Doctor's Second Love

Doctor's Second Love
DSL 04 - Pengganti Oliv



DSL 04 - Pengganti Oliv


Sesampainya di rumah, Alvin dan Alice disambut oleh seluruh keluarga. Mereka saling berpelukan, mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada si kecil Alice.


"Bagaimana dengan liburanmu hari ini, Sayang? Apa kau bahagia?" Tanya Stella kepada Alice. Dengan antusias gadis kecil itu menganggukkan kepala.


"Tentu, Granma. Aku tadi melihat banyak sekali hewan dan ikan di kebun binatang." Ucap Alice bercerita. Kedua orang tua itu tersenyum bahagia melihat wajah berseri sang cucu.


"Benarkah? Ayo, sini. Kita duduk dulu. Coba ceritakan kepada Grandma dan Granpa, apa yang dilakukan Alice hari ini." Ujar Stella seraya mengajak yang lain untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Setelah semuanya duduk, tak lama terlihat dua orang pelayan datang dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan untuk mereka semua.


"Iya, Grandma. Aku dan Papa tadi pergi ke kebun binatang dan juga pantai. Aku sangat bahagia sekali bisa melihat banyak sekali hewan dan juga memberi mereka makanan. Tapi bukan nasi, Grandma. Aku memberi mereka makanan mereka," ucap Alice yang seketika mengundang gelak tawa semua orang yang ada di sana. Mereka begitu terhibur dengan ucapan polos Alice.


Ha ha ha


"Aw, sakit Grandma. Grandpa, lihatlah Grandma. Grandma mencubit pipiku yang imut ini," ucap Alice yang mengadu kepada sang Grandpa akibat ulah Grandma nya padanya. Stella yang melihat hal itu langsung tertawa renyah.


"Ma, please..." Keluh Alvin yang hanya di balas tawa cekikikan oleh Stella. Adam yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


"O ya, Sayang. Jangan lupa besok sudah mulai masuk sekolah ya. Grandma dan Grandpa sudah membelikan semua perlengkapan sekolahmu." Ujar Stella. Kedua mata kecil Alice berbinar mendengar perkataan dari sang nenek.


"Benarkah, Grandma? Wah, aku sudah tidak sabar untuk bersekolah di sekolah baru besok." Ucap Alice. Stella menganggukkan kepalanya. Alice kegirangan, ia sangat bahagia karena besok ia sudah bisa bersekolah di sekolah biasa.


"Bagaimana dengan perusahaan, Vin?" Tanya Adam. Keduanya kembali berbincang mengenai perusahaan seraya melihat si kecil yang tengah bermain dengan nenek dan susternya.


"Baik, Pa. Semua aman dan selalu pada tempatnya," jawab Alvin yang selalu saja sama di setiap menjawab pertanyaan dari sang papa. Stella yang berada di karpet bulu yang tak jauh dari sofa tentu bisa mendengar semua pembicaraan antara sang suami dan anaknya.


"Kamu masih muda, jangan bersembunyi di belakang meja kerjamu terus. Tatap masa depan, jangan terus tenggelam dalam masa lalu mu." Ucap Adam memberi nasehat pada sang anak. Dulu ia begitu frustasi dengan sikap playboy sang anak. Dan kini ia kembali merasa frustasi karena sang anak masih tetap melajang meski istrinya sudah lebih dari lima tahun meninggal dunia.


"Pa, please. Jangan membahas ini lagi. Aku belum memikirkan ke arah sana," sahut Alvin. Ia selalu merasa tidak suka jika sudah berada di topik pembicaraan tersebut. Baginya, Oliv masih hidup meski dalam hatinya.


"Benar apa yang dikatakan Papamu, Alvin. Masa depanmu masih panjang, apa kau tidak ingin memiliki teman hidup? Percayalah, jika Oliv melihatmu dari atas sana, dia pasti akan merasa sedih." Tambah Stella. Alvin menghela napas, ia tahu jika mamanya pasti tidak akan membiarkannya begitu saja.


"Tapi belum untuk saat ini, Ma. Aku belum siap," sahut Alvin.


"Mama tunggu sampai akhir tahun ini. Jika kau masih tidak bisa mencari pengganti Oliv, maka Mama yang akan mencarikannya untukmu." Ucap Stella tegas. Alvin yang mendengar hal itu seketika menatap wajah Mamanya tajam.


"Mama mengancamku?" Tanya Alvin. Dengan santai Stella mengangguk.


"Kalau itu diperlukan, akan Mama lakukan." Jawab Stella. Tanpa menunggu waktu lama, Alvin beranjak dan meninggalkan tempat itu. Semakin lama ia disana, ia akan merasa makin tercekik.


