
Jam 5 pagi Waha tergugah dari semedinya..nafasnya naik turun dengan cepat. Wajahnya nampak gusar.
"Rendra" ucapnya perlahan.
Tanganku dipegang dan ia mengangkat kewajahnya. Dengan penuh kasih sayang ia mencium telapak tanganku.
"Maafkan aku telah merepotkan dirimu..Namun, aku hanya minta satu saja..Jangan sampai aku tertawan atau terbunuh oleh mereka. Apabila aku ditawan maka tidak akan ada lagi yang bisa melepaskan diriku dari belenggu mereka sampai nanti ahir jaman kalau aku terbunuhpun aku tidak bisa pulang kealam baka, mereka para jin itu akan menawan rohku dialam paling dasar dimana disana yang menghuni adalah para jin jahat dan setan iblis"
"Gunakan semua kekuatanmu memakai keris Jantring Mas untuk menghancurkan mereka..hanya engkau yang bisa menghancurkan dan merubah riwayat sejarah ini.." lanjutnya dengan suara sedih.
Aku meremas tangannya dan mendekat kewajahnya. Pipinya kucium mesra..
"Dinda Waha..apapun yang terjadi aku akan bertarung sampai darah penghabisan..Akulah yang akan melepaskan dirimu dari semua permasalahan ini"
"Aku...maafkan aku..ah sudahlah"
"Apa Waha? bicaralah..agar aku bisa mendengarkan keinginanmu"
Waha tertunduk malu..ia menutup mulutnya dengan kain selendang yang ia pakai.
"Aku telah kadung mencintaimu..maafkan aku"
Pelan pelan aku melepaskan kain penutup mulut, kubelai pipi dan rambutnya..kudekatkan wajahku.
Secara lembut dan penuh kasih sayang aku mencium bibirnya.
"Aku juga mencintaimu Waha..Besok apabila pertempuran telah berlangsung jangan jauh dari aku ya..Aku tidak mau sampai mereka melukaimu..terlalu mahal harganya untuk aku menyerah sedikitpun..kita harus keluar sebagai penghancur para jahanam itu"
Setelah dipikir pikir mana mungkin mereka bisa menampakkan diri pada siang hari..pasti mereka akan datang menjelang malam.
...○○○○...
"Gusti..karena kita tidak bisa menembus kewaktu mereka pada siang hari..aku akan mengutus beberapa siluman dulu..biarkan mereka bermain main disana, nanti setelah malam tiba baru kita muncul" ucap Ni Polong.
"Hehe..bagus aku setuju! buat manusia itu ketar ketir dulu..Haha silahkan Ni, saya setuju!"
Ni Polong memanggil 2 siluman langsung diarahkan ketempat tinggalku.
Beberapa saat kemudian memang keanehan terjadi disekitar rumahku.
Saat itu hari masih siang, aku baru saja menyapu pekarangan belakang. Mendadak pintu gudang tempat kita menemukan keris ayah terbuka dan tertutup sendiri. Padahal tidak ada angin sama sekali.
Tong sampah yang berisikan daun daun kering secara tiba tiba terguling dan daunnya berserakan kembali.
Aku melirik kearah dalam rumah, dari belakang pekarangan aku melihat Waha sedang duduk semedi. Aah biarlah dia disana, aku tidak mau mengganggunya.
Air kolam ikanpun yang berada diujung pekarangan bergejolak dengan sendirinya. Kulihat air mancur itu berhenti mengeluarkan air dan beberapa saat kemudian nyala lagi.
Apa bisa hantu hadir pada siang hari bolong?
"Heh! Hantu sialan pergi kau dari sini!" teriakku entah kepada siapa.
2 panci tua yang sudah tidak dipakai lagi didalam gudang terdengar jatuh dan bunyinya cukup keras. Itu bukan suara jatuh tapi dibanting!
Baru saja aku hendak kegudang, Waha sudah berada didepan pintu dapur.
"Kanda..aku yang akan usir, itu hanya permainan para siluman saja"
Waha berjalan dan menyebarkan garam kedalam gudang sambil komat kamit membaca sebuah mantra.
Tiba tiba seluruh benda didalam gudang seperti berterbangan..seakan ada seseorang yang sedang ngamuk.
