Hawa Waha

Hawa Waha
Waha dan Srindi telah hadir.



Pikiranku melayang layang malam itu..susah sekali untuk memejamkan mata dan tidur..Siapakah gadis itu? Kenapa tiba tiba ia keluar dari arah dapur dan mengetahui rencana kegiatan esok hari? Dan yang lebih membingungkan menurut perkataannya dia adalah cucu dari Waha? Sepertinya tidak mungkin karena Waha hidup dimasa masa jaman dulu kala.


Aahh..Waha, aku merindukan dirimu, dimanakah kau kini? Siapakah gadis yang bernama Srindi tadi? Dalam waktu singkat ternyata aku terhanyut dalam tidur dan didalam tidurku Waha mewujud ia berdiri dan disampingnya berdiri juga sosok gadis yang bernama Srindi.


"Waha..itukah dirimu?" tanyaku.


"Kanda Birendra, terima kasih sudah datang ditanah Bali..Srindi mengatakan ia telah menemuimu" ucap Waha sambil tersenyum.


"Waha..aku kangen sekali.." Kataku sambil mendekat.


"Aku juga demikian kanda, namun..esok hari setelah menebarkan bunga mungkin perasaanmu akan lebih baik dari sekarang"


"Asal Kau ketahui..aku sering memimpikan kehadiranmu sayang, tapi waktu aku bangun' kau tidak ada disampingku! Aku tidak Tahan sayang"


Kugenggam tangannya, bau wangi memenuhi ruangan tempat kita berada. Kutarik tubuhnya dan kupeluk kencang, Wahapun membalas pelukanku. Aku ciumi lehernya, bau harum tubuh Waha melekat dihidungku.


Perasaan kangen aku tumpahkan padanya, aku sudah tidak menghiraukan Srindi yang nampak malu melihat kelakuan kita.



Sayang sekali pertemuan Kita tidak lama..Waha hanya mengatakan bahwa setelah masa pembersihan selesai maka ia akan mudah untuk dikunjungi..Aku tidak mengerti apa arti masa pembersihan itu, waktu kita kala itu memang terasa singkat sekali.


...°°°°°...


Jam 5 pagi aku tergugah dari tidurku, entah bagaimana ceritanya tapi disamping bantalku aku masih bisa mencium bau harum tubuh Waha. Seakan akan ia masih ada disampingku.


Pagi itu aku menelusuri daerah yang disebut sebagai Pura negara luweh. Setelah menanyakan kebeberapa warga disekitar situ entah bagaimana sepertinya ada sebuah kekuatan yang


Mengajakku berjalan kearah sebuah pohon beringin tua.


2 Baki penuh berisikan bunga aku taburkan disekitar samping pohon beringin, kemudian aku duduk bersila sambil memanjatkan doa kepada sang kuasa alam semesta agar Waha Puspa diberikan kemudahan dan ketenangan di Alam sana.


Seorang lelaki tua yang dari tadi memperhatikan diriku Mulai mendekati dan ikut duduk bersila disampingku, ia melepaskan senyumnya dan mengangkat kedua tangannya berdoa.


"Maaf bapak siapa?" Tanya laki tua itu setelah kami selesai berdoa.


"Saya Birendra pak, dari Jogja"


"Oh..Saya memperhatikan dari tadi..Saya yang mengurus tempat ini" ucapnya sambil tersenyum.


"Bapak tau kenapa Saya tabur bunga disini?"


"Sebetulnya bapak again kaget melihat ada yang menaburkan bunga disini..Dulu ayah bapak pernah bercerita bahwa disinilah letak kuburan Dewi Suwaha Puspita atau Dewi Waha Puspa nama pendeknya. Tapi tidak ada orang yang tau"


Aku terhenyak mendengar tuturan orang tua itu, lebih kaget lagi waktu ua menuturkan sesuatu yang aneh..


"Diujung Jalan sana..ada satu kuburan tua yang juga tidak pernah didatangi orang..menurut ayah Saya bahwa kuburan tua itu milik cucu dari Dewi Suwaha Puspita, ia dikuburkan disana dan tidak dilayon layaknya orang Bali karena beliau keturunan Jawa"


"Pak..ayok bawa Saya melihat kuburan itu" kataku dengan semangat.


Orang tua itu langsung berdiri bergerak kearah ujung Jalan setapak. Aku penasaran dan bergegas mengikutinya.


Memang betul Kata bapak tua itu, disana ada sebuah kuburan sangat tua yang nampaknya tidak terurus. Banyak rumput tubuh menutupi gundukan kecil.


