
Hari telah berlalu, senja berganti malam semua insan di sebuah rumah merehatkan diri dari kepenatan.
Kehangatan sebuah keluarga yang begitu terasa membuat tiga orang anak gadis merasakan apa itu keluarga, terlihat sendu dimata mereka melihat kebersamaan dua orang insan yang saling memberikan kasih sayang secara tulus.
Mereka merasa iri melihat bu Imah mengelus rambut Cempaka yang mana Cempaka berbaring di pangkuannya.
Yah mereka tinggal bersama keluarga mereka namun mereka tak pernah merasakan kebersamaan di dalamnya.
Mereka terlahir dari keluarga yang bergelimang harta namun mereka tak merasakan kehangatan seperti di rumah ibu imah.
Bu Imah secara tak sengaja melihat ketiga anak gadis itu meneteskan buliran bening di pipi, bu imah merasa mereka seakan kesepian atau merindukan keluarga mereka.
Bu Imah pun merentangkan tangannya untuk memberikan pelukannya kepada mereka, mereka yang melihat bu imah merentangkan tangan dengan spontan pun mereka menghambur mendekat dan memeluk bu Imah.
Mereka meluapkan emosi dalam diri mereka di pelukan bu Imah, mereka menangis dan membuat bu Imah keheranan kenapa mereka menangis dan bu imah pun bertanya ada apa gerangan.
"Kenapa kalian menangis?" Ucap bu Imah sambil mengelus rambut mereka satu persatu.
"Bu.. Izinkan Biyan memeluk ibu terus ya?" Ucap Berliana yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Izinkan Sherly juga ya bu.. huhuhuhu.." Ucap sherly dan sama semakin mengeratkan pelukannya dan terus menangis.
Begitu pula dengan Sintya dia juga meminta izin agar bisa dapat memeluk bu Imah.
Bu Imah pun melepaskan pelukan-pelukan mereka serta menghapus air mata mereka satu persatu, Cempaka pun duduk di antara mereka melihat mereka dengan bingung.
"Apa kalian merindukan orang tua kalian?" Tanya bu Imah.
"Kita selalu merindukan mereka bu, tapi mereka belum tentu merindukan kami." Ucap Berliana mewakili teman-temannya.
"Kenapa begitu kak?" tanya Cempaka bingung.
"Iya kenapa bisa begitu, gak ada namanya orang tua tidak merindukan anaknya." Ucap bu Imah.
"Mereka sibuk dengan dunia mereka buk, hiks hiks hiks.. Mana mungkin mereka ingat kepada kami." jawab Sintya dengan tersedu.
"Iya buk, kami bertiga bernasib sama kami punya orang tua tapi kami tidak merasa mereka ada dekat kami.. Hiks hiks hiks.." Sherly menimpali.
"Kami dibesarkan oleh ART kami bu, ART kami yang lebih paham akan diri kami." Ucap Berliana.
Bu Imah dan Cempaka mendengar keluh kesah mereka menjadi iba, secara mereka orang kaya yang mana seharusnya bisa memberikan apa yang di butuhkan oleh anak-anak mereka.
"Sudah jangan menangis lagi, jika kalian mau anggap aja ibu ini orang tua kalian." Ucap bu Imah dengan tulus.
"Iya kak anggap lah kami keluarga kakak." Ucap Cempaka pula.
Mereka mendengar ucapan dua beranak tersebut langsung memeluk mereka penuh kasih sayang.
Hari semakin larut bu Imah menyuruh mereka untuk segera tidur, agar besok mereka tidak kesiangan dan telat menjalankan tugas mereka.
Mereka pun beranjak masuk kamar namun sebelum mereka masuk sekitar lagi mereka memeluk bu Imah dan bu Imah pun balas pelukan mereka dan menciumi kepala mereka satu persatu dengan lebih kasih sayang.
Mereka telah terlelap dan terbuai di alam mimpi dengan perasaan bahagia.
******
Seperti biasa bu Imah terbangun di dini hari dan dia selalu menjalankan sholat sunnah dua rakaat dan setelah mendengar suara adzan dia langsung melaksanakan sholat wajib dua rakaat.
Anak-anak gadis pun telah bangun dan menjalankan perintah illahi.
