FLOWERS

FLOWERS
Cerita Pak Ramlan



Bu Imah dan Cempaka telah sampai di pusara ayahnya Cempaka.


"Assalamu'alaikum ayah." Ucap Bu Imah dan Cempaka duduk di kedua sisi pusara tersebut.


Bu Imah dan Cempaka langsung membaca al-fatihah dan membaca Yassin serta do'a-do'a lainnya.


Sehabis membaca surah yassin dan do'a bu imah dan Cempaka membersihkan sekitar makam sangat ayah.


Bu imah dan Cempaka belum menyadari keberadaan Bram yang masih berdiri di belakang mereka.


Mereka berdua terus fokus membersihkan makam, mencabuti rumput-rumput liar yang sudah tumbuh di sekitarnya.


Cempaka sambil membersihkan, dia pun berkata seolah-olah dia sedang berkata kepada sang ayah.


"Ayah, maafkan Cempaka baru datang tempat ayah sekarang."


"Yah, ibu sudah menceritakan semuanya sama Cempaka, insya Allah akan Cempaka laksanakan keinginan ayah."


Saat bersamaan pun bu imah juga berkata namun hanya dalam hatinya.


"Yah, ibu sudah katakan semua kisah hidupmu dan keinginan ayah kepada Cempaka."


"Sekarang Cempaka anak kota sudah besar yah, bentar lagi dia akan ujian nasional."


"Putri kecil yang selalu membanggakan kita yah, dia akan selalu menjadi kebanggaan kita."


"Yah beberapa hari lagi Cempaka ujian nasional yah."


"Semoga Cempaka mendapatakan nilai bagus dan dapat beasiswa ya yah."


Disisi Bram, dia melihat interaksi anak dan sang ayah walau hanya tinggal nama itu kelihatan dimatanya sangatlah hangat, Bram berpikir mungkin semasa hidup mereka penuh dengan kehangatan dalam keluarga.


Bram yang melihat bu imah dan Cempaka membersihkan rerumputan diapun akhirnya ikut jongkok di samping bu Imah dan ikut membantu membersihkan makam.


Bu Imah yang merasa ada seseorang disampingnya kaget dan diapun menolah ke arah samping.


"Loh nak Bram masih disini?" Tanya bu Imah yang tidak percaya jika Bram masih setia menunggu mereka.


"Iya bu." Jawab Bram dengan tersenyum dan terus mengambil sampah-sampah daun yang berserakan.


Cempaka hanya melihat sekilas dan terus mencabuti rumput yang berada di atas pusara ayah dan bergumam dalam hatinya.


"Yah, lihat deh itu namanya Bram yah." Cempaka bergumam seolah memperkenalkan Bram kepada sang ayah dan dia sesekali melirik ke arah Bram.


"Yah, dia pernah nyatakan sayang dan cinta ma cempaka yah,"


"Tapi ternyata dia udah ada yang punyašŸ˜”."


"Ayah tau nggak siapa orangnya, hmmm... Dia kak Biyan yah yang ada di rumah kita."


"Kak Bram sama kak Biyan orangnya baik yah. maka dari itu lebih baik cempaka yang ngalah."


"Oh ya yah. nanti Cempaka mau pulang ke kos san."


cempaka yang sedang bergumam mengatakan kosan dia pun teringat kalau dia akan berangkat jam 9 ini dan dia langsung melihat ke arah jam tangannya.


"Astagfirullah."


Bu imah yang mendengar anaknya beristighfar pun bertanya sedangkan Bram hanya melihat tanpa ikut bertanya.


"Ada apa kak?"


"Ehm, bu ayo kita pulang udah jam 8 kurang bu." Jawab Cempaka dan langsung berdiri dan menghampiri bu imah dan menggandeng tangan bu Imah.


"Eh yaudah ayo kita pulang, yok nak Bram." ucap bu Imah dan di anggukan oleh Bram.


"Yah kita pulang dulu ya assalamu'alaikum." ucap Cempaka.


