
Siang itu Gusti Karnia beserta 3 ajudannya sedang memeriksa keadaan bekas penjara Waha.
Besi yang sudah meleleh begitu juga dengan rantai yang telah putus dan meleleh tidak luput dari pemeriksaannya.
Ia memegang besi teralis penjara, dan menganggukkan kepalanya..
"Sebuah kekuatan supranatural telah hadir disini, aku merasakan getaran yang dahsyat" gumamnya.
"Memakai alat apakah sampai besi yang kuat dan kokoh bisa jadi begini?" ucap salah satu wakilnya.
"Ini datangnya dari sebuah keris kuno yang maha sakti, kita liat semua mantra disini hilang tanpa bekas..padahal mantra mantra itu dibuat oleh Ni Polong"
"Kekuatan dari mana ini?"
"Dulu, aku pernah melihat seorang raja dari pulau Jawadwipa. Ia sebetulnya adalah seorang pertapa tapi dinobatkan menjadi raja karena kesaktiannya yang tiada tanding..Semua mantra tidak ada yang bisa menembus dirinya karena konon ia titisan dewata"
"Wah mengerikan" jawab sang wakil.
"Nah..semoga ini bukan dari dirinya, tapi jaman telah berubah, semua keturunannya entah ada dimana..dan juga, tidak mungkin yang datang kesini adalah keturunannya" kata Gusti Karnia sambil mengetuk ketuk besi yang meleleh tapinsudah kering itu.
"Kita liat perkembangan dari penyerangan Ni Polong..kita tunggu kabar selanjutnya"
...○○○○...
"Rendra..kamu ingat ceritamu tentang orang yang datang menyerupai pembantumu?" tanya Waha.
"Oh ya gimana?"
"Kita akan kedatangan rombongan pasukan siluman, aku sudah bisa mencium baunya..siluman baunya berbeda dengan jin, karena siluman dulunya adalah manusia juga. Kemungkinan mereka akan datang sebagai manusia. Kalau mereka datang kamu pegang keris ini tapi jangan diperlihatkan, aku akan menjaga bagian belakang rumah siapa tau ada jin yang datang dari belakang..Mereka masuk kamu matikan mereka dengan kerismu, tutup pintu dan lari kearahku dibelakang sini..kamu bisa ingat Rendra?"
"Baik Waha..kita akan berjuang mati matian jangan sampai mereka menang" kataku. Sebetulnya aku agak kagum dengan diriku ini..Ko, aku begitu tegar dan beraninya..entah bagaimana tapi ini bukan diriku yang sebenarnya. Seperti ada yang masuk ketubuhku dan memberi sebuah kekuatan ghoib.
...○○○○...
Kira kira sepuluh menit setelah Waha berbicara tiba tiba..
Tok tok tok!" Aku mendengar suara pintu diketuk.
"Jangan dibuka..kita tunggu sebentar" ucap Waha. Ia langsung duduk bersila.
"Itu mereka..tunggu sebentar disini"
Hari masih agak siang, berani sekali mereka datang saat hari masih terang..pasti siluman ini ilmunya tinggi. Keris Jantring Mas sudah kulepaskan dari warangkanya dan kugenggam erat.
...○○○○...
"Hai Mandir..kita kembali nanti sore saja" Bisik salah satu jin kepada siluman yang sudah berbentuk manusia.
"Aku bisa menangkapnya sekarang" jawab siluman yang bernama Mandir.
"Hari masih siang, matamu tidak setajam kala malam hari..simpan kekuatanmu..kita akan serentak menyerang malam ini"
"Baiklah" Siluman itu memutar tubuhnya dan berjalan kearah sebuah pohon dipekarangan depan rumah, ia menghilang dibalik pohon itu bergabung dengan siluman lainnya.
"Hai Mandir kenapa tidak jadi?" Tanya satu siluman mendatangi Mandir yang sedang mengawasi pintu depan rumah.
"Satu jin tadi datang mengatakan kita akan serang secara serentak nanti malam setelah magrib"
"Oo..baik"
"Kalau gitu kita kekuburan dikampung sebelah, jangan disini sambil menunggu malam tiba"
...○○○○...
"Rendra..dia telah pergi. Aku mendengar mereka akan menyerang nanti malam. Silahkan kamu melakukan apa saja, aku akan semedi sebentar"
"Baiklah..aku mau makan siang dulu Waha..bisa aku ambilkan sesuatu untukmu?"
"Tidak apa apa, aku tidak perlu makanan seperti dirimu, makanlah jangan sampai kamu lemas, nanti malam akan berbeda suasananya"
"Apakah mau aku nyalakan kemenyan ?"
Waha tersenyum geli mendengar ucapanku.
