
DSL 09 - Alice bercerita
Eugh
Suara lenguhan panjang terdengar dari mulut mungil Alice. Gadis kecil itu bangun dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Ia membuka mata, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Alangkah terkejutnya saat ia menyadari dimana ia berada saat ini.
"Ha, aku dirumah? Bukannya aku tadi masih di sekolah ya?" Gumam Alice. Kemudian gadis kecil itu menoleh ke arah jam dinding.
"Astaga, sudah jam satu? Bukannya tadi masih jam sepuluh ya? Kan baru saja pulang sekolah," tambahnya. Alice kemudian mengecek pakaiannya, ia masih lengkap menggunakan seragam sekolahnya Namum tidak dengan sepatunya.
"SUSTER LANI!" Teriak Alice. Setelah menunggu beberapa saat, pintu kamar tersebut dibuka. Nampak Suster Lani lah yang datang dengan napasnya memburu.
"Iya, Non? Non Alice sudah bangun?" Tanya Suster Lani seraya mendekat ke arah Alice. Alice hanya mengangguk, lalu duduk di pinggiran ranjang.
"Dimana Miss Abigail? Bukankah tadi kita bersamanya?" Tanya Alice. Suster Lani tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Tadi Non Alice tidur waktu di gendong Miss Abigail. Lalu Miss Abigail menyerahkan Non Alice pada saya. Setelah itu kita pulang," jawab Suster Lani. Alice menghela napas, apa yang ia pikirkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.
'Huh, aku kira Miss Abigail ada di sini. Ternyata tidak, huh.' batin Alice kesal. Wajahnya seketika cemberut.
"Aku mau mandi, Sus. Tolong siapkan baju," ucap Alice sambil berjalan menuju kamar mandinya.
"Siap, Non." Sahut Suster Lani semangat. Ia pun segeraengambil setelan baju untuk digunakan oleh majikan kecilnya itu.
Setelah selesai, Abigail turun ke lantai bawah bersama Suster Lani. Setibanya di bawah, keduanya langsung mencari keberadaan Grandma.
"Grandma! Grandma dimana?" Teriak Alice.
"Grandma!"
"Disini, Sayang. Grandma ada di gazebo belakang," suara Stella yang terdengar dari belakang rumah.
"Ayo, Sus." Ajak Alice seraya menggandeng tangan Suster Lani. Keduanya berlarian menuju belakang rumah. Sesampainya di sana, keduanya melihat Stella yang tengah menikmati coklat hangat serta camilan. Ia tengah menikmati segarnya udara disana seraya menunggu kepulangan Grandpa.
"Halo, Grandma." Sapa Alice seraya memeluk lutut Stella yang tengah duduk di gazebo. Melihat kedatangan sang cucu, Stella sangat bahagia. Ia pun segera mengangkat tubuh Alice dan memangku nya
"Halo, Sayang. Bagaimana dengan tidurmu? Sepertinya sangat nyenyak hari ini," tanya Stella sambil mentoel hidung Alice. Gadis kecil itu tertawa sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya, Grandma. Rasanya sangat nyaman sekali. O ya, Grandma. Alice mau cerita sesuatu." Ucap Alice dengan sangat antusias. Stella yang melihat wajah ceria sang cucu merasa gemas sekali. Ia tertawa terbahak-bahak melihat kedua mata Alice yang bagaikan mata seekor kucing yang tengah meminta makan pada induknya.
Ha ha ha
"Ih, Alice belum cerita, Grandma. Kenapa Grandma sudah tertawa dulu? Huh," sahut Alice yang kesal dengan sang Grandma.
"Ha ha ha. Maafkan Grandma, Sayang. Grandma sangat suka melihat wajahmu yang seperti anak kucing itu tadi," ujar Stella yang langsung dibalas Alice dengan dengusan nya. Selalu begitu. Sejak dulu sang nenek selalu tidak tahan melihat Alice yang memandang seseorang dengan mata kucingnya.
"Grandma, kemarin malam kan Alice cerita soal makan di restoran sama papa, kan? Grandma ingat?" Tanya Alice. Stella berpikir sejenak lalu ia menganggukkan kepala.
"Ingat. Kenapa, Sayang?" Tanya Stella.
"Saat di restoran itu, Alice dan Papa duduk satu meja dengan wanita cantik, Grandma." Ucap Alice. Stella yang mendengarnya sedikit terkejut. Pasalnya anaknya itu tidak biasanya bertemu atau mau satu meja dengan perempuan lain selain mendiang istrinya.
