
Ketika Semar dan Raden Gatot Kaca hadir pasukan berani mati Gusti Karnia sudah terlanjur mendekat kearena pertempuran.
Saat itu Gusti Karnia menghentikan kudanya, matanya tidak berkedip mulutnya menganga melihat 2 sosok sangat besar dan tinggi sedang memporak porandakan para mahluk seram dari dalam sumur bahkan kini sumur itu sudah ditutup rata dengan tanah sehingga tidak ada yang bisa masuk ataupun keluar.
Mahluk mahluk sumur itu berlarian kacau balau mencoba menghindar dari kipasan angin dahsyat yang dikeluarkan oleh 2 sosok besar itu.
"Tahan pasukan! Tahan!!" teriak Gusti dari atas kudanya. Terlanjur sudah..pasukan berani mati sudah lebih dulu merangsek kedepan bahkan beberapa dari mereka saling bertabrakan dengan mahluk yang mencoba melarikan diri.
"Waha! Lihat itu disana! Ayo kita tempur! Kita hajar mereka!!" Aku berteriak dengan kencang, Waha mendengar itu..dengan sekali loncat Waha sudah berada dikerumunan pasukan berani mati.
Waha mengamuk, akupun mengejar Waha dan ikut mengamuk. Keris Jantring Mas aku libaskan kekiri dan kekanan.
Gusti Karnia melihat itu merasa sangat cemas. Apalagi ketika melihat ujung kerisku bersinar merah. Tombak dan pedang pasukan berani mati bukan tandingannya. Sebelum senjata mereka mengenai kerisku sudah patah duluan..bahkan ada yang langsung meleleh dengan sendirinya.
"Waah..keris Jantring Mas! Gila!!" teriaknya.
Satu persatu prajurit Gusti mati bahkan setiap kali ujung keris Jantring Mas merobek tubuh mereka langsung saja tubuh tubuh malang itu seakan hancur dan hanya meninggalkan tulang dan darah selebihnya hancur.
Waha menoleh keseluruh area ia melihat diatas sebuah bukit kecil Gusti Karnia mengamati diatas kudanya.
Dengan sekali loncat ia telah berada didepan kuda Gusti Karnia.
"Hai bangsat!! inilah saatnya kau kulemparkan keneraka!! Sudah beratus ratus korban manusia kau bantai!! Sepantasnya kau hancur Hiiaaaa!!"
Waha melentingkan tubuhnya dan bersalto diudara.
Gusti Karnia melihat tubuh Waha melenting keatas iapun loncat dari kudanya menyambut serangan Waha. Dua keris saling beradu, percikan api terlihat ketika dua keris pusaka itu beradu.
Mereka mendarat ditanah dengan enteng seperti kapas. Gusti Karnia menyiapkan kuda kuda, telapaknya nampak menancap ditanah. Dengan satu tangan ia meraih tombak yang tertancap ditanah dan melemparkan lurus kearah Waha. Bersamaan dengan itu ia berlari dengan kencang kedepan.
Waha melihat gerakan Gusti, ia bersalto diudara, jarak antara dirinya dan tombak yang terbang hanya selisih 5 centimetre saja..bahkan Waha merasakan desiran angin lajunya tombak dirambutnya.
Gusti maju dengan gerakan cepat, ia yakin akan menghujamkan keris beracunnya keperut Waha. Pada kira kira 2 detik sebelum keris menghujam, Waha menggeserkan tubuhnya kekanan sekaligus menebas leher Gusti Karnia.
Keris Anom Melati memotong rapih leher Gusti, meskipun kepala itu tidak putus sama sekali, tapi Gusti jatuh terduduk matanya melotot tidak percaya ia gagal dalam penyerangannya. Otaknya kala itu masih bekerja..ia masih sanggup berpikir.
Tangan kirinya memegang lehernya yang hampir putus, darah mengalir dengan deras.
"Pergilah kau kedasar neraka!" teriak Waha, ia melompat dan sekali lagi ia menebas leher Gusti Karnia.
Kepala itu langsung terputus menggelinding ditanah. Seperti layaknya orang yang mempunyai ilmu hitam ketika tubuhnya tumnang ketanah, maka roh roh jahat yang biasa bertengger ditubuhnyapun ikut terbang. Waha sempat melihat 3 atau 4 gumpalan asap hitam membumbung keatas dengan suara jeritan yang melengking.
Tidak ada satupun pasukan berani mati Gusti yang selamat semua tewas dengan mengerikan.
Aku berlari kearah Waha yang berdiri tegak disamping tubuh Gusti Karnia yang tanpa kepala itu. Waha tersenyum, ia langsung memeluk diriku.