Bu Imah dan Cempaka langsung berjalan dan Bram masih berada di makam.


Bram melihat makam ayah cempaka dan dia pun jongkok di samping pusara dan berkata.


"Yah ... Saya Bram,"


"Yah... Bram minta izin Bram ingin menjadikan anak ayah cempaka menjadi pacar halalnya Bram kelak ya yah,"


"Bram janji akan menyayangi dan mencintainya. dan Bram janji kelak akan melindungi ibu dan Cempaka."


"Yah Bram pamit dulu. assalamualaikum."


Selesai Bram berkata seolah dia meminta izin kepada sang ayah itupun diaenyusul bu imah dan Cempaka yang sudah nyampai dulu di mobilnya.


Bram merasa dah puas mengeluarkan keinginan hatinya, dia juga akan melaksanakan janjinya kepada pusara sangat ayah,l bahwa apapun yang terjadi dia akan selalu bersama Cempaka.


"Nak Bram, maaf karena terburu-buru nak Bram jadi ketinggalan di belakang." Ucap Ibu yang melihat Bram telah sampai di mobil.


"Eh gak apa bu, mari masuk bu." Jawab Bram dan membukakan pintu mobil untuk ibu dan Cempaka. Mereka pun pulang kerumah.


Sesampainya di rumah, bu Imah, Cempaka dan Bram turun dari mobil.


"Makasih ya nak. udah ngantar pergi ke makan dan udah ngantar pulang pula." Ucap Ibu.


"Sama-sama Bu." Jawab Bram yang mana matanya selalu menuntut ke arah Cempaka yang setia dengan diamnya.


"Ibu jadi merasa merepotkan nak,"


"Nggak bu, ibu nggak merepotkan Bram bu, malah Bram senang melakukan hal itu." jawab Bram dengan tulus.


"Nak Bram masuk masuk dulu?" bu Imah berbasa-basi basi kepada Bram.


"Eh gak usah bu, Bram mau menyusul teman-teman Bram." jawab Bram dan langsung bersalaman kepada bu Imah dan mencium punggung tangan bu Imah.


"Bram pamit ya bu, dek, assalamualaikum."


"Iya..Waalaikumsalam hati-hati di jalan." ucap Ibu dan dia nggukan kepala dan senyuman oleh bram.


"Alhamdulillah akhirnya pergi juga." Ucap Cempaka abis mengeluhkan dadanya.


"Husss kamu ini kak, bukannya ngucapin terimakasih malah ngomong gitu." Sahut bu Imah yang berlalu membuka pintu rumah.


"Hehehe lupa bu ngucapinnya.. Tapi kan udah diwakilkan ma ibu." Jawab Cempaka dengan menggandeng lengan bu Imah dan menaruh kan kepala nya di bahu Imah dengan manja.


"Ibu jadi mau keladang?" Tanya Cempaka yang melihat jam tangannya sudah jam setengah sembilan.


"Gak kak, ibu dirumah aja hari ini." jawab ibu.


"Yaudah bu, Cempaka masuk kamar dulu ya." Ucap Cempaka dan langsung masuk kedalam kamarnya.


Begitu pula dengan bu Imah dia pun masuk kekamarnya, bu Imah duduk di tepi ranjangnya dan menatap foto mendiang suaminya.


"Pak, hari ini anakmu akan pergi lagi pak, baru satu minggu ibu bersama dia pak, sekarang mau pergi lagi."


"Tapi untungnya pak, rumah kita lagi rame jadi ibu gak merasa kesepian."


"Gimana kalau nanti Cempaka kuliah ke kota ya pak."


Bu Imah bergumam seolah mengadu kepada sang suami, tak terasa butiran beningnya jatuh di pipi mulusnya.


Yah walau bu Imah sering kesalahan dan ladang dia selalu merawat kulitnya dengan ramuan tradisonal sehingga di usianya yang masuk kepala empat bu Imah masih kelihatan awet muda.


