
Mereka bertiga pun bergegas turun dari mobil.
"Pak tunggu sebentar ya. Saya nggak akan lama kok!" ucap Alice kepada Pak Nur sebelum melangkahkan kakinya turun dari mobil.
"Baik non. Saya akan menunggu di warung sana!" balas Pak Nur sambil menunjuk ke arah warung tak jauh dari lokasi.
"Baik pak nanti saya akan menghubungi bapak" ucap Alice. Dan pak Nur pun berputar arah menuju warung terdekat.
Tokk
Tokk
Tokk
Alice mengetuk pintunya namun tak kunjung ada jawaban dari sang tuan rumah. Alice pun kembali mengetuk pintu untuk kedua kalinya. Namun tak ada yang membukakan pintu. Alice pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi Tante Lani.
"Apa mungkin Tante Lani lagi sibuk ya" gumam Alice.
Namun saat Alice akan menghubungi nomor Tante Lani, pintu pun terbuka.
Brughh!
Alice menjatuhkan ponselnya saat terkejut dengan orang yang ada dihadapannya.
"Dillan!" ucap Koharu dan Eliz berbarengan yang juga ikut terkejut dengan adanya Dillan.
"Kalian! Kenapa kalian bisa ada disini?!" tanya Dillan merasa heran. Namun pandangan matanya tak lepas dari Alice yang sibuk mengambil ponsel dan membersihkannya.
"Kami mau menjenguk Tante Lani!" jawab Alice berusaha bersikap biasa.
"Kamu siapanya Tante Lani?!" tanyanya lagi.
"Aku? Siapanya Tante Lani? Itu bukan urusanmu bocah!" jawab Dillan meledek.
"Errgggghhh!" Alice merasa kesal dengan mengepalkan kedua tangannya ingin memukulnya.
"Dillan! Siapa yang datang nak?" suara dari dalam rumah. Yaa, suara Tante Lani yang sedang bertanya kepada Dillan.
"Bukan siapa siapa kok tan. Cuma orang salah alamat!" jawab Dillan.
"Kamu!" ucap Alice merasa sangat kesal.
"Sabar Alice sabar. Kita disini hanya untuk menengok teman mamahmu itu" ucap Koharu mencoba menenangkan amarah Alice.
"Tante! Ini Alice. Boleh Alice masuk?" teriak Alice kepada Tante Lani agar mendengarnya.
"Oh Alice sudah sampai. Suruh dia masuk Dillan!" ucap Tante Lani.
Mau tidak mau Dillan pun menuruti kemauan bibinya itu. Yaa, Dillan merupakan anak dari kakaknya Lina. Karena Tante Lina sedang sakit dan tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Maka ayahnya Dillan menyuruh Dillan agar menjenguk bibinya itu.
Alice dan kedua sahabatnya pun masuk ke dalam rumah melewati Dillan yang masih berdiri di samping pintu.
"Dimana kamar tante?!" tanya Alice jutek kepada Dillan. Dan Dillan menjawabnya hanya dengan mengarahkan jarinya menunjukkan dimana arah kamarnya. Alice dan kedua sahabatnya pun bergegas menuju kamar Tante Lani.
"Tante, ini Alice. Tante apa kabar? Tante sakit apa? Lalu siapa dia?" tanya Alice tanpa henti kepada tante Lani sambil menunjuk kearah Dillan berada.
"Alice satu satu nanyanya! Tante kan lagi sakit" balas Eliz merasa kasihan dengan keadaan tante Lani.
"Ah! Maafkan Alice tante. Alice cuma.."
"Iya iya nggak apa apa kok nak Alice. Dia itu keponakan tante. Dan soal sakit tante.."
"Tante sakit kanker darah!" sambung Dillan tiba tiba dan membuat Alice juga kedua sahabatnya tercengang.
"Apa mama tahu soal sakit tante?" tanya Alice tiba tiba
"Jangan sampai mamamu tahu nak! Tante dan mamamu sudah mengenal sejak kami kecil. Mamamu selalu baik terhadap tante. Bahkan saat mamamu sudah memiliki keluarga baru, dia tidak pernah melupakan tante. Dia memperkenalkan putri kecilnya kepada tante. Dia mengenalkan kamu kepada tante saat kamu masih bayi. Jadi tante tahu apa yang akan dilakukan oleh mamamu jika dia tau penyakit tante yang sesungguhnya" kata Tante Lani menjelaskan kisah persahabatan antara ia dan mamanya.
"Tapi tante..."
"Alice! Tante mohonn" ucap Tante Lani memohon.