Setelah kewajiban kepada sang Khalik dilaksanakan, mereka melakukan rutinitas seperti sebelumnya memasak dan membersihkan rumah.
Hari ini bu Imah sengaja sarapan bersama mereka semua, sangat sejuk di pandang mata kebersamaan yang tak pernah mereka dapatkan.
Sehabis sarapan bu Imah pamit untuk pergi menuju ladang dan sawahnya, tak lupa mereka menyalaminya dan mereka mendapatkan kecupan hangat dari bu Imah.
Suasana yang sangat mengharu biru bagi mereka yang nyaris tak mendapatkan hal sepele seperti itu.
Seperti anak bu Imah mereka membersihkan peralatan dan piring bekas makan mereka sebelum mereka pergi ke balai desa untuk bertemu dengan team lainnya.
Tiga gadis dari rumah bu Endang pun datang untuk mengajak mereka semua agar segera berangkat menuju Balai Desa dan mereka pun pergi bersama berjalan kaki di pagi hari sepanjang jalan mereka selalu bersenda gurau dengan hangat.
Sesampai di Balai Desa mereka mendiskusikan perencanaan mereka hari ini, dan mereka semua mengambil kesepakatan bila hari ini mereka akan pergi ke sawah untuk melihat Irigasi persawahan .
Seperti yang di intruksikan oleh Kades mereka akan pergi ke sawah di temani oleh Mila dan Cempaka.
"Yaudah ayo kita berangkat sekarang." Ucap Bima.
"Oke.. Aku siapkan dulu mobilnya, ayo Sat kita ambil mobil." Ajak Alex.
"Oh ya Cempaka sawah nya jauh ya dari sini?" Tanya Rudi.
"Emm lumayan kak, kurang lebih 45 menit." Jawab Cempaka diiringi dengan senyuman manis yang menampakan dua lesung di pipinya.
Alex dan Satria sudah tiba di Balai Desa dan mereka pun membagi dua kelompok, Mila ikut dengan rombongan Alex karena dia Sebagai petunjuk jalan di rombongan Alex yang terdiri Alex, Sinta, Mila, Rudi, Lolly, Tika, dan Radit.
Sedangkan Cempaka ikut dengan rombongan Bram yang terdiri dari Bram, Bima, Satria. Sherly, Berliana, Sintya dan Cempaka.
Mereka semua menaiki mobil dan segera berangkat menuju persawahan yang terletak di bawah kaki bukit.
Sesampainya di sana mereka tertegun melihat keindahan ciptaan Tuhan yang tiada tandingannya.
"Subhanallah maha besar Allah akan segala nikmatnya." Ucap Bram yang kagum akan keindahan panorama persawahan di desa ini.
"Hemmmm... Sejuukk nya." Ucap Bima sambil merentangkan tangan dan menghirup dalam udara segar di sana.
"Wah segaarr nya.. Makin betah aku disini." Ucap Berliana dan di sambut anggukan dari teman-temannya.
Mereka berjalan memasuki oerwahan dan melewati pematang-pematang sawah.
Disana sudah terlihat para petani sudah memulai aktifitas mereka, ada yang sedang menyemprot ada juga ibu-ibu yang sedang mencabuti rumput.
Mereka terus berjalan melihat-lihat rutinitas para penduduk desa ini di sawah, tak lupa pula mereka mengabadikan dengan jepretan kamera.
"Oh ya Cempaka sawah ibu yang mana lagi?" Tanya Berliana.
"Disana kak." Jawab Cempaka dan menunjuk ke arah yang ada gubuk kecil di tengah hamparan padi-padi.
Mereka terus berjalan dan menghampiri Ibu di pondok namun ibu tidak berada disana.
"Loh kok ibu gak ada Cempaka?" Tanya Sherly.
"Mungkin ibu ke ladang sayur kak." jawab Cempaka.
"Ladang sayur di mana, emang beda-beda ya tempatnya." Tanya Berliana.
"Iya kak, kalau ladang sayur ada di sebelah sana." Tunjuk Cempaka.
"Jauh juga ya kenapa gak berdekatan aja nanam sayurnya." Tanya Lolly.
"Tempatnya yang tidak memadai kak, karena di bagian ini berair seperti rawa jadi sama penduduk di jadikan persawahan, nah disana tempatnya sedikit tinggi jadi para penduduk jika bertanam sayuran-sayuran di sebelah sana.." Jelas Cempaka.
