Doctor's Second Love

Doctor's Second Love
DSL 10 - Miss Shinta



DSL 10 -


Di malam harinya,


Semua keluarga Alvin sudah berkumpul di meja makan. Keempat orang disana menikmati makan malam mereka dengan tenang. Namun Stella dan Adam sesekali saling lirik, kemudian saling melemparkan kode melalui kedua mata mereka.


'Tanyalah dia, Pa. Cepat,' batin Stella seraya kedua matanya melotot ke arah Adam dan melirik sebentar ke arah Alvin.


'Tidak, Mama saja.' Adam menggeleng pelan seraya memicing ke arah istrinya dan melirik sedikit ke arah Alvin. Stella yang mendapati sang suami enggan bertanya kepada Alvin seketika cemberut. Ia sangat kesal bukan main, padahal dalam hati ia sudah sangat penasaran dengan sosok wanita itu.


'Ih, Papa benar-benar ya. Disuruh tanya aja tidak mau. Menyebalkan,' batin Stella seraya menusuk-nusuk daging steak nya dengan perasaan kesal.


Seolah tahu tentang kelakuan kedua orang tuanya, Alvin tiba-tiba menghela napas. Ia pun segera meletakkan sendok garpunya setelah ia benar-benar menyelesaikan makanannya. Ia mengambil gelas dan meminum air putih itu hingga tandas. Tingkah lakunya tak luput dari perhatian kedua orang tuanya. Stella dan Adam masih saling pandang seolah mereka seorang musuh yang baru bertemu setelah sekian lama.


"Katakan saja, Pa, Ma. Apa yang ingin kalian katakan," ucap Alvin tiba-tiba. Stella yang tadinya tengah mengunyah makanan seketika langsung tersedak.


Uhuk uhuk uhuk


Stella terbatuk. Adam dengan cepat memberikan air putih miliknya kepada sang istri agar bisa menyembuhkan batuknya. Bukannya menerima, Stella justru memicingkan mata kepada Adam lalu ia bergegas mengambil air minumnya sendiri dan menghabiskannya hingga tak bersisa. Stella kesal karena perbuatannya dan sang suami diketahui Alvin dengan cepat. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan apapun dari sang anak. Sedangkan Adam hanya bisa menghela napas lalu meminum airnya sendiri.


"Ehem. Mama mau tanya sama kamu, Al. Jawablah dengan jujur," ucap Stella setelah ia mengelap bibirnya setelah makan. Nada bicaranya kini berubah serius hingga membuat Alvin mengeryitkan dahi. Tidak seperti biasanya sang mama bersikap hari ini.


"Tentu, tanyakan saja. Apa yang ingin Mama ketahui?" Tanya Alvin santai. Laki-laki itu menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi seraya membuka ponsel dan mengotak-atik nya.


"Tatap mata Mama dan jawab pertanyaannya. Jangan bermain dengan ponselmu itu," seloroh Stella yang semakin mengundang kecurigaan di diri Alvin.


'Sebenarnya apa yang akan ditanyakan oleh Mama, sih? Sepertinya sangat penting,' batin Alvin. Ia benar-benar penasaran dengan sikap Mamanya yang berubah drastis malam ini.


Di sisi lain, keheningan melanda di rumah kontrakan yang disewa oleh Abigail. Di dalam kamar, Abigail masih berkutat dengan laptop dan juga buku laporannya. Dengan menggunakan kacamata serta rambut yang tak diikat dengan baik, membuat Abigail terlihat lebih menawan. Ia begitu cantik saat ia tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya. Saat dirinya sibuk mengetik sebuah laporan, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara nyaring yang berasal dari dalam perutnya.


Krukk


"Aduh, lapar banget." Keluh Abigail. Ia pun menoleh ke arah jam dinding, betapa terkejutnya saat ia melihat jika kini sudah hampir pukul tujuh malam. Itu artinya ia sudah lebih dari lima jam , dirinya berada di depan laptop dan bukunya.


