First Love

First Love
Tidak ada yang berubah



“Kama bodoh! Tadi itu bahaya kan!” teriak Nachan kepada Alice yang tanpa sadar dirinya begitu mengkhawatirkan keselamatan alice.


Alice yang mendengarnya pun sedikit kaget, karena ini pertama kalinya Nachan begitu mengkhawatirkan Alice. Pertama kalinya Nachan sangat marah karena mencemaskan Alice.


“Jantungku..serasa berhenti” ucap Nachan yang memang merasakan jantungnya seakan akan berhenti saat melihat Alice dalam bahaya.


“Maa..maaf!” ucap Alice sambil menangis karena terharu


“Maafff huuuu” Alice menangis dan terus meminta maaf kepada Nachan karena telah membuatnya khawatir


Pletakkk.. Nachan memukul kepala Alice.


“Awww sakitt Nachann” ucap Alice sambil memegang kepalanya yang memang terasa sedikit sakit dipukul oleh Nachan. Tanpa mereka sadari, sedari tadi mereka berdua menjadi sorotan diatas panggung karena mereka terlihat begitu mesra.


“Wahhhhh jangan pamer kemesraan begitu dong..” ucap salah satu murid


“Iyaa nih mereka mesra banget. Cocok lagian” ucap murid lainnya.


Namun tanpa mereka sadari mereka berdua melupakan satu orang yang sudah pergi begitu saja.


“Kamu nggak apa apa Jasmine?”tanya Dillan saat melihat Jasmine tampak murung


“Iyaa aku nggak apa apa” jawab Jasmine dingin


Kejadian hari ini membuat Alice banyak berfikir. Nachan memang selalu seperti itu. Dia selalu ada saat Alice sedang kesulitan. Dia seperti superhiro buat Alice. Nachan merupakan teman masa kecil yang paling disukai oleh Alice.


**Sore hari


Keluarga Alice dan juga Nachan membuat pesta penyambutan untuk kedua anaknya yang baru masuk SMA itu. Mereka mengadakannya di rumah Alice.


“Selamat untuk Alice dan Nachan” ucap orang tua mereka berbarengan


“Terima kasihh” jawab Nachan sambil mencari cari seseorang


“Mama, papa Alice dimana? Kok nggak keliatan. Apa masih siap siap?” tanya Nachan


“Sebentar yaa biar tante panggilin” kata mamanya alice. Namun belum beberapa langkah berjalan sudah disusul oleh Nachan.


“Biar aku saja tante” pinta Nachan terus berjalan mencari keberadaan Alice.


Sesampainya dilantai atas pun Nachan terus menerus memanggil Alice namun tak ada jawaban.


Syuurrr


Terdengar suara air dari arah kamar mandi. Nachan pun berjalan menuju arah suara itu.


Krekk..Nachan membuka pintu kamar mandi


“Alice.. kamu ada di kamar mandi?” tanya Nachan saat membuka pintu kamar mandi namun tak ada jawaban.


Degg degg


Jantung Nachan dan Alice sama sama berdetak tak karuan saat itu juga. Sesaat Alice kembali mengingat apa yang dikatakan oleh sahabatnya waktu di sekolah.


“sebenarnya apasih yang berubah? Aku kan tetap aku. Nachan pun tetap nachan. Sekarang pun kami masih bersama. Kami berdua hanya teman masa kecil, karena ituu..seharusnya jantungku tidak berdebar seperti saat ini kan? Masa sih aku jatuh cinta sama dia” gumam Alice didalam hati yang bingung dengan apa yang dirasakannya.


“Ah apaan sih ini!” kata Alice


Sementara itu dilain sisi Nachan yang ada dibalik pintu pun kamar mandi pun hanya diam berdiri sambil memegang dadanya.


Nachan bingung mengapa jantung ia berdebar debar. Hingga akhirnya malam pun berlalu begitu saja.


**Pagi hari


Allice dan Nachan sama sama terus memikirkan apa yang terjadi semalam. Mengapa mereka masing masing merasakan debaran yang tak karuan. Bahkan Alice tidak bisa tidur semalam karena merasa gelisah.


Berbeda dengan Nachan yang tidur nyenyak karena ia tidak menganggap apa yang terjadi semalam serius.


“Pagi Alice” sapa Nachan yang menunggu Alice untuk berangkat ke sekolah bareng.


“Eh kenapa mukamu? Kok serius gitu? Ada apa?” tanya Nachan karena melihat muka Alice yang seperti kurang tidur.


Namun Alice tak menjawabnya .


“sudahlah .. ayo jalan” ajak Nachan mengalihkan


“*Di*a selalu seperti ini. Apa benar kata katanya waktu itu?” kata Alice dalam hati saat mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Nachan waktu di sekolah dan itu membuatnya merasa sedih.


Lain halnya dengan Nachan. Yaa sebenarnya Nachan juga masih memikirkan kejadian saat ia melihat Alice hanya mengenakan handuk. Namun Nachan berusaha mengalihkan pikirannya dengan mencoba memikirkan gadis lain. Karena Nachan sebenarnya juga tidak tau kenapa ia merasa berdebar debar mengingat itu. Bahkan pipinya pun terasa panas hingga merah merona (malu).


“Ini. Aku bikin makanan buatmu!” Alice memecahkan keheningan dengan memberikan kotak makanan kepada Nachan. Karena Alice ingin merekela kembali seperti biasanya.


“Alice memang pintar masak ya. Setelah makan masakanmu aku selalu jadi semangat!” kata Nachan sambil tersenyum.


Alice yang melihat senyuman itupun senang.


“ini senyuman nachan yang biasanya. Tidak ada yang berubah antara aku dan nachan” gumam Alice mencoba menenangkan diri karena merasa gelisah mengingat apa yang dikatakan oleh teman temannya.


Setibanya di dalam kelas, para siswi langsung mengerumuni nachan. Banyak diantara mereka bahkan yang meminta nomor ponselnya, atau bahkan memintanya untuk duduk sebangku. Mereka terus menggoda Nachan.


Bahkan tidak membiarkan Nachan untuk duduk terlebih dahulu. Yaa memang semakin dewasa Nachan semakin tampan. Hanya Alice saja yang tidak menyadarinya.


“Ah Nachan ternyata populer” kata Alice tanpa sadar dibelakangnya ada Eliz yang mendengarnya.


"Itu karena dia memang tampan. waktu SMP tidak ada perempuan yang berani mendekatinya itu karena kamu" jawab Eliz