Setelah sang suami meninggal banyak orang yang ingin mempersunting bu Imah, tapi bu Imah menolaknya, karena bagi bu Imah menikah hanya cukup sekali dan dia harus fokus kepada Cempaka.


Paras cantik bu Imah menuruni ke anakny walau waran kulitnya tak begitu putih namun halus dan bersih.


Tak lama terdengar suara mobil di perkarangan rumah bu Imah pun keluar dari kamarnya dan membuka pintu.


Bu Riana dan suaminya turun dari mobil dan menghampiri bu Imah.


"Assalamu'alaikum bu imah." Ucap bu Riana.


"Waalaikumsalam." Jawab bu Imah dan mempersilahkan mereka masuk dan mereka pun masuk.


"Mari bu, pak duduk dulu. saya panggilkan Cempaka nya dulu." Ucap bu Imah dan mempersilahkan tamunya duduk.


"Oh makasih bu." Jawab bu Riana.


Bu Imah mebgeyok kamar Cempaka.


tok tok tok


"Nak, bu ruang dah datang nih." Ucap bu Imah di balik pintu.


"Iya Bu." Jawab Cempaka dan dia punya langsung keluar kamar.


Bu Imah setelah memanggil dan memberitahukan kepada sang anak dia pun langsung menuju dapur untuk membuat minun.


"Dah lama bu,pak." Ucap Cempaka kepada bu Riana dan suaminya serta menyalami mereka berdua.


"Gak kok, baru sampai." Ucap bu Riana.


"Apa nak Cempaka dah siap?" tanya suami bu Riana.


Bu Imah masuk membawa nampan berisi Empat cangkir teh beserta brownies buatanya dan menyajikan ke atas meja.


"Mari bu, pak di minun dulu." Ucap bu Imah.


"Wah merepotkan aja bu," Jawab bu Riana.


"Nggak kok bu. cuma teh sama kue ini aja." Ucap bu Imah.


"Terimakasih, wah rajinnya bu Imah membuat brownies." Ucap bu Riana.


"Oh ini semalam Cempaka yang buat bu untuk di bawa ke kosan." Jawab bu Imah.


"Pinternya Cempaka." puji bu Riana.


"Ah nggak kok bu, ini juga ibu yang bantu." jawab Cempaka.


Merekapun menikmati brownies yang dibikin dadakan oleh Cempaka sama bu Imah saat semua orang sudah tertidur.


Yah sehabis Cempaka nyetrika bajunya dia memang merasa capek dan ngantuk akhirya dia pun tertidur tetapi tak berapa lama dia terbangun karena sang ibu masuk ke kamarnya.


Bu Imah masuk kamar sang anak ingin menanyakan apa sudah di persiapkan semua, bu Imah melihat sang anak ternyata tertidur niatnya ingin menyelimuti anaknya namun Cempaka terbangun.


Karena Cempaka terbangun dan gak bisa tidur mereka pun tiba-tiba ingin membuat brownis.


"Oh ya, bu Imah ikut kita juga nggak?" tanya bu Riana.


"Iya bu, ikut yok bu." sahut Cempaka.


"Iya bu kalau bu Imah mau kita berangkat bersama, nanti terserah ibu mau ikut saya ke kota atau tinggal bersama Cempaka." Ucap bu Riana.


"Nanti kalau ibu mau tinggal di kosan Cempaka pas pulangnya saya jemput. toh pulang juga pas melewati arah sana." Ucap bu Riana pula.


Bu Imah sebenarnya ingin namun ragu gimana dengan anak-anak di rumahnya.


"Saya sih kepingin bu. cuma gimana dengan anak-anak yang ada di rumah." Jawab bu Imah dengan ragu.


"Pesan aja nanti sama bisa Endang bu." Ucap Cempaka.


"Nah bagus juga gitu." Ucap bu Riana.


Lama bu Imah berpikir akhirnya dia pun setuju.