Mereka bertemu sapa kepada setiap penduduk yang mereka temuin di sepanjang sawah yang sedang melakukan rutinitasnya.
Mereka terus berjalan menelusuri setiap petak persawahan dan mereka juga melakukan interview kepada para petani yang mereka temuin sebagai riset dari tugas mereka.
Matahari telah menjulang tinggi, namun tak terasa hangat di kulit mereka karena angin yang berhembus di setiap sisi lahan persawahan.
Para petani yang berkerja di sawahnya beristirahat sekedar mengisi amunisi penambah tenaga mereka.
Mereka mengajak anak-anak yang sedang melakukan riset tugas KKN untuk ikut makan bersama mereka, namun rombongan kami menolak secara halus.
"Mari dek istirahat dahulu kita makan seadanya bersama," Ajak salah satu Bapak-bapak yang ada di sana.
Mereka berjalan keluar dari hamparan sawah menuju mobil mereka dan akhirnya mereka beranjak untuk kembali ke rumah.
Berliana dkk melihat para petani sedang makan bersama di tengah hamparan persawahan yang begitu nyaman di pandang.
"Emm gimana besok kalau kita meriset ke sawah lagi bawa bekal makan siang," Ucap Berliana memberikan ide kepada teman-temannya.
"Iya bagus juga tuh, kayaknya enak deh makan bersama seperti mereka tadi." Jawab Bima.
"Setuju, jadi kalian para cewek yang masak dan mempersiapkan segalanya ya." Ucap Alex menimpali dengan sumringah dan memainkan kedua alisnya..
"Boleh-boleh aja, tapi kalian harus belanja untuk bekal kita besok, gimana?" Ucap Sherly sambil menunjuk ke arah mereka para lelaki dengan tatapan intimidasi.
"Siapa takut.." Jawab Satria acuh.
"Oke kita belanja dan kalian yang memasaknya, deal.." Ucap Rudi sembari mengulurkan tangannya tanda kesepakatan telah di buat.
"Oke, deal.." Ucap Berlian dan menerima uluran tangan Rudi.
"Yaudah sekarang kita langsung menuju kepasar membeli bahan-bahan buat bekal besok." Ucap Berliana.
"Oke lets go..?" Jawab Bima sambil mengacungkan kepalan tangannya ke udara..
Mereka pun naik ke mobil dan langsung menuju ke pasar tradisional.
Sesampainya di pasar mereka langsung menuju ke kios-kios, mereka memilih-milih bahan apa yang akan mereka masak buat bekal esok hari.
Dengan bahagianya mereka memilih sesuai selera mereka. Para lelaki membeli berbagai macam ikan dan ayam, dan yang perempuan memilih bumbu-bumbu serta bahan lainnya.
Begitu banyak nya tentengan di tangan mereka para lelaki dan mereka menyerahkan bahan-bahan yang mereka beli kepada para gadis.
Mereka telah selesai belanja dan perut mereka merasa keroncongan mereka pun menuju kedai makan yang berada di pasar tersebut.
Makan siang selesai dan mereka menuju pulang dan tak lupa mereka mengantar para gadis ke rumah bu Imah, namun sebelumnya mereka mengantar Mila terlebih dahulu kerumahnya.
Sesampainya di rumah bu Imah, para lelaki duduk di bawah pohon jambu sambil rebahan sedangkan para gadis membersihkan ikan dan ayam serta menyimpan bahan-bahan yang dibeli tadi ke dalam tempatnya masing-masing.
Sore hari menjelang bu Imah sampai rumah dan melihat para anak laki tertidur dengan nyenyak di bawah pohon jambu.
"Assalamu'alaikum." Salam bu Imah.
"Waalaikumsalam, bu." Ucap Cempaka.
"Mana yang lain kak?" Tanya bu Imah sembari masuk kedapur, karena ibu Imah pulang langsung lewat pintu dapur.
"Ada bu, tuh di ruang tengah pada ketiduran." Jawab Cempaka.
"Loh kok gak di suruh masuk kamar kak." Tanya bu Imah kembali sembari menaruh beberapa sayuran dan ikan yang dia bawa dari ladang.
"Itu juga yang laki-laki kenapa gak di suruh masuk aja tidurnya." Tanya ibu lagi.
