
"Haah!!..Kenapa tidak ada mantra didinding? Ada apa ini??" Tanya seorang prajurit desa yang datang kegua penyekapan Waha.
Orang itu dibuntuti oleh lainnya bergegas kearah tangga kebawah dan alangkah kagetnya mereka melihat jeruji besi penutup ruang tahanan terbuka sebagian.
"Made! Liat dia sudah lolos dari penjara! Sialan!" Umpatnya sambil memukul tembok dinding gua.
Orang yang dipanggil Made melongok dan berteriak.."Ampun!! Bagaimana bisa lepas??! Dan otu besi bisa meleleh begitu??!"
4 orang prajurit yang memeriksa kaget sekali. Made langsung mengadakan pertemuan singkat diantara mereka.
"Siapa yang akan memberitahukan Gusti Karnia? Kalau aku takut sekali! Dia pasti akan marah besar bahkan kemungkinan kita akan dimakan leak!!" kata Made dengan muka pucat.
"Aduuh gimana ini?? Ya sudah kita harus laporkan bagaimanapun juga..kalau kita tidak laporkan akan lebih ngamuk lagi dia!" ucap seorang lainnya.
Ke 4 orang itu langsung lari keatas lagi dan dengan terbirit birit mereka menuju ketempat pemujaan setan dimana disana mayat seseorang yang dijadikan tumbal sedang dilahap habis habisan oleh 2 leak.
...○○○○...
"Mohon ampun gusti Karnia..Duuh mohon ampun!" Ucap salah satu prajurit sambil duduk bersimpuh dihadapan penguasa desa itu.
"Ada apa anak muda ceritakan cepat!"
"Kami barusan mendatangi penjara Waha Puspa dan...ternyata..tahanan telah dirusak dan tawanan menghilang" katanya terbata bata.
"Apaaa!? Siapa yang berani masuk dan mencuri tawananku???"
"Ampun Gusti! kami tidak tau..waktu kami kesana semua mantra didindingpun juga hilang dan..ketika kita periksa dibawah semuanya sudah berantakan"
"Kurang ajar!!" Saking marahnya ia menendang sebuah pot berisi darah manusia..seketika pot itu hancur berantakan dan seluruh isinya berupa darah kental mengalir kemana mana.
2 Leak yang sedang lahap memakan daging itu langsung berhenti, salah satunya berkata dengan suaranya yang berat..
"Gusti! Saya akan mencari pencuri itu!" katanya.
"Tunggu..belom saatnya kau keluar..Ni Polong pergi dan rebut kembali tawanan kita" Ucap Gusti Kurnia memerintahkan kepada wanita berwajah buruk itu.
"Hihihi..aku tau siapa dia! Sekarang saya berangkat mencarinya" Sekejap kemudian sekitar sosok wanita itu mengeluarkan asap hitam dan ia lenyap dari pandangan.
Sepeninggal Ni Polong, Gusti menarik keris dari punggungnya dan menyabetkan keperut prajurit muda itu. Dalam hitungan detik Gusti terbang mekesat dan kembali menyabetkan kerisnya kearah 3 prajurit lainnya.
Ujung keris itu memang diocesan racun ular kobra dan sudah diberi mantra. Terlihat dari kondisi 4 prajurit yang perut mereka robek dan kini berwarna hitam.
Gusti menoleh kearah 2 leaknya..
"Ini..ada 4 lagi yang bisa kalian santap!"
...○○○○...
Aku membuka kedua mataku ketika telah berhasil masuk kealam nyata. Sambil menoleh kekiri dan kanan mencari keberadaan Waha.
Suasana kamar rumahku hening dan sunyi, keris Jantring Mas ada ditangan kiri tapi dimanakah sosok Waha?
Selang beberapa saat gumpalan asap tipis nampak terjadi ditengah ruangan tengah rumah. Bersamaan dengan bau wangi, kiranya sesuatu akan terjadi.
Secara perlahan gumpalan asap itu memadat dan membentuk satu sosok manusia. Takjub melihat kejadian itu aku mundur beberapa langkah didepan kamar tidur.
Disana berdiri sosok wanita yang cantik berkulit sawo matang dan rambut tergerai sebahu. Ia menoleh kearah sekeliling rumah.
"Waha?" ucapku pelan.
Sosok wanita bernama Waha menoleh kearahku sambil emnundukkan wajah ia memberi salam dengan menangkupkkan kedua tangannya.
"Maafkan aku..tidak langsung hadir, ini pertama kali aku bisa tembus kealammu..ini rumahmu?" tanya Waha sambil terus memperhatikan seisi rumah.
