Hawa Waha

Hawa Waha
Pembicaraan Waha dengan sosok suci.



Hampir mendekati subuh ahirnya kami pulang kerumah, badan masih basah kuyup semua tulang sendi terasa ngilu dan capek sekali rasanya.


Pagi itu aku dan Waha tergeletak diatas karpet ruang tengah dan tertidur..aku tidak ingat apakah Waha tidur atau tidak tapi aku langsung memejamkan mata dan tidur dengan nyeyak.


Pagi pagi kira kira jam 5 pak Dirman bermaksud untuk datang menengokin keadaan rumah dan menanyakan kepadaku apakah ada yang di perlukan untuk kebutuhan makan.


Namun langkahnya pagi itu terhenti...tidak jauh dari rumah, ia melihat adanya 2 sosok besar duduk didepan rumah dengan wajah menunduk kebawah.


Seumur umur ia bekerja dirumah itu belom pernah sekalipun ia melihat hantu. Rumah itu selalu adem dan tenang. Tapi kali ini ia menyaksikan sesuatu yang menyeramkan pagi itu.


2 sosok yang ada didepan rumah sangat ia kenali bentuknya karena pak Dirman sangat suka dengan pewayangan jadi ia mengenali 2 sosok yang duduk disana.


Satu sosok dengan perut bundar dan buncit itu tidak lain adalah Semar. Tubuhnya cukup besar kepalanya ketika ia duduk hampir mencapai atap rumah berarti kalau ia berdiri tingginya 2 kali tinggi rumah.


Sedangkan satu sosok lagi, tubuhnya sangat besar dan terlihat otot otot besar disekitar kedua tangannya. Ia berkumis lebat tidak salah lagi dialah Gatot Kaca. Ia lebih besar sedikit dari sosok Semar, sudah tentu kalau berdiri jauh melebihi Semar.


Bulu kuduk disekujur tubuhnya berdiri, kaki kakinya kaku tidak bisa digerakkan, hanya matanya saja yang terus memandang kearah dua sosok itu.


Tiba tiba sosok Semar itu mengangkat wajahnya dan menatap lurus kearah pak Dirman. Meskipun besar tapi wajahnya memancarkan kedamaian dan ketika itu seakan ia berbicara dalam bathin pak Dirman..


"Hai bapak..pulanglah, jangan kasih tau siapa siapa tentang kami..tidak usah takut bagaimana keadaan Birendra..ia akan kami urus dan jaga..pulanglah"


Sosok Gatot Kaca juga ikut memandang kearah pak Dirman.


Entah bagaimana..pak Dirman berhasil membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah pulang. Ingatan tentang penampakan 2 sosok besar itu secara berangsur menghilang dari otaknya..seperti komputer semua ingatannya terhapus hilang.


...○○○○...


Waha tergugah dari semedinya pada sore hari setelah suara adzan terdengar. Ia berjalan kearah pintu depan dan berjalan keluar.


Ia duduk bersila dirumput sambil mengatubkan kedua tangannya. Posisinya menghadap kepada Semar dan Gatot Kaca.


"Ampure bapa bapa suci yang saya hormati..maafkan kami telah merepotkan" ucap Waha.


"Nggeh anak cantik..Ngendikanipun gusti Allah..dados punopo tyang tebih ingkang utami tulus tanggel jawab temenan donya lan aherat"


Yang dapat diartikan sebagai..Sesuai perkataan Allah yang maha suci..kami tulus tanggung jawab, serius tentang dunia dan aherat.


Waha mengangkat kedua tangan keatas kepalanya..


"Lantas..bagaimana dengan diriku ini? Aku kadung jatuh cinta kepada Rendra" ucap Waha dengan suara rendah, kedua tangannya masih berada diatas.


"Nggeh nduk...sing paling ta wedeni urip neng dunyo adalah dudu keilangan bocah Rendra kae..tapi wedi nek kamu kelangan kebahagiaanmu. Namun..sijie sing kamu kudu ngerti nduk..bakal ta jogo dirimu sampe kabeh selesai nduk"


"Njjih bapa..saya ngikut mawon nopo nopo kerso bapa.." jawab Waha.


