He?!

He?!
HE: 07



"Huh?!"


Pria itu malah semakin menatap rendah Levana. Levana berusaha memendam jiwa iblisnya untuk merobek mata pria di depannya.


"Kau seharusnya senang aku yang merupakan seorang pejabat negara ini mendekatimu secara cuma-cuma," desis pria tua itu kesal.


Levana rasanya ingin tenggelam saja dari pada meladeni pria tua ini apalagi dua wanita sudah menempelinya dengan buah dada mereka yang mengapit lengannya.


"Cih sampah!" umpat Levana berlalu.


Mengabaikan sumpah serapah pria itu, Levana menatap setiap sudut ballroom hotel. Matanya memincing melihat seorang wanita dengan gaya elegannya menaiki panggung dan mulai meresmikan acara malam ini.


"Dia perdana menteri negara Hreta itu?"


Di telinga kanan gadis itu terpasang apik sebuah earpiece.


"Melinda Adeline, seorang perdana menteri negara Hreta yang merupakan pemilik tempat prostitusi anak-anak dibawah umur. Hah memuakan sekali," umpat seseorang di seberang.


Tepatnya Camilla yang bersembunyi di salah satu lantai sebuah gedung yang berada tepat di samping hotel tempat acara dilaksanakan.


Ketukan high heels dengan lantai menyadarkan semua orang pada seorang gadis yang tak lain adalah Levana. Levana berjalan mendekat pada perdana menteri negara Hreta atau dikenal dengan Melinda Adeline.


"Selamat atas kenaikan pangkat anda sebagai perdana menteri negara Hreta. Jarang sekali seorang wanita menduduki posisi tinggi itu, nona Melinda," dengan lihainya Levana memutar kata sebelum memulai aksinya.


Melinda yang awalnya kesal sebab perhatian semua direbut oleh Levana akhirnya tersenyum karena disanjung. Ia tersenyum angkuh dan semakin angkuh ketika membalas ucapan Levana.


"Tentu saja, ini adalah bukti kerja kerasku, nona...," ia menghentikan ujarannya ingin mengetahui nama gadis ini.


"Panggil saja saya Nyra, nona Melinda," Levana segera menyebutkan namanya di dunia bawah.


Siapa yang tidak mengenali identitas pembunuh nomor satu itu. Nyra atau julukannya adalah bidadari pembunuh yang cukup disegani. Ia tak mau diperkerjakan oleh siapapun terkecuali bayarannya yang tinggi.


Siapa dia atau di mana bidadari pembunuh tinggal tak ada yang tahu. Jika namanya sudah muncul ke permukaan maka tandanya akan terjadi sebuah pembunuhan.


Satu nyawa bisa dibayar dengan satu miliar tergantung nyawa siapa yang akan ia ambil. Melinda terkejut dengan identitas nona yang membuat ia seakan tertanam bumi dengan keelaganan miliknya ternyata seorang bidadari pembunuh.


"Bi-bidadari pembunuh," Melinda terbata-bata.


Levana berjalan mendekat, mata birunya nampak berseri melihat mangsa di depannya yang ketakutan.


"Maaf membuat anda takut, tenangkan diri anda," Levana menggenggam tangan kanan Melinda yang bergetar sampai hampir saja segelas wine di tangannya tumpah.


Melinda memang hanya tahu bidadari pembunuh ini tanpa tahu bagaimana ia membunuh mangsanya. Tapi, aura yang diberikan Levana membuat tubuhnya bergetar. Mata sebiru lautan itu membawa kedalaman yang luar biasa menakutkan.


"Y-ya," masih saja terbata-bata.


"Saya pamit ke sana sebentar, permisi," Levana berlalu dari sana.


Melinda menatap punggung Levana yang mejauh ke stan makanan. Entahlah firasatnya buruk sedari tadi pagi, Melinda mengusap wajahnya kasar dan berusaha tenang agar acara ini berjalan santai.


"Sekarang aku sudah menjadi perdana menteri Hreta. Usahaku menjual anak-anak itu juga berkembang pesat. Kekayaaanku sudah menanti di rumah," gumam Melinda merasa bangga dengan pencapaiannya.


Hingga...


