Hawa Waha

Hawa Waha
Aku berwujud seorang raja.



Ketika aku sadar, posisiku berada dipelukan Waha. Ketika itu kita telah berada diatas pohon mangga dihalaman belakang! Ya ampun..ternyata pada saat yang genting itu Waha tergugah dari semedi ketika mencium aroma sate dibakar.


Ia keluar dari halaman depan loncat keatas dan mengangkat diriku langsung terbang menggendong diriku dan bertengger diatas sebuah dahan yang cukup besar.


Bisa dibayangkan kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya, padahal badanku 2 kali lipat berat badannya tapi dengan mudah ia menggendongku keatas dahan pohon.


"Kanda..bangunlah, kanda sadar..yuk..aduuh bagaimana ini?" Kudengar suaranya didekat telingaku.


"Waha..ya ampun! dimana aku ini?"


"Sukurlah..Kanda telah sadar kembali..tadi kamu disihir oleh siluman sial itu"


Namun baru saja aku sadar dan mencoba mengumpulkan semua tenaga tiba tiba datang sebuah serangan beruntun dari arah bawah.


Beberapa asap hitam menari nari dengan irama yang abstrak..mereka saling bergerak kekiri dan kanan.


"Kanda..dimana kerismu?!" teriak Waha.


Aku meraba pinggang, Oh no! keris ada didalam rumah.


"Peluk aku dengan kencang, jangan dilepas!"


Tubuh Waha aku peluk dengan erat, mendadak sebuah cahaya melesat menghantam dahan dimana kita bertengger.


Braak!!


Sebelum dahan besar itu patah Waha telah terbang sambil menggendong diriku dan hinggap diatas genteng rumah.


Kulihat dahan pohon yang kita pijak tadi kini hangus terbakar, asap asap hitam masih menari nari dengan liar..beberapa saat kemudian sosok sosok menyeramkan keluar dari asap asap itu. Mereka berkepala kerbau dengan tanduk melengkung panjang kebawah, mata mereka merah menyala dan dari ujung ujung bahu mereka muncul gundukan semacam tanduk kecil.


Dari atas genteng Waha meloncat kebawah dan mendorong pintu dapur.


"Ambil keris Jantring Mas cepat kanda! Dan kembali kesini lagi!"


Sepertinya kekuatanku pulih kembali, aku merasa seperti bangun dari mimpi. Mataku kembali dapat melihat dengan jelas. Keris Jantring Mas kuambil dari atas meja, kini sudah ada ditangan.


Waha nampak seperti kaget melihat apa yang terjadi diluar sana. Aku berlari mendekatnya...


"Ada apa?!" tanyaku.


"Lihat!" ucap Waha sambil menunjuk kearah pohon mangga.


Dari sebelah kanan pohon seperti sebuah lobang portal terbuka dan dari dalam berloncatan keluar jin jin dan siluman.


Mereka membuat barisan lurus bahkan halaman belakang yang luas itu sudah tidak mampu menampung mereka. Saking banyaknya ada yang duduk ditembok mengitari belakang rumah kita.


Waha menoleh kearahku, ia menggenggam tanganku dengan kencang..


"Kanda..kau satu satunya yang kucintai..meskipun kita datang dari dua dunia berbeda, tapi aku telah kadung sayang padamu..tidak ada jalan lain kita akan bertempur mati matian malam ini. Pesanku kalau aku mati ditangan mereka semoga Tuhan akan mempersatukan kita lagi dinirwana"


"Waha kekasihku..aku tidak akan membiarkan mereka membunuhmu! Aku tidak takut dengan mereka! Ini rumahku dan tidak ada siapapun didunia yang boleh mengacak acak disini! rumah dan tanah ini milikku..dan kaupun milik aku..Ayok kita lawan mereka.."


Mendadak entah dari mana, sebuah kekuatan maha dahsyat masuk kedalam tubuhku. Ada satu pergerakan misterius yang masuk lewat tulang rusuk dibelakangku.


Aliran kekuatan itu terasa memasuki jari jari berenang renang didalam darah dan memenuhi seluruh tubuhku.


Keris yang kupegang seperti menyala dari dalam, keris itu seperti ada sekam bara merah menyala menyinari seluruh ruang dapur. Kedua kakiku terasa ringan, kini seluruh tubuhku bersinar.


"Kanda..apa yang terjadi? tubuhmu menjadi biru!" teriak Waha takjub.


