Gg

Gg
Brandon?



Vote jangan lupa guys ~~


Happy Reading ~~~


*****


" Bagaimana apa ia baik-baik saja dok? " Tanya Brandon pada dokter yang memeriksa Salsa yang pingsan di atas brangkar.


"Ia hanya sakit maag karena telat makan, pastikan setelah sadar nanti ia harus makan sesuatu, saya akan menuliskan resepnya anda bisa tebus apotik depan " Ucap sang dokter tersebut sambil memberikan secarik kertas yang bertuliskan resep obatnya.


"Baiklah Terimakasih dok "


"Saya permisi dulu, tolong jaga kekasih anda dengan baik " Ucap dokter tersebut sebelum akhirnya pergi meninggalkan Brandon yang masih menatap Salsa dengan tatapan khawatir.


"Kekasih?ckck" Desis Brandon sambil tersenyum samar, "mungkin suatu saat julukan itu akan ada diantara aku dengan dia " Pikir Brandon ntah mengapa ada sesuatu yang membuatnya bahagia saat memikirkan bagaimana ia akan menjadi kekasih dari wanita yang ia selamatkan itu.


Sejak awal bertemu dengan wanita Salsa, hati Brayen jadi tak karuan apalagi slama ini Brayen tidak tau nama wanita itu makin membuat Brayen kesal seketika.


"Ternyata takdir menginginkan aku mengetahui namamu "- Brayen sambil menatap wajah Salsa.


"Eughhh " Lirih Salsa sambil perlahan-lahan membuka matanya menyesuaikan cahaya dari ruangan tersebut.


"Kau sudah sadar? " Tanya Brandon saat melihat Salsa yang mulai bangkit dari tidurnya.


"Ak... Aku ada dimana? " Tanya Salsa sambil mulai menduduki dirinya sendiri diatas brangkar dengan bantuan Brandon.


"Kau berada di rumah sakit, saat dicafe kau pingsan aku yang membawa mu ke sini karena aku takut kau kenapa-kenapa" Jelas Brandon panjang lebar,Salsa pun hanya mengangguk mendengar penuturan Brandon.


"Terimakasih telah menolongku " Ucap Salsa tulus,sesaat kemudian ia pun ia memejamkan matanya lagi-lagi sakit yang di rasanya mulai menyerang.


"Akkhhh " Ringis Salsa sambil memegangi perutnya yang sangat sakit seperti ditusuk ribuan jarum, melihat hal itu Brandon pun jadi panik ia lupa bahwa Salsa harus makan setelah sadar dan harus segera minum obat.


"Astaga, kau tunggu sebentar oke, aku akan mencari makanan untukmu dan menebus obat terlebih dahulu kau tunggu disini jangan kemana-mana " Setelah mengucapkan hal itu Brandon pun langsung keluar menuju kantin dan menuju tempat penebusan obat.


"Akhhh Sa.... Sakit sekali " Lirih Salsa terus menerus sambil meremas-remas perutnya berharap perutnya tidak lagi terasa sakit namun sayang perutnya semakin sakit, lebih sakit dari yang pernah ia rasakan.


Salsa terus memegangi perutnya sambil terus-menerus mengucapkan kata 'sakit' bahkan saat ini Salsa telah meringkuk di brangkar rumah sakit tersebut karena tidak tahan dengan sakitnya,hingga beberapa detik Salsa lalui dengan sakit yang luar biasa seseorang membuka pintu kamar tersebut dengan keras menimbulkan suara yang dapat membuat Salsa terkejut.


Salsa terkejut memang tapi ia tidak dapat menoleh karena sakit yang dirasanya lebih besar daripada rasa terkejutnya karena seseorang tersebut.


"Kau tidak apa-apa? "Tanya seorang pria yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan itu dengan nada khawatir nya.


" Sa.. Sa... Kit" Hanya itu yang dapat Salsa ucapkan sambil terus memegangi perutnya.


Pria tersebut pun langsung menggendong Salsa ala bridal style keluar dari kamar tempatnya dirawat, ia membawa Salsa dengan wajah yang sangat khwatir, dengan langkah lebarnya pria tersebut menuju arah parkiran dimana sang asisten telah menunggunya.


"Juan cepat buka pintu!" Perintah pria tersebut memerintahkan sang asisten, sang asisten yang dipanggil Juan itu pun langsung menuruti permintaan tuannya.


Dan dengan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit tersebut, "segera kepentahouse pribadiku! "


"Baik tuan "


"Sa... Sa..kit "lirih Salsa untuk kesekian kalinya.


" Tenanglah, Juan mana sesuatu yang aku minta "


"Ini tuan" ucap Juan sembari menyodorkan sebuah paperback yang berisikan bubur dan obat pereda sakitsakit kepada pria itu.


Yah pria itu adalah Frans si boss sialan itu.


