He?!

He?!
HE: 06



Damian menatap dalam wajah tenang kekasihnya yang asik menyelam dalam dunia mimpi.


Alis yang tidakk terlalu tipis dan rapi, bulu mata lentik yang panjang, hidung mancung ala Timur Tengah, bibir yang merah alami tanpa memakai lipstik. Bukankah keindahan ini begitu sempurna. Damian mengusap wajahnya kasar kala pikiran liar hinggap di benaknya.


"Sadarlah Dami," gumamnya masih menutup wajahnya.


Levana sedikit melenguh kemudian membuka matanya perlahan melihat ke sekitar. Rupanya sedang berada di UKS, pikirnya.


"Dami?" Levana memanggil pelan pacarnya.


Damian mengangguk menjawab panggilan lembut itu. Walau baru saja bangun tidur, kecantikan seorang Levana Nymeria Winona tak pudar.


"Sudah makan?" tanya Levana.


Seingatnya tadi ia terlelap setelah menikmati makanan. Pasti Damian belum sempat mengisi perutnya karena membawanya sekaligus menjaga dirinya sampai terbangun.


"Sudah."


Levana memicingkan matanya menatap tak percaya.


"Beneran?" Damian mengangguk yakin.


"Oke. Seharusnya kamu masih di rumah sakit. Ngapain sekolah? orang penyakitan gak boleh banyak beraktifitas," ucap Levana mengusap peluh yang membanjiri wajah Damian.


Damian mendengus sebal, mereka baru berpacaran dan belum sampai seminggu tapi tak bisa dipungkiri kenyamanan Damian rasakan selams hidupnya. Nyaman yang berbeda dari kenyamanan yang kedua orang tuanya berikan.


Tak!


Damian menyentil dahi gadisnya sambil terkekeh ketika gadis itu mengeluh sakit.


"Sadarlah nona Levana, anda yang penyakitan. Dasar OCD," ejek Damian.


Levana tak suka penyakitnya dijadikan bahan olokan jika ada yang mengolok penyakit yang ia deritaa dipastikan keesokan harinya orang itu susah tidak ada. Tapi, karena Damian kekasihnya ia tak berbuat apa-apa apalagi ia tahu maksud Damian tak buruk.


"Berbalik!"


Damian menurut. Hingga ia dibuat terkejut ketika Levana dengan lancang menyingkap kemeja sekolahnya, wajahnya memanas. Untung saja pintu UKS tertutup.


'Apa yang barusan kau pikirkan Dami?!' Damian menggeleng.


Jemari lentik Levana mengelus pelan bekas luka milik Damian. Sayatan memanjang dengan jahitan yang masih bisa dibilang basah, mata biru itu membulat ketika darah perlahan keluar sepertinya sudah sedari tadi luka itu menganga kembali.


Levana tak banyak kata mencari kotak P3K di dalam ruang kesehatan tersebut. Damian bingung ketika raut wajah gadisnya begitu masam.


Barulah ia tersadar akan kesalahannya yang membuat perubahan pada air muka gadisnya. Dinginnya alkohol menyapa permukaan kulitnya yang terluka, dengan cepat ia mengotak-atik ponselnya menyuruh dokter pribadi keluarga mereka agar segera datang.


"Jahitannya kebuka, bodoh!" umpat Levana memukul tengkuk pemuda itu kuat.


"Aduh sayang, belum nikah aja udah KDRT," keluh Damian.


"Buka bajunya semua, tunggu sampai om Samuel datang," suruh Levana.


Damian menurut tak mau berdebat bisa-bisa Levana semakin kesal padanya. Ia duduk tegap sambil memainkan tangan Levana yang tangan satunya lagi asik mengelus rambut Damian yang begitu halus.


Brak


Pintu didobrak paksa oleh pria tampan dengan jas dokternya. Samuel segera memeriksa keadaan anak majikannya, ia malah mengomel ketika jahitan anak majikannya itu terbuka kembali. Rasanya ingin memukul dengan membabi buta pada Damian saja. Tapi ia masih punya sisa kewarasan.


"Saya peringatkan sekali lagi tuan muda, luka anda belum kering sempurna dan sewaktu-waktu jahitannya bisa terbuka jika anda banyak bergerak. Bergerak seperlunya saja," omel Samuel.


"Iya iya om, sana hus!" usir Damian tak tahu malu.


