He?!

He?!
HE: 11



Pukul 21.00 Damian mengantar kekasihnya pulang setelah mereka menikmati makan malam bisa-bisa ia didepak dari list menantu kesayangan bunda Taryn dan papi Simon.


"Sayang," panggilan itu menghentikan gerakan Levana yang mencari letak ponselnya.


"Ya?"


"Cium pipi dulu dong biar bisa mimpiin kamu," rengek Damian manja.


Levana terkikik lalu mengusap kasar wajah Damian tal ayal ia mendaratkan kecupan singkat di pipi Damian membuat sang empu melebarkan senyumannya sampai nampak dua gigi taring yang bersemayam di deretan gigi lainnya.


"Sayang liat hpnya aku gak?" tanya Levana frustasi.


Damian juga ikut mencari tak lama kemudian ia mencubit hidung Levana pelan lalu menyodorkan ponsel gadis itu. Levana menyengir, ia berpamitan dan masuk ke dalam rumah.


Baru saja melangkah ke dalam, tubuhnya sedikit terhuyung larena tubrukan dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Di ruang tamu juga terdapat keluarga yang lain yang baru saja datang dari Meurotta.


"Ciee yang kencan sama pacarnya," ledek Soraya Leonidas Winona, adik dari Simon.


"Tumben kamu gak jijik, kak?" timpal suami Soraya, Liam Leonidas Winona.


Sebuah fakta yang kembali mencuat yaitu Liam walau tak sedarah dengan Levana tapi anehnya Levana tak merasa jijik pada pamannya itu. Bisa dibilang ia begitu manja paada mereka, Liam dan Soraya adalah orang tua dari Matteo dan dua adik kembarnya, Marshal Jagaraksa Winona Marvine Jagareksa Winona.


Sedangkan yang bocah perempuan bernama Shananetty Balencia Winona anak dari adik bungsu ayahnya Georgie Whittney Winona dan Crisantium Werry Winona.


Ada pula si duda tua atau tuan besar Winona, Dersha Winona.


"Iyalah sekarang Leva udah gak jomblo kayak bang Teo," ujar Levana manja. Ia menggendong Shana lalu didudukan ke pangkuannya.


Matteo duduk di dekat gadis itu menggeram kesal. Padahal kan ia sudah bertunangan, dengan bangga ia menepuk dadanya.


"Abang udah tunangan masa Leva gak? kalah jauh sih, Si Damian entar direbut kalo gak dijaga baik-baik," ia memeletkan lidah.


Shana menatap garang Matteo yang berani mencari gara-gara dengan kakak perempuannya begitu pula dengan si kembar yang tak terima. Mereka memukul Matteo dengan berang.


Taryn mengelus surai pirang Levana penuh sayang dan tangan satunya lagi mengelus pipi putrinya yang lain. Semua anak-anak iparnya sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Taryn tak ada pembedaan perilaku maupun tindakan olehnya.


"Udah makan?" tanya Georgie.


"Iya. Eh opa gimana kesehatan opa? maaf ya Leva jarang jengukin opa pas di Meurotta," sesal Levana.


"Opa sehat nak, gak papa. Lagi pula opa tahu bagaimana jalan pikir anak sulung opa itu, Silon pasti terkadang tak mengizinkan kamu ke sana. Dasar durhaka," rasanya Dersha ingin sekali meninju perut putra sulungnya.


"Nah sekarang sudahi dulu. Ayo kita semua beristirahat, anggap saja rumah sendiri," seru Soraya.


Simon menempeleng kepala adik perempuannya keras. Tatapan tajam dari sang suami membuat Simon dengan cemberut mengelus kepala adiknya.


"Papi nakal!" Marvine menginjak kaki papinya.


Dalam satu sentakan si kembar sudah di gendongan Simon. Simon begitu merindukan dua ponakan tersayangnya, Georgie tak mau kalah mengambil Marshal dan menggendongnya sedangkan Shana sudah digendong Taryn ke kamarnya.


'Akhirnya punya alasan nolak jatah papi, buahaha,' Taryn tertawa licik dalam hati.


Crisan dan Soraya terkekeh melihat raut wajah senang Taryn. Sesama istri mereka paham ekspresi itu apalagi Shana yang enjoy saja digendong.


"Leva mau gak adik baru?" tanya Simon tiba-tiba.


