
Detik detik menegangkan..awan malam itu menjadi super gelap, satupun bintang tidak terlihat. Suara petir saling menyahut riuh dan keras tiada hentinya. Menyambar permukaan laut seakan saling menyerang..gelombang ombak dipermukaan laut naik keatas seakan ingin menangkap kilatan petir namun berkali kali sambaran petir mengenai bagian permukaan lainnya. Kini hujanpun turun dengan lebat. Mataku tidak sanggup untuk melihat dengan jelas dimana letak sosok besar penolong kami.
"Itu! itu dia disana!!" teriak Waha menunjuk kearah sebuah gundukan besar yang mengapung ditengah lautan.
Bahkan kilatan petir itu sekarang juga menyerang kearah dimana kita berada. Aku memeluk tubuh Waha..tubuh kita basah kuyup tidak karuan, rambut Waha yang panjang lepek menempel ketubuhnya. Jantungku berdegup kencang.
"Waha! kita kebatu besar disana! Ini bahaya petir petir itu sangat berbahaya!!" Aku berteriak ditengah gemuruh ombak dan turunnya hujan yang sangat deras.
Waha menganggukkan kepala, kita berlari dengan kencang kearah sebuah batu besar, kebetulan dibawahnya ada sedikit ruangan untuk berlindung.
"Liat disana!!" teriak Waha.
Sosok iblis itu mengapung diatas ombak kedua tangannya diangkat keatas..bermacam sinar cahaya siap untuk menghancurkan tubuh teman kami yang sekarat itu.
Entah darimana datangnya..sebuah sinar yang sangat terang melesat diatas kepala kita langsung menuju ketengah lautan.
Sebuah sinar dengan cahaya sangat terang meluncur deras kearah sang iblis.
Setan jahanam itu tidak sempat mengelak, dengan pelak sinar putih itu menghantam tubuhnya. Ia terpental kira kira 100 meter ketengah laut dan ambles kedalamnya. Bak air bah, air laut pecah ketika tubuh yang besar itu jatuh kedalamnya.
Ditengah tengah sinar putih terlihat dengan jelas sosok laki laki tua berdiri dengan perut buncit. Ia terkekeh kekeh melihat sosok iblis itu terlempar dan jatuh jauh disana.
Sosok buncit itu turun kepermukaan laut..Gelombang laut yang dahsyat mendadak tenang, ombaknya menjadi kalem dan tenang. Suasana langitpun kembali tenang hujan berhenti turun dan petirpun hilang. Ia menapakkan kedua kakinya dipermukaan gelombang ombak lautan. Tubuhnya berdiri diatas permukaan laut seperti sebuah kapas.
Tangan kiri bapak berperut buncit ia tempatkan tepat dijantungnya dan tangan kanan ia letakkan diatas pusernya.
"Sura Dira Jayadiningrat, Leburing Dening Pangastuti" terdengar suara orang berperut buncit itu menggelegar seantero lautan. Air lautan seakan langsung tunduk kepadanya..Berduyun duyun gelombang demi gelombang mendatangi telapak kaki bapak buncit itu dan bersama sama ombak ombak itu mengangkat sosok itu keatas, tinggi sekali.
"Waha..aku tidak mengerti apa yang ia ucapkan?"
"Itu bahasa Jawa halus sekali kanda..artinya kurang lebih..Sosok yang jahat bisa dikalahkan oleh hati yang baik"
Kemudian sosok buncit itu berkata lagi masih dengan posisi kedua tangan seperti tadi..
"Aja Adigang, Adigung, Adiguna" Kembali suaranya menggelegar keras..
"Nah ini aku tau artinya..ia berkata, Jangan suka memamerkan kekuatan, kekayaan dan kemampuanmu"
"Betul kanda..itu yang beliau maksud" kata Waha.
Mendadak sosok itu turun dari kumpulan ombak yang tinggi, ia mendekat kearah sosok besar pelindung kami yang masih terombang ambing ombak. Ia mengulurkan sebelah tangannya dan dengan mudah ia mengangkat tubuh besar itu dan terbang keatas.
Sementara kami melihat sosok iblis naik kepermukaan laut dan terbang kearah lain. Kepergian iblis diikuti oleh Ni Polong dan Ki Lembut Ringring yang terluka parah.
...○○○○...
"Ayo kanda kita pulang..biarkan sosok bapak itu mengambil orang besar teman kita. Kini saatnya kita pulang menghimpun kekuatan"
"Baik Waha.."
