Hawa Waha

Hawa Waha
Ditemukan kotak peninggalan ayah.



Lengkaplah sudah 40 pasukan Ni Polong. Mereka adalah 20 pasukan Jin dari pantai selatan dan 20 siluman dari gunung Agung. Para siluman itu datang atas perintah raja siluman yang bernama Lembut Ringring berwujud kera putih, ia berbentuk tinggi hampir 2 meter tingginya dan bertaring.


"Aku tidak akan mengirim kalian sekaligus, kita akan buat 2 gelombang. Gelombang pertama adalah 10 jin dan 5 siluman. Setelah itu, aku dan sisanya beserta Lembut Ringring akan datang setelah gelombang pertama berhasil melumpuhkan Wanita brengsek itu..ingat jangan kalian bunuh pemuda itu! Kita akan bawa dia kealam sini!!" Ni Polong memberikan arahan pada satu sore.


"Ayok! Siapa yang mau tembus kealam manusia lebih dulu?!"


"Aku Ni! Sudah lama aku tidak bertempur!" Ucap seekor kadal berwajah manusia.


"Bagus! siapa lagi?! Cepat!!" Bentak Ni Polong.


Ahirnya terpilihlah grup penyerang pertama..mereka diinstruksikan untuk berangkat malam itu juga.


Sementara itu dirumahku, Waha sedang duduk bersila dan membacakan doa dan mantranya. Sambil menunggu Waha selesai aku ikut duduk disampingnya, sekali kali aku melirik kearah Waha. Aku berpikir bahwa aku harus bisa membantu Waha melepaskan dari belenggu permasalahnnya.


Tiba tiba Waha membuka matanya...


"Rendra..dikamarmu ada peninggalan ayahmu, sebuah kotak..barang itu disimpan digudang. Bisa kamu ambil?" katanya.


Aku bingung kotak yang mana? Setauku gudang sudah 2 kali aku dan pak Dirman membersihkan tapi tidak pernah melihat ada kotak.


Namun, demi Waha aku pergi kegudang dibelakang. Semua barang barang kama peninggalan ayah kuperiksa..tidak satu kotakpun aku dapatkan.


"Sebentar..aku yang cari" ucap Waha, ia langsung menutup matanya.


"Rendra kotak itu ada diatas lemari tua dipojok gudang. Ia ditari diatas baguan paling belakang dekat tembok"


Pontang panting aku mencari kotak itu, satu persatu barang barang yang ada didepan lemari tua kusingkirkan.


"Itu! aku bisa melihat ada dibelakang!" Ucap Waha sedikit berteriak.


Aku naik kesebuah kursi dan melongok keatas lemari. Wah betul saja, dipojok sebelah kiri ada sebuah kotak kayu. Kotak itu berukuran kecil, pantas aku tidak pernah liat.


"Ini Waha?" Tanyaku sambil menggenggam sebuah kotak kayu.


"Ya bawa turun Rendra dan buka kotak itu. Didalamnya ada peninggalan berharga dari kerajaan Jawa"


Kotak itu aku buka, ternyata didalamnya ada sebuh keris kecil dimana gagangnya berbentuk kepala naga.


"Taro didepanku Rendra..saat ini aku tidak kuat memegangnya..sangat panas"


Aku bingung, kenapa Waha bilang panas? Keris itu menurutku biasa saja, memang terlihat tua tapi tidak ada hawa panasnya.


...○○○○...


"Rendra..boleh tolong keluarkan keris dari tempatnya dan letakkan didepanku"


Aku mengeluatkan keris yang panjangnya 20cm itu dan meletakkan didepannya.


Waha memejamkan matanya dengan mengatubkan kedua telapak tangan didada, tidak lama ia mengangkat keatas kepalanya.


"Rendra..jangan takut akan ada penampakan..duduk disampingku saja" ucap Waha. Aku menuruti arahannya bahkan merasakan dengkulku menyentuh dengkul Waha.


Tudak lama kemudian keris itu betubah warna menjadi agak kemerahan. Pas didepan kita muncul satu sosok besar seperti layaknya yang ada diwayang. Sosok ini seorang priya bertubuh tinggi besar, kumisnya melintang.


"Salam bahagia..salam sejahtera" ucap Waha sambil terus mengangkat kedua tangannya diatas kepala.


"Njjih..sudah lama saya tidak melihat dunia..saya sadar adanya w mahluk Tuhan dari dua dunia alam yang berbeda" ucap sosok besar itu dengan suara dalam.