Ia berjalan dan memperhatikan televisi kemudian kearah jendela. Satu tangannya memegang kaca jendela dan memperhatikannya dengan teliti.
"Alhamdulillah kalau kamu menyukai..silahkan duduk" Ucapku sambil mempersilahkan Waha duduk.
Waha mengambil pojok ruangan dan duduk bersimpuh dilantai. Tangannya memegang lantai dan mengusap usapnya.
"Jangan duduk dibawah sana Waha" Aku mendatangi dimana ia duduk, dengan penuh kasih sayang aku menarik salah satu tangannya dan membawa ia duduk diatas kursi sofa.
"Kamu duduk disini ya jangan dibawah"
Rupanya ia agak bingung, mungkin bagi dia hanya para pembesar yang boleh duduk dikursi.
"Aku akan ambilkan segelas air putih"
"Maaf..aku tidak minum dan makan dialam ini, terima kasih Rendra atas perhatianmu"
"Oh baik..kalo begitu aku buat kopi dulu bisa?"
Waha mangangukkan kepala, nampaknya ia tertarik dengan isi rumah ini..ia berdiri dan mengelilingi ruang tengah didepan sebuah kaca dinding ia berhenti. Dipandangnya kaca itu lama lama.
"Nah, kopi sudah siap..sini Waha duduk dikursi"
"Aku heran..tahun berapakan ini?" tanya Waha.
"Ini tahun 2015"
"2015?? Waduh.." katanya sambil mengambil posisi duduk didepanku.
"Siapakah penguasa terbesar ditempatmu?"
"Ayahku pernah berkata bahwa kita semua tunduk kepada raja Dewa Manggis"
"Sebentar aku periksa era tahun berapa itu" ucapku sambil mengambil ponsel dimeja.
Waha tertarik dengan benda ponsel ia beralih posisi mendekati tempat dudukku. Dengan jarinya ia menyentuh ponsel. Diam diam aku menyalakan ponsel.
Ketika ponsel menyala, mata Waha terbelalak.."Sinar apa itu terang sekali!"
"Ini adalah alat komunikasi jarak jauh..tapi aku juga bisa melihat sesuatu dari sini"
"Waah.."
Setelah dilakukan pengecekan di Google ternyata dinyatakan bahwa raja Dewa Manggis berkuasa didaerah Gianyar pada era ahir 1800 dan masuk ke tahun 1900an. Dan seumpama ia berumur 35 tahunan berarti saat ini ia berusia sekitar 180an tahun!
"Baiklah..apakah Waha menceritakan siapakah kamu dan kenapa bisa ditahan disana?"
Ia menceritakan bahwa keluarganya berasal dari keluarga bangsawan diBali. Ibunya telah meninggal karena satu penyakit aneh sedangkan ayahnya mati dibunuh oleh seorang kepala desa agar demi bisa menguasai keris pusaka Jantring Mas pemberian I Gusti Ngurah Seorang raja Buleleng.
Dirinya sendiri ingin dikawini oleh kepala desa itu namun tidak bisa karena adanya penolakan dari dia dan juga keluarganya, karena itu sang kepala desa marah dan ngamuk..ia mengundang ayahnya datang dalam satu pesta disanalah ia dibantai.
Sebelum meninggal ayahnya telah mengunci anaknya dengan ilmu kebathinannya yang sangat tinggi. Dan setelah itu memang ditakdirkan untuk tidak bisa kawin dengan siapapun.
Sang kepala desa terap murka bahkan ahirnya Waha ditahan dibawah tanah. Namun ada satu ucapan ayahnya bahwa satu saat nanti akan ada titisan dari kerajaan Jawa Timur yang akan datang membebaskan dirinya dengan memakai keris Jantring Mas.
Nah..disinilah letak posisiku yang seharusnya sebagai juru selamat, dikatakan juga bahwa dalam sumpahnya sang ayah berkata siapapun yang bisa menarik keluar keris Jantring Mas dari warangka atau sarungnya dialah orangnya yang akan membebaskan putrinya.
Aku termanggu manggu mendengarkan cerita Waha yang begitu detil..
"Pertanyaanku selanjutnya..siapakah yang telah datang tempo hari dirumahku berwujud wanita dan kenapa ada sosok yang bisa menyerupai pembantu rumah tanggaku?"
"Itu yang harus kita waspadai..sebaiknya harus kita lenyapkan sosok itu dari muka bumi ini dan kirim keneraka paling bawah dalam bumi ini"
...¤¤¤¤¤...