
DSL 02 - Kepergian Olivia
Hujan rintik mengguyur di sebuah pemakaman elit di daerah Jakarta Selatan. Tampak begitu banyak manusia yang mulai meninggalkan tempat itu setelah prosesi pemakaman selesai. Kini tinggallah hanya beberapa saja yang masih bertahan di gundukan basah itu meski hujan kian bertambah besar.
"Kami permisi dulu, Om, Tante. Anak-anak dirumah dan kami tidak bisa meninggalkan mereka lebih lama lagi." Ucap seorang wanita berpakaian serba hitam dengan kacamatanya yang juga berwarna senada.
"Ya, terimakasih sudah datang, Valerie. Maafkan kesalahan Oliv semasa hidupnya jika dia ada salah denganmu dan juga keluargamu." Ucap Mama Alvin dengan menangkupkan kedua tangannya di depan wanita yang dulu adalah atasan menantunya.
Valerie Valentino adalah pemilik dari VALE DIAMOND PARIS yang juga merupakan sahabat Oliv semasa kuliah di Universitas Oxford Inggris. Dia juga yang dulu selalu membantu Oliv saat dirinya kesusahan mengingat Oliv seorang yatim-piatu yang kebetulan mendapatkan beasiswa disana.
Vale sendiri merasa terguncang karena kehilangan sahabat baiknya. Ia pun tidak menyangka dengan riwayat penyakit Oliv yang sedemikian parahnya. Oliv adalah gadis yang pendiam, dia tidak suka menyusahkan orang lain. Karena itulah, Oliv tidak mengatakan apapun kepada sahabatnya itu. Hari ini Vale datang bersama sang suami, Alexander Juventius Dominic. Keluarganya yang lain tidak bisa hadir karena mereka tengah berada di luar negeri.
"Jangan berkata begitu, Tante. Oliv adalah sahabat terbaikku selain Angela. Aku sangat menyayangi Oliv sama seperti aku menyayangi saudaraku sendiri. Kami sekeluarga juga merasa sangat kehilangan karena kepergiannya. Dia adalah wanita cerdas, Alice sangat beruntung mempunyai ibu sehebat dia. Bersabarlah, Oliv sudah tenang dan bahagia di sisi Tuhan." Ucap Vale. Ia memeluk tubuh ibu mertua sahabatnya untuk menenangkan.
Disaat Vale tengah berbicara dengan Ibu dari Alvin, lain halnya dengan suami Vale. Laki-laki itu berjongkok disebelah Alvin yang sejak tadi masih menitikkan air mata di sebelah batu nisan sang istri.
"Segala sesuatu yang terjadi di Dunia karena kehendak Tuhan. Kita sebagai manusia biasa harus bisa menerimanya dengan lapang dada. Meskipun tidak mudah pada awalnya, tetapi pasti rasa duka ini akan hilang dan dapat kamu lewati dengan mudah. Semua membutuhkan waktu, tetap kuat demi putrimu." Ucap Alex dengan menepuk pundak kanan Alvin. Laki-laki itu menoleh, kantung mata serta jejak air mata masih terlihat jelas di wajahnya.
"Terimakasih," hanya itu yang bisa terucap dari mulut laki-laki rapuh itu. Pandangan matanya kosong, jiwanya seakan dibawa pergi oleh Olivia.
Hari semakin petang, semua pelayat sudah mulai pergi satu persatu. Kini hanya tinggal tiga orang yang masih berada di sana. Mereka adalah Alvin, dan kedua orang tuanya.
"Ayo pulang, Vin. Besok kesini lagi. Kasihan Alice sendirian di rumah. Ingat, dia juga membutuhkanmu," ucap Stella kepada sang anak. Apalagi tubuh ketiganya kini sudah basah kuyup akibat hujan yang terus melanda sejak tadi.
'Meski kau telah pergi meninggalkanku, tapi namamu masih terukir di dalam hatiku, Oliv. Cintamu masih bermekaran indah di jiwaku. Aku begitu sangat mencintaimu, tapi sepertinya Tuhan lebih mencintaimu daripada ku. Oleh karena itu, dia mengambipmu dariku.' ucap Alvin dalam hati. Bersamaan dengan hal itu air matanya kembali menetes dari matanya.
Meski berat, tapi Alvin tetap mencoba untuk berdiri. Namun tubuhnya terhuyung akibat terlalu lama ia duduk di sana. Adam yang sigap langsung membantu dan memapah tubuh sang anak pergi meninggalkan tempat peristirahatan terakhir sang menantu.
