He?!

He?!
HE: 01



•••


Kegiatan gadis itu hanya seputar membaca novel atau bermain ponsel ditengah kericuhan yang terjadi beberapa saat lalu. Kekacauan yang terjadi berawal dari Thea, pembully kelas atas melabrak si naif Rebecca. Alasannya sungguh klise, Rebecca ini adalah adik kelas yang digadang-gadang akan berpacaran dengan Gilang.


Levana menopang dagu sambil menatap keributan yang terjadi di depan kelasnya apalagi posisinya sangat strategis, bangkunya tepat berada di paling depan dekat pintu. Lagi pula tak akan ada yang berani menghalangi arah matanya.


"Bisa gak sih lo jauhin Gilang?!" sehabis menampar pipi Rebecca, si anjing rabies satu itu membentak Rebecca.


"Emang salah aku deketin kak Gilang?"


Levana mendengar jawaban si naif itu mengangguk membenarkan. Memang salah dekat dengan Gilang, Gilangnya aja yang suka jual diri ke sana kemari. Mengingat wajah menyebalkan lelaki itu membuat Levana ingin sekali mencabik-cabiknya.


Gara-gara si Gilang, Levana yang begitu menyukai ketenangan dan sering menyatakan cinta pada ketenangan malah harus diganggu oleh puluhan mantan Gilang.


"Lo masih nanya?! ya jelas salah lah bego!" Thea menunjuk-nunjuk dahi gadis itu kuat sampai tubuh Rebecca agaknya sedikit terdorong.


Dan pahlawan terbaik di abad ini telah datang, ini dia kita sambut Gilang! ayo lempar pisau padanya! seru Levana dalam hati.


Menatap sendu piringnya yang sudah kosong. Levana bangkit dan pergi begitu saja mengabaikan keributan yang semakin menjadi-jadi dan tak ada niatan sedikitpun untuk sekedar melerai. Ketenangan adalah nomor satu, cukup di rumah saja ia ribut dengan bunda dan papinya.


"Vana," melewati mereka bukan hal yang mudah buktinya tangan Levana sudah dicekal oleh si Gilang sepatu gilang.


Levana diam menatap nanar tangannya yang sudah disentuh buaya darat berkepala kuda berbadan kerbau. Oh tidak!!!


"Apa?" tenang.


"Gue bisa jelasin," kesalahpahaman apa lagi ini Tuhan?!


Levana mendesis lalu menghempaskan tangan itu kuat. Mengambil tisu yang tersedia di setiap meja kantin lalu menggosok tangannya seakan baru disentuh hal menjijikan.


Fakta tentang Levana adalah ia sangat anti terhadap laki-laki terkecuali beberapa orang misalnya sang ayah, pamannya dan kakak sepupunya. Hanya mereka yang boleh menyentuhnya.


Sebuah fakta mengenai seorang levana Nymeria Winona, gadis itu sejak kecil mengidap OCD atau obsessive complusive disorder pada kebersihan. Semua barang-barangnya dijaga dan tak pernah disentuh siapapun, apalagi ia paling benci laki-laki, sangat benci!


Kegilaannya terhadap kebersihan sudah membuat seluruh keluarganya merasa khawatir. Melihat debu yang bisa ditangkap oleh mata membuatnya merasa tak nyaman dan berakhir sesak. Maka, sang ayah menyiapkan peralatan khusus untuk Levana agar gadis itu tak kesusahan.


"Leva berhenti! tanganmu bisa memerah?!" Gilang hendak menghentikan gerakan gadis itu.


Tarikan Thea, pacarnya membuat ia menahan diri agar tak menyentuh Levana.


Levana masih setia menggosok bekas tangan yang dipegang Gilang. Entah sudah berapa tisu yang ia buang dan semua pandangan mata di kantin terarah padanya.


"Cih, sombong banget!"


"Orang kaya emang beda, padahal sama-sama manusia tapi menganggap diri paling tinggi."


"Memangnya dia yang plaing cantik dan bersih?!"


"Dia penderita OCD, bodoh!"


"Gak mungkin! halah, bilang aja jijik."


Banyak perkataan positif maupun negatif mengarah pada Levana. Ia tak perduli dan terus menggosoknya sampai tangannya kemerahan dan sedikit terluka. Di matanya, Levana melihat banyak bakteri berlarian di atas tangannya sambil mengejek dirinya.