"Wanita? Siapa, Alice? Apa Papamu ketemuan dengan wanita itu? Apa dia teman kencan Papamu?" Tanya Stella penasaran. Sedangkan Alice memiringkan kepalanya, ia merasa asing dengan kata-kata yang barusan diucapkan oleh sang nenek.
"Teman kencan? Apa itu, Grandma?" Tanya alive polos. Stella yang tersadar seketika menepuk jidatnya sendiri. Ia lupa kalau sedang berhadapan dengan anak dibawah umur dan belum tahu tentang hal-hal tersebut.
'Astaga, betapa bodohnya aku.' batin Stella yang menertawakan dirinya sendiri karena kelepasan bicara di depan cucunya sendiri.
"Itu, Alice. Em, artinya apa Papamu kenal dengan wanita itu? Apa mereka janjian disana? Namanya siapa, Alice? Secantik apakah?" Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan kepada gadis kecil itu. Alice hanya bisa melongo mendengar berbagai pertanyaan dari mulut neneknya tersebut.
"Sebentar, Grandma. Kalau kemarin belum kenal, tapi hari ini sudah."jawab Alice yang semakin membuat Stella pusing karena tidak mengerti maksud dari perkataan cucunya.
"Maksudnya apa, Nak? Grandma tidak paham," keluh Stella. Alice menepuk jidatnya lalu menghembuskan napas kasarnya.
"Dia guru Alice di sekolah, Grandma. Kemarin Alice tidak tahu, tapi hari ini sudah tahu. Namanya Miss Abigail," sahut Alice yang kembali teringat dengan gurunya itu. Kesabaran serta kasih sayang yang ditunjukkan oleh Abigail begitu membekas di hati Alice. Ini pertama kalinya ia melihat ada wanita muda yang begitu sabar menghadapi anak-anak.
Kedua alis Stella bersatu, ia merasa jika ada yang tidak beres dengan anak laki-lakinya saat ini. Senyum seringai muncul di kedua sudut bibir wanita itu kala dirinya membayangkan apa yang tak seharusnya ia bayangkan.
'Apa ini alasannya, Alvin kekeh menyekolahkan Alice di sekolah itu? Tapi sejak kapan? Bukankah dia selalu marah jika aku membahas wanita? Awas kau, Alvin. Kau pikir bisa menyembunyikan rahasia ini dari Mama, hah? Kau salah, Son. Your daughter is my ally,' batin Stella yang menertawakan sikap anaknya yang berusaha menyembunyikan hubungannya dengan wanita lain.
Siapa sangka, Stella lah yang salah kira. Jangankan mengenal, bertanya nama pun belum. Apalagi Alvin tadi di sekolah mendapatkan telepon darurat dari kantor. Oleh karena itu, ia tidak bisa menghampiri Alice di kelas dan hanya mengirim pesan kepada Suster Lani agar pulang di jemput oleh sopir rumah.
"Grandma? Kenapa Grandma senyum-senyum sendiri?" Tanya Alice heran. Baru kali ini ia memergoki neneknya te gah senyum-senyum sendiri. Stella yang mendengar ucapan sang cucu langsung menetralkan raut mukanya.
"Tidak, Sayang. Tidak kenapa-kenapa, kok." Jawab Stella. Alice hanya mengangguk paham.
"O ya, tadi siapa nama guru Alice? Abigail?" Tanya Stella. Alice mengangguk cepat, membenarkan apa yang dikatakan oleh sang nenek.
"Iya, Grandma. Miss Abigail Batari. Kami semua memanggilnya Miss Abigail," ucap Alice.
"Oh, namanya bagus ya, Nak? Bagaimana sikap Miss Abigail kepada kalian? Apa dia baik?" Tanya Stella.
"Tentu saja, Grandma. Miss Abigail sangat baik. Dia juga sayang dan sabar sama kami semua. Kami sangat suka dengan Miss Abigail," ucap Alice. Ia begitu antusias menceritakan semua kegiatannya di sekolah hari ini. Stella dan Suster Lani sampai ikut bahagia melihat bagaimana Alice memperagakan berbagai macam permainan yang mereka lakukan hari ini di sekolah.
'Sepertinya aku harus mencari tahu siapa itu Abigail Batari dan darimana ia berasal.' pikir Stella. Sebagai orang terpandang, tentu ia tidak mau sembarangan mencari atau memilih calon menantunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...