Hawa Waha

Hawa Waha
Iblis telah keluar.



Saat yang bersamaan Gusti Karnia ketika itu sedang menghitung hasil panen sawahnya. Iya bangga dengan banyaknya harta dan beberapa istri. Bahkan hari itu ia sudah menyiapkan hadiah berupa gelang emas dan kalung untuk menyunting seorang gadis anak kepala desa sebelah.


Gusti mengatakan kepada salah satu wakilnya untuk mempersiapkan tempat penjara khusus bagi tawanan yang akan datang dari masa depan.


"Hei Komang! gua yang kosong disebelah barat itu dibersihkan dan pasang besi pengikat rantai..ada tawanan yang akan masuk kesana hari ini" Gusti begitu yakin bahwa aku akan dibawa kealamnya.


Namun ceritanya berbeda dengan apa yang sedang terjadi.


Sekumpulan jin dan siluman pada kenyataannya telah berhasil kita bunuh dan kirimkan ke neraka.


Ni Polong telah kehilangan 2 hewan kesayangannya, hancur lebur. Ki Lembut Ringring sudah kehilangan banyak anak buahnya bahkan siluman laut selatanpun banyak yang mati hanya sisa 2 saja yang melongo tidak berdaya melawan kesaktian keris Jantring Mas dan ketis kepunyaan ayahku.


Pada saat yang paling genting itu tidak ada jalan lain kecuali memanggil roh iblis sosok gurunya yang sangat menakutkan.


Ni Polong berdiri tegak diatas sebuah ranting kecil dipucuk pohon kelapa. Ia memejamkan kedua matanya memanggil iblis untuk hadir.


Seketika langit berubah menjadi hitam tidak ada satu bintangpun terlihat diangkasa. Bau bangkai menyeruak kemana mana.


"Awas kanda, ia akan hadirkan setan besar!" tutur Waha.


Tidak berapa lama angin kencang datang mengangkat semua barang yang ada disekitar situ bahkan pohon mangga terlihat bergoyah kencang, seperti akan ada sebuah gempa.


Aku melihat dari pojok halaman belakang muncul sosok hitam pekat, setinggi pohon mangga. Setiap langkahnya bumi bergetar. Apakah itu Iblis yang sudah hadir?


Baru saja terlihat penampakan menyeramkan mewujud ditanah pekarangan mendadak dari sisi dekat dapur samar samar sebuah sosok yang tidak kalah besarnya muncul.


Sosok itu terlihat sangat kokoh dengan otot otot yang bak seorang binaragawan pengangkat besi. Kumisnya melintang ia mengenakan topi memunjung keatas.


Belum lagi ia mewujudkan diri secara total muncul lagi satu sosok. Tapi sosok itu muncul mengambang diudara. Perawakannya tidak sebesar sosok berkumis, perutnya buncit dan besar.


"Hai iblis! disini bukan tempat kita bertarung! Aku tunggu kau dipantai utara!" ucap sosok berkumis itu. Iapun naik mengambang diudara.


Dengan sekali raup tubuhku dan Waha sudah berada dipundaknya. Kami terbang melayang diudara.


...○○○○...


Nampaknya sosok perut buncit itupun mengikuti dari belakang. Tidak jauh nampak juga Ki Lembut Ringring dan Ni Polong berlomba mencoba mengejar kita.


Ketika sampai disebuah pantai kita dikagetkan melihat sosok iblis sudah berada disana. Dia sudah bisa sampai sana sebelum kita hadir! Cepat sekali pergerakannya!


Sosok itu membuka tutup kepalanya memperlihatkan wajahnya yang sangat mengerikan. Matanya hanya ada satu tidak berhidung, semuanya datar. Mulutnya besar dengan rates and gigi bertaring panjang.


"Aaaaaaahhh!!" Sosok memgerikan itu membuka mulut dan dari dalam keluar beratus ratus lebah yang besarnya sebesar tikus!


Sosok besar berkumis naik keatas dan mengibaskan kain pinggangnya yang bercorak poleng hitam putih.


Lebah lebah besar itu yerpental bahkan hancur berkeping keping terkena libasan kain poleng.


Ni Polong menghentakkan tongkat kayunya keatas pasir pantai dan mengarahkan ketubuh sosok besar berlumis itu.


Sosok besar itu hanya berkelit sedikit dan kembali melibaskan kain poleng kearah Ni Polong sekaligus kearah Ki Lembut Ringring.


"Mahluk tidak guna!!" teriak sosok besar itu.