Brugh!!


Di UKS, seorang dokter yang memang ditugaskan untuk merawat para siswa segera mengatasi Levana. Di luar ruangan luas itu, terdapat segerombol pemuda berwajah tampan. Salah satu diantara mereka memasang wajah panik dan khawatir.


Temannya menepuk bahunya pelan berusaha menenangkan.


"Dia bakal baik-baik aja," ujar Calvin Deyanira.


Pemuda itu mengangguk lesu lalu kembali mengepalkan tangan melihat kedatangan seseorang yang menjadi penyebab kesayangannya pingsan.


Gilang hendak menerobos gerombolan pemuda itu namun ditahan oleh pemuda yang menggendong Levana tadi.


"Lepas!" sentak Gilang marah.


"Pergi. Lo udah buat dia kayak gini, jangan dekatin dia lagi," desis pemuda bernama lengkap Matteo Declano Winona marah.


"Kenapa gue harus nurut sama lo? ada hubungan apa lo sama Leva?" Gilang menatap remeh pemuda itu.


"Kesayangan," baru berucap satu kata itu, Matteo sudah mendaratkan satu pukulan tepat di rahang Gilang. "Menjauh."


Gilang lantas pergi, ia berdecak kesal. Padahal Levana adalah target yang empuk untuk ia permainkan. Gadis dengan sejuta misteri itu membuat ia merasa tertantang. Tapi mengapa pawangnya kiat sekali? lihat saja, sudut bibirnya robek akibat pukulan Matteo tadi.


Matteo masuk ke dalam UKS di mana adiknya sudah selesai diperiksa. Gadis itu juga sudah sadar beberapa menit lalu, memegang kepalanya yang sedikit pusing dan menatap ke sampingnya.


"Abang?!" mata Levana membulat melihat kedatangan kakak sepupu satu-satunya.


Perlu diketahui bahwa cucu pertama keluarga Winona adalah Matteo dan cucu kedua adalah Levana. Sisanya, masih balita itupun hanya ada tiga orang. Taryn, ibu Levana adalah anak tunggal dan keluarganya sendiri sudah meninggal dalam kecelakaan pesawat.


"Istirahat, Na. Abang mau kasih kejutan buat kamu, tapi abang yang dapat kejutan," Matteo mengelus sayang kepala Levana.


"Kayaknya abis ini Leva mandi kembang aja," ucapnya masih merasa jijik disentuh buaya seperti tadi.


Tatapan pada tangannya yang memerah dialihkan pada wajah Matteo yang berubah sejak beberapa tahun mereka tak bertemu. Pemuda itu memiliki wajah yang lebih tampan dan memukau dari tahun-tahun sebelumnya.


"Adik-adik yang lain datang juga?"


Matteo mengangguk kemudian meniup-niup tangan kanan Levana yang masjh memerah dan jejak luka masih tampak jelas. Dari semua cucu Winona, hanya Levana saja yang menderita OCD, tak sampai akut tapi bisa membuat ia sesak napas dan tiba-tiba pingsan seperti tadi.


"Iya, sekarang Vana tidur aja. Abang temenin," Matteo menepuk-nepuk kepala Levana pelan.


Tak lama terdengar dengkuran halus yang keluar dari mulut sang adik. Matteo mengirimkan pesan pada teman-temannya bahwa ia akan menemani Levana tidur.


Matteo menatap lama wajah adiknya, mereka berpisah ketika usia Levana menginjak sebelas tahun dan Matteo berusia dua belas tahun. Sebab menjadi anak tunggal, Levana terkadang merasa kesepian dan untungnya ada Matteo yang selalu menemaninya.


"Udah gede aja ini adikku," gumamnya tersenyum bangga.


Walau ia menyesal tak bisa menyaksikan proses pertumbuhan sang adik. Namun, ia merasa sangat senang bisa melihat Levana tumbuh menjadi gadis yang cantik dan tahu menilai yang buruk untuk dirinya.


"Dia cantik," gumaman itu tertangkap di telinga Matteo.


Menoleh dan terkejut melihat salah satu temannya sekaligus ketua dari klub yang berisi perkumpulan anak-anak motor dan para pengkoleksi kendaraan mewah.


Dia, Damian Dax Silas. Pewaris utama Silas grup dan keluarga paling terkaya walaupun hidupnya tidak menunjukan kemewahan.


•••