"Baiklah kalau gitu saya siapin baju saya dulu." Ucap bu Imah dan dia pun pamit untuk menyiapkan bajunya.


Sambil menunggu ibu menyiapkan bajunya bu Riana dan suami serta Cempaka mengobrol.


"Oh ya nak Cempaka kan mau ujian akhir ya?" tanya suami bu Riana.


"Iya Pak," jawab Cempaka.


"Setelah lulus mau lanjut kemana?" tanya nya lagi.


"Insya Allah mau lanjut ke kedokteran pak." Jawab Cempaka.


"Wah hebat kamu, semoga apa yang diinginkan ayahmu terkabul nak." ucap suami bu Riana.


Cempaka hanya melihat seolah ingin bertanya kok bapak bisa tau namun gelagat Cempaka terbaca oleh suami bu Riana.


"Dulu ayah mu pernah cerita sama Bapak dia ingin kelak kamu menjadi seorang dokter." Ucap suami bu Riana seolah mengingat apa yang di katakan oleh mendiang.


Flasback on


Pak Ramlan kagum melihat sosok pak Adi yang begitu rajin disela-sela dia seorang mantri di desa itu dia juga merangkul menjadi petani.


Pada hari libur seperti biasa pak Adi dan bu Imah pergi ke ladang begitu pula pak Ramlan yang merupakan staf dikantor desa dia juga pergi ke ladang beserta istrinya bu Riana, begitu pula pak Arman beserta bu Endang.


Disaat urusan ladang selesai pak Ramlan dan pak Adi pergi memancing.


"Yok pak Adi kita mancing di irigasi sebelah katanya banyak ikan mujaer nya." Ajak pak Ramlan.


"Ah masak pak," sahut bu Riana yang tak percaya.


"Iya bu, kemaren pak Karman memancing disana." Jawab pak Ramlan.


"Iya ku dengar juga gitu. banyak orang desa sebelah memancing bahkan menjala di irigasi sana." Timpal pak Arman.


Pak Arman adalah suami dari bu Endang.


"Yaudah ayok, kita coba kesana." Ajak pak Adi pula.


Mereka pun beranjak berdiri hendak pergi ke irigasi sebelah dan berpamitan kepada para istri.


"Yaudah bu ibu kita para suami ke sana dulu ya." Ucap pak Ramlan.


"Iya do'a kan kita biar dapat hasil pancingan yang banyak." Kata pak Arman pula.


"Assalamu'alaikum." Salam mereka para suami.


"Aamiin. Waalaikumsalam." jawab para istri.


Disaat mereka sampai ke irigasi tersebut mereka mulai memasangkan umpan pada kail nya dan sambil menunggu umpan di makan ikan mereka bercengkrama.


"Oh ya Di. aku salut sama kamu." jawab pak Ramlan.


"Salut kenapa Lan." Jawab pak Adi.


"Kamu itu loh udah pagi ke puskesmas kadang masih sempat pula pergi ke ladang bantu Imah."


"Imah juga salut aku ma dia, udah pagi ngajar pulang ngajar langsung ke ladang atau ke sawah." Puji pak Ramlan.


"Ya mau gimana lagi Lan, semua demi anak kita harus giat buat tabungannya. Kamu sendiri juga gitu kan?" Ucap pak Adi.


"Iya Di, apa lagi niken tahun ini dia lulus SD mau ke SMA." Jawab pak Ramlan.


"Nah kamu Man, gimana apa gak mau nyoba lagi." Tanya pak Ramlan kepada pak Arman.


"Terus nyoba aku Lan, tapi ya mau gimana belum juga diijabah ma Allah. Pa lagi Endang kandungannya lemah Lan," Jawab pak Arman.


"Ya kita sama-sama berdo'a semoga Endang segera hamil lagi." Ucap pak Ramlan.


"Aamiin." Jawab mereka serentak.


Bu Endang sudah 4kali hamil namun slalu keguguran karena bu Endang terindikasi gangguan pada rahimnya yaitu kelainan pada rahim atau disebut sindrom asherman.