Frans pun mengambil paperback itu,sebelum ia mengeluarkan isi dari paperback itu ia terlebih dahulu memperbaiki posisi duduk Salsa agar ia bisa makan dengan nyaman, setelah itu barulah Frans membuka dan mulai menyuapi Salsa dengan pelan.


"Buka mulutmu " ucap Frans sembari menyendokkan bubur itu kehadapan bibir Salsa.


Salsa yang disuapi pun hanya menurut ia tidak memperdulikan makanan apa yang boss sialannya itu sodorkan yang penting saat ini bagi Salsa adalah perutnya harus diisi sesuatu.


" apa kau sudah melakukan apa yang aku suruh?" Tanya Frans sambil menyuapi Salsa dengan telaten .


"Sudah tuan, Dokter Wahyu sudah menunggu anda dipentahouse "


Frans pun hanya mengangguk pelan, tanpa henti tangannya terus menyuapi Salsa dengan telaten setelah bubur yang berada di kotak itu habis Frans langsung membuka plastik yang berisikan obat pereda sakit untuk Salsa karena jujur Frans sangat tidak suka melihat Salsa yang kesakitan seperti itu.


"Minumlah ini " Frans menyodorkan sebuah tablet berwarna putih dan sebotol air mineral yang Juan beli.


Salsa hanya menurut saja perintah dari atasannya itu ia tidak mau banyak berkomentar tentang mengapa sikap boss sialannya itu berubah menjadi sweet.


"Jika kau mengantuk tidurlah, aku akan menjagamu" Ucap Frans menarik Salsa kedalam dekapannya, Salsa terkejut namun ia tak menolak tak juga membalas ia hanya pasrah karena ntah mengapa dekapan yang Frans berikan sama hangatnya dengan dekapan ayahnya dulu Salsa seperti menemukan kembali dekapannya yang hilang.


Salsa pikir hanya dekapan almarhum sang ayahlah yang mempunyai pelukan yang sangat nyaman dan sangat hangat tapi ternyata ada dekapan yang hampir sama dengan ayahnya.


" Mengapa Pelukanmu sama seperti pelukan ayahku? "Lirih Salsa mulai membalas pelukan Frans, Frans yang mendengar penuturan Salsa itu pun langsung tersenyum simpul dan Frans makin mendekap hangat Salsa.


" Karena aku dan ayahmu memelukmu dengan perasaan kasih sayang yang tidak bisa kau dapatkan dari orang lain " Balas Frans tepat di telinga Salsa berharap Salsa akan merespon apa yang ia ucapkan tadi, namun bukan mendapat jawaban Frans malah mendengar dengkuran halus dari bibir mungil Salsa.


Frans mengecup singkat dahi Salsa yang tidur dengan pulasnya karena pengaruh obat, untung saja Frans datang dengan tepat waktu jika tidak ntah apa yang terjadi dengan Salsa ketika Brandon pergi berlari meninggalkan Salsa sendirian di kamar rumah sakit itu.


"Maafkan saya tuan karena tidak langsung mengambil tindakan saat nona Salsa pingsan " Ucap Juan setelah beberapa menit dilalui dengan keheningan.


"Tidak apa-apa, ini juga kesalahan ku karena aku tidak membawa handphone saat meeting tadi dan membuat Salsa harus menahan sakit selama hampir satu jam " Balas Frans.


"Tidak tuan ini salah saya karena tidak langsung mencegat tuan Brandon membawa pergi nona Salsa "


"Sudahlah, yang penting sekarang Salsa aman dalam dekapan ku" Juan pun tak berani menjawab lagi ia hanya mengangangguk pelan.


Frans hampir melupakan kejadian tadi dimana ia melakukan kesalahan kecil karena tidak membawa handphonenya padahal ia sudah menyuruh Juan untuk selalu melapor apa saja yang Salsa lakukan namun karena kesalahan kecil itulah mengakibatkan kesalahan fatal bagi Salsa.


Flasback on


"Bagaimana Juan? " Tanya Frans melalui sambungan handphone nya.


"Sudah saya laksanakan tuan pria bernama Daniel itu tidak akan datang, saya sudah menyuruh Mr.Rudi untuk memberinya banyak tugas " Frans pun langsung tersenyum senang mendengar penuturan dari sang asistennya itu.


"Lalu bagaimana dengan dia.? Apa yang ia lakukan? "


"Ia hanya diam tuan menatap sekeliling sambil meminum segelas coffee " Lapor Juan sambil terus memantau Salsa dari jauh.


"Bagus terus pantau dia hingga ia kembali ke kantor "


"Baik tuan "


Sambungan telepon itu pun terputus, Juan terus memantau Salsa yang sedari tadi menunggu seseorang, hampir setengah jam Salsa hanya menatap sekeliling dengan segelas coffee nya, karena mungkin terlalu lama menunggu Salsa memutuskan untuk kembali ke kantor namun belum sempat melangkah tubuh Salsa linglung kesamping Juan sontak saja terkejut, ia ingin menangkap tubuh Salsa agar tidak menyentuh lantai yang dingin itu namun sayang seorang pria terlebih dulu menangkap Salsa.