...○○○○...


"Sinar apa itu? Tinggi sekali!" Ucap Ki Lembut Ringring terkaget kaget.


Aku sendiri tidak sadar ketika secara perlahan tubuhku naik mengambang diatas lantai. Kupegang tangan Waha.


"Waha dindaku sayang..pegang tanganku..kita akan menjadi 2 insan yang menyatu!" teriakku.


Kita berdua berdampingan mengambang keatas dan ahirnya secara ghoib menembus platonic dapur dan dengan kecepatan tinggi naik keatas rumah.


Dari arah atas aku bisa melihat begitu banyaknya mahluk aneh yang berjejer Jejer memenuhi pekarangan belakang rumahku.


Secara spontan kami terjun bebas kebawah, aku menghunus keris Jantring Mas dan Waha menghunus keris ayahku yang kinipun menyala berwarna merah jambu.


Dalam sekali putaran kita berhasil memotong tubuh para siluman. Mereka tidak sempat mengelak karena kecepatan terbang kami sudah melampaui kecepatan suara.


Tubuh para siluman itu terbelah dan kepala mereka menggelinding ditanah memuncratkan darah segar dan bau amis.


Kami turun ditengah tengah keberadaan para jin. Dari bawah kaki ku terlihat adanya bara api yang berkobar menyala nyala dengan ganasnya.


Ki Lembut Ringring memerintahkan anak buahnya untuk menyerang dengan melepaskan bola api. Namun..aneh bola bola api itu tidak bisa menembus, seakan ada tameng yang menutupi tubuh kita.


Bola bola api itu kami hempaskan kembali kearah mereka. Seperti dentuman meriam, bola bola api mereka kini justru menghantam para jin itu.


Ki Lembut Ringring bingung dengan keadaan yang terjadi. Ia kemudian duduk bersila sambil merapalkan mantra.


Portal gaib disamping pohon mangga kembali terbuka lebar dan dari dalamnya keluar 2 ekor anjjing leak kepunyaan Ni Polong. Dengan ganas mereka mengitari tubuh kita. Air liur menjijikkan menetes dari mulut anjing anjing itu.


Terahir muncullah seorang nenek tua berwajah keriput, ia memegang sebuah tongkat yang ujung atasnya terukir kepala hewan naga.


Dengan terkekeh kekeh ia melangkah pelan kesamping Ki Lembut Ringring yang kini telah berdiri tegak. Ditangan Ki Lembut ia memegang sebuah gada besar terbuat dari semacam besi besar.


"Hehehe..sudah kuduga, kau adalah titisan sang raja Jawa..tapi, jangan kau pikir kita tidak bisa menghancurkanmu! Hari ini kau akan kubunuh! Tidak perlu lagi aku tawan dan bawa kealamku! Disini kau akan mati!!"


Wanita tua itu mengangkat tongkat dan mengarahkan kepada diri kita.


...○○○○...


Sebelum tongkat itu diangkat oleh tangan Ni Polong sebetulnya satu sosok gaib telah membisikkan ketelingaku.


Buat lingkaran sekeliling tubuh kalian sekarang juga! terdengar arahan itu dikupingku..


Aku langsung tancapkan keris Jantring Mas ketanah dan membuat garis Bundaran mengelilingi kita.


Dari lingkaran yang aku buat muncul sinar biru yang langsung menutupi keberadaan kita.


Tembakan sinar dari tongkat Ni Polong yang melesat dengan kencang tidak mampu menembus dinding biru bahkan sinar itu kembali menyerang Ni Polong.


Ni Polong mundur beberapa langkah, ia kaget tidak percaya akan apa yang terjadi. Ia mengucap sesuatu kepada ke 2 hewan piaraannya. Ke 2 hewan seram itu mengaum dan loncat.


"Satukan keris kita!" teriakku. Entah kenapa aku katakan itu..namun seperti ada sesuatu yang memerintahkan aku untuk melakukannya.


Ke 2 keris kami satukan dan dari ujung keris keluar satu sinar terang yang langsung tertuju kepada 2 hewan ganas itu.


Sinar keris keris kita merobek dan memotong tubuh hewan hewan itu.. Suara melengking keras keluar dari mereka dan tubuh mereka meledak, hancur berantakan!


Ki Lembut Ringring beserta seluruh pengawal jin dan siluman terpental kebelakang karena kekuatan sinar dari keris keris kita.


...¤¤¤¤¤...