Keduanya muntah darah segar, tulang badan mereka remuk. Mereka terkapar dipasir pantai..Kematian belum datang tapi mereka sudah tidak mampu berdiri lagi.


20an Jin pembantu melihat pemimpin mereka terkapar langsung terbang melarikan diri. Semuanya ketakutan melihat amarah sosok besar yang betkain poleng itu. Posisiku dan waha masih terus berada dipundaknya.


Iblis menaikkan tubuhnya ia mengambang diatas pasir pantai. Tiba tiba ia menunjuk kearah bawah.Seakan menyuruh Waha melihat kepantai.


"Ayah!!" teriak Waha melihat sosok ayahnya yang terikat rantai duduk jongkok todak berdaya..wajahnya menengadah kearah kami.


"Jangan hiraukan itu hanyalah halusinasi kalian!" ucap sosok besar itu


Tiba tiba iblis menunjuk kembali kearah orang tua yang dirantai. Sosok tua itu terangkat dan terbalik 180 derajat, kepalanya dibawah dan kakinya diatas. Dengan sekali lempar tubuh orang tua itu jatuh kepasir kepalanya membentur batu pantai yang cukup besar.


Wajah orang tua itu penuh dengan darah, ia memandang kearah Waha..


"Waha..aku sudah tidak kuat..jangan kau lawan lagi" Duara orang tua itu terdengar lirih dan sedih.


Waha tiba tiba loncat terbang kebawah, disaat itulah iblis mengarahkan jari jarinya yang berkuku panjang kearah Waha.


"Jangan mendekat!" teriak sosok besar itu. Dengan sekali raup Waha terangkat dan kembali disampingku. Beberapa detik kita melihat sosok sang ayah telah berubah menjadi sebuah batu hitam.


"Itu halusinasimu! Jangan ada yang lepas dari diriku!" ucap sosok besar itu.


Iblis betul betul marah ia naik keatas dan meluncur dengan cepat kearah sosok besar yang menggendong kami.


Jedhaar!!


Sebuah dentuman keras menghantam sosok besar pembantu kami. Kita terpental jauh kedalam air. Aku dan Waha terlepas dari pundaknya.


Kita tenggelam kedalam air, gelombang ombak dahsyat telah menghantam tubuh yang besar penolong kami. Dengan sekuat tenaga aku berusaha naik keatas melawan arts gelombang air didalam lautan.


Dimanakah Waha? Kekiri dan kekanan tidak nampak sosok Waha..udara didadaku sudah menipis! aku harus segera naik.


Sesampainya diatas tidak jauh, sekitar 4 meter aku melihat sosok Waha melambaikan tangannya! Waha!! teriakku..


Sosok besar itu bangkit kembali dan langsung naik keatas permukaan air. Namun baru saja ia naik sebuah hantaman sinar merah kembali menghajarnya hingga ia terhempas kembali jatuh kelaut. Jarak antara kita dan sosok besar itu menjadi jauh..ia kini berada ditengah laut lepas.


Gelombang ombak naik turun tidak karuan..tubihku lemas tidak berdaya. Tiba tiba tanganku dipegang Waha.


"Jangan menyerah! pusatkan pikiranmu! kita naik keatas dan menepi!!" teriak Waha. Aku berusaha memusatkan pikiran dan dengan sekali hentak tubuhku naik kepermukaan air. Kita terbang bersama sama dan turun dipasir pantai.


Dari jauh kita melihat sosok besar itu naik lagi keatas dan kini melepaskan sebuah cahaya biru. Cahaya itu menghantam tubuh iblis. Tapu apa yang terjadi? Sedikitpun ia tidak bergeming.


Dengan ganasnya iblis berulang kali melepaskan pukulan keras bak dentuman bom berkali kali tubuh besar penolong kami ambruk kelaut. Rambutnya yang panjang kini menutupi wajahnya. Meskipun terlihat kalah tapi ia bangkit kembali dengan segala sisa kekuatannya.


Pada saat saat terhir kita melihat sosok iblis melayang diatas sosok besar yang sudah lemas itu. Ia mengapung tidak berdaya diatas permukaan laut. Tubuhnya yang besar sebesar kapal nelayan terombang ambing kesana kemari.


"Inilah saatnya kau harus lenyap dan mati!!"


Ia mengangkat tongkat panjang dan mengalirkan semua kekuatan kepada tongkat. Berjuta juta cahaya merah dan kuning memasuki tongkat yang dialirkan dari tubuhnya...


...¤¤¤¤¤...