"Terima kasih Rendra..kemenyan tidak akan membuatku kenyang..malah kalau kamu nyalakan itu para jin akan senang. Sudah..aku tidak apa apa"
...○○○○...
Ketika suara adzan berkumandang, Waha sudah berdiri didekat pintu dapur. Ia menyobek kain bagian bawah dan mengikatkan rambutnya yang tebal dan panjang. Ia membuat gelungan dikepalanya. Ditangannya kulihat keris kepunyaan ayah sudah ia lepaskan dari warangka.
"Sebentar lagi akan ada ketukan dipintu depan, kau siap dengan kerismu Rendra"
"Baik"
Tiba tiba..Tok Tok Tok..Pintu diketuk lagi, kali ini suaranya cukup keras. 2 kali aku mendengar suara pintu diketuk diwaktu setelah magrib. Diluar sudah gelap, cahaya bulan mulai menyinari redup redup. Keris kupegang ditangan kanan tapi tidak kuperlihatkan sengaja kulipat tanganku kebelakang agar keris Jantring Mas tidak nampak.
Dengan tangan kiri pintu kubuka...dihadapanku berdiri seorang laki laki, wajahnya tanpa ekspresi hanya senyum kecil dibibirnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku sambil menyiapkan diri, pertama aku tidak mengenal orang ini kedua, sungguh aneh bagaimana bisa dia masuk kedalam pekarangan rumah sedangkan pintu didepan tidak terbuka.
Dengan suara datar ia mengatakan bahwa dirinya sangat haus karena habis berjalan cukup jauh dan tidak punya wang untuk membeli minuman.
Keris kugenggam erat dipunggungku..
"Pergilah dari sini..aku tau siapa dirimu!" ucapku dengan nada sedikit marah. Aku sadar ini bukanlah manusia, sungguh bodoh siluman ini..bau badannya sangat tidak enak pasti bukan manusia.
"Hahaha..." Secara bersamaan ia mengacungkan tangannya kearah wajahku.
Sudah tidak ada cara lain, aku mengeluarkan keris Jantring Mas dan kuarahkan kewajahnya. Tiba tiba wajahnya berubah dari wajah manusia menjadi wajah seekor ular!
Ketika itulah aku menusukkan kerisku kewajahnya sekali dan kemudian menghujamkan keperutnya sekali.
"Aaaaaaa!!" ia berteriak keras, mundur beberapa langkah. Dari arah pohon tiba tiba muncul sosok sosok lain, mereka berjalan seperti binatang melata, mata mereka berwarna merah menyala.
Pada saat yang bersamaan terdengar dentuman dihalaman belakang. Waha bangkit dari duduknya ia melesat terbang keluar. Disana ia disambut api api yang dilemparkan dari pohon.
Waha berusaha menghindar dengan loncat kesana kemari sambil mengibaskan keris kecil milik ayahku.
3 sosok jin yang hanya terlihat seperti gumpalan asap hitam terbang mencoba menabrak Waha. Berkali kali ia melibaskan kerisnya.
Aku sendiri direpotkan dengan hadirnya beberapa mahluk aneh dan menyeramkan. Namun keris ditanganku seperti yang hidup dan bernyawa. Ia membuatku berani bahkan membabi buta menhancurkan para siluman laknat itu.
Satu sosok siluman bertubuh seperti anjing berdiri dibalik pohon, dari semua siluman hanya dia yang tidak bergerak menyerang, matanya yang merah tajam menatap pergerakanku..ternyata ia disana sedang membaca mantra.
Setelah beberapa jurus ahirnya aku berhasil melukai siluman siluman itu..meskipun mereka hanya tersayat tapi lama kelamaan tubuh mereka melemas dan roboh mati.
Didalam badan Keris Jantring Mas ternyata tertanam banyak racun berbisa. Ia akan keluar apabila pemiliknya sedang bertarung.
4 siluman telah mati dan mengeluarkan asap hitam serta bau yang menusuk hidung, Tiba tiba dari balik pohon aku melihat satu sosok siluman melemparkan sesuatu kearahku. Pakaiannya please don't
Entah bagaimana ceritanya, namun sebelum benda itu mengenai tubuhku..dalam hitungan detik dengan sigap aku menundukkan badan. Benda itu terbang melewati dadaku.
"Aduuh hampir aja..kurang ajar!"
lengkaplah i satu sosok besar keluar..ia menyerupai anjing tapi ini lebih besar lagi.
Hembusan nafasnya terdengar, air liurnya menetes netes ketanah.
"Hahaha! akan kubawa lau kealamku! Sini kau anak kecil!"
Ia melompat dan akan menerkamku..tubuhku kalu menyaksikan bentuknya yang luar biasa besar! bahkan mungkin lebih besar seekor harimau!
"Ya Tuhan...apa itu??"
...¤¤¤¤¤...