
"Waha..waktu aku menuruni tangga ketempatmu..didinding gua itu aku mendengar banyak suara berbisik seperti suara orang menbacakan mantra tapi seperti suara hesis ular..apa itu?"
"Hmm..itu kunci mantra untuk siapapun orang asing yang turun kesana tanpa ijin mereka akan tau dan mengirimkan prajuritnya..tapi aneh memang, ketika kamu turun meskipun bisa mendengar mantra tapi mereka tidak datang..mungkin auramu bisa meredam mantra itu"
"Satu lagi pertanyaan..Aku melihat ada 2 sosok seperti leak yang turun dari rumah beratap ijuk hitam..sosok sosok itu turun dan memakan seorang laki laki, siapakah mereka dan kenapa orang yang dimakan itu tidak merasa kesakitan?"
"2 sosok itu sebetulnya bukan leak..sebab sosok leak diBali sebetulnya bukan sosok jahat..itu adalah anjing anjing piaraan Ni Polong dukun jahat yang kemarin datang kesini. Anjing anjing itu adalah wujud dari setan dan orang yang dimangsa sebetulnya, rohnya sudah tidak ditubuhnya..ia sudah mati terlebih dahulu.. makanya tidak ada reaksi apa apa"
Baru saja Waha selesai memberikan jawaban tiba tiba, ia menoleh kearah belakang halaman. Kedua matanya jelalatan.
"Ada apa Waha?"
"Ada yang datang, mana kerismu?"
"Ada..ini disini" kataku sambil memperlihatkan kearah Waha. Ia langsung mengambil keris dan mengeluarkan dari warangkanya.
Waha berdiri dan berjalan kearah dapur. Wajahnya melihat kekanan dan kekiri seakan mencari sesuatu.
"Rendra..jangan kemana mana, tetap ditempatmu ya..ada yang ingin masuk, ini utusan Gusti Kurnia orang jahat dialamku"
"Baik..hati hati Waha"
Waha berjalan terus kearah pintu dapur, ia mengangkat keris Jantring Mas dan diletakkan diatas permukaan bibirnya sambil komat kamit membacakan sebuah mantra.
Aku melihat ada 2 bola api turun dengan kencang dan menabrak pohon mangga yang tinggi dihalaman belakang.
Ke 2 bola api itu padam dan tidak lama kemudian muncul 2 bentuk sosok priya mengenakan pakaian hitam hitam dan wajahnya tertutup rapat oleh sebuah kain seperti masker.
Mereka mengambil posisi berdiri ditengah halaman. Jarak satu dan lainnya terpisah sekitar 3 meter.
Waha keluar dari dapur sambil menenteng Jantring Mas, keris itu mengeluarkan kobaran api diujungnya.
"Bagus! kalian sudah disini..dari dulu aku ingin membelah dada kalian! Kalian ingat ketika kalian mencambuk aku dengan rotan panas? Hehe..kini saatnya kalian hancur dan masuk neraka!" Waha berlari dan loncat tinggi, ia melibaskan kerisnya kekiri dan kekanan.
"Sudah hentikan! kau harus kita bawa pulang! Ini bukan alammu..menyerahlah!" ucap seorang dari 2 sosok itu.
Namun Waha ternyata mempunyai ilmu tempur yang sangat lihai berkali kali hampir saja ia bisa menusuk tubuh mereka tapi selalu gagal.
Waha duduk bersila ia meletakkan keris Jantring ditanah. Kedua tangannya ia katubkan didada sejurus kemudian terlihat dari diri Waha muncul 2 duplikat Waha. Ke duanya menyerang pendatang itu dengan segala jurus mautnya.
Tidak lama Waha yang sedang duduk bersila menancapkan ujung keris ketanah dan melibaskan keudara didepannya.
2 buah cahaya memotong kearah tubuh 2 pendatang asing itu. Kilatan itu membelah tubuh mereka. Keduanya tumbang dengan lengkingan yang keras. Asap hitam mengitari tubuh tubuh yang terpotong tidak lama asap hitam tebal itu menghilang seakan membawa pergi potongan tubuh itu.
Waha berdiri dari posisinya, Ia mengitari halaman belakang dan sekali kali menancapkan ujung keris ketanah.
"Rendra..itu tadi adalah utusan Gusti Karnia dan akan ada lagi utusan utusan lainnya.." ucap Waha ketika kembali masuk kedalam rumah.
Ia melepaskan sehelai kain dari pinggangnya.
