
•••
Levana masih berada di dalam UKS di temani oleh Damian sementara kakaknya itu sedang ada keperluan dengan tunangannya yang berada satu sekolah dengan Levana.
Mengenai Matteo dan para sahabatnya yang pindah dari Meurotta sini dengan tujuan bermalas-malasan. Yup, di Meurotta terdapat sebuah sekolah yang dibangun untuk para penerus keluarga kaya, terpandang, bahkan anak-anak para penguasa dunia bawah pun ada. Di sekolah itu mereka selalu banyak dituntut dan itu sangat tidak menyenangkan.
Damian sendiri merupakan anak tunggal keluarga Silas makanya ia disekolahkan di sana sejak berusia sebelas tahun. Berdarah blasteran Qzeya dan Zwench membuat ia begitu tampan dan digilai kaum hawa.
Levana diam begitupun Damian, Damian tak terlalu pintar memilih topik jadi memilih diam saja sambil memainkan ponselnya.
"Namanya siapa?" tanya Levana kemudian.
"Damian," masih terlalu canggung dengan orang baru.
"Gue Levana, adik bang Teo," Levana memperkenalkan dirinya daripada keadaan semakin hening.
Damian merasa kalau perbincangan mereka baru saja terlalu kaku. Ia menyimpan ponsel di atas nakas samping brankar tempat Levana berbaring lalu menatap lamat gadis itu.
"Kenapa pingsan tadi?"
Levana melihat pergelangan tangannya yang sudah diobati, masih ada jejak luka kecil di sana. Mengingat disentuh oleh buaya seperti tadi membuat bulu kuduknya terasa dicabut paksa.
"Gue menderita OCD akut," jawabnya kemudian.
Damian mengangguk. Ia pernah mendengar penyakit itu beberapa kali di berbagai media, ia tak mengira bisa melihat kejadiannya langsung. Memorinya berputar saat wajah gadis tadi yang panik terus menggosok lengannya menggunakan begitu banyak tisu.
Levana bangkit perlahan lalu mencoba turunndari brankar. Melihat itu, Damian mencoba menghentikan aksi nekat Levana. Ia diberi amanah oleh Matteo untuk tak membiarkan adik pemuda itu bergerak sedikit pun selama ia pergi.
Damian dengan cepat menahan bahu Levana membuat Levana terdiam.
Levana diam dan masih diam, matanya melirik sinis pada tangan Damian yang menyentuh seragamnya. Aneh.
Damian melepaskan tangannya dengan cepat mengingat gangguan mental yang gadis cantik itu derita. Obsesinya terhadap kebersihan, bisa-bisa gadis itu kembali pingsan.
"Maaf," ujarnya merasa bersalah.
"Lo tadi nyentuh gue?" tatapan tajam ia dapatkan dari netra hazel itu.
Damian gelagapan, kenapa ia harus seperti ini?! Ia pribadi yang dingin dan tak terlalu suka berinteraksi dengan lawan jenis. Tapi, melihat tatapan Levana membuat ia merasa terintimidasi. Oh tidak?! dimana kesannya sebagai pemuda anti perempuan?
"Gue gak sengaja, beneran?!" ia mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya menunjukan tanda peace.
"Coba sini tangannya!" nada perintah itu membuat Damian mundur sedikit.
"Gak! Entar lo mukul lagi tangan gue," ia mengusap tangannya merasa ngeri dengan bayangan bagaimana seorang Levana mengamuk.
"Gue bilang sini, ck!" Levana berdecak malas lalu berusaha menggapai tangan Damian.
Damian semakin memundurkan tubuhnya sampai terantuk di dinding. Ia menoleh berharap ada seseorang menolongnya, tapi itu hanya harapan semata sebab si sialan Matteo sudah mengosongkan UKS ini demi kenyamanan sang adik.
Itu hanya kenyamanan Levana bukan dirinya? Darahnya berdesir hebat tatkala Levana menggenggam kedua tangannya sambil serius menatap jari-jemari lentiknya.
"Jari yang indah," pujinya mengangkat wajah dan menatap pahatan wajah sempurna di didepannya. "Lo juga ganteng."
Ganteng
Ganteng
Ganteng
Wajah Damian merona seperti tomat yang sudah begitu matang dan siap dipetik. Hei, ia sudah menerima banyak pujian dari kaum hawa mulai dari berbagai usia tapi mengapa reaksi jantungnya terlalu berlebihan hanya karena pujian dari gadis di depannya ini?
