
Angin sepoi-sepoi berlalu lalang menghembuskan kesegaran kepada para penghuni gubuk yang sedang menyantap makan siangnya.
Menyantap makan siang dengan ketenangan dan diiringi alunan lagu dari negeri seberang Malaysia.
Lagu dari Iklim " Cinta Dalam Debu".
Engkau bagai air yang jernih
Di dalam bekas yang berdebu
Zahirnya kotoran itu terlihat
Kesucian terlindung jua
Cinta bukan hanya di mata
Cinta hadir di dalam jiwa
Biarlah salah di mata mereka
Biar perbedaan terlihat antara kita
'Ku harapkan kau 'kan terima
Walau dipandang hina
Namun hakikat cinta kita
Kita yang rasa...
Suatu hari nanti
Pastikan bercahaya
Pintu akan terbuka
Kita langkah bersama
Di situ kita lihat
Bersinarlah hakikat
Debu jadi permata
Hina jadi mulia
Bukan khayalan yang aku berikan
Tapi keyakinan yang nyata
Kerana cinta lautan berapi
Pasti akan 'ku renang jua
'Ku harapkan kau 'kan terima
Walau dipandang hina
Namun hakikat cinta kita
Kita yang rasa...
Suatu hari nanti
Pastikan bercahaya
Pintu akan terbuka
Kita langkah bersama
Di situ kita lihat
Bersinarlah hakikat
Debu jadi permata
Hina jadi mulia
Suatu hari nanti
Pastikan bercahaya
Pintu akan terbuka
Kita langkah bersama
Di situ kita lihat
Bersinarlah hakikat
**
Seiring selesainya lagu dari Iklim santapan makan siang pun telah habis tak tersisa.
Para gadis membereskan semua peralatan makan siang mereka yang ada di atas karpet dan di sisihkan ketepi.
Kenikmatan yang tiada tara, menikmati santapan ala pedesaan di tengah-tengah persawahan dengan hembusan angin menambah aura tersendiri bagi mereka yang menikmati.
Sehabis menyantap makan siang mereka kembali bercerita bersenda gurau.
Dibalik senda gurau mereka Bima memuji masakan bu Imah.
"Wah mantaap dan sedaaap masakan bu Imah dan bu Endang kalah chef resto bintang lima." Ucapnya.
"Alhamdulillah kalau kalian suka, ini hanya masakan kampung kok." Ucap bu Imah dengan senyuman.
"Masakan dari ibu walau masakan kampung tapi nikmatnya itu bu yang bikin berbeda dari masakan resto mahal." Ucap Bima.
Lama-lama disini dan menyantap masakan dari tangan bu Imah dan bu Endang bisa ndut nih aku hehehehe. " Ucap Bima lagi sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.
"Iya juga lama-lama kita disini pada subur semua hahahaa." Sahut Alex dengan gelak tawanya.
"Pantesan Biyan dan yang lain pada betah secara mereka selalu menyantap yang enak-enak gini." Ucap Radit.
"Gimana kedepannya kita makan di rumah bu Imah aja." Satria memberikan usul kepada teman-temannya.
"Good idea," Ucap Bima sambil menjentikkan jarinya.
"Bagus juga." Ucap Bram menimpali semua.
"Kalau Bram mah selalu bagus secara gitu Loch." Lolly menimpali.
"Hahahaaa." Mereka semua tertawa dan melihat ke arah Bram dan Bram hanya tersenyum kikuk dan mengusap rambutnya ke belakang.
"Enak aja memberikan ide keg gitu." Ucap Sherly dan mereka semua terdiam dari tawanya dan melihat ke arah Sherly.
"Emang kenapa Sher, lo gak setuju kita ikut menyantap masakan dari bu Imah." Sahut Radith.
"Iya emang kenapa kalau kita juga ikut menikmati masakan sedaap dari tangan bu Imah dan bu Endang." Ketua Bima.
"Eh.. Bukan gitu, kalau kalian mau ikutan ya kalian juga harus kasih uang belanja dong. jangan main kasih ide makan enak tapi gak mau ikut belanja." Terang Sherly kepada para cowok.
"Kalau itu mah gak usah khawatir pastilah kita kasih ya nggak guys." Ucap Radit dan di beri jempolan oleh teman-temannya.
"Ye.. Kalian main kasih ide-ide aja tanya dulu noh sama bu Imah dan bu Endang mereka mau nggak masakin buat kalian." Ucap Biyan sekenanya.
Bu Imah dan bu Endang yang sedari tadi hanya diam mendengar celotehan anak-anak barunya tersebut hanya tersenyum.
