Hawa Waha

Hawa Waha
Pasukan maut disiapkan.



Detik itu aku sudah pasrah..sosok besar yang menyeramkan loncat keatas, kuku kukunya yang tajam mengarah ke badanku.


Entah bagaimana..naluriku menangkap sebuah kilatan cahaya putih jatuh dari udara..kilatan itu menghantam tepat dikepala mahluk seram itu.


Sosok itu berteriak dengan keras dan terpelanting kebelakang..kepalanya hancur berantakan. Ia sempat menggerakkan ke empat kakinya namun kemudian berhenti. Mulutnya yang penuh gigi runcing menganga lebar.


Sinar putih itu tidak mewujud tapi terdengar suara berat diudara.


"Cepat kebelakang rumahmu..bantu Waha disana!"


Tanpa pikir panjang aku lari masuk kedalam rumah..dari dalam rumah bisa kulihat kilatan kilatan cahaya saling beradu dihalaman belakang.


Dimanakah Waha? Pelan pelan aku buka pintu dapur yang menuju kehalaman belakang. Ternyata kulihat Waha sedang dikelilingi beberapa mahluk aneh yang terus melepaskan cahaya merah kearah tubuh Waha.


"Waha! aku akan menolongmu!" Sambil teriak aku berlari kearahnya. Keris kulibas libas didepanku.


Aneh sosok sosok itu berhenti melepaskan sinar merah bahkan terlihat loncat kearah belakang.


"Berikan keris Jantring kepadaku! Ini kau pegang keris ayah!" ucap Waha.


Aku berdiri dibelakang Waha bahu kita saling berdekatan.


"Hiiiaaa!!" dalam sekali libas 5 sosok itu hancur mengeluarkan asap hitam.


4 sosok lainnya mendekat namun Waha telah siap, tiba tiba aku melihat ia melenting keatas dan terjun bebas sambil menusukkan keris Jantring kearah mereka.


1 sosok itu mencoba menyerang aku..entah bagaimana aku merasakan tubuhku menjadi enteng..Aku menari nari bagaikan seorang pendekar silat.


Waha melihatku sedang bertempur, ia duduk bersila. Kemudian dari mulutnya ia menyemburkan cairan yang mana dengan cepat mengenai sosok itu.


Sekejap saja sosok itu berteriak dan lenyap dari pandangan.


Waha memegang tanganku..matanya masih jelalatan melihat kekiri dan kekanan.


"Lihat!" ucap Waha sambil menunjuk kearah 4 sosok yang terlentang dirumput. Asap asap hitam muncul dari tubuh mereka membumbung keudara.


"Mereka telah mati..tapi satu jin berhasil lolos..terima kasih Rendra"


Sebuah sinar putih turun perlahan lahan ketanah..Ditengahnya muncul sosok besar dan berotot.


"Ini baru tahap pertama penyerangan..akan ada lagi yang datang. Waha malam ini semedi sampai pagi jangan bangun..aku akan masuk ketubuhmu.."


"Masuk ketubuhku??" Tanya Waha.


"Ya..penyerangan ke 2 bisa lebih fatal..mereka akan datang bersama para mahluk jahat dan sakti..Aku harus ada ditubuhmu..kalau kamu sudah berperang biarkan tubuhmu bergerak sendiri..karena disanalah aku yang akan hadir"


"Baik terima kasih, aku akan lakukan semedi nanti malam"


"Jangan bersentuhan dengan Birendra selama satu malam..dan untuk Birendra. Jangan kau lepaskan kerismu apapun juga..ia akan menjagamu dalam menghadapi mereka"


Aku hanya menganggukkan kepalaku, semua arahan sosok ghoib itu pegang teguh..ini adalah hal antara hidup dan mati.


...○○○○...


Waha mengambil posisi diruang tengah dekat televisi. Ia duduk bersila dikarpet depan televisi.


"Rendra..aku akan semedi, kamu boleh duduk disampingku atau istirahat juga disini disampingku tidak apa yang penting kita jangan saling bersentuhan"


"Baik Waha, sementara lampu tidak akan kunyalakan bahkan semua aliran listrik tidak akan dinyalakan"


Pertempuran tadi betul betul menyita seluruh kekuatan tubuhku, seakan sosok sosok itu telah menghisap habis tenaga didalam tubuhku.


2 gelas ukuran besar penuh air putih aku minum, bukan untuk menambah energi tapi hausku tidak terhingga..kerongkonganku terasa kering seperti ketika melakukan puasa tapi ini lebih dari itu..