'Selamat tinggal, Sayangku. Engkau adalah wanita paling cantik dan aku cintai di dunia ini. Istirahatlah dengan tenang, Tuhan akan selalu ada di sampingmu.' batin Alvin.
Langkah demi langkah kaki Alvin terasa sangat berat. Kilasan balik tentang percintaannya dengan sang istri melintas begitu saja. Dadanya begitu sesak, sang istri menghembuskan napas terakhirnya setljari setelah melahirkan buah hati mereka.
"Titip Ele, Alvin. Dia yang akan menggantikan ku berada di sampingmu. Katakan padanya kalau aku sangat mencintainya. Ele adalah segalanya bagiku." Ucap Oliv di sisa waktunya. Alvin menangis tersedu untuk pertama kalinya dihadapan seorang wanita. Ia menggeleng keras, ia tidak ingin menerima kenyataan jika penyakit lupus sang istri sudah tak tertolong lagi.
"Tidak, Sayang. Katakan padanya nanti jika dia sudah besar. Aku akan membawamu ke Amerika. Kita akan berobat kesana, percayalah. Kau akan sembuh nanti," sahut Alvin dengan menciumi punggung tangan Oliv. Saat ini keduanya masih berada di ruang intensive tempat Olivia berada. Dan hanya Alvin yang diperbolehkan untuk menemaninya.
"Tidak, Alvin. Sudah waktunya, aku harus pergi. Titip salam untuk Papa dan Mama. Terimakasih padamu karena sudah menemani dan ju-ga menjadi pa-sanganku . A-aku sa-sangat menci-intai-mu," ujar Oliv dengan nadanya yang terputus-putus di akhir kalimatnya. Setelah mengatakan itu, suara nyaring terdengar dari mesin pendeteksi jantung Oliv. Oliv pergi. Dia pergi untuk selamanya meninggalkan orang-orang yang begitu menyayanginya.
Bruk
Tubuh Alvin merosot setibanya di dalam kamar tidurnya. Ia meraung-raung, meluapkan emosi yang menguasai dan begitu menyesakkan di dalam dadanya.
Duk
Duk
Duk
Berulangkali Alvin memukul-mukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan kanannya. Sesak yang ada di dalam dadanya terasa sangat menyiksa. Sekuat apapun ia menahan, sekeras apapun ia menolak, tapi nyatanya kenyataan tidak akan pernah berubah. Kekasih hatinya telah pergi. Meninggalkan sejuta kenangan manis semasa mereka bersama.
"KENAPA, TUHAN? KENAPA? KAU MENGAMBIL SEPARUH JIWAKU PERGI MENINGGALKAN DUNIA INI."
"BAGAIMANA AKU BISA HIDUP TANPANYA, TUHAN? INGINKU MENYUSULNYA, TAPI ALICE? KAU BENAR-BENAR MENEMPATKANKU DI TEMPAT YANG SUSAH."
Kamar mewah itu dilengkapi dengan kedap suara. Sehingga membuat penghuni lain tidak bisa mendengar suara Alvin meski dirinya berteriak sekencang-kencangnya. Adam dan Stella yang memahami kesedihan sang anak membiarkannya. Alvin butuh waktu untuk kesendiriannya.
Bagaimana dengan anaknya? Alice Eleanor Leonardo. Bayi merah itu dirawat oleh perawat senior yang diperkerjakan oleh kedua orang tua Alvin. Bayi cantik itu tidak rewel, seakan tahu tentang kesedihan yang melanda seluruh keluarga. Wajahnya yang imut mampu menyihir setiap mata yang melihatnya.
"Lihatlah, Pa. Betapa malangnya nasib cucu kita. Dia ditinggal pergi oleh ibunya sebelum ia bisa melihatnya." Ujar Stella seraya menggendong baby Alice yang tengah tertidur.
"Sabar, Ma. Kita harus kuat untuk Alice dan juga Alvin. Kita akan selalu berada di samping mereka sampai kapanpun." Balas Adam. Ia memberikan elusan lembut di punggung sang istri. Keduanya saling menguatkan ditengah-tengah anak dan cucunya yang kehilangan.
Pergi. Satu kata yang mempunyai makna yang beragam. Rasanya sangat menyakitkan ditinggal pergi selamanya oleh orang yang begitu berarti dalam hidup. Tak ada cara yang bisa menyembuhkan luka di tinggal mati selain waktu. Hanya waktulah yang bisa mengikis kesedihan layaknya seperti batu karang dilautan yang terkikis akibat ombak laut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Visual OLIVIA ELEANOR