
"Hai Jalak hitam! kamu dan lima lainnya berdiri disekitar sini!" teriak Gusti Karnia dengan galak.
Semenjak Ni Polong dan Ki Lembut Ringring kembali dengan luka parah ia kini mengatur para tentara goibnya untuk berjaga didaerahnya. Tadi malam dalam semedinya ia mendapat gambaran bahwa akan ada penyerangan kedalam wilayahnya. Meskipun tidak bisa terdeteksi siapa yang akan menyerang tapi penerawangannya mengatakan kekuatan dahsyat akan hadir.
Dengan kuda hitam kesayangannya ia melanjutkan melakukan pemeriksaan. Pertama tama yang ia datangi adalah rumah penyerahan tumbal. Dirumah itu ada 2 sosok jin yang menjaga. Sosok sosok itu tidak terlihat hanya sekumpulan lebah yang terbang mengitari sebuah kumpulan asap hitam.
Setelah melakukan pemeriksaan disana ia melanjutkan perjalanan kearah sebuah bangunan besar yang ternyata adalah gudang lumbung padi. Gusti Karnia turun dari sadel kudanya berjalan kearah pintu gudang.
Ia melihat kearah atap gudang dan membacakan sebuah mantra. Dari ujung atap gudang yang bentuknya runcing keatas seekor ular sangat besar turun kebawah. Dikepalanya ada semacam mahkota kecil berwarna merah.
"Akan ada penyusupan nanti malam, siapkan dirimu" ucap Gusti Karnia.
"Saya siap Gusti!"
Kemudian Gusti berjalan kearah sebuah sumur dibelakang gudang. Dari atas sumur ia berteriak.
"Pesu konyang cai!! Ini waktunya sudah datang!!"
Dari dalam sumur tua itu terdengar suara gemuruh seperti suara berjuta juta tikus dibawah sana. Mereka keatas sumur karena mendengar teriakan Gusti yang menyuruh mereka keluar.
Gusti Karnia mundur beberapa langkah..
Tidak lama sosok sosok tubuh berbentuk bundar dengan kaki dan tangan yang panjang mirip laba laba. Dikepalanya ada semacam tanduk.
Mereka berloncatan keluar dari sumur, ratusan jumlahnya. Saking banyaknya rumput disekitar situ berubah menjadi hitam semuanya tertutup oleh banyaknya mahluk mengerikan itu. Semuanya berteriak teriak suaranya memekakkan telinga.
"Dengar! Kalian bersiap didinding sumur! Jangan keluar dulu tunggu kedatangan siulanku..Aku akan membunyikan suara siulan..kalau kalian dengar keluar dan serang musuh!"
Kembali mereka berteriak teriak..Ahirnya satu persatu masuk kembali kedalam sumur. Betbondong bonding mereka menempel didindin sumur dan apabila kita melihat secara cepat penampakannya seperti gundukan tanah saja. Mereka dengan sabar menunggu panggilan dari penguasanya.
Gusti Karnia kemudian berkuda kearah tanah lapang. Ia membunyikan sebuah lonceng yang terbuat dari lempengan logam yang terletak disebuah rumah pos penjagaan.
Lonceng itu dibunyikan, tidak lama bermunculan dari semua arah para prajurit manusia siap dengan tombak, ketis dan pedang. Itulah orajurit berani mati kepunyaan Gusti Karnia yang tersohor dipulau Bali.
"Semua prajurit bersiap! Kita akan mendapat serangan goib dari dunia lain. Rapalkan mantra kalian agar kalian bisa mendeteksi kedatangan mereka! Secepatnya kalian liat bunyikan lonceng ini!!" Demikian titah Gusti Karnia.
"Siap laksanakan!" Serempak mereka teriak.
Gusti Karnia kembali naik keatas kuda menuju pendopo, disana ia mulai melakukan semedi..mengumpulkan seluruh ilmunya untuk disatukan pada dirinya.
...○○○○...
Tepat pukul 12 dua keris pusaka yang berada diatas meja bergerak sendiri. Mereka bergeser dari arah kiri kearah kanan. Waha yang pertama kali melihat pergerakan itu.
"Kanda Rendra..kini sudah waktunya kita akan berangkat" ucap Waha.
"Baik sayang, aku sudah siap" jawabku.
"Pegang kerismu dan kosongkan pikiran..rebahkan dirimu, aku akan membawamu masuk kesana..simoan bunga melati didalam kantong celanamu" kata Waha sambil tersenyum.
Setelah beberapa saat aku terbangun ketika Waha menyentuh wajahku. Kita kini telah hadir dialam goib. Suasana seperti biasa gelap gulita hanya suara jangkrik dan binatang malam yang menemani.
