Ia membiarkan panggilan itu masih tersambung.


***