"Sudah selesai tugas kita kanda!" Waha meneluk keras tubuhku, suaranya terdengar parau.
"Sukurlah Waha..Ayok kita ke eyang Semar dan Raden Gatot Kaca"
...○○○○...
Ternyata ketika kita sudah berada didekat kedua eyang Nirwana itu terlihat disana timbunan bangkai tubuh para prajurit berani mati yang tewas secara mengenaskan. Tidak jauh duduk dengan bersila Lurah Badranaya atau Semar dibelakangnya berdiri tinggi besar raden Gatot Kaca dengan kedua tangannya yang dilipat didadanya yang bidang.
"Waha! Apakah kau membuang jauh kepala Gusti Karnia?" tanya Semar dengan suara menggelegar.
"Cepat bawa kesini kepalanya! ia mempunyai ilmu hitam yang apabila menyatu maka ia akan kembali hidup"
Mendengar itu Waha langsung loncat kearah dimana tubuh Gusti terbaring. Sukur bahwa kepala Gusti terlempar cukup jauh dari badannya.
Waha menjambak rambut ikal Gusti dan membawa kepala Gusti Karnia kehadapan Semar.
Laki laki tua itu mengangkat kepala Gusti tanpa menyentuh sedikitpun. Kepala itu mengambang diudara. Ia melibaskan telapak tangannya diudara seketika kepala itu hancur menjadi debu berwarna hitam.
"Sudah selesai..ia akan masuk kealam bawah dasar neraka..biarkan ia disana sampai waktunya selesai.." ucap Semar.
Tubuhku merinding mendengar perkataan itu..tidak terbayang apa yang akan terjadi dengan Gusti Karnia disana.
...○○○○...
Raden Gatot Kaca kemudian maju dan menundukkan kepalanya memberi hormat kepada eyang semar.
"Tugas saya telah selesai..dan saya akan bersemayam kembali didalam keris sampai nanti waktunya, kala ahir jaman tiba"
"Njjih raden..silahkan" ucap eyang Semar.
Dalam waktu yang sangat singkat sosok tinggi besar penuh otot itu lenyap masuk kedalam keris.
Aku memandang Waha dan memegang tangan kanannya.
"Oh nduk..kamu telah jatuh cinta?" Tiba tiba Semar bertanya.
Waha menunduk malu akan pertanyaan itu, akupun demikian..sebuah pertanyaan yang mendadak kami tidak bisa mengelak hanya tersenyum malu.
"Birendra..kamu jatuh cinta kepada Waha Puspa?" kembali sosok besar berperut buncit itu bertanya.
"Njjih eyang Semar..saya telah jatuh cinta kepada Waha..dan saya sadar bahwa ini sebetulnya tidak bisa terjadi..tapi saya sudah kadung cinta sama gadis ini" Ucapku penuh dengan keyakinan.
"Ini hal yang tidak wajar Rendra, apalagi kalian datang dari 2 dunia yang berbeda..unsur biologisnya jelas tidak ketemu"
"Aku sendiri tidak tau eyang..tapi semenjak pertama kali berjumpa aku tidak pernah merasakan takut, justru perasaan sayang yang tumbuh didiriku"
"Eladalah..anak manusia..hehehe.."
"Kanda Rendra..terima kasih atas perhatian dan perasaanmu terhadapku, akupun demikian aku sangat mencintaimu. Tapi kita sudah tau dan sadar bahwa semua ini harus berahir, aku harus pulang sayang..dan kamulah satu satunya yang akan mengantarkan aku pulang tiada satupun manusia yang bisa memulangkan aku hanya dirimu..pintaku hanya satu sayang..kenanglah diriku, kamu masih memegang bunga melatiku..itulah tanda kenang kenangan dariku selain kain selendang yang ada diperutmu"
Aku tak kuasa mendengar kata kata Waha..Begitu banyak rintangan dan pertempuran yang telah kita alami bersama, Waha sudah menjadi bagian dari kehidupanku..Mengapa sekarang kita harus berpisah??
Tidak terasa..ternyata Waha sedang jongkok dihadapanku, aku angkat ia agar berdiri didepanku.
"Aku akan selalu mengenangmu Waha..selendang dan bunga ini akan selalu menjadi bagian dari diriku"
"Monggo..kita ketempat bekas penjara Waha..panjenengan harus melepaskan Waha disana" terdengar ucapan eyang Semar.
Aku menggandeng tangan Waha dan berjalan kearah tempat bekas tahanan ditepi sungai Ayung. Sengaja aku tidak mengajak Waha terbang..aku masih ingin berlama lama dengannya.
...¤¤¤¤¤...