"Tuh adik Leva udah tiga. Gak usah buat bunda kembung lagi, pi. Udah tua juga," sinis Levana.


"Kalo tiga puluh enam tahun itu tua terus apa kabar sama opa yang udah enam puluh tahun sayang?" lantas semua orang tertawa keras.


Matteo menyeret adiknya ke kamar. Sudah lama keduanya tak tidur berpelukan, sesampai di kamar bernuansa dark ocean milik Matteo. Matteo dan Levana tidur sambil berpelukan setelah menggosok gigi dan mencuci muka.


●●●


"IYA BENTAR SAYANG. ABANG PAKE DASI DULU!"


"GAK USAH. HUWAAA LEVA GAK MAU DIHUKUM!"


"SABAR NAPA ELAH, SAYANGNYA ABANG!"


Anggota keluarga lain mengusap telinga mereka yang berdengung. Waktu menunjukan pukul delapan pagi dan kedua anak remaja itu terlambat bangun padahal Taryn, Soraya, dan Crisan sudah bekerja sama meneriaki mereka.


"Anak-anak jangan lupa di makan!" tekan Liam memberi bekal pada mereka.


"Siap ayah! kita pergi dulu!"


Dengan kecepatan di atas rata-rata Matteo mengendarai motornya. Levana memeluk erat pinggang kakaknya takut terjatuh. Keduanya mendengus melihat gerbang sudah ditutup.


"Bandel yuk sayang," ajak Matteo sesat.


"Ayolah!" Levana berseru riang.


Menitipkan motor di sana lalu berjalan melewati pintu belakang sekolah. Matteo tak tega melihat adiknya harus melompat pagar yang tingginya mencapai tujuh meter. Untung saja pintu belakang itu tak banyak yang tahu dan baru beberapa hari pindah ke sini mereka menemukannya, iya Matteo dan ketiga temannya.


"Sana masuk!" suruh Matteo mendorong adiknya ke kelas sang empu ketika kelas mereka ribut tak ada guru.


Damian mendengus geli melihat wajah Levana yang tampak semakin cantik saat keringat meluncur sebesar biji jagung. Wajahnya memerah setelah berlari dari pintu belakang yang ada di gedung sebelah selatan ke ruang kelasnya yang berada di gedung sebelah barat.


"Lain kali jangan terlambat bangun," nasihat Damian mengelus surai pirang itu.


Levana mengangguk saja dari pada berdebat. Damian memberikan botol mineral agar gadisnya meminum, Levana menyantap makanan buatan pamannya yang sangat enak.


"Ada kak Damian?"


Semua mata menatap ke arah belakang di mana dua insan sedang bermesraan. Damian yang bersandar pada bahu Levana dan tangan Levana yang mengelus kepalanya


Rebecca mengepalkan tangan melihat itu. Sejak kedatangan Damian ke sini ia sudah menargetkan pemuda itu, Gilang yang awalnya berharga baginya ia buang begitu saja kala kekayaan Gilang tak sepadan dengan milik keluarga Silas.


"Ngapain nyari pacar gue?" tanya Levana penuh intimidasi.


Rebecca bergetar ketakutan melihat maya biru itu menatapnya penuh penilaian, tatapan matanya seperti Nyra yang pernah ia lihat satu-satunya potret yang berhasil didapatkan.


"Di dipanggil sama pak Leo," jawabnya gelagapan.


"Sayang, bangun dipanggil," ujar Levana lembut pada Damian.


"Hmm, ayo," Damian bangkit dengan pelan sambil menggenggam tangan Levana.


Rebecca kembali dibuat kesal, ia mengambil kesempatan ini agar bisa berjalan berdua dengan Damian dan menghasut sedikit pemuda itu untuk berpindah hati.


Tapi apa ini?! Damian berjalan melewatinya begitu saja apalagi wajah angkuh Levana seakan mengejeknya yang tak bisa mencuri perhatian Damian.


"Tapi kak, pak Leo bilangnya hanya kakak bukan kak Levana," sergah Rebecca cepat.


"Lo siapa berani merintah pacar gue? kalo gue mau ikut emang masalah buat lo?" Levana masih saja emosi.


Ia tahu gadis itu ingin merebut Damian darinya. Levana tak akan membiarkannya karena Damian sudah ia klaim miliknya dan tak bisa diganggu gugat.


●●●