"Mohon maaf..kami mohon bantuan apabila diperkenankan, sebentar lagi kaum jin dan mungkin siluman akan datang kesini. Kami mohon bantuan untuk memerangi mereka..Dan yang duduk disamping saya ini adalah keturunan langsung kerajaan kuno di Jawa Timur" kata Waha.


"Ya saya sudah melihatnya..dialah titisan sang Mahardwina raja diraja Jawa jaman dulu..saya pernah mengabdi kepadanya..saya akan bantu kalian..bersiaplah sebentar lagi mereka akan datang kesini..sudah saya rasakan"


Aku terpana mendengar kata katanya..tapi lebih terpana melihat satu tangannya yang memberikan sebuah botol dari semacam tanah liat.


"Apabila kalian sudah terdesak siramkan ini ketanah"


Setelah mereka saling bicara, asap tipis yang terlihat dikaki sosok besar berkumis itu pelan pelan naik keatas menebal dan ahirnya menyelimuti seluruh tubuhnya. Aku melihat puncak asapa itu setinggi langit langit gudang berarti tingginya kurang lebih 3 meteran.


"Menurutnya sebentar lagi akan ada penyerangan, sekarang saatnya kita masuk kedalam rumah Rendra"


Aku berdiri sambil menarik tangan Waha, rupanya Waha menerima pertolonganku ia menggenggam tanganku.


"Terima kasih Rendra..kamu jangan berada jauh dari aku ya, keselamatanmu sangat utama" ucap Waha sambil tersenyum.


Aku tidak melepaskan genggamanku ketika kita berjalan masuk kerumah.


"Waha..mungkin..."


"Mungkin apa Rendra?"


"Hmm, mungkin kalau aku hidup dimasamu, aku akan datang mengambilmu sebagai istriku"


"Begitukah Rendra? Apakah kamu tidak punya pasangan saat ini?"


"Dulu ada..tapi, kini sudah putus"


"Oo..kamu tau berapa umurku sekarang?"


"Kalau aku hitung dan perkirakan..mungkin sekitar 180an tahun, tapi kalau melihat wajahmu kira kira 30an tahun"


"Sayang Rendra kita tidak berada pada satu alam..tapi kamu dulunya adalah putra raja besar, bisa jadi kamu tidak akan mau denganku"


"Lho kalau sudah suratan Tuhan pasti terjadi..bukankah sekarang kita ketemu?"


Waha tiba tiba mendekat dan satu tangan lainnya memegang pergelangan tanganku dengan mesranya.


"Rendra, kain ikat pinggang yang aku berikan adalah hadiah dari aku..kamu simpan dengan baik ya sebagai kenang kenangan dari aku"


"Baik Waha akan kujaga selamanya..yang penting sekarang aku harus bisa melepaskan dirimu dari para setan itu agar kamu bisa pulang dengan selamat"


Waha menganggukan kepala...


...○○○○...


15 sosok melesat masuk kealam manusia, mereka semuanya memakai kain berwarna ungu kecubung lambang warna sekte Serpatya yang ganas itu.


"Hai siluman siluman kalian masuk dari arah pintu depan kita akan masuk dari arah pintu belakang..siapkan kekuatanmu"


Mereka telah menembus dan hadir didunia nyata..beberapa hantu seperti pocong, gendruwo kaget melihat kedatangan mereka.


"Jangan ikut campur! Ini urusan kami!" teriak salah satu siluman kepada satu sosok gendruwo yang berada didekat sana dan ingin mendatangi mereka.


Gendruwo itu batal mendatangi bukan saja takut akan penampilan mereka tapi tubuh para siluman itu terasa sangat panas menandakan tingkat ilmunya jauh lebih tinggi.


Untuk kalangan pocong mereka sudah lari tunggang langgang mereka tau ini adalah gerombolan mahluk mahluk berbahaya.


"Kawan kawan, aku akan ganti tubuhku..kalian bersembunyi dibelakang, kalau aku sudah masuk kerumah kalian langsung masuk" kata satu siluman berbentuk ular hitam.


Ia menyibakkan kain ungunya dan berubah menjadi seorang laki laki.


Saat itu aku baru saja akan menyalakan televisi, tapi berulang kali ia tekan tombol On tidak ada gambar jelas yang keluar. Gambar dilayar menjadi buram dan rusak.


"Rendra..matikan listrik! Aku merasa ada penyerangan. Keluarkan keris Jantring Mas aku akan memakai kainku saja..Hati hati rendra, berdiri didekatku terus!"


Jantungku terasa berdegup kencang..ya Tuhan berikan aku kekuatan...


...¤¤¤¤¤...