"Ingat tadi yang saya bilang tuan muda. Nona Levana saya pamit," Samuel bergegas pergi sebab masih banyak pekerjaan yang menunggunya.


Selepas kepergian Samuel. Levana menjewer telinga Damian begitu kuat sampai Damian sendiri meringis.


'Kenapa cewek gue kuat banget tenaganya?' ia meringis dalam batin karena tangan Levana belum terlepas.


"Aww, sayang dilepas dulu dong," keluh Damian berusaha lepas.


Dan barhasil! Sayangnya ia harus merasakan kepanasan sekaligus kesakitan di sekitar telinganya. Damian beringsut menjauh dari jangkauan Levana yang menatapnya garang, bukannya merasa takut jatuhnya malah menggemaskan di mata Damian.


"Iya iya maaf sayang," Damian mengalah saja dari pada semakin rumit.


•••


Malam ini gadis misterius itu kembali lagi ke mansionnya setelah dari rumah orang tuanya. Para pelayan di sana segera menyambut kedatangan nona mereka, gadis itu menghiraukan lalu berjalan menuju ke lantai atas di mana ruangan yang terdapat koleksi senjatanya.


Mengambil sebuah tusuk sanggul berukuran sepuluh inci yang bagian kepalanya dihiasi bunga melati dan mawar disertai susunan permata ruby yang menjuntai.


Melirik sekilas arloji perak miliknya, berdecak saat waktu menunjukan pukul 20.04. Masih terlalu awal untuk melakukan misinya, misinya dilakukan pada pukul 21.30 nanti.


Tok tok tok


Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Pelaku pengetuk pintu tak mendengar sahutan dari ruangan itu langsung masuk tanpa diminta.


"Ck, sudah makan kau Vana?"


Tak ada sahutan lagi. Camilla menghela napas.


"Nymeria kau tuli?!"


Levana Nymeria Winona atau Nyra itu mengusap telinganya sebab Camilla tak berujar biasa tapi berteriak di samping telinganya. Sungguh mengesalkan.


"Sudah bersama papi dan bunda. Kakak sendiri sudah makan?"


"Hmm. Kutebak kau belum mandi sama sekali?"


Levana mengangguk polos hingga mendapat tabokan sayang di kepalanya.


"Sana mandi, dasar pemalas!" usir Camilla.


Levana ngacir keluar sebelum Camilla kembali melayangkan pukulan padanya. Bisa dibilang Camilla ini kembaran tak sedarah dan tak serahim bundanya yang kerjanya suka mengomeli dirinya.


Levana menuruni anak tangga dengan elegan tak lupa memainkan kunci mobil sportnya di jari telunjuk. Para pelayan berdecak kagum melihat aura elegan dan sadis menguar begitu saja.


"Sudah siap sayang?" tanya Camilla yang sudah menenteng senjata laras panjang di bahunya.


Berbeda dengan Levana yang memakai gaun, gadis itu memilih memakai dress minim yang menampakan paha mulusnya.


Levana mengangguki pertanyaan Camilla. Ia menyanggul rambut indahnya menggunakan tusuk sanggul yang tadi ia siapkan di ruang persenjataan. Tak lupa pula topeng terpasang apik di wajahnya menyisakan setengah hidung dan bibirnya yang dipoles lipstik semerah darah.


"Baiklah ayo berangkat!"


Mobil sport berwarna kelabu itu melesat ke jalanan menuju ke tempat mereka melakukan misi sesuai permintaan klien. Butuh wakktu lima belas menit untuk sampai mereka tiba di lobi hotel berbintang lima. Ah rupanya Camilla sudah terpisah sedari tadi.


Levana dengan anggun keluar dari mobil. Penampilannya yang misterius mengundang perhatian, tak ayal kamera terus dijunjung agar mendapat pose terbaik gadis misterius itu.


Berjalan di atas karpet merah dan mengabaikan semua perhatiannya. Levana memasuki ballroom hotel yang berisi manusia-manusia memuakan yang ingin sekali Levana bunuh dan merobek kulit mereka.


Seorang pria setengah baya mendekat dengan wajah mesumnya berusaha merangkul Levana.


"Jangan mendekat dasar menjijikan!" sergah Levana cepat.


"Huh!?"


•••




Style Levana



Syle Camilla


Horeeeeeeee