"Ma, jangan terlalu keras padanya. Dia akan semakin menjauh dari kita," ucap Adam sepeninggal Alvin.


"Kamu itu yang terlalu lembek, Pa. Selalu membelanya. Apa Papa tidak ingin melihatnya bahagia, ha?" Tanya Stella sambil terus menemani si kecil bermain.


"Maka dari itu, kita harus memaksa anak itu. Kalau tidak, dia akan menduda disisa hidupnya." Ucap Stella. Sedangkan Adam hanya diam saja. Ia tahu kalau ia tidak akan pernah menang dari sang istri.


Sedangkan Alvin, setibanya di dalam kamar ia langsung terduduk di lantai. Pandangan matanya terarah pada foto pernikahannya dengan Olivia yang masih terpasang indah di atas peraduan. Senyum kebahagiaan terpancar jelas di wajah Alvin maupun Olivia. Namun kini semua itu telah sirna bersamaan dengan perginya sang pujaan hati.


"Bagaimana aku bisa menghapus mu dari hatiku, Oliv? Kau terlalu sempurna hingga membuatku tak bisa lagi menatap yang lain. Meski Mama memaksaku, percayalah aku tidak akan pernah menduakan mu. Kau adalah cinta sejati ku." Gumam Alvin.


Malam telah datang. Rembulan yang indah menghiasi langit seluruh dunia. Hawa dingin mulai menerpa ditambah angin yang berhembus kencang. Kencangnya angin membuat jendela besar yang ada di kamar milik Alvin terbuka akibat tidak terkunci rapat.


Hawa dingin itu nampaknya tidak berpengaruh pada laki-laki yang tengah tertidur pulas di atas peraduannya. Keringat terlihat jelas di dahinya, alisnya berkerut hingga membuat siapa saja yang melihat sangat menghawatirkan nya.


"Jangan menungguku, Al. Carilah kebahagiaan mu yang lain, meski itu bukan dengan diriku." Ucap seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian serba putih layaknya malaikat.


"Bagaimana bisa, Oliv? Sedangkan bahagiaku hanyalah bersamamu. Aku tidak bisa melihat selain dirimu." Sahut Alvin. Ia tengah berhadapan dengan Olivia di dalam mimpi. Wanita itu selalu hadir di setiap mimpi malamnya selama bertahun-tahun ini. Namun begitu, kali ini berbeda. Jika sebelumnya keduanya menghabiskan waktu bersama dengan tawa, malam ini tidak. Alvin dan Olivia bertengkar, Olivia memaksa Alvin untuk meninggalkan dirinya.


"Bukan tidak, Al. Tapi belum," ucap Olivia dengan senyuman.


"Apa maksud mu, Oliv?" Tanya Alvin.


"Kisah cintaku denganmu memang sudah berakhir, tapi tidak dengan kisahmu. Kau akan bertemu dengan wanita yang nantinya bisa menggeser namaku di hatimu. Dan aku hany minta satu hal saja. Disaat hari itu tiba, jangan mengelak. Dialah wanita yang Tuhan kirim untukmu menggantikan ku." Jawab Olivia lembut. Alvin menggeleng keras, ia tidak suka dengan perkataan yang keluar dari mulut Olivia.


"Jangan asal bicara, Oliv. Cintaku tidak setipis itu, hingga bisa tergeser oleh orang lain. Meski ada ribuan wanita yang mendekatiku, tidak akan pernah bisa membuatku tertarik." Ujar Alvin.


"Jangan bicara seperti itu. Kau akan termakan dengan ucapanmu, Al." Alvin hanya diam saja mendengar ucapan aneh dari Olivia.


"Baiklah, aku harus pergi. Mungkin setelah ini kita akan jarang bertemu lagi, Al." Imbuh Olivia yang seketika membuat Alvin mengeryitkan dahi.


"Pergi? Pergi kemana, ha? Kenapa kita tidak bisa bertemu lagi? Kau itu adalah istriku, Oliv. Aku berhak untuk menemui mu kapanpun ku mau." Ucap Alvin tegas. Melihat Oliv yang kian menjauh, membuat Alvin berusaha untuk menahannya. Ingin ia menggapai tangan Oliv, tapi tak sampai. Meski menjauh, Olivia terlihat menyunggingkan senyum kepada Alvin.


"OLIV!"


"OLIV!"


"OLIVIA!"


Seketika Alvin terbangun dari tidurnya. Napasnya memburu, ia baru menyadari jika yang barusan ia alami hanyalah mimpi. Alvin mengusap keringat di dahinya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah tirai jendela yang masih berterbangan karena terkena hembusan angin. Perlahan ia bangkit, lalu menutup jendela kamarnya.


"Ternyata hanya mimpi. Tapi rasanya seperti nyata,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...