...○○○○...
Tiba tiba dari bawah sumur tua mereka terbangun..penciuman mereka yang sangat peka mendeteksi adanya kehadiran sesuatu.
Mereka gelisah tapi belum bisa keluar sumur karena belum adanya perintah keluar. Beberapa sosok sudah naik kepermukaan sumur menengok kekanan dan kekiri menantikan perintah siulan Gusti Karnia.
Para prajurit berani mati yang sedang santaipun mencium aroma hawa lain memasuki kawasan mereka.
"Prajurit semua berdiri!! Bunyikan lonceng bahaya!"
Teng Teng Treng Teng !!! lonceng dipukul berkali kali.
Gusti Karnia terbangun dari semedinya, ia mengambil sehelai kain berwarna merah, dengan kain itu ia mengikat rambutnya yang panjang.
Ia berdiri kedinding dan menarik sebuah tombak pusaka dan juga satu keris pusaka. Ia mengencangkan tali celana dan lari kehalaman. Dengan sekali loncat ia telah berada diatas kudanya.
"Hiiaaa!!"
...○○○○...
"Waha! kamu dengar lonceng itu?"
"Ya..itu pertanda mereka sudah tau kehadiran kita! Awas! buka matamu kanda..banyak lelembut dan jin jahat" Ucap Waha sambil menghunus keris Anom Melati.
"Kita akan langsung menuju pendopo" ucap Waha.
Akupun mengeluarkan keris Jantring Mas dan berjalan disamping Waha.
Setelah lima menit berjalan aku melihat sebuah rumah yang aku ingat disanalah seseorang dibantai dan dimakan oleh 2 anjing leak.
Tepat didepan rumah yang kosong dan gelap itu aku melihat 2 kepulan asap hitam. Terdengar seperti dengungan lalat atau lebah mengelilingi asap hitam dan ditengah asap terlihat ada 2 sinar merah memperhatikan kehadiran kita.
Waha menahan tanganku.
"Kanda kita disambut 2 Kuluk hitam..Jangan biarkan dia menyentuh tubuhmu..jangan ditusuk tapi dilibas..ingat jangan ditusuk!" ucap Waha sambil memasang kuda kuda.
2 asap hitam itu seperti mengambang mendekati posisi kita. Suara lalat terdengar bertambah keras.
Ketika sudah jarak 3 meter asap hitam itu menghilang dan disana berdiri 2 sosok anjing bermata merah, dan ternyata kenapa banyaknya lalat mengrubungi asap itu karena sosok anjing ini rusak kulitnya..luka yang menganga telah menjadi nanah busuk..baunya tubuh mereka menjadi sangat tidak enak.
Salah satunya mendekat dan ingin mencabik tubuhku, aku mengelak kekiri dan mengambil posisi kuda kuda. Kulihat juga sama dengan Waha, mahluk itu loncat hendak menerkam Waha.
Dua kali sosok menjijikkan itu menyerang sampai ahirnya aku melihat celah dan melibaskan kerisku kearah tengah tepat mengenai perutnya yang agak buncit. Raungan keras keluar dari mulut hewan itu..ia tumbang dan dari perutnya keluar cairan mirip dengan muntahan..Aku menutup hidungku karena baunya yang tidak terhingga.
Pada saat yang sama aku melihat Waha melakukan sebuah loncatan salto dan merobek punggung hewan itu, kembali suara lengkingan keras keluar dan sekaligus dari punggungnya keluar cairan yang sama seperti muntah seseorang.
"Aaah baunya! Ayok kanda kita keluar dari sini!" Waha menarik tanganku, kita berlari kencang.
"Awas! itu ada gudang disana aku melihat ada seekor ular besar sekali disana! Waspada kanda!"
Benar saja dari atas bumbungan atap gudang tua itu menggeliat seekor ular besar, lidahnya yang panjang menari nari.
Ular itu dengan cepat turun ketanah dan menghalangi perjalanan kita. Saking panjang dan besarnya ia menutupi lebar jalan itu.
"Kanda kita satukan keris! peluk diriku! Ikuti kemana aku bergerak jangan lepaskan aku!"
Ular yang seperti naga itu mengangkat kepalanya, ia seperti berdiri. Setengah badannya berdiri ditengah jalan, tinggi sekali!
Tiba tiba kepalanya turun dengan deras hendak memakan kita. Waha loncat keatas membawa diriku yang memeluk erat tubuh Waha.
Kita mendarat disebelah tubuh ular itu..Dengan sekali ayun kita menghujamkan kedua keris ketubuhnya. Craass!!
...¤¤¤¤¤...