"Ya gak enak lah buk, masa laki-laki masuk rumah." Jawab Cempaka.
Cempaka dan ibu membersihkan sayuran dan akan memasak buat makan malam nanti.
"Jadi tadi kalian kesawah?" Tanya ibu.
"Jadi bu, tadi mereka juga kesawah kita tapi gak ada ibu di sana." Jawab Cempaka.
"Iya tadi ibu bantu bu haris memanen sayuran di ladangnya, nih tadi di kasih sama bu Haris." jawab bu Imah serta menunjukan sayuran yang di beri oleh bu Haris.
"Oo.. jadi kita masak apa bu malam ini." Tanya Cempaka.
"Itu ikan dari mana buk, banyak amat." Tanya Cempaka kembali.
"Itu ikan tadi ibu beli dari bapak-bapak yang menjaring ikan di pinggiran pengairan sawah tadi, sana kamu bersihkan ikannya." Ucap Ibu dan menyuruh Cempaka membersihkan ikan.
"Kita bakar ikan aja ya bu, buat lauk malam ini?" Ucap Cempaka sembari membawa ikan ke belakang untuk di bersihkan.
"Boleh juga, biar ibu siapkan bumbunya, oh ya terasi kita masih gak nak." Ucap Ibu.
"Masih bu tadi Cempaka juga beli lagi kok di pasar."
Ibu mempersiapkan bumbu-bumbu untuk ikan bakar nya dan mempersiapkan bahan untuk sambal terasi nya.
Ikan sudah dibersihkan oleh Cempaka dan Cempaka langsung melumuri ikan dengan
perasan air jeruk nipis dan garam, setelah itu Cempaka lumurin dengan bumbu yang di buat ibu.
Disaat Cempaka melumuri ikan Berlian dan yang lain bangun. Berliana langsung menuju dapur dan dia melihat ibu sudah pulang dan sudah berkutat di dapur, ia pun langsung .
mendekat ke ibu.
"Ibu udah pulang. " Tanya Berliana basa-basi
"Sudah nak." Jawab ibu dengan tersenyum.
Yang lainpun ikut gabung di dapur.
"Yah Cempaka kok kita gak di bangunin sih." Ucap Sintya.
"Iya gak enak kita jadinya." Timpal Santi.
"Masak apa kita bu?" Tanya Berliana
"Rencana mau masak ikan bakar sambal terasi ma lalapan aja kak." jawab Cempaka.
"Yaudah bakar ikannya biar kita-kita ya.'' Jawab Lolly.
"Sini ikannya Cempaka." Ucap Tika.
"Nanti dulu kak, biarkan dulu bumbunya meresap." Jawab Cempaka.
Sambil menunggu bumbu ikan meresap mereka membuat camilan sore.
Yah tadi ibu bawa Ubi dari ladang maka dari itu mereka menggoreng ibu sebagai camilan sore.
Mereka mengupas dan membersihkan ubi setelah itu di lumuran garam agar umbinya menjadi gurih.
Sebagian dari mereka menggoreng Ubi, dan sebagian membersihkan rumah.
Setelah membersihkan rumah Tika, Lolly dan Sinta pamit dahulu pulang ke rumah bu Endang untuk mandi, dan tak lupa mereka membangunkan para lelaki yang tertidur pulas di bawah pohon jambu.
Ubi goreng telah selesai di goreng dan mereka juga membuat teh.. teh panas dan Ubi goreng pun telah tersaji.
Api buat bakar pun telah siap untuk di gunakan dan saatnya mereka membakar ikan.
Aroma ikan bakar menggelora menusuk ke rongga hidung sehingga mengundang para lelaki bergabung untuk membakar ikan.
jadilah mereka membakar ikan bersama dengan rasa bahagia.
sambal terasi dan lalapan pun telah di siapkan.
Menu makan malam mereka hari ini ikan bakar, sambal terasi dan lalapan menu sederhana pengunggah selera.
Mereka semua makan malam di rumah bu Imah termasuk bu Endang, mereka menikmati santapan sederhana dengan penuh kehangatan kekeluargaan.
_________TBC________
JANGAN LUPA DUKUNGAN DAN TINGGALKAN JEJAK KALIAN
VOTE
RATE⭐⭐⭐⭐⭐
LIKE
KOMEN