
Ternyata setelah waktu magrib datang dan kemudian memasuki waktu Isya barulah orang yang bernama Pak Dargo itu datang. Orang ini langsung menuju kearah bawah pohon dipekarangan belakang dengan membawa senter mencari kertas emas itu.
Kemufian setelah ditemukan kertas emas itu, Ia duduk berjongkok memandanginya dan dengan sehelai kain tisu ia mengangkatnya, penuh kehati hatian sekali nampaknya ia memegang kertas itu.
"Mas..ini bukan sembarang kertas..kebetulan saya juga memahami masalah spiritual jadi saya bisa merasakan aura berbeda yang ada dikertas ini..ayok kita bawa masuk kerumah"
Didalam rumah kertas itu diletakkan diatas meja makan. Pak Dargo memperhatikan bentuk kertas dan tulisan yang tertera.
"Aduuh..pertama tama saya katakan bahwa ini bukanlah kertas biasa yang kita temukan..kalau kita perhatikan benar benar ini adalah sehelai daun yang sudah dikeringkan dan dilemaskan..entah bagaimana caranya tapi bukan kertas..coba cium, kertas ini baunya wangi sekali seperti yang sudah disemprotkan minyak wangi"
Aku mendekatkan hidungku dan ternyata benar..agak kaget juga karena baunya adalah bau bunga melati.
"Kedua, aksara yang dituliskan pada kain lontar..maaf saya bilang lontar ya, bukan kertas..adalah aksara jawi kuno. Dan lingkaran dibawah ini dan seperti guratan cacing dibawah itu adalah sebuah stempel dari...mohon maaf seperti dari dunia lain"
"Oh ya? dunia lain?" tanyaku heran.
"Benar..semoga saya benar..tapi disini siapapun yang membubuhkan mengatakan bahwa beliau adalah utusan yang Kuasa..aduuh bulu tubuhku merinding"
Benar saja apa yang dikatakan pak Dargo bulu kudukku juga ikut merinding.
Pak Dargo mulai membaca..
"Kepada cucuku tercinta dimanapun berada..perkenankan kami memberitahukan bahwa ananda Waha Puspa saat ini sudah bersama kami dan sedang menjalani pembersihan. Waha menyatakan terima kasih kepada ananda Birendra dan mohon kesediaannya untuk mengikhlaskan dirinya.
Waha Puspa tidak mempunyai makam namun diusahakan agar Birendra untuk datang kedesa Tanganan diKarangasem, carilah bukit Lemped dan taburkan bunga didaerah tersebut.
Tertanda, Kami dari para penjaga gerbang nirwana"
Pak Dargo melepaskan kertas emas itu seakan takut akan apa yang ia pegang.
"Waduh..siapa Waha Puspa itu?" tanya pak Dargo.
Aku hanya menganggukan kepala mendengar penjelasan pak Dargo. Mendadak dari jendela pintu dapur terhembus angin masuk, baunya semerbak seperti yang ada dikertas itu.
Pak Dargo melototkan matanya ketakutan..
"Sumpah! ini menakutkan..apalagi ada bau wangi yang ujug ujug masuk!" katanya sambil menoleh kearah jendela.
Kamipun ikut menoleh kearah jendela, memang ada keanehan tadi jendela itu tertutup rapat, entah kenapa tiba tiba terbuka. Dan juga diluar tidak ada angin kencang, tapi kita semua bisa mencium bau wangi yang masuk.
"Sebaiknya kertas ini dibawa kepada orang yang mempunyai kemampuan melihat..sebab saya takutnya ini dari pihak pihak yang tidak kita inginkan apalagi jatohnya dirumah sini" kata pak Dargo kawatir.
"Terima kasih pak Dargo yang sudah bantu membacanya, nanti saya akan pikirkan dulu bagaimana mengurus surat ini"
Pak Dargo mendadak berdiri dan minta ijin pulang, dia merasa tidak enak badan. Mungkin bukan tidak enak badan, mungkin saja ia ketakutan. Lucu juga pak Dargo..bagaimana kalau dia seperti aku yang sudah pernah menyaksikan bahkan bertempur dengan bermacam ragam mahluk halus yang ganas.