"Rendra ikat kain ini dipinggangmu, jangan dilepaskan. Kain ini akan mampu menjagamu dari serangan mereka.
...○○○○...
Sementara itu..
Ni Polong sangat marah ketika mengetahui 2 jin anak asuhnya tidak kembali pada waktunya. Sambil mengasah tongkatnya yang lancip ia marah marah sendiri.
"Lain kali aku kesana, akan kupanggang anak muda itu! Berani sekali dia masuk kealamku dan mencuri tawanan! dan sekarang 2 anakku ga pulang awas kau!!"
Setelah mengasah tajam tongkatnya, ia menutup wajahnya dengan kain hitam lusuh dan terbang keluar lewat daun pintu.
"Masuk Ni Polong sudah saya tunggu dari tadi"
Sosok Ni Polong terbang masuk dan mewujudkan dirinya dihadapan Gusti Karnia. Ke 3 wakilnya yang mempunyai keahlian dalam hal supranaturalpun bisa melihat wujud seram Ni Polong. Mereka beringsut kesamping memberikan ruang bagi wanita jelek itu maju kedepan Gusti.
"Saya hadir Gusti Karnia"
"Ni..bagaimana ceritanya sampai tawanan kita lepas?" Ucap Gusti Karnia sambil mengelus elus jenggotnya yang memutih.
"Saya sudah masuk kealam masa depan..disana ada seseorang laki laki muda..rupanya dia memegang keris Jantring Mas!"
Gusti Karnia tercengang mendengar penuturan Ni Polong.
"Jantring Mas?! Tapi keris itu sudah lenyap dari muka bumi..bagaimana seseorang bisa mendapatkannya?"
"Itulah..saya sendiri tidak tau, semuanya sudah saya trawang tapi saya tidak mampu menembus ceritanya..masalahnya, dialah yang mencuri tawanan Gusti Karnia dari gua Peranti Ranti!"
"Kurang ajar!! Bagaimana ini bisa terjadi??"
"Saya sudah berusaha untuk mengambilnya tapi belum berhasil, kemarin saya kirim 2 anak buah tapi sampai kini belum kembali..saya mengawatirkan keadaan mereka"
"Kalau begitu apakah tawanan bersama anak laki laki itu?"
"Betul sekali..tawanan Gusti bersama dia sekarang"
"Kirim semua jinmu! Serang mereka! Hancurkan! Dan bawa kesini tawanan itu..sudah saatnya dia saya hancurkan!"
"Nggeh Gusti saya laksanakan..hari ini juga 20 jin dan siluman akan saya berangkatkan"
"Tunggu..bagaimana apabila dia bisa masuk kealam kita? Apakah ada bahayanya?"
"Justru itu Gusti! Saya mau bawa keduanya kealam kita..Saya sendiri yang akan menyiksa anak muda itu!" ucap Ni Polong dengan geram.
"Kurang ajar! laksakan hari ini Ni Polong!"
Wanita jin jahat itu menunduk dan memberi salam, ia memutar tubuhnya dan melesat terbang lewat jendela yang terbuka.
3 wakil Gusti Karnia merinding ketika mencium bau bangkai yang ditinggalkan jin tadi. Mereka selalu risih apabila berdekatan dengan sosok itu.
...○○○○...
Sepulangnya Ni Polong dari istana Gusti Karnia ia langsung mengambil trompet kecil yang dulunya adalah sebuah rumah keong besar.
Ia melihat sekeliling tempat tinggalnya dan meniupkan trompet itu 3 kali.
Tidak lama berpuluh puluh bayangan hitam terbang dilangit. Mereka adalah pasukan jin miliknya yang ia datangkan dari pantai laut selatan.
Satu persatu mereka turun, setiap kali mereka turun dan kaki mereka menginjak bumi dentuman kecil terdengar dari telapak kaki mereka yang besar besar itu. Sayap sayap lebar dipunggung yang telah terbentang dilipat kedalam.
Satu sosok berwarna merah darah nampaknya kepala dari pasukan jin itu datang dan memberi sembah kepada Ni Polong.
"Sembah sujud dari kami pasukan Wiro Jeng Merah dari laut selatan siap membantu apapun juga permintaan Ni Polong"
"Bagus! berapa yang hadir disini?" tanya Ni Polong.
"Total disini ada 20, 20 siluman lainnya akan segera menyusul"
"Bagus bagus! kita tunggu kedatangan para siluman yah!!"
...¤¤¤¤¤...