"Astaga, pantas saja mataku rasanya mulai pegal. Ternyata sudah lama aku berada di sini. Ah, rasanya aku malas untuk beranjak sekarang." Keluh Abigail seraya mengulurkan kedua tangannya keatas, mengendurkan otot-otot tangannya yang kaku akibat terlalu lama mengetik dan juga menulis.


"Tidak, Abi. Ayo, mandi. Lalu kita bikin mi instan agar mempersingkat waktu." Ucap Abigail yang menyemangati dirinya sendiri. Tanpa menunggu waktu lama lagi, wanita itu langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandinya. Setelah berganti pakaian dengan mengunakan pakaian tidurnya, Abigail segera menuju dapur yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya.


Suara gelak tawa menghiasi ruang tamu itu. Abigail begitu antusias melihat drama itu hingga membuatnya begitu sayang jika ia harus melewatkannya. Di akhir episode Abigail bertepuk tangan karena apa yang diinginkannya ternyata terwujud di dalam drama tersebut.


"Rasakan itu, Yung Min. Memangnya enak hidup di penjara. Huh, puas sekali melihatmu menderita seperti itu. Ha ha ha," gumam Abigail. Lalu tiba-tiba terdengar suara deringan ponsel yang berasal dari ponselnya.


Abigail mengeryitkan dahi saat melihat nama Miss Rindu yang tengah menghubunginya. Tak mau menunggu lagi, Abigail segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo? Miss Rindu? Ada apa, Miss?" Tanya Abigail. Namun sedetik kemudian ia teringat dengan laporan yang saat ini tengah ia kerjakan. Wanita itu sampai menepuk jidatnya sendiri karena lupa akan pekerjaannya.


"Laporannya bagaimana, Miss? Apa sudah selesai?" Tanya Miss Rindu.


"Sedikit lagi, Miss. Tenang saja, besok pagi pasti akan ada di atas mejamu." Jawab Abigail yang seketika membuat Miss Rindu bersorak di seberang sana.


"Thanks a lot, Miss Abigail. Kamu memang selalu bisa di andalkan," ucap Miss Rindu.


"Sama-sama, Miss. Sebagai sesama guru harus saling tolong menolong, kan? Aku senang kok bisa bantuin Miss Rindu ngerjain ini," balas Abigail. Rindu Maharani, sahabat dan juga tenaga ajar yang juga bekerja di sekolah Abigail. Rindu telah bekerja lebih lama dari Abigail, oleh karena itu Abigail selalu mendengarkan apa yang diucapkannya.


"Kau memang terbaik, Abi. Tidak seperti yang itu," sahut Miss Rindu. Gelak tawa seketika terdengar dari mulut Abigail. Tentu ia tahu siapa yang dimaksud oleh Rindu itu.


"Jangan begitu, Miss. Dia adalah guru senior dan juga putri pemilik PT besar. Jangan bicara sembarangan, atau kita bisa kena masalah." Ucap Abigail mengingatkan.


"Cih, si ulet bulu itu? Guru senior apaan? Jabatannya aja tinggi, tapi otaknya nol. Kalau bukan karena kekuatan uang orang tuanya, dia tidak mungkin bisa masuk di sekolah kita." Sahut Miss Rindu tak mau kalah.


"Shintya, Miss. Namanya Shintya. Dan dia juga teman kita. Tidak baik membicarakannya, bisa-bisa pekerjaan kita yang nanti jadi taruhannya," ujar Abigail seraya tersenyum tipis.


Terdengar helaan napas dari seberang sana.


"Kau benar, Abi. Mengingat wajahnya saja sudah membuatku emosi. Lebih baik kita bicarakan yang lain, iya, gak?" tanya Rindu yang diangguki oleh Abigail.


"Betul, itu."


Keduanya pun mulai asyik berbincang-bincang tentang kehidupan mereka selama mengajar di sekolah. Usia Rindu yang tak jauh beda dengan Abigail membuat keduanya cepat dekat. Apalagi keduanya sama-sama tidak memiliki pasangan, membuat mereka selalu bersama di setiap kesempatan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...