"Lo orang pertama yang buat gue gak ngerasa jijik? pake susuk apa?"
Diterbangkan menembus galaksi bima sakti dan sekarang dijatuhkan sampai ke inti bumi, Levana memang berani pada penerus keluarga Silas itu.
"Dih! tapi beneran, gue ngerasa aneh saat lo nyentuh gue, kok gak jijik," ocehnya tak berhnti memainkan jemari milik Damian.
"Jodoh kali," cetus Damian asal.
Wajahnya masih merona diperlakukan oleh Levana. Padahal tidak berlebihan tapi jantungnya seakan memberi kode bahwa ia akan melompat keluar.
"Yaudah yuk pacaran!"
Brugh
Bertepatan dengan ucapan Levana barusan seorang gadis yang entah sejak kapan di sana jatuh dengan gaya cicak, menempel dengan kuat pada lantai.
Levana menoleh sekilas lalu menatap manik mata hitam kelam Damian yang begitu memikat dan begitu dalam bagai isi lautan yang belum pernah terjamah oleh manusia.
"Yuk pacaran!" Levana menggoyangkan tangan Damian dan menampilkan puppy eyesnya beeharap Damian menerima ajakannya.
Damian sempat terpaku kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu mengabaikan tatapan tajam dan penasaran di pintu sana.
Cup
Damian mencuri kecupan di kening Lebana dengan tiba-tiba membuat wajah Levana merona sempurna. Ia yang singa betina berubah kalem menjadi kelinci yang manis dan imut.
"Jijik?"
gelengan keras Damian dapatkan setelah aksi nekatnya yang memicu amarah Matteo.
"Berarti mulai sekarang lo milik gue," bisik Damian meniup pelan leher jenjang gadis itu.
Levana mengangguk antusias lalu mengecup pelan pipi Damian dengan malu-malu.
Cukup sudah! Matteo menubruk tubuh Damian sampai pemuda itu terjungkal ke belakang. Tatapan sinis ia arahkan saat sahabatnya itu berani menyentuh adiknya.
Fenella Niesha, tunangan dari Matteo memeluk Levana dan menepuk pelan punggung gadis itu menyalurkan ketenangan. Perlu diketahui bahwa Fenella termasuk ke jajaran orang yang bisa menyentuh Levana.
"Tenang ya sayang, biar bang Teo hajar aja tuh si sialan," ucap Fenella.
Levana tertawa keras, ada-ada saja sepasang kekasih ini.
Levana dengan pelan melepaskan pelukan itu dan menepuk pundak Matteo pelan serta membantu pemuda yang mulai sekarang menjadi miliknya itu.
"Abang sama kakak salah paham. Sekarang Vana sama Damian resmi pacaran," akunya.
"Yang bener aja, Vana?! dia maksa kamu?! ngancam kamu?! bilang sama abang biar abang laporin ke Om Bian," Matteo memandang sinis tangan Damian yang sudah bertengger manis di pinggang sang adik.
"Iya, dek. Kakak gak mau kamu kenapa-napa," timpal Fenella.
"Abang sama kakak tenang aja. Leva yang ngajak dia pacaran, kan kalian tahu kalau Leva OCD akut kan? dia cowok pertama yang buat Leva gak jijik," Levana menceritakan maksudnya dengan jelas.
Matteo mencengkeram bahu adiknya berusaha mencari kebohongan dalam setiap katanya. Nihil, adiknya berkata jujur.
"Vana bener ya? abang gak akan larang, tapi semisalnya, dia ngancam yaudah lapor aja," Matteo akhirnya menyerah.
Adiknya tak selamanya harus mematuhi semua perkataannya. Adik kecilnya sudah bisa menjaga dirinya dan membuat pilihan untuk dirinya.
"Kak Ella juga jangan khawatir, kalo Damian macam-macam sama Vana biar nanti Vana potong anunya," Levana memberi pemahaman pada gadis itu.
Mendengar itu membuat Damian sontak merapatkan pahanya takut alat reproduksimya benar-benar dipotong.
Tingkah Damian tak jauh dari perhatian sahabat-sahabatnya yang membuat melongo dengan reaksi pemuda Silas itu.
•••