Hawa Waha

Hawa Waha
Pertempuran melawan mahluk aneh.



Tanpa kita sadari buntut dari ular raksasa itu sudah melingkar keatas. Setelah kita menancapkan dua keris ketubuh ular itu mendadak dari belakang ekornya yang sebesar pohon kelapa itu memukul. Aku terpelanting dan lepas dari pegangan Waha.


Ular itu sudah terluka berat karena dua keris kita telah menancap ditubuhnya. Namun ia masih sangat berbahaya.


Kulihat Waha terlempar jauh, tubuhnya membentur sebuah pohon dan ia muntah darah disana. Dengan sekuat tenaga aku mencoba bangkit. Ular itu menoleh kearah Waha yang sudah tidak berdaya, ia mendesis dan meliukkan badannya yang sangat besar bergerak kearah Waha.


Dalam jarak 100 meter ular itu mengangkat kepalanya siap memakan Waha. Pada detik itu tiba tiba dua keris yang menancap ditubuhnya mengeluarkan api. Kulihat tubuh ular itu terbakar dari dalam..beberapa letupan terjadi didalam badan ular itu. Ia menggeliat menciba memadamkan api yang kini menjalar keseluruh tubuhnya.


Ular raksasa itu menggulingkan tubuhnya ditanah..berkali kali ia memukulkan tubuhnya kebatu batu besar disekitar situ. Pada ahirnya ditempat dua keris yang menancap terjadi ledakan dahsyat..tubuh yang besar dan panjang itu meledak. 2 keris terlempar dari tubuh ular dan menancap disebuah pohon.


Aku mendekati Waha yang terkapar lemah dan kupeluk tubuhnya.


"Waha..bagaimana keadaanmu?"


Ia membuka kedua matanya dan tersenyum..tangannya meraih wajahku..


"Sukurlah aku tidak apa apa..hanya tulang punggungku seperti patah semua" ucap Waha sambil tersenyum. Aku tau dia hanya berpura pura saja, pasti badannya terasa sakit..namun ia hanya tersenyum agar aku tenang.


"Sebentar ya..aku mau ambil keris keris kita"


Aku berlari kearah sebuah pohon dimana kedua keris kami menancap disana. Entah kenapa aku seperti ada sebuah bisikan yang mengatakan letakkan keris Jantring Mas dipunggung Waha.


Keris Jantring Mas aku keluarkan dari sarungnya dan letakkan dipunggung dan kemudian pinggang.


Setelah beberapa menit kekuatan Waha kembali normal.


"Coba aku semedi dulu agar kekuatanku kembali"


Tidak jauh dari situ tergeletak setengah badan ular besar, ia telah mati dengan mengenaskan. Entah bagaimana keris keris itu telah menghancurkan organ tubuh si ular dari bagian dalam.


Aku memandang sekeliling area, suasananya mencekam..selain bau anyir darah ular yang mati itu, kabut juga mulai turun. Dari ujung keujung yang terlihat hanya pohon pohon besar yang rimbun dengan daun daun dan tangkainya yang menjalar kemana mana.


...○○○○...


Gusti Karnia gemetar ketika mendengar lolongan mahluk mahluk kesayangannya yang mati. Ia menoleh kearah kanan tempat 2 orang wakilnya duduk bersila.


"Jaga tempat ini sampai titik darah penghabisan kalian..aku akan memeriksa para prajurit"


"Baik Gusti!"


Dengan kuda hitamnya Gusti Karnia berangkat kearah alun alun dimana para pasukan berani mati bersiap siaga.


"Prajurit!! rapatkan barisan!! Hai kepala prajurit! Siapkan tentaramu!!" teriak Gusti Karnia dari atas kuda hitamnya.


"Siap Gusti! Kami akan berjuang mati matian!!" teriak sang kepala prajurit.


Dari atas kudanya Gusti membunyikan siulan yang melengking.


...○○○○...


Ratusan mahluk menyeramkan yang sudah tidak sabar menunggu panggilan saling bertubrukan berusaha untuk naik keatas sumur. Suara mereka riuh rendah cukup membuat bulu kuduk siapa saja berdiri mendengarkannya. Bak air bah mereka keluar dan memenuhi area sekitar sumur.


2 ekor kelinci liar tidak sempat melarikan diri. Sekumpulan dari mahluk itu yang berada paling depan langsung menyergap dan menyantapnya dengan lahap.


Seekor menjangan yang melihat kejadian itu langsung melarikan diri masuk kedalam hutan.


Gusti Karnia dari jauh sudah bisa mencium bau mahluk mahluk menyeramkan yang berhamburan keluar dari sumur tua. Ia tersenyum..inilah saatnya semua kekuatan akan keluar.