"Baiklah.." jawab Alice pasrah.
"Tapi tante. Mengapa aku tidak mengetahui kalau tante memiliki seorang keponakan yang menyebalkan seperti dia?!" sambungnya lagi sambil menunjuk kearah Dillan.
"Kamuuu!" ucap Dillan kesal. Tante Lani hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua .
"Haha kalian ini seperti tom and jerry saja. Sudah sudah jangan bertengkar" ucap Tante Lani mencegah perdebatan Alice dan Dillan.
"Oh iya! Apa kamu tidak mau mengenalkan teman temanmu itu kepada tante, Alice?" tanya tante.
"Astaga! Maafkan Alice tante. Dia Eliz dan dua Koharu. Mereka kedua sahabatku" jawab Alice sambil menunjuk kearah mereka secara bergantian.
"Salam tante" ucap Eliz dan Koharu berbarengan menyapa Tante Lani. Dan Tante Lani menjawabnya dengan senyuman.
"Baiklah. Karena kalian sudah jauh jauh kemari. Mengapa kalian tidak mencoba menikmati pemandangan di desa tempat tante tinggal? Dillan akan menemani kalian" ucap Tante Lani.
"Sepertinya akan mengasyikkan. Yakan Koharu?" jawab Eliz sumringah dan mengajak Koharu.
"Emh! Mungkin. Bagaimana menurutmu Alice?" tanya Koharu kepada Alice.
"Kalian saja yang pergi. Aku akan disini saja menemani Tante!" jawab Alice menolak karena tidak ingin pergi bersamaan dengan Dillan.
"Tante tidak apa apa Alice. Kamu pergi saja dengan mereka. Selagi cuaca masih bagus. Karena sepertinya akan turun hujan nanti" ucap Tante Lani.
"Tidak tante! Alice sudah lama tidak bertemu tante. Alice ingun disini menemani tante" ucap Alice memelas.
"Aku juga ingin menjaga tante!" ucap Dillan tiba tiba. Dan membuat mereka yang ada kaget.
"Tidak tidak! Kau harus menemani mereka berjalan jalan" sahut Alice.
"Tidak! Aku ditugaskan ayahku kesini untuk menjaga tante. Bukan mereka!" bantah Dillan.
"Tapi mereka tidak tahu daerah sini!" balas Alice.
"Mereka kan sudah dewasa. Mereka bisa bertanya kepada penduduk sekitar" jawab Dillan.
Tanpa mereka sadari banyak mata yang sedang memperhatikan pertikaian mereka berdua. Tante Lani hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Alice dan Dillan yang terus berdebat. Sedangkan Eliz dan Koharu hanya bisa tertawa melihat mereka berdua.
"Mereka memang seperti tom and jerry yaa tan ahaha" ucap Eliz mendekat ke arah Tante Lani. Dan itu membuat Tante Lani ikut tertawa.
"Tidakkk!!" jawab Alice dan Dillan kompak. Membuat semua orang terkejut. Termasuk mereka sendiri.
"Aku tidak ingin bersama dengan dia!" jawab Alice.
"Siapa juga yang ingin bersama 'bocah sd' sepertimu?!" ledek Dillan.
"Kamuuuu!"
"Apaa?"
"Dasar cowok menyebalkan!"
"Oh!" jawab singkat Dillan .
Lagi dan lagi tanpa mereka sadari mereka berdebat kembali dan menjadi pusat perhatian.
"Lebih baik kita berjalan jalan keluar Koharu" ajak Eliz dengan suara berbisik.
"Iya! menyaksikan mereka berdebat seperti ini tidak akan ada habisnya" jawab Koharu.
"Tante maaf kami tinggal keluar dulu yaa. Mereka akan menemani tante" ucap Eliz sambil menunjuk kearah Alice dan Dillan yang masih bertengkar.
"Ahaha iya. Kalian pergi saja" jawab Tante Lani sambil tertawa.
"Kalian hati hati yaa! Jangan lupa pulang sebelum turun hujan." sambungnya lagi mengingatkan mereka. Eliz dan Koharu pun menggangguk menjawab Tante Lani dan langsung bergegas keluar.
Alice dan Dillan masih saja berdebat.
"Kenapa kamu terus saja memanggilku 'bocah sd' huh!" ucap kesal Alice.
"Lalu mengapa kamu juga terus saja menyebutku 'cowok menyebalkan'? tanya Dillan tak mau kalah.
"Karena kamu memang menyebalkan!" jawab Alice ketus.
"Dan kamu juga memang seperti anak SD!" sahut Dillan kembali meledek.