Malam itu aku duduk sendirian dipinggir tempat tidurku. Saat itu Pak Dirman keluar rumah mengantarkan pak Dargo yang ketakutan. Disampingku sengaja aku menaruh keris Jantring Mas dan keris Anom Melati. Aku angkat kedua ketis itu dan kutaruhkan dimeja kecil dihadapanku. Bunga melati pemberian Waha juga aku taro disamping kedua keris itu.
Aku menoleh kearah sepucuk kertas emas yang aku taro disampingku.
Tiba tiba keris Jantring Mas dan Anom Melati bergerak sendiri dan aku mendengar sebuah bisikan ditelingaku.
"Ngger..ini aku eyang Semar..sebaiknya besok berangkat keBali dan taburkan bunga melati disana"
"Waha? itukah kamu yang datang?" ucapku sambil berdiri mendekati kaca. Aku merasakan ada semacam bau kembang melati dikamarku.
Namun dikaca itu tidak ada siapa siapa, ternyata hanya halusinasiku saja.
"Itu tadi benar sosok Waha..ia telah datang dan ingin melihat kembali keadaanmu" terdengar bisikan lagi ditelingaku.
"Baik..aku akan keBali besok..aku akan ke desa Tenganan sesuai apa yang ada disurat" ucapku sendirian.
...○○○○...
Karena hari sudah mendekat malam aku berinisiatip untuk menginap semalam disebuah villa tidak jauh dari lokasi dimana aku harus menaburkan bunga.
Desa Tenganan ini merupakan desa yang indah dan tenang. Dengan secangkir kopi hangat aku duduk diteras villa. Halaman yang luas dengan berbagai macam pohon menemaniku malam itu.
Dari arah dapur umum yang letaknya tidak jauh dari villaku keluar seorang gadis Bali. Nampaknya ia memakai kain model Bali dan membawa satu baki.
"Om Swastiastu..selamat malam" ucapnya dengan suara halus.
"Swastiastu.." balasku.
Tiba tiba ia duduk disebelahku dan menaruh bakinya dilantai. Didalam baki aku melihat satu piring bulat yang terbuat dari tanah liat. Dalamnya bunga bunga melati berwarna merah dan putih. Bau bunga tercium sangat wangi.
"Bapak..saya tau bapak akan melakukan tabur bunga besok didekat pura...saya mau titipkan ini boleh?" Ucapnya sambil menyodorkan baki kedekatku.
"Oh..boleh saja..darimana adik tau saya akan tebarkan bunga?" Aku bingung juga mendengar permintaan gadis ini.
Namun, sekilas aku melihat gelang ditangan kirinya dan terkejut ketika memperhatikan bentuk gelang itu. Gelang itu mirip kepunyaan Waha yang ia pakai dulu.
"Darimana kamu mendapatkan gelang itu?" tanyaku sambil menunjuk kearah gelang.
Gadis itu melirik kearahku dan tersenyum..
"Aku Srindi Puspa..cicit dari dadong (nenek) Waha Puspa. Aku tinggal tidak jauh dari sini. Dan tadi malam ayahku mengatakan bahwa ada tamu yang akan menaburkan bunga untuk dadong"
Bulu kudukku berdiri mendengar perkataannya, sempat aku menoleh kearah sekelilingku. Pekarangan dibelakang villa itu sepi sunyi tidak ada satu orangpun.
"Apakah..Mohon maaf apakah kamu manusia atau bangsa jin?" tanyaku penasaran.
Gadis itu tidak berkata apa apa hanya menundukkan kepalanya, namun aku masih melihat senyum terkulum dibibirnya.
"Setelah bapak selesai menaburkan bunga, bapak boleh singgah dirumahku yang letaknya disamping pura negara. Tanyakan orang sekitar situ pasti mereka akan tau" Ucapnya tersenyum.
Gadis itu berdiri dan memberikan salam hormat kepadaku tanpa memberikan jawaban atas pertanyaanku. Ia sempat berkata..
"Jangan lupa taburkan bunga untuk dadongku ya pak" Setelah berkata gadis itu berjalan kembali kearah dapur.
Aku masih melihat sinar lampu dari balik lampu dikamar dapur. Namun beberapa saat kemudian lampu itu seperti dimatikan. Keadaan dapur terlihat gelap kembali.
Piring bundar berisikan bunga bunga aku bawa masuk kedalam kamar tidur dan kuletakkan diatas sebuah meja dekat tempat tidur.
...¤¤¤¤¤...