Sindrom Asherman adalah terbentuknya jaringan parut pada rahim atau leher rahim. Kondisi ini membuat sisi dalam dinding rahim atau leher rahim saling menempel, sehingga ukuran rahim mengecil. Kondisi yang ringan dapat terjadi di area rahim yangĀ lebih kecil, sementara pada kasus yang parah, seluruh dinding depan dan belakang rahim menyatu. Akibatnya, penderita sindrom Asherman akan mengalami kesulitanĀ untuk hamil. Meskipun masih dapat hamil, janin akan menghadapi risiko, sepertiĀ keguguranĀ atau kematian dalam kandungan.


Sindrom Asherman yang juga dikenal sebagai perlengketan rahim ini tergolong penyakit yang jarang terjadi. Penyakit ini paling sering dialami wanita pasca operasi rahim.


Gejala Sindrom Asherman


Gejala yang umumnya dialami penderita sindrom Asherman adalah tidak mengalami menstruasi (amenorrhea). Sebagian penderita masih merasa nyeri seperti saat menstruasi, namun darah tidakĀ keluar. Kondisi ini berarti penderita tersebut mengalami menstruasi, namun darah tidak bisa keluar dari rahim karena terhambat jaringan parut.


Selain gangguan pada menstruasi, gejala sindrom Asherman juga dapat berupa kram atau rasa nyeri perut yang parah. Selain itu, penderita juga dapat mengalami kesulitan untuk hamil atau mempertahankan kehamilan (keguguran berulang). Ibu hamil yang menderita sindrom iniĀ akan diawasi secara ketat oleh dokter karena berisiko mengalamiĀ plasenta previa, serta perdarahan berlebihan. Kendati demikian, pada beberapa wanita, sindrom AshermanĀ tidak menimbulkan gejala apa pun. Siklus menstruasi pada sebagian penderita ini masih dapat berjalan secara normal.


Segala upaya dilakukan bu Endang dan pak Arman untuk mendapatkan momongan mereka selalu konsultasi kepada dokter spesialis.


"Oh ya kabarnya Raka gimana ya. dah lama tih anak gak pulang ke kampung kita." Tanya pak Arman untuk mengalihkan pertanyaan-pertanyaa lanjut tentang dirinya dan bu Endang.


"Iya tuh anak, pa kabar nya ya, oh ya di apa dia ada ngubungin kamu." Tanya pak Ramlan pula kepada pak Adi.


"Terakhir ya beberapa bulan lalu, sudah itu gak ada lagi." jawab pada Adi.


"Oh ya ngomong-ngomong kades kita mau diganti ya?" Tanya pak Ramlan.


"Iya, bulan depan terakhir dia dinas di desa kita." jawab pak Ramlan.


"Siapa penggantinya?" Tanya pak Adi.


"Gak tau, belum ada surat turun dari dinas mengenai pengganti nya siapa." Jawab pak Ramlan.


Pak Adi seorang mantri, pak Ramlan staf desa, pak Arman seorang guru SD dan pak Raka Atmajaya Seorang kades.


Mereka berempat bersahabat sejak SMA, SMA mereka sama dengan SMA anak-anak mereka saat ini yaitu SMA di kecamatan sebelah.


Sebelum tinggal di desa ini pak Adi tinggal di desa kecamatan itu karena waktu itu SK ibunya ternyata turun di desa tersebut, sehingga Adi dan ibunya tidak jadi pindah ke rumahnya di desa ini.


Kira-kira Siapakah kades baru nya yok terus ikutin cerita flower selanjutnya di bab cerita pak Ramlan part persahabatan .


**JANGAN LUPA DUKUNGAN DANN JEJAK NYA YA RIDERS FLOWER.


VOTE


RATE


LIKE


KOMEN


šŸ’–šŸ’–šŸ’–TERIMAKASIH šŸ’–šŸ’–**