"Setelah kalian pulih kembali kekuatan kalian kita akan bawa kalian masuk kembali kealammu. Kita akan tarung untuk terahir kalinya dengan mereka sampai tuntas des! Setelah itu aku akan antar kamu kembali kenirwana..atas bantuan romo Birendra"


"OOo..ta ceritane nggeh..Birendra adalah titisan batara Wisnu yang dulu telah menitis menjadi raja Jawa setelah beratus tahun titisan itu menjadi sosok Birendra ini..tapi dia tidak mengetahui hal itu..Nah, keris Jantring Mas adalah pusakanya batara Wisnu. Jantring Mas sebetulnya mempunyai saudara kembar yaitu pusaka Anom Melati..itulah keris kepunyaan ayahnya yang kamu gunakan itu"


"Ya ampun saya tidak sadar..mohon maaf bapa"


"Tidak apa apa..Jadi, Batara Wisnu pernah meminta saya untuk masuk kedalam Anom Melati dan Raden Gatot Kaca masuk kedalam Jantring Mas..Kedua keris ini harus saling berdekatan dan hanya bisa dipegang oleh beliau saja"


"Saya mengerti sekarang kenapa bapa menggunakan kata romo kepada kanda Rendra"


"Kamu sangat beruntung mendapat cinta kasih Birendra..karena sebetulnya kalian telah dipertemukan kembali..sedangkan kamu sendiri adalah titisan Dewi Siti Sundari..Dunyo iki wes penuh bergelimangan dosanya. Biarkan Birendra yang akan meluruskan semuanya. Setelah semuanya selesai dan kamu saya pulangkan Birendra akan membangun negara ini menjadi negara adil makmur lan sentosa. Dialah penerus Wisnu sebagai dewa keadilan didunia ini"


"Ya ampun gusti Alah Tuhan semesta alam..maafkan aku yang hina ini" ucap Waha wajahnya ia turunkan matanya berkaca kaca mendengar tuturan Semar.


"Jangan kau sedih anakku..memang sudah waktunya agar kamu bisa pulang..ayahmu sudah lama menunggu kepulanganmu..ayah dan ibumu sangat kangen akan kehadiranmu disana"


Aku mendadak terbangun ketika melihat adanya cahaya terang didepan rumah. Apakah itu sinar lampu mobil..kenapa begitu terang benderang..dan dimana Waha??


...○○○○...


Sangat terkejut diriku mendapatkan Waha sedang duduk bersila menghadap sosok besar Semar dan Gatot kaca.


Mereka nampaknya sedang bercakap cakap. Aku keluar mendatangi mereka.


"Eladalah..romo sudah bangun, maafkan kami membangunkan istirahatnya" ucap Gatot Kaca dengan suara beratnya menggelegar.


Waha tersenyum dan memberikan salam hormat kepadaku. Dengan langkah pelan Waha kudekati dan aku memeluk tubuhnya.


"Romo Birendra..sebentar lagi kita akan masuk kealam goib, untuk menghancurkan mereka untuk terahir kalinya..setelah itu aku mohon bantuanmu untuk melepaskan Waha Puspa masuk kealam nirwana" ucap Semar.


Aku menatap wajah Waha..rambutnya yang terlepas menutupi sedikit matanya kuusap dengan mesra.


"Aku akan bantu agar kamu bisa pulang kealam yang abadi sayangku..terima kasih telah hadir direlung hatiku. Kenangan indah bersamamu tidak akan kulupakan"


"Kanda..kain selendang yang kuberikan dulu yang mana masih kau pakai ini adalah satu satunya hadiahku kepadamu..simpanlah benda itu sebagai kenangan bahwa aku pernah ada disampingmu" Ucap Waha sambil menyentuh kain selendang yang mengikat perutku.


"Aku akan masuk kembali kedalam kerismu Waha Puspa dan raden Gatot Kaca juga demikian..ia akan masuk kedalam Jantring Mas. Sebentar lagi kita akan masuk kealam sana" ucap Semar.


Waha meminta ijin untuk mengambil keris keris itu.


Tidak lama ia keluar memberikan keris Jantring Mas kepadaku dan ia memegang keris Anom Melati.


Asap tebal mengelilingi 2 sosok besar bak raksasa itu dan dalam hitungan detik mereka menghilang dan terlihat asap tebal mengelilingi keris keris kami hingga ahirnya hilang.


"Kanda..kita masuk kerumah dan kita akan persiapkan diri berangkat kealamku"


...¤¤¤¤¤...