"Bu Imah... Ibu mau ya masakin buat kita-kita." Rayu Bima seraya mendekat ke bu imah dan memohon.
Bu imah yang mendapatkan rayuan dari Bima pun hanya tersenyum dan menjawabnya.
"Masakan ibu hanya masaknya kampung nak." jawab bu Imah.
"Kami gak peduli bu yang kami inginkan kami mau makan masakan ibu." Ucap Bima.
"Yaudah nanti ibu masakin juga buat kalian." Jawab bu Imah menyetujui permintaan mereka semua, dan mereka merasa bahagia.
Setelah berbasa-basi masalah makan dan masakan Bima pun berdiri dan keluar dari gubuk.
"huuuummm fuuuhh." Bima menghirup dengan dalam udara segar dan menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya seraya merentangkan kedua tangannya.
Cuaca hari ini sangatlah mendukung tidak terlalu panas.
"Hemmm... Habis makan perut kenyang mata mulai mengantuk.." Ucap Satria di sela-sela pembicaraan mereka.
Mereka semua ketawa mendengar celotehan Satria.
"Dasar lo Satria." Ucap Rudi dan menampilkan tangan nya ke bahu Satria yang duduk di sampingnya dan hendak merebahkan badannya.
"Lah emang iya kok." Jawab Satria asal.
Hari telah menandakan waktu dzuhur tiba, bu Imah dan bu Endang pergi ke arah irigasi untuk membersihkan diri mengambil wudhu.
Dimana pun bu Imah berada dia tak pernah melupakan ibadahnya, dia selalu membawa mukenah di dalam tas nya.
Karena gubuknya masih penuh dengan anak-anak barunya dia dan bu Endang menumpang sholat di gubuk sebelahnya.
Cempaka yang melihat ibunya akan menunaikan sholat ia pun ikut berdiri dan akan pergi ke irigasi untuk mengambil air wudhu dan dia ikut kemana ibunya berada dan menunggu ibunya selesai.
Begitu pula dengan para gadis yang melihat kemana arah Cempaka mereka pun mengikutinya dan menunggu secara bergiliran .
Sedangkan Para lelaki juga turut ikut dan mengambil wudhu di perairan irigasi tersebut dan mereka melakukan sholat berjamaah.
Setelah selesai menjalan ibadah sholat dzuhur mereka kembali bersenda gurau sebelum mereka pulang.
Bu Imah dan Bu Endang pamit kepada mereka semua untuk kembali ke ladang yang berada di sebrang sebelah utara persawahan.
Ditengah senda gurau tersebut ponsel Biyan bergetar dan dia melihat di layar ponsel kalau ada panggilan masuk yang ternyata adalah Tantenya.
Biyan pun berdiri dan menjauh dari teman-temannya untuk menerima panggilan tersebut, Biyan menerima panggilan cukup jauh dari teman-temannya dia menerima panggilan tersebut di pinggiran Irigasi.
Cukup lama Biyan menerima panggilan tersebut, dan Bram melihat Biyan begitu lama menerima panggillan dia pun menyusul Biyan.
"Bi.. Ada apa?" Tanya Bram setelah dia dekat dengan Biyan dan melihat Biyan menangis.
Biyan kaget melihat Bram sudah berada dekat dirinya, dan dia pun langsung menghamburkan dirinya memeluk Bram dan menangis dalam pelukan Bram.
Bram menerima pelukan Biyan dan mengelus punggung Biyan untuk menenangkannya.
Biyan masih tersedu dalam pelukan Bram.
Para lelaki telah merebahkan diri mereka dan akan mengakhiri rasa kantuk mereka.
Cempaka mengajak para gadis lainnya untuk beristirahat di gubuk sebelah tempat mereka menumpang sholat tadi dan mereka pun menuju kesana dan ikut merebahkan diri.
Disaat meniti pematang sawah menuju gubuk sebelah, kaki Cempaka terpeleset dan membuat kakinya kotor.
Cempaka pun hendak mencucinya sebelum dia ikut merebahkan badannya dengan yang lain.
Cempaka berjalan menuju Irigasi untuk membersihkan kaki dan celananya yang kotor, dari kejauhan Cempaka melihat Bram sedang berpelukan dengan Biyan.
Apakah Cempaka akan melabrak mereka?
Bab kali ini segini dulu ya riders ku, nanti kita sambung lagi. selamat siang Assalamu'alaikum.
JANGAN LUPA DUKUNGAN DAN JEJAK KALIAN
VOTE.
RATE⭐⭐⭐⭐⭐
LIKE❓❓❓❓❓
KOMEN
MAKASIH💟💟💟