"Dilllaaaannn!!!" teriak Alice karena semakin kesal. Namun tiba tiba saja Tante Lani mencoba melerai perdebatan mereka.
"Sudah sudah! Apa kalian tidak lelah terus bertengkar? Dan kamu Dillan. Kamu ini lelaki harus mengalah" Ucap Tante Lani.
"Tuhh! Dengar apa kata tante" balas Alice merasa dirinya dibela oleh Tante Lani.
"Kan kamu yang mulai!" jawab Dillan.
"Kamu!" balas Alice tak mau kalah.
"Stop! Apa kalian nggak lelah terus bertengkar seperti ini?" ucap Tante Lani yang mulai merasa kesal.
"Iya tante maafkan Alice" Ucap Alice merasa bersalah.
"Iya tante maafkan Dillan juga" ucap Dillan.
"Eh! Eliz dan Koharu kemana tante? Kok mereka nggak ada?" tanya Alice saat menyadari kedua sahabatnya itu sudah tidak ada dirumah.
"Mereka pergi keluar. Kalian terlalu asyik bertengkar hingga tidak menyadari teman kalian sendiri pergi" ucap Tante Lani.
"Emh begitu ya" ucap Alice.
Lalu Tante Lani pun menyuruh Dillan untuk menyiapkan makanan malam untuk mereka berlima dan Pak Nur. Dillan pun menurutinya. Bahkan kali ini Alice secara sukarela mengajukan diri untuk membantu Dillan di dapur. Untuk pertama kalinya mereka dapat akur satu sama lain. Yaa, walaupun mereka berdua sibuk mengerjakan masakan masing masing dan tidak bertegur sapa.
"Ternyata dia bisa memasak juga" gumam Alice saat melihat hasil masakan Dillan yang terlihat lezat.
Yaa, itu karena memang sejak kecil Dillan sudah terbiasa membantu ibunya memasak. Biarpun lelaki, tetapi ia memiliki hobby memasak.
"Aww!" teriak Alice tiba tiba. Yaa, karena Alice terus saja melamun saat memikirkan bahwa Dillan bisa memasak juga. Dan itu membuat tangannya terluka terkena sayatan pisau.
Dan itu berhasil membuat Dillan tanpa sadar menghampiri Alice dengan khawatir.
"Ada apa? Apa kamu terluka?" tanya Dillan tanpa sadar memegang tangan Alice.
"Kenapa kamu ceroboh sekali? Memegang pisau saja bisa sampai terluka. Apa kamu bodoh?" sambungnya lagi saat menyadari luka yang ada di jari telunjuknya Alice.
"Tunggu disini!" ucapnya lagi dan bergegas mencari kotak P3k. Lalu membersihkan lukanya dan membalutnya dengan perban.
Menyaksikan perbuatan Dillan itu membuat Alice terkejut bahkan sampai tidak bisa berkata kata.
"Astaga! Apa ini si 'cowok menyebalkan' itu? Mengapa rasanya berbeda sekali?" gumam Alice dalam hati.
"Hey! Apa kamu melamun?! Pantas saja kamu terluka" ucap Dillan saat menyadari tidak ada jawaban sama sekali dari Alice. Dan itu berhasil membuat Alice kembali tersadar dari lamunannya.
"Terima kasih!" ucap Alice. Dan itu membuat Dillan tersadar dengan apa yang dilakukannya tanpa sadar.
"Apa yang kulakukan?! Mengapa aku mengkhawatirkannya tanpa sadar!" gumam Dillan merasa bingung.
"Emh itu hanya luka kecil" jawab Dillan lalu meninggalkan Alice.
"Kamu bodoh! Lain kali hati hati" ucapnya lagi sebelum pergi meninggalkan Alice.
Deg..
Mendengar ucapan Dillan yang mengatakan dirinya bodoh kembali membuat Alice mengingat Nachan. Bahkan tanpa disadari air matanya menetes mendengar kalimat tersebut. Dillan yang melihatnya merasa bersalah.
"Apa ucapanku terlalu kasar? Mengapa dia menangis?" gumam Dillan merasa bersalah namun enggan untuk menghampirinya kembali.
"Dia mengingatkan ku kepada Nachan" gumam Alice dalam hati dan terus menangis.
~☆☆☆☆~
Halo! Maaf lama nggak up karena alasan kesehatan. Mohon maaf lahir dan batin ya buat kalian.
Jangan lupa like dan komennya ya😉
Juga rate dan votenya 🤗
Terima kasih 💙
Semoga sehat selalu 🤗