Mau tidak mau Juan hanya dapat memantau dari jauh saat ia tau siapa yang menolong Salsa yah dia adalah sahabat Frans Brandon. Juan menghubungi Frans untuk memberitahu bahwa Salsa pingsan, dan yang menyelamatkannya adalah Brandon namun Frans tidak menjawabnya.


Juan sudah coba berkali-kali namun hasilnya nihil tuannya tidak mengangkat teleponnya, ia akhirnya memutuskan untuk membuntuti kemana perginya Brandon membawa Salsa.


Hampir 10 menit Juan mengikuti mobil Brandon dan akhirnya Brandon sampai di rumah sakit terdekat, Juan terus membuntuti Brandon hingga di ruang rawat inap, Juan tidak bisa masuk akhirnya ia putuskan untuk memantau dari luar, untungnya pintu kamar itu ada kaca kecilnya yang mampu membuat Juan dapat melihat ke dalam kamari inap itu sambil terus menghubungi tuannya.


Ntah panggilan ke berapa barulah Frans mengangkat telepon dari Juan "ada apa? "


"Nona Salsa tuan dia pingsan saat di cafe dan ntah bagaimana tuan Brandon menyelamatkannya "


"Apa? Sekarang dia bagaimana? Apa kau meninggalkan Salsa dengan pria sialan itu? " Marah Frans.


"Saat ini Nona Salsa telah di bawa di rumahh sakit Brighton oleh tuan Brandon__"


"Kau tunggu disitu pantau dia,tanyakan pada dokter yang memeriksa Salsa apa penyakit nya lalu beli obat pereda sakit dan segera beli juga bubur dan air mineral aku akan tiba beberapa menit lagi " Ucap Frans cepat.


Ini tak bisa dibiarkan Salsa tidak boleh dekat dekat dengan Brandon, dengan kecepatan diatas rata-rata akhirnya Frans sampai di rumah sakit itu dengan selamat, Juan telah mengirimkan nomor kamar Salsa ia pun segera pergi ke arah kamar ituitu sendiri karena Juan membeli bubur, air dan obat pereda nyeri yang Frans minta . Dan tak lupa Juan juga menghubungi Dr. Wahyu untuk segera datang ke pentahouse Frans untuk memeriksa Salsa disana.


Frans akan membawa Salsa secara paksa jika Brandon melawannya, namun sepertinya dewi keberuntungan sedang berpihak padanya, ia melihat Brandon keluar dari kamar Salsa dengan terburu-buru.


Frans tak menyia-nyiakan kesempatan itu ia langsung saja membuka pintu rawat itu dengan cukup keras dan ia melihat Salsa terbaring lemah sambil memegang perutnya dengan terus berucap kata 'sakit' dan dengan kekhawatiran yang sudah diujung kepala Frans pun menggendong Salsa ala bridal style.


Flasback off


*****


"Apa ia baik-baik saja? " Tanya Frans khawatir, dokter Wahyu pun hanya tersenyum kepada Frans ia tau saat ini putra dari sahabatnya sedang dilanda kekhawatiran yang sangat besar.


"Ia baik-baik saja, ia hanya perlu istirahat maag yang ia alami tadi sepertinya sudah membaik jadi biarkan ia istirahat yang cukup, ini saya membawa obat tolong berjalan saat ia sadar nanti dan jangan lupa obat ini harus diminum setelah makan "Frans pun langsung mengangguk patuh dan menghembuskan nafasnya dengan lega secara bersamaan.


" Baiklah kalau begitu saya permisi dulu tuan Frans " Pamit dokter Wahyu, Frans pun mengangguk.


Dokter Wahyu pergi tinggallah Frans dan Salsa yang berada dikamar itu, Frans menatap lama wajah Salsa yang tengah tertidur pulas dikamar nya "kuharap besok kau sembuh my mine" Bisik Frans sambil mencium kening Salsa lama.


Setelah mengucapkan kata itu Frans pun ikut berbaring di samping Salsa, sambil mendekap Salsa kedalam pelukannya.


****


Di rumah sakit.....


" Permisi Suster apa anda lihat pasien


Diruangan ini? " Tanya Brandon pada suster yang lewat.


"Maaf tuan saya tidak melihatnya, permisi tuan" Setelah mengucapkan itu suster itu pun pergi meninggalkan Brandon.


Brandon pun hanya dapat menghembuskan nafasnya dengan kasar "mungkin kali ini bukan waktu yang tepat untuk aku mengetahui namamu little girl " Lirih Brandon pada dirinya sendiri.


TBC


ini part terpanjang ok:)