Waha memegang pinggangku, dengan sekali injak kami berdua mengapung diatas pasir dan terbang.
Aku sempat melihat keatas awan, bintang bintang yang tadinya tidak terlihat kini bersinar kembali. Dunia seakan hidup kembali, tabir hitam yang tadinya menutupi awan kini sudah terbuka.
...○○○○...
Gusti Karnia yang sedang bersenda gurau dengan istri mudanya sampai loncat ketika mendengar suara 2 benda besar jatoh kelantai depan pendoponya. Beberapa pot china yang paling ia sayangi ilit jatuh kelantai dan pecah berkeping keping.
"Hai penjaga! Ada apa diluar ?!" teriak Gusti Karnia marah besar melihat 2 penjaga masuk tanpa ijin.
"Maafkan kami Gusti! Kami tidak bisa melihat apa apa tapi semua barang pecah dengan sendirinya!!" Jawab seorang penjaga ketakutan.
Gusti Karnia bangkit dan bergegas kearah luar. Ia terkejut melihat Ni Polong yang terkapar dengan darah mengalir deras dari mulutnya. Dibelakang Ni Polong tergeletak sosok Ki Lembut Ringring.
Nafas mereka naik turun, tubuh mereka gemetaran. Bekas muntahan darah terlihat disudut mulut.
Gusti Karnia mendekat dan membisikkan sesuatu ditelinga Ni Polong.
"Ceritakan apa yang terjadi atau aku kirim kau sekarang keneraka" kata katanya singkat tapi langsung pada intinya.
Ni Polong terbatuk batuk ia menarik tongkat saktinya dan mencoba berdiri. Ki Lembut menatap Ni Polong tanpa bisa membantu sedikitpun.
"Kita..kita telah gagal Gusti" ucap Ni Polong dengan suara gemetar.
"Hmm...bagaimana bisa kalian kalah? Bukankah alu sudah mengutus anak iblis untuk membantumu?"
"Ampun Gusti..kami sudah mengerahkan semua kekuatan" Ki Lembut menyela pembicaraan.
"Diam kamu jin bodoh!!" bentak Gusti Karnia. Amarahnya sudah memuncak, ia berteriak kencang kearah Ki Lembut sambil menunjukkan jarinya kewajah Ki Lembut.
Ki Lembut Ringring langsung menciut nyalinya. Ia tau kalau sampai Gusti Karnia marah maka akan terjadi hal yang tidak baik.
"Ni..dimana 2 hewan piaraanmu?"
Ni Polong menatap wajah Ki Lembut..tu uhnya benar benar ketakutan..meskipun 2 hewan itu kepunyaan dia tapi, Gusti Karnia sangat menyayangi keduanya.
"Mereka..mereka telah mati dan hancur Gusti..mohon maaf"
Seakan sebuah gledek menyambar Gusti ketika mendengar itu. Ia angkat tubuh kurus Ni Polong dan ia hempaskan kedinding tembok.
Tembok itu hancur berantakan..Wajah Ni Polong nampak kesakitan, Ki Lembut Ringring mundur sedikit duduknya..ia mengangkat tinggi tinggi kedua tangannya yang ia katubkan diatas kepalanya.
"Bagaimana dengan pasukan jin dan siluman??" Kini Gusti mengalihkan pandangan kearah Ki Lembut.
"Ampure bapa..merekapun hancur berantakan hanya sisa 2 atau 3 yang kini hamba tidak tau kemana mereka larinya"
"Siapakah yang membantu mereka hingga kalian porak poranda?" tanya Gusti Karnia.
"Ampure bapa..awalnya hanya Wanita tawanan dan laki laki dari jaman masa datang saja..kami berpikir ini pasti berhasil..tqpi mereka mempunyai satu sosok besar bukan dari bangsa jin atau siluman. Sosok inilah yang dengan mudah menghancurkan kita..Hampir saja kita musnah kalau tidak dibantu tuanku Iblis noscaya kita sudah tidak ada disini"
"Haah?! iblis datang?? Kalau begitu kalian mustinya menang??" Tanya Gusti Karnia kebingungan.
"Tidak Gusti..setelah iblis datang ada satu lagi datang dari pihak mereka"
"Katakan .siapa itu?"
"DiJawa biasa sosok ini dipanggil dengan nama Ki Lurah Bradanaya.."
Dheeg
Jantung Gusti terasa berhentii mendengar nama itu...
...¤¤¤¤¤...