
Waha meletakkan kepalanya dibahuku, dan aku memeluk tubuhnya dari samping. Kita tidak berbicara apa apa ketika berjalan menuju arah dekat sungai Ayung. Pikiran kita melayang memikirkan perpisahan yang akan kita lakukan sebentar lagi. Sekali kali aku mencium rambut dikepalanya, Waha dengan manja memandang kewajahku.
"Waha aku tidak mau berpisah denganmu sayang"
"Akupun demikian Rendra..tapi kita memang harus berpisah..aku tidak berdaya menolak semua ini" Ucapnya dengan nada sedih.
Setelah berjalan cukup lama ahirnya sampailah kita ditempat dimana dulu Waha dipenjara. 2 buah patung berdiri disana sebagai tanda dimana lokasi penjara itu.
Dipinggiran sungai Ayung duduk bersila dibawah sebuah pohon beringin tua eyang Semar. Kasian..rupanya ia sudah menunggu kedatangan kita.
Kamipun duduk bersila menghadap kepadanya. Aku melirik kewajah Waha. Meskipun wajahnya menatap eyang Semar tapi aku bisa melihat kedua matanya yang berkaca kaca, bibirnya terlihat gemetar.
"Eyang..aku sudah siap untuk berangkat" ucap Waha dengan suara pelan.
Jantungku terasa berhenti mendengar ucapan Waha.
"Njjih putuku..Birendra, saya akan menyentuh dahimu..setelah itu kamu bisa menyentuh dahi Waha Puspa. Setelah kau sentuh Waha akan pergi dari dunia ini, tubuhnya akan menghilang untuk selamanya. Dan sayapun selanjutnya kembali pulang."
"Baik eyang" ucapku.
Waha meletakkan tangan kiri kedekat pusarnya dan tangan kanan kedada. Ia menoleh kearahku dan tersenyum manis, senyuman terahir yang ia berikan kepadaku...Eyang Semar mengangkat tangan kanannya yang gemuk dengan lembut ia menyentuh dahiku. Seperti ada tiupan udara dingin menyentuh masuk.
Eyang Semar menundukkan kepalanya memberikan isarat.
Aku memalingkan wajahku menatap wajah Waha. Gadis itu telah menutup kedua matanya, bibirnya terlihat komat kamit seperti membaca sesuatu. Pelan pelan aku mengangkat tanganku dan menyentuh dahi kepala Waha.
Kepala gadis itu tertunduk secara otomatis setelah kusentuh dahinya. Dari mulai kedua kakinya terlihat asap putih mengepul me utupi bagian bawah tubuhnya. Lambat laun menutupi seluruh tubuhnya hingga aku tidak bisa melihat sosok Waha.
Aku memandang terus gumpalan tebal asap disampingku dan ketika semua asap telah hilang begitu juga dengan sosok Waha ia telah lenyap. Yang ada hanya sebuah keris kecil, keris Anom Melati.
Eyang Semar memandang kearahku..
"Birendra, tugas eyang sudah selesai..sudah waktunya eyang kembali kedalam keris. Apabila saya sudah masuk kamu bisa kembali kealammu"
"Njjih eyang..terima kasih atas semua ini" Aku memberikan salam hormat kepadanya.
Sama seperti Waha, kejadian yang sama terukang asap putih mengepul dan sosok tua itu menghilang.
Aku mengambil 2 keris pusaka dan kuselipkan dipinggang kiri dan kananku. Kuperhatikan tempat bekas Waha duduk, rumput itu masih terasa hangat. Dari dalam saku celana aku mengambil bunga melati dan dengan sekali cium diriku telah lenyap dari alam itu.
...○○○○○...
Tidak lama kemudian aku telah kembali kedunia nyata, ternyata posisiku saat kembali berada dibawah pohon mangga dibelakang rumah. Hari masih pagi, burung burung baru saja bangun mereka ramai terdengar saling sapa dipagi yang sejuk itu. Bahkan mungkin mereka bingung melihat sosok manusia yang tiba tiba muncul duduk bersila.
Ada satu perasaan kosong ketika aku masuk kedunia nyata. Biasanya disampingku ada Waha namun kini ia telah tiada. Selain sedih yang tidak terhingga aku mempunyai perasaan yang hampa.
