Doctor's Second Love

Doctor's Second Love
DSL 12 - Pamela Stevia Nasution



DSL 12 - Pamela Stevia Nasution


Beberapa hari kemudian,


Abigail berjalan menyusuri setiap outlet yang ada di sebuah mall yang ada di kotanya. Setelah dari sekolah, gadis itu memutuskan untuk pergi kesana dengan tujuan untuk membeli beberapa potong baju mengingat hari ini ia mendapatkan gajinya. Berhubung Rindu tidak bisa menemani, Abigail akhirnya sendirian ke sana.


Kini di tangan gadis itu sudah terdapat beberapa paper bag. Dengan senyum manisnya, Abigail menikmati waktu sendirinya dengan bahagia. Sepasang mata cokelatnya begitu nakal melihat ke berbagai arah. Tak ada satupun yang luput dari perhatian Abigail. Toko Baju, tas, accesoris ia hampiri satu-satu demi melampiaskan has rat belanjanya yang sudah sekian lama ia pendam. Ya, sudah beberapa bulan ini ia tidak bisa belanja dikarenakan uang tabungannya ia habiskan untuk melunasi hutang yang dimiliki sang almarhumah ibunya pada seorang teman ibunya.


"Sepertinya belanjaanku sudah banyak. Astaga, aku sampai hilang kendali saat ini." Ujar Abigail ketika ia melihat barang bawaannya. Ia terkekeh sendiri menyadari tingkah lakunya seperti anak remaja yang barusaja mendapatkan uang dan langsung menghabiskannya.


Krukk


"Aduh, perutku sakit," keluh Abigail. Ia pun melihat ke arah jam tangan. Betapa terkejutnya saat ia melihat jika saat ini sudah hampir sore, itu berarti dirinya sudah menghabiskan waktu di dalam mall tersebut lebih dari tiga jam lamanya.


"Pantesan, laper. Ternyata sudah hampir jam empat sore," lirih Abigail. Gadis itu pun melihat kesana-kemari mencari stand makanan yang mungkin berada di sekitarnya.


"Sepertinya aku harus naik ke lantai atas," sambung Abigail saat kedua matanya melihat papan nama sebuah restoran yang lokasinya berada di lantai lima mall, sedangkan dirinya saat ini tengah berada di lantai empat.


Tanpa menunggu waktu lama lagi, Abigail berjalan menyusuri mall. Menaiki eskalator dan menuju ke sebuah restoran yang ada di sana. Abigail memilih masakan Padang, mengingat menu itulah yang memiliki harga yang tergolong murah. Meski sendiri, tak membuat Abigail ciut nyali. Ia sudah mandiri sejak kecil, membuatnya terlatih untuk memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan tergolong tidak pernah menghiraukan pandangan mata orang lain padanya.


Sesampainya di salah satu meja, Abigail langsung memesan makanan dan minumannya. Dengan ditemani ponsel miliknya, Abigail menikmati waktu makan siangnya dengan santai. Sesekali senyumnya terlihat mengembang dan membuatnya lebih cantik. Tanpa ia sadari, ada dua pasang mata yang memperhatikannya dari jauh.


"Eh, eh. Itu bukannya Abigail, ya?" Tanya salah seorang wanita kepada temannya. Temannya menoleh, mengikuti arah pandang temannya itu.


"Iya, Ven. Itu kan Abigail," jawab Laura. Keduanya tentu mengenal sosok Abigail karena Abigail merupakan musuh dari salah satu smteman mereka juga semasa sekolah.


Keduanya terus memperhatikan Abigail hingga Vena teringat dengan sesuatu. Ia pun tersenyum menyeringai lalu membisikkan sesuatu kepada Laura.


"Lo gila, ya? Nanti kalau jadi masalah gimana? Jangan main-main, Ven. Kita bisa dilaporin ke polisi," ujar Laura yang tidak setuju dengan usul sang sahabat.


"Tidak, tidak. Kalaupun terjadi masalah, itu akan menjadi urusan mereka berdua. Kita berada di belakang mereka saja, itung-itung buat hiburan mata. Hm? Ayolah, Ra. Ok? Aku yang akan menghubunginya," sahut Vena menjelaskan.


"Tapi, Ven ...."


"Ssstt, sudahlah Ra. Diamlah," sela Vena. Ia pun mengambil ponsel miliknya dan mulai menghubungi sebuah nomor di sana.


Tutt


Tutt


Tutt


"Halo?" sapa seorang perempuan diseberang sana. Vena tersenyum ketika panggilannya di jawab.


"Hm, ada apa?" sahutnya.


"Lo ada di mana sekarang?" tanya Vena.


"Ada di resto. Kenapa?" jawabnya.


"Ini gue sama Laura ada di Mall xx. Lo tau gak, gue ketemu siapa di sini?" tanya Vena lagi antusias.


"Memang ketemu siapa kalian di sana? Jangan bilang kalian ketemu sama Roy," tebak perempuan itu. Ia membawa nama seorang laki-laki yang seketika membuat Vena tertawa terbahak-bahak mendengarnya.


Ha ha ha


"Sepertinya Lo sangat anti sama itu cowok. Kenapa? Doi kan ganteng, kaya, terkenal pula," ucap Vena dengan disertai tawanya yang masih tersisa. Ia sangat tahu bagaimana perangai sahabatnya itu mengenai seorang cowok bernama Roy Hodgson tersebut. Sosok laki-laki yang sejak kuliah hingga saat ini terus saja berusaha mendekati sang sahabat.


"Shut up, Ven. Kalau Lo emang gak ada kerjaan, jangan ganggu gue. Gue lagi sibuk," ketusnya. Suaranya jelas terdengar sangat sewot jika dikaitkan dengan laki-laki itu.


Vena yang mendengarnya sontak langsung menghentikan tawanya. Ia tidak mau sampai membuat sahabatnya itu marah ataupun ngambek padanya.


"No no no. Jangan gitu, Mel. Sorry deh, gue gak bermaksud untuk menggoda mu. Gue mau ngasih tahu kalau kita saat ini bertemu sama musuh bebuyutan mu," ucap Vena. Ia sangat penasaran dengan reaksi yang di tunjukkan oleh sahabatnya ketika ia mengatakan bahwa ia bertemu dengan musuhnya.


"Musuh? Siapa yang Lo maksud? Gue gak pernah punya musuh, kali. Mana ada orang yang berani melawanku, hah? Bisa-bisa gue habisin itu orang," sahut perempuan itu. Begitu sombong dan angkuh, perempuan itu beranggapan jika dirinya berada di atas puncak tertinggi dalam deretan perempuan cantik dan berkelas di tanah air. Apalagi berasal dari keluarga yang tergolong kaya raya, membuat perempuan itu menjadi besar kepala layaknya seorang selebriti dunia.


"Astaga, jangan-jangan Lo lupa ya? Abigail, gue sama Laura ketemu sama Abigail. Anak kampung yang paling Lo benci sedunia itu," ucap Vena memberitahu.


"APA?" terdengar perempuan itu terkejut mendengar perkataan dari Vena.


"Iya, Abigail. Masa Lo lupa, sih?" tanya Vena.


"Dimana Lo berada sekarang?" tanya perempuan itu to the point.


Vena terlihat tersenyum mendengar reaksi itu. Apa yang ia inginkan kini akan terjadi.


"Restoran Biru, lantai lima Mall xx," jawab Vena.


"Gue akan ke sana sekarang, tunggu gue. Jangan biarkan perempuan itu kabur atau pergi," ucapnya.


"Siap, Besti."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...