Dor


Tak


Lampu padam secara tiba-tiba, suara riuh sudah tak terdengar setelah ia merasakan tusukan di lehernya. Melinda dalam kegelapan meraba kesana kemari hingga lampu menyoroti seorang gadis yang duduk memangku kaki sambil menikmati jus alpukat.


"Bi-bidad-dari p-embunuh," suara Melinda tercekat.


Melinda jatuh dan berusaha merangkak sebab tangannya mengenai pecahan kaca dan rasanya begitu menyakitkan tapi sekarang itu bukan yang terpenting. Nyawanya lebih penting.


"Nona Melinda Adeline. Di mana kau menyimpan anak-anak itu?" Levana meraih dagu wanita itu.


Melinda yang sudah ketakutan berusaha tegar dan mendonggak lalu memyeringai menutupi ketakutan yang terus mendera.


"Akan kuberitahu jika kau melepaskanku," tantang Melinda.


Levana menghempas kuat wajah itu.


"Cukup basa-basinya, kau pikir kau bisa tawar-menawar denganku? Hahaha, lucu sekali," tawa Levana mengudara.


"Tolong!" Melinda memilih berteriak meminta bantuan.


"Mereka memang mendengar suaramu tapi tak akan membantumu. Siapa yang berani mengganggu kegiatan Nyra?!"


Memang benar, para tamu undangan sengaja dikunci di dalam ballroom agar tak ada yang kabur. Mereka menatap dua wanita yang berada di bawah lampu sorot sedang bercengkerama.


Melinda melihat kiri kanan mencoba meminta bantuan tapi penglihatannya mulai memburam, ia mulai tak mendengarkan ocehan Levana sedikitpun entah apa sebabnya. Tubuhnya ikut kaku tak mampu bergerak.


"Aku menyuntikan racun yang secara perlahan membunuhmu dengan mematikan saraf pada setia tubuhnya akan berhenti," Ucap Levana berbisik di telinganya dan Melinda masih berusaha mendengar.


Melinda tersenyum lega sebab Levana tak perlu menyiksanya lagi. Biarlah ia mati dengan damai, tapi itu semua salah karena Levana menghujam pisau ke bahunya berkali-kali.


Melinda tak bisa berteriak karena lidahnya terasa kaku, mulut terkatup seakan sudah ada perekat di sana.


Lampu sorot itu mati tak lagi ada pencahayaan dan semua tamu undangan tak berani bergerak dari tempatnya kala mendengar suara cekikan bidadari pembunuh itu. Jeritan Melinda tak terdengar sejak setengah jam yang lalu, bau amis darah menguar di penjuru ruangan. Beberapa orang langsung menahan mual. Suara berbagai macam alat seperti gergaji, palu, dan perkakas lain bersahutan.


Tak


Lampu kembali menyala.


"AAAAA!!" Teriakan semua orang memenuhi ballroom hotel tersebut.


Dua tangan digantung pada lampu gantung hingga darahnya menetes ke lantai. Kue besar dengan lima susun yang memang disediakan untuk penghargaan Melinda kini dihiasi lilin dari kaki wanita itu sendiri. Kaki yang sudah terpotong itu mengeluarkan darah hingga kue putih itu berubah menjadi darah.


Kepala Melinda diletakan ditengah kedua kakinya dengan mulut yang sudah robek sampai ke mata. Tubuh Melinda dibiarkan begitu saja, ahh tidak! tubuh itu sudah dipukul sampai rata, bahkan organ-organnya sudah jadi organ geprek.


Tak terdefenisikan. Levana sudah pergi sejak tadi dengan melompat dari ketinggian lantai lima. Mereka disana langsung yakin bahwa gadis yang menyita perhatian tadi adalah bidadari pembunuh yang muncul setelah sebulan berlalu, Nyra.


Mereka menduga Melinda, perdana menteri Hreta sudah sudah menyinggung kedamaian bidadari pembunuh. Setelah ini pasti dunia digemparkan dengan kemunculan Nyra apalagi yang menjadi mangsanya kali ini adalah wanita karir yang baru saja menjadi perdana menteri Hreta.


Beberapa tamu undangan langsung pingsan melihat pemandangan ini. Cukup sudah, setelah ini mimpi buruk akan selalu menghantui.


•••


Hellowwwww