
“Nachan hebat ya. Dia juga dikenal oleh kakak kakak kelas. Dengan keadaan seperti ini..kamu masih juga belum jadian dengannya! Nggak bisa dipercaya..” ucap Eliz kepada Alice.
“Habisnya..aku dan Nachan kan teman masa kecil..sekarang aku nggak tau harus gimana..” jawab Alice yang memang sebenarnya ia gelisah setelah mengetahui tentang perasaanya.
“Kamu nggak boleh gitu! Kamu harus berusaha! Makanya sekarang…” belum selesai Eliz berbicara namun Alice sudah pergi terlebih dahulu meninggalkan mereka.
“Eliz, jangan memaksa mereka. Mereka berdua pasti punya caranya sendiri. Cinta itu..seperti menekan sebuah tombol, kita nggak akan tau apa yang akan terjadi.” Jelas Koharu kepada Eliz. Karena ia merasa Eliz terlalu ikut campur kedalam urusan pribadi Nachan dan Alice.
“Aku hanya nggak mau melihat mereka menekan tombol yang salah” kata Koharu mencoba menjelaskan kepada Eliz maksudnya. Agar ia tak salah paham.
**Di sisi lain**
Saat Alice sedang berlari, ia tak sengaja bertemu dengan wali kelasnya. Alice dipanggil kedalam ruangannya, yang ternyata di dalamnya sudah ada Nachan sedang duduk.
Alice merasa senang melihat Nachan. Wali kelas memanggil mereka berdua keruangannya karena mereka berdua mendapat nilai yang paling rendah dari siswa lainnya. Dan Pak guru berencana untuk memberi mereka nilai tambahan dalam acara festival kebudayaan nanti. Guru memberitahukan mereka agar mereka berdua dapat menampilkan sesuatu saat acara sebagai nilai tambahan.
“Eh gimana kalau lomba model?!” ucap Nachan bersemangat
“Itu tergantung usahamu!” ucap Alice dengan nada meremehkan.
“Haha aku akan berusaha! Semangat!” jawab Nachan sangat bersemangat.
Namun kali ini Alice tak mendengarkannya. Karena mata Alice tertuju kepada pemandangan dibalik jendela ruangan Wali kelas. Pemandangan yang sangat indah. Bahkan kota tempat mereka tinggal juga terlihat. Itu karena gedung Wali kelas berada di Lantai 2 bangunan sekolah.
“Guru, itu bangunan apa?” tanya Alice saat melihat ada sebuah gedung di halaman belakang.
“Itu gedung perpustakaan dan gedung musik. Karena sudah tua jadi sudah tidak dipakai lagi” jawab Wali kelasnya.
Namun saat mereka sedang berbicara tiba tiba ada yang mengetuk pintu.
Tok tok tok
Kriettt
Ternyata Jasmine dan Dillan yang datang.
“Alice, Nachan, maaf sudah membuat kalian menunggu” ucap Jasmine kepada mereka. Melihat mereka yang datang Alice pun kaget dan hanya bisa tersenyum.
“Mereka berdua adalah perwakilan dari kelas khusus. Kalian berempat adalah anggota panitia festival kebudayaan” jelas sang wali kelas. Alice masih saja terdiam dengan pikirannya sendiri.
“Kenapaa harus dengan cowok menyebalkan ini? Padahal kan banyak yang lain di kelas khusus..” gumam Alice merasa kesal karena harus bertemu kembali dengan Dillan. Bahkan mereka satu kelompok.
Pak guru pun menjelaskan bahwa nilai Dillan dan Jasmine sangat bagus, dan beliau meminta mereka untuk membantu Alice dan juga Nachan. Mendengar ucapan gurunya membuat Alice kembali terkejut.
“Nilai rendah? Apa hanya segitu tingkat kecerdasanmu?!” sindir Dillan kepada Alice. Dan itu membuat Alice merasa malu. Bahkan membuatnya semakin membenci lelaki yang menyebalkan itu. Akhirnya pak guru pun menyudahi pertemuan itu. Mereka kembali ke kelas masing masing. Saat berjalan kembali menuju kelas, Alice terus saja mengutuk Dillan karena kesal. Bahkan Alice mengacuhkan Nachan saat Nachan sedang berbicara kepadanya. Hal itu membuat Nachan merasa kesal tanpa sebab.
Plukk
Nachan memukul kepala Alice tiba tiba.
“Nachan kenapa?” tanya Alice yang masih belum sadar dengan tingkahnya.
“Nggak apa apa” jawab Nachan dengan nada melemah.
“Alice selalu membicarakan Dillan, sewaktu aku sedang berbicara” ucapnya lagi.
Menyadari itu membuat Alice tersadar kalau Nachan sedang marah. Ntah mengapa melihat Nachan yang sedang marah Alice malah merasa senang. Mereka pun kembali kekelas dan melanjutkan pelajaran. Hingga jam pelajaran selesai. Saat pulang mereka tidak pulang bersama. Karena Nachan masih harus ikut latihan sepak bola.
Ntah mengapa Alice merasa sedih karema ia merasa Nachan sengaja tidak ingin pulang bersamanya. Tanpa disadari ternyata maasih ada Eliz sahabatnya di dalam kelas. Melihat Alice dan Nachan tidak ada perkembangan hubungan sama sekalu membuat Eliz merasa harus membantu mereka.
Alice pun pulang bersama Eliz. Sesampainya di rumah Alice mereka langsung menuju kamar Alice. Sementara Eliz terus memikirkan bagaimana caranya agar Nachan mau melihat Alice bukan sebagai teman masa kecil. Melainkan gadis cantik. Akhirnya Eliz menyarankan agar Alice mengubah penampilan agar terlihat lebih feminim.
“Eh,.. aku nggak cocok pakai dress ini” ucap Alice saat mencoba sebuah dress yang dipilihkan oleh Eliz.
“Nggak kok, kamu terlihat cantik. Bahkan terlihat lebih langsing” jawab Eliz yang memuji Alice. Sebenarnya Alice memang memiliki banyak gaun dan dress yang indah pemberian ibunya. Namun itu hanya disimpan oleh Alice didalam lemari tanpa pernah ia kenakan.
Eliz pun terus menyodorkan beberapa dress kepada Alice agar dicobanya. Hingga akhirnya ia menemukan satu dress yang terlihat sangat cocok untuk Alice. Sebenarnya Alice merasa bingung kenapa sahabatnya itu begitu semangat membantu Alice.
“Aku tahu aku terlalu ikut campur. Tapi…nggak mudah buat Alice menyadari cinta. Dan aku ingin membantu Alice” ucap Eliz yang tersadar bahwa dirinya terlalu ikut campur. Eliz merasa bersalah, namun ia ingin sahabatnya itu mendapatkan kebahagiannya.
Mendengar ucapan Eliz membuat Alice terharu. Karena ternyata sahabatnya saja begitu mementingkan perasaannya agar tidak menyerah.
“Aku akan berusaha!” jawab Alice bersemangat. Karena ia tidak ingin mengecewakan sahabatnya itu. Maka Alice pun akan berjuang untuk mendapatkan cintanya.
Haii semuanya. Sudah sampai episode ini semoga kalian suka yaa! oh iyaa jangan lupa likenya dan komennya ya. Juga vote dan rating tentunya 🤣😉💙.
Terima kasih!
Semoga sehat selalu 🤗😙😙