"Ayok Pak kita berisikan kuburan ini"


Setelah setengah jam ahirnya kuburan itu berhasil kita bersihkan. Diujung kuburan Ada satu Batu kecil dan ditengahnya tertulis sesuatu.


"Sebentar..coba bapak liat, tertulis Srikandi Puspa ya, inilah cucu dari Dewi Suwaha Puspita"


Dheg...jantungku serasa berhenti berdetak..inilah makam Srindi Puspa gadis yang datang menemui diriku dan juga hadir dalam mimpi. Hanya bedanya disini tertulis Srikandi Puspa mungkin disingkat menjadi Srindi Puspa?


Disana aku memanjatkan doa setelah pembersihan selesai dilakukan.


Hari itu aku kembali keoenginapan dengan perasaan again aneh..karena sosok yang datang malam itu ternyata entah korinnya atau memang arwah Srindi Puspa. Yang jelas sesuatu telah hadir.


...°°°°°...


Hari ini adalah Hari ke 3 semenjak aku berada didaerah desa Teganan, Karangasem. Rencanaku pulang ke Jogja aku batalkan karena semenjak kehadiran Srindi aku menjadi tertarik ingin mengetahui lebih jauh lagi hubungannya dengan Waha.


Malam ke 3 ini dalam tidurku Waha kembali hadir dan ia mengajak aku duduk diarea belakang villa.


Waha kini penampilannya sudah berubah, ia tidak mengenakan pakaian seperti dulu. Kini ia mengenakan kain berwarna putih bersih yang terbalutkan keseluruh tubuhnya bahkan bagian atasnya juga sudah tertutup rapih.


"Kanda..kamu bertanya Tanya tentang siapakah Srindi. Ia adalah cucu dari dari kaka ayahku. Ia meninggal ketika berumur 19 tahun karena sakit. Tapi dari semua cucu pamanku dialah satu satunya yang mencintai diriku dengan tulus ikhlas. Ia ada bersama sama dialamku sekarang"


"Oh sekarang aku sudah jelas siapa dia sebenarnya"


"Kanda..pulanglah keJogja dan kanda bisa Mulai membuka usaha yang kamu inginkan..aku sudah tenang telah bertemu denganmu"


"Bagaimana kalau aku buka usaha disini saja agar gampang urusannya apabila hendak menemuimu?"


"Tidak perlu kanda lakukan itu, kanda bisa buka usaha disana dan apabila diinginkan aku bisa hadir..keris Jantring kanda bisa memanggilku untuk hadir kapan saja. Saat ini aku sudah dibebaskan dan pembersihan telah selesai"


"Wah..sukurlah, kalau begitu besok pagi aku sudah bisa kembali ke Jogja. Kirimkan Salam kepada Srindi seminar doaku kemarin tersampaikan"


"It's dia sudah senang kuburan ya dibersihkan..dia kini juga Ada bersama kita. Itu dia duduk dibawah pohon" ujar Waha sambil menunjuk kearah sebuah pohon kamboja didekat dapur.


Aku baru sadar, ketika aku melihat Srindi muncul dari ruangan dapur sebenarnya ia muncul dari balik pohon itu bukan dari pintu dapur.


"Hai Srindi..apa kabar?" sapaku.


Srindi bangkit mendekati dan memberi Salam hormat. Srindipun sudah berubah ia juga mengenakan kain berwarna putih yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Srindi memang pemalu tapi dia sosok yang Baik dan tulus" ucap Waha.


"Mohon maaf, tapi saya ucapkan terima kasih sudah membersihkan makam saya" ucap Srindi.


Aku mendekat dan memeluk Waha dengan penuh kasih sayang.


"Waha..aku besok akan kembali keJogja, setibanya aku disana aku akan memanggilku kembali..mungkin aku akan mengundang Srindi juga untuk datang ke Jogja"


"Selamat Jalan kanda..kapan saja kita bisa bertemu. Pertemuan ini tidak berahir disini, selamanya aku akan mendampingimu Namun semua aku serahkan kepada kanda saja"


"Waha..aku sudah bersumpah akan bersamamu selamanya, aku tidak bisa hifup tanoa diriku sayang. Bukan saja kau hanya ada dikenanganku tapi kau sudah masuk kedalam hatiku sayang"


Malam itu aku melepaskan Waha dan Srindi, mereka menghilang dibalik pohon kamboja.


Aku telah menemukan pasanganku, semoga sampai ahir hayatku kita akan selalu bersama sama.


... TAMAT....


...********...