Ia memacu kudanya menuju kearah sumur..


...○○○○...


Upaya semedi untuk membangkitkan kekuatan luar dan dalam ahirnya selesai juga. Waha berdiri dan menyelipkan keris Anom Melati kepinggang.


"Tunggu.." mendadak Waha berkata, matanya melihat kearah atas dahan dahan pohon.


"Kanda..jangan ambil jalan bawah, kita akan naik dan terbang dari satu dahan kedahan lain supaya tidak terdeteksi"


"Aku siap" ucapku, Waha langsung memeluk pinggangku. Kakinya menginjak bumi 3 kali seketika Waha dan aku naik keatas pohon. Dari satu ranting keranting lainnya kita hinggap seperti seekor burung dengan lincah kita terbang.


Namun pada belokan kekanan ketika hendak sampai pada alun alun Waha menghentikan penerbangannya.


"Ada apa sayang?"


"Ssttt" bisik Waha sambil menaruh telunjuk tangannya kebibir. Ia kemudian menunjuk kearah sebelah kanan.


Mataku terbelalak melihat gundukan berwarna hitam saling kejar mengejar menuju kearah kita!


"Apa itu?"


"Aku tidak tau..tapi kali ini berbahaya..kita akan terjang mereka. Alun alun tidak jauh dari sini dan setelah alun alun kota akan sampai dipendopo. Keluarkan kerismu kanda kita akan hancurkan apapun itu..Siap?!"


"Ayok kita turun"


Ketika dibawah aku keluarkan Jantring Mas dan Waha mengeluarkan Anom Melati. Tidak berapa lama suara berisik seperti suara lalat mendengung mendekati.


Mahluk mahluk kian mendekat, dibawah sinar bulan kini aku bisa melihat dengan jelas bentuk mereka. Rupanya persis seperti laba laba, dengan tangan dan kaki yang panjang dan tajam. Pergerakannya cepat sekali.


"Awasi tangan tangan panjang itu!" ucap Waha.


Dengan sekali loncat Waha berada ditengah tengah mereka. Dengan ganasnya mereka menyerang, keris Anom Melati berputar melibas apapun yang mendekati.


Akupun demikian, dengan segenap kekuatan kulibas dan tancapkan keris Jantring Mas entah sudah berapa banyak wujud wujud mengerikan itu terbelah oleh kerisku.


Namun setiap kali mereka terbelah mati, dalam hitungan detik mereka kembali menyatukan tubuh dan hidup kembali.


"Waha!! Mereka tidak mati mati!!" teriakku.


Dari kejauhan Gusti Karnia tersenyum gembira diatas kudanya.


"Hehehe...sekarang kalian akan mati!" gumamnya.


...○○○○...


Ini sangat tidak mungkin terjadi berkali kali kita melibas dan membunuh mahluk mahluk itu tapi mereka selalu bisa menyatukan tubuh mereka dan kembali hidup!


Dalam kekacauan itu tiba tiba dari arah depan sebelah kiri terdengar teriakan teriakan keras. Waha menoleh kekiri, sejumlah pasukan berkuda dengan tombak dan parang menyerang kita. Debu debu tanah membumbung tinggi kuda kuda itu berlari seakan tidak ada hari esok.


"Kanda! Aku sudah tidak tahan! terlalu banyak dari mereka!"


Pada saat yang genting itu Gusti Karnia juga memacu kuda hitamnya, ia mengangkat tinggi tombak saktinya.


"Hiiaaa!! hancurkan mereka!! teriaknya, ia melarikan kudanya dibagian paling depan rombongan pasukan berkuda. Tombak ia putar putar dengan gagahnya, kemenangan sudah didepan mata.


...○○○○...


Tanganku terasa lemah, entah sudah berapa banyak musuh terbantai tapi seakan mereka tidak habis habisnya.


Pada hitungan detik ketika kita sudah terdesak, 2 pusaran angin terjadi ditengah tengah kerumunan mahluk mahluk aneh itu. Setiap mahluk yang terkena pusaran angin itu terbelah pecah tapi tudak bisa menyatu lagi..mereka hanya menjadi asap hitam yang lenyap dengan sendirinya.


"Waha!! Lihat!!" teriakku sambil menunjuk kearah pusaran angin.


Ratusan mahluk itu kini hilang dan ditengah tengah pusaran angin nampak Semar dan Gatot Kaca yang satu tangannya bertolak pinggang. Satu tangan lagi sibuk memelintir kumisnya yang tebal.


...¤¤¤¤¤...