Kiranya untuk sementara masih punya waktu, sambil menunggu Waha semedi aku duduk disampingnya..tidak lama aku tertidur dengan lelap.


...○○○○...


Gusti Karnia sedang duduk dikursinya yang tinggi diatas semacam altar dilantai bawah ada 3 wakilnya dan sebelah kirinya duduk Ni Polong.


Mendadak Ni Polong memalingkan wajahnya kearah jendela. Kedua matanya mengerut, tajam memandang kejendela. Kemudian ia bangkit dari duduk, kaki kanannya menghentak lantai 3 kali.


"Masuk! siapapun itu!" katanya sedikit berteriak.


Gusti Karnia ikut menoleh kearah jendela, sebuah hembusan angin masuk kedalam.


Dari arah jendela masuk kepulan asap hitam merucut kearah depan Ni Polong membentuk figur. Tidak lama muncul sosok jin yang tubuhnya bersisik seperti seekor ular tapi berbentuk manusia. Ia memegangi perutnya yang robek.


Sosok itu bersimpuh dan sambil memberikan hormat dengan terbata bata ia bercerita bahwa grup pertama telah gagal dengan misinya. Ia sendiri terluka berat karena terkena sabetan sebuah benda yang sangat tajam.


"Hah! bagaimana bisa?? Semuanya mati?!" tanya Ni Polong kaget.


"Ni Polong jangan kirim gelombang ke dua..kita harus siapkan rencana yang matang!" ucap Gusti Karnia.


"Bagaimana bisa? bagaimna bisa ini terjadi? Wanita sial itu bukan dari kelompok yang berilmu tinggi" Ucap Ni Polong kembali ke posisi duduknya.


"Sudah biarkan sosok ini pulang dan sembuhkan lukanya..kita harus mengatur siasat" lanjut Gusti Karnia.


"Baik..kau pulang dan sembuhkan dirimu..panggil Ki Lembut Ringring datang kesini secepatnya" Ni Polong berkata kepada sosok jin berkulit ular itu.


"Baik laksanakan" Sosok itu mundur dan tubuhnya menjadi asap dan melesat keluar jendela.


Dalam waktu 1 menit Lembut Ringring telah hadir. Tubuhnya yang tinggi seperti kera menunduk dan duduk bersila didepan Ni Polong dan Gusti Karnia. Wajah Lembut Ringring pucat dan menahan amarah.


"Ampun Ni Polong saya sedang berduka, 2 prajurit kesayanganku telah tewas..ini harus ada pembalasannya! Saya akan ngamuk! Secepatnya kita berangkat lebih bagus! Saya sendiri akan turun membunuh wanita sial itu!!" Ucap Lembut Ringring dengan geram, gigi nya yang tajam saling beradu suaranya terdengar oleh ke 3 wakil Gusti Karnia.


"Tahan amarahmu Ki..kita tidak akan langsung turun dan menyerang, terlihat disini wanita itu mempunyai keahlian dan disana ada yang menolong dengan kekuatan yang besar! Kita harus atur siasat!"


"Maaf Ni..saya hanya sedih mengingat ke 3 prajurit kesayangan saya" jawabnya sambil mengatubkan kedua tangan yang besar keatas kepalanya.


"Ayok kita bicarakan bagaimana cara terbaik agar bisa menangkap laki laki itu sekaligus membunuh wanita sial itu" kata Gusti Karnia.


Ni Polong menutup matanya dan membacakan sebuah mantra.


Bau anyir darah memenuhi ruangan tempat mereka duduk. Suara gedebum bergetar terdengar dari pintu masuk.


"Gusti, saya memanggil Aji Batang dan Aji Morak 2 sosok pengawal kesini untuk ikut mendengar agar mereka juga ikut dalam penyerangan ini".


2 sosok yang tidak kalah mengerikan memasuki ruangan. Lidah mereka panjang sampai kelantai, rambut mereka panjang dan tebal. Inilah 2 sosok yang terlihat pernah memangsa tumbal tempo hari.


"Hai anak anak kita akan lakukan penyerangan besar besaran kealam masa datang..duduk dan dengarkan arahan kita" kata Ni Polong.


Kedua mahluk mengerikan itu mengambil posisi tidak jauh dibelakang Lembut Ringring.


Lengkap sudah pasukan maut dari Gusti Karnia. Rencana gila juga sudah dibicarakan.


...¤¤¤¤¤...