"Hehe..mereka kepanasan dan terperangkap didalam gudang..2 siluman merah, aku tau mereka..datangnya dari daerah Jawa Timur"
"Oo..siang siang sudah mulai mencoba ganggu" kataku mendekat.
"Haaaa!! pergi pulang kalian!! Atau aku bakar kalian!!"
Terdengar jeritan seperti suara burung yang dipotong lehernya..beberapa detik kemudian suara itu lenyap.
"Mereka telah terbang pulang keasal mereka..sudah kuduga, mereka hanya ingin mencoba saja dan ilmu mereka masih taraf rendahan."
...○○○○...
Dan ketika sosok sosok itu kembali menghadap, mereka berkata.."Ni..awas ilmu mereka tinggi, badan kita seperempat hangus terbakar hanya karena ia melemparkan segenggam garam"
"Hmm..tidak apa apa, rencana kita tidak akan mereka ketahui..mereka akan kaget melihat apa yang akan kita lakukan..kalian kesini sekarang, aku beri obat"
Dengan sekali oles tubuh mereka perlahan lahan kembali normal, bercak bercak luka bakar langsung membaik.
"Ini..pakai kain kainku, jangan kalian lepaskan satu malam. Besok semuanya akan pulih kembali..Hmm, tunggu penyerangan kami hai para bangsat! Akan kuhancur leburkan kalian!" Ni Polong begitu marah dan langsung menendang sebuah guci kepunyaan Gusti Karnia. Guci itu pecah berkeping keping.
...○○○○...
Aku dan Waha menunggu dengan cemas kedatangan mereka sore itu bahkan sampai jam 9 malam keadaan masih tenang saja.
"Awas kanda Rendra..pasang kuping dan hatimu..tajamkan perasaanmu, aku sangat pasti mereka akan datang malam ini" ucap Waha dengan tenang.
Keadaan diluar rumah tampak langgeng, maklum malam jumat..biasanya warga setempat paling suka mengaji dimalam jumat.
Jam 10 malam mendadak aku merasa lapar, kulkas kubuka mencari sisa sisa makanan yang bisa kupanaskan..tapi hanya sayur sop bekas kemarin, Aah..aku kurang berminat dengan sup.
Tiba tiba lewatlah tukang jual Sate..Waah yang ini yang kutunggu..sambil menunggu,aku lebih baik mengisi perutku yang kosong.
Waha kulihat duduk semedi, kulihat kedua matanya tertutup..tanpa menunggu lagi aku langsung keluar memanggil tukang Sate.
"Bang! sini bang!" kataku memanggil, wah kebetulan sate Madura kesukaanku.
"Bang buat 10 tusuk aja ya sama lontong"
Tanpa banyak bicara si abang tukang Sate langsung membakar sate. Tidak lama kemudian kepulan asap sate membumbung tinggi dan bau harum daging ayam dibakar membuatku sangat kelaparan.
Namun lama lama justru kepulan dan kepulan asap itu terasa memenuhi tempat tukang sate. Dan aku seperti tersihir memandang dengan takjub daging ayam yang sedang dibakar.
Abang tukang Sate nampaknya gembira dan semangat membakar sate sate itu, aneh..kipas yang ia goyangkan diatas daging ayam itu seperti sebuah mesin kipas yang begitu cepat pergerakannya.
Aku sempat melihat wajah dari abang sate berubah..ia nampaknya melemparkan senyum kepadaku..Namun senyuman itu terlihat aneh dan janggal. Ia memandang kearah sate lalu memandang kewajahku sambil tersenyum..kejadian itu ia ulang ulang beberapa kali. Aku tidak membalas senyumannya karena terlihat agak janggal.
Secara mendadak kepulan angin datang datang dari depan dan mendorong asap sate yang tebal itu kearah wajahku..kepalaku mendadak menjadi pening, aku kehilangan keseimbangan tubuh. Kaki kaki ini terasa menjadi lemas tidak ada kekuatan untuk berdiri.
Baru saja aku akan pingsan tiba tiba tubuhku seperti tersedot dan ditarik keatas..mataku menjadi buram tidak jelas apa yang terjadi.
Ketika tubuhku tersedot keatas, masih bisa terdengar si abang sate sedikit berteriak..
"Hei!! Mau kemana kamu?!"
Terlambat tubuhku ditarik sesuatu keatas menjauh dari abang sate.
...¤¤¤¤¤...