Lemas dan letih aku berjalan masuk kedalam rumah. Ketika baru saja masuk area dapur aku mendengar pintu luar diketuk perlahan. Ternyata pak Dirman yang baru masuk.
"Loh..sudah bangun?" tanya pak Dirman.
"Oh ya saya bangun sangat pagi sebelum adzan subuh saya sudah bangun..bagaimana keadaan yang sakit?"
"Ya Alhamdulillah dia sembuh..maaf saya agak lama dirumah"
"Tidak apa apa pak..yang penting semua aman..pak Saya mau mandi dulu ya"
"Monggo..mau dibiatkan air panas?"
"Terima aksih ndak usah pak"
Ketika aku masuk kekamar, selendang yang diberikan Waha aku kepaskan dan kubaringkan diatas tempat tidur disamping 2 keris pusakaku.
...○○○○...
Dan setelah semua urusan diAustralia selesai aku mulai tinggal diJogja. Namun urusan pembukaan resto dan Cafe terpaksa kutunda dahulu. Pengalamanku masuk kealam goib benar benar menguras seluruh tenaga dan pikiran. Waktuku masih panjang, semua harus aku tata sebaik mungkin. Setelah permasalahan Waha selesai aku harus memulai seluruh perencanaan dari awal lagi.
Namun,..disatu sore ketika aku sedang santai dihalaman belakang sambil memyantap pisang goreng yang dibuat pak Dirman pandanganku tertuju kepada sebuah benda yang melayang layang dengan ringan seperti kapas turun dari atas pucuk pohon mangga.
Kuperhatikan dari jauh benda itu seperti sehelai kertas berwarna keemasan. Benda itu jatuh tepat dibawah pohon. Sore itu jam menunjukkan pukul 5. Dan matahari sudah bersiap siap hendak meninggalkan bumi pertiwi, meskipun masih ada sisa sisa sinarnya yang menerangi halaman belakang rumahku.
Aku berdiri dan berjalan mendekati benda yang tergeletak diatas rumput.
Sebuah kertas berwarna emas yang indah dan disana terlihat tulisan dengan tinta hitam. Gaya tulisannya seperti tulisan aksara Jawa kuno tapi mungkin juga aksara Bali. Kubungkukkan tubuh dan memandang dari atas.
Namun ketika kertas emas itu aku angkat terasa hawa panas menyengat kulit jariku. Kebetulan pak Dirman keluar dari pintu dapur.
"Pak! sini pak!" kataku memanggil pak Dirman.
"Njjih..kenapa Mas?"
"Coba liat kertas emas dirumput itu"
Pak Dirman melihat dan memperhatikan dengan teliti.
"Jangan dipegang pak!" kataku melihat ia hendak menjamahnya.
"Oh kenapa ya?"
"Tadi aku coba angkat, sangat panas seperti kaya setrikaan panasnya"
Pak Dirman kemudian hanya melihat dari jauh..
"Ini seperti aksara Jawa kuno atau bisa juga Bali..kalau kertas ini bisa diangkat akan saya bawa ke Mas Dargo kakak saya, dia ahli bahasa Jawa kuno..dari mana datangnya?"
"Saya sedang santai ngopi dari jauh kelihatan kertas ini turun pelan pelan terapung apung kena angin"
"Ko cakep sekali ya kertasnya..gini coba saya panggil Mas Dargo kesini kebetulan dia lagi main kerumah saya"
Aku biarkan pak Dirman mengambil ponselnya sambil aku memperhatikan kertas yang indah itu.
Dengan sebuah daun kering aku mencoba membuka seluruh kertas. Ternyata dibagian bawah ada sebuah cap.
"Sudah Mas..sebentar lagi Mas Dargo mau kesini katanya, kebetulan dia juga orang yang ngerti bahasa Sanskreta"
"Pak..itu liat ada cap berwarna merah dan hitam dibagian bawah" ucapku.
"Oh oya ya..tapi kertas ini seperti baru..maksudku seakan akan baru dibuat"
Tiba tiba aku mencium bau diudara yang ditiupkan angin...
"Kenapa Mas?"
"Mboten..seperti ada hawane Waha"
"Sinten to Mas?"
"Ndak..ndak apa apa pak" jawabku, sambil menengok kearah belakang. Apakah ia muncul kembali??
...¤¤¤¤¤...