
Mendengar pernyataan cinta dari Alice membuat Nachan terkejut dan tak bisa berkata kata. Ia merasakan debaran di dadanya. Membuatnya bingung harus menjawab apa.
"Alice..." ucap Nachan terpotong karena Alice kembali berbicara.
"Nachan, maafkan aku. Aku tidak bermaksud merusak pertemanan kita. Hanya saja...
"Entah sejak kapan aku mulai merasakan perasaan ini" ucap Alice dengan kedua tangannya yang memegang dadanya karena terus saja berdebar.
"Alice...maaf. Aku hanya menganggapmu sebagai teman kecil saja" ucap Nachan tiba tiba.
Degg
Seketika Alice merasakan sakit yang teramat sangat. Hatinya terasa seperti tertusuk jarum. Air mata Alice menetes tanpa terasa. Entah mengapa Alice merasa kalau Nachan juga sebenarnya merasakan apa yang ia rasakan. Melihat Alice menangis membuat Nachan merasa bersalah.
"Maafkan aku Alice. Aku tidak bermaksud melukaimu. Sejujurnya aku juga merasakan hal yang tidak bisa kumengerti. Aku merasa selalu berdebar jika bertatapan denganmu. Hanya saja Jasmine..." gumam Nachan dalam hati. Nachan merasa ragu dengan apa yang dia rasakan. Di sisi lain Nachan merasa seperti tidak ingin Alice jauh darinya, tapi di sisi lain ada Jasmine yang terus membayangi pikirannya.
"Alice maafkan aku. kumohon jangan menangis lagi" ucap Nachan karena melihat Alice yang terus menangis. Nachan pun bermaksud ingin menghapus air mata Alice. Namun Alice menolaknya.
Plakk
Alice memukul tangan Nachan yang mendekat ke wajahnya. Nachan pun terkejut melihat Alice melakukannya. Karena ini pertama kalinya Alice menolak didekati Nachan.
"Hufft.. baiklah aku mengerti. Lupakan saja apa yang aku katakan tadi!" ucap Alice dengan senyuman dan mencoba untuk tegar.
"Tappi Alice..."
"Baiklah aku akan pergi. Maafkan aku telah mengganggumu" Alice pun pergi meninggalkan Nachan tanpa menoleh. Melihat Alice pergi begitu saja membuat Nachan merasakan sakit di hatinya.
"Aku benar benar minta maaf Alice" gumam Nachan sedih.
**Pagi Hari**
Hari ini Nachan dan Alice berangkat ke sekolah masing masing. Pagi sekali Nachan sudah pergi ke rumah Alice, namun ternyata Alice sudah berangkat lebih dahulu.
"Apa dia marah denganku? Aku sungguh tidak berniat melukaimu Alice" gumam Nachan yang terus merasa tidak enak atas penolakannya terhadap Alice.
.....
Di sekolah pun Nachan sama sekali tidak berbicara dengan Alice. Karena Alice terus saja menghindarinya. Bahkan saat Nachan sengaja menghampiri Alice di kantin, Alice malah pergi meninggalkannya tanpa berbicara.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Koharu bingung melihat mereka berdua seperti sedang bermusuhan.
"Mereka tidak pernah seperti ini sebelumnya!" ucapnya lagi.
"Entahlah! Aku juga tidak mengerti. Tapi sepertinya sesuatu terjadi di antara mereka" jawab Eliz yang juga bingung.
Selesai jam istirahat mereka kembali ke kelas dan melakukan aktivitas belajar seperti biasanya.
Hingga akhirnya jam pelajaran sudah usai. Kelaspun dibubarkan. Semua murid sudah keluar kelas. Tinggallah Alice dan Nachan di dalam kelas. Saat Alice beranjak bangun dari duduknya dan akan melangkahkan kakinya. Nachan mencegahnya dengan menarik tangannya.
"Tunggu Alice!" ucap Nachan berusaha berbicara dengan Alice.
"Kumohon lepaskan tanganmu!" pinta Alice. Nachan pun mengalah, dan melepaskan Alice. Alice kembali melangkah keluar kelas.
Deggg
Mendengar permintaan maaf Nachan membuat Alice menghentikan langkahnya. Tanpa terasa air mata Alice kembali menetes.
"Kumohon hentikan itu Nachan. Itu hanya membuatku merasa sakit mengingat kembali penolakanmu kepadaku" gumam Alice dalam hati. Alice pun bingung harus bagaimana.
"Huft! Baiklah. Tapi kumohon... jauhi aku!" pinta Alice tiba tiba. Karena menurutnya hanya dengan cara itu ia bisa melupakan perasaannya dan kembali menjadi Nachan dan Alice seperti dahulu. Walau terasa sulit bagi Alice, tapi ia berusaha tegar. Alice pun pergi meninggalkan Nachan sendiri.
Mendengar ucapan Alice membuat Nachan semakin merasa bersalah.
"Aku memang bodoh! Sungguh maafkan aku Alice. Aku tidak bermaksud melukaimu" ucap Nachan dengan suara pelan.
.....
Jasmine dan Dillan tanpa sengaja mendengar pertengkaran mereka saat dilorong kelas.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Dillan heran.
"Entahlah! bukan urusanku!" jawab Jasmine dan mereka pun melanjutkan kembali langkahnya untuk pulang ke rumah masing masing.
"Dia terlihat sangat sedih" gumam Jasmine tapa sadar saat ia melewati Nachan yang sedang bersedih.
Plakkk
Jasmine tiba tiba menampar pipinya sendiri saat menyadari apa yang dipikirkannya.
"Ah! Apa apaan sih!" ucap Jasmine kesal.
Dillan yang menyaksikannya pun hanya tersenyum kecil dan mengabaikannya. Mereka pun pulang masing masing ke arah yang berbeda.
Saat ditengah perjalanan, Dillan melihat sosok perempuan yang ia kenali sedang berada di taman yang tidak jauh dari sekolah.
"Sepertinya dia sangat sedih" gumam Dillan tanpa sadar mengkhawatirkan Alice. Entah mengapa Dillan rasanya ingin sekali menghampiri perempuan itu. Namun itu tak ia lakukan karena egonya. Dillan pun memikirkan sebuah cara untuk menghiburnya saat ia melihat ada penjual balon di sekitar taman. Dillan membeli semua balon yang ada dan meminta sang penjual untuk memberika nya kepada Alice sambil menunjuk ketemoat dimana Alice berada.
Penjual itu pun menghampiri Alice dan memberikan balon gratis kepada Alice. Penjual itu mengatakan bahwa sedang membagikan balon secara gratis. Alice yang awalnya bingunh akhirnya mempercayainya dan menerima balon tersebut.
"Terima kasih pak!" ucap Alice sambil tersenyum. Melihat Alice tersenyum membuat Dillan merasa sedikit lega.
"Ternyata dia memang seperti anak SD" ucap Nachan dengan sedikit tertawa kecil dan langsung pergi meninggalkan Alice seorang diri.
**Halo semuanya!
Jangan lupa like dan komennya ya π€
vote dan juga rating tentunya πππ
Terima kasih ! Semoga sehat selalu !
Salam hangat darikuπ**