Doctor's Second Love

Doctor's Second Love
DSL 07 - Kisah masa lalu



DSL 07- Kisah masa lalu


Abigail mengendarai sepeda motornya. Di pertengahan jalan, ia memberhentikan motornya di depan sebuah minimarket. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana. Wanita itu berjalan menyusuri lorong hingga berakhir di bagian grocery. Abigail mengambil beberapa barang dan juga sayuran yang ia konsumsi setiap hari.


"Totalnya seratus sembilan puluh delapan ribu, Nona." Ucap kasir kepada Abigail. Abigail mengangguk lalu mengambil dompet dari dalam tasnya.


"Ini, Mbak." Ujar Abigail seraya menyerahkan dua lembar uang seratus ribu rupiah kepadanya.


Kasir itu memberikan kantong kresek besar berisi barang belanjaan Abigail beserta uang kembaliannya. Setelah semuanya selesai, Abigail segera keluar dari sana. Ia kembali menjalankan motornya meninggalkan tempat tersebut. Setelah berkendara hampir setengah jam, akhirnya Abigail tiba di depan rumah kontrakan yang ia sewa.


"Akhirnya sampai juga," ucap Abigail seraya tersenyum ketika ia sudah masuk ke dalam rumah dengan membawa barang belanjaan nya. Pandangannya beralih pada sebuah pigura foto besar yang ada di dinding samping pintu masuk.


"Abi pulang, Bu." Ucap Abigail seraya menatap foto sang ibu yang tengah duduk di sampingnya. Senyum bahagia sang ibu menular pada Abigail. Wanita itu tersenyum, mengingat bagaimana kebahagiaannya dulu bersama sang ibu. Namun senyum bahagia itu tiba-tiba sirna ketika Abigail kembali teringat dengan peristiwa lima belas tahun silam. Peristiwa naas yang merenggut nyawa ibu dan juga ayahnya.


"Kamu tinggal bersama Bu Siti dulu ya, Abi. Tiga hari saja," ucap Ibu Abigail. Abigail yang saat itu masih berumur dua belas tahun menangis tersedu. Ia tidak ingin ditinggal pergi oleh sang ibu demi bisa bertemu dengan ayahnya.


"Jangan tinggalkan Abi, Bu. Abi ingin ikut Ibu. Bagaimana kalau wanita itu kembali memukul ibu? Jangan pergi, Bu. Jangan pergi," rengek Abigail kecil seraya memegang tangan ibunya. Abigail tidak rela jika ibunya menjadi bahan hinaan dan pukulan dari istri laki-laki yang merupakan ayah kandungnya.


Kilas balik perjalanan cinta Kedua orang tua Abigail,


Rini Batari Durga. Seorang guru PNS yang mengajar di sebuah sekolah menengah pertama di daerah Jakarta Selatan. Wanita itu membuat kesalahan besar karena telah jatuh cinta pada seorang laki-laki yang tak seharusnya. Ia jatuh cinta pada laki-laki yang sudah memiliki istri. Keduanya saling jatuh cinta saat ayah Abigail menjadi kontraktor yang membangun sekolah tempat Rini bekerja. Keduanya terlibat cinta lokasi dan kejadian itu terjadi sekitar dua puluh tahun yang lalu. Tepatnya tahun 1991.


Robert Hanum Nasution pada saat itu adalah kepala proyek yang bertugas di sekolah itu. Pertemuan mereka yang selalu terjadi dan setiap hari menumbuhkan bunga-bunga cinta di dalam hati keduanya. Rini yang pada masa itu sangat cantik dan menarik begitu mempesona Dimata Robert, hingga membuat laki-laki itu lupa dengan statusnya yang sudah menikah. Ia lupa dengan istri yang baru di nikahinya setahun belakangan. Beruntung istri Robert datang pada saat hari-hari terakhir pembangunan sekolah disana. Hingga membuat Rini sakit hati karena merasa sudah dipermainkan oleh orang yang dicintainya itu.


"Tunggu dulu, Rini. Dengarkan penjelasan dariku," ucap Robert pada Rini. Saat itu keduanya tengah berada di belakang sekolah saat tidak ada orang.


"Cukup, Tuan Robert. Sudah cukup anda mempermainkan saya selama ini. Semua sudah jelas, anda hanya menganggap saya sebagai mainan dan kini permainan sudah berakhir. Silakan anda pergi bersama istri anda," desis Rini seraya menuding ke arah Robert. Ia menjaga jaraknya, kini dirinya merasa jijik berdekatan dengan laki-laki pembohong seperti dia. Robert menggeleng, ia tidak ingin semuanya berakhir. Ia benar-benar sudah jatuh cinta dengan Rini. Sosok wanita yang menjadi idamannya selama ini. Tidak seperti istrinya yang merupakan seorang wanita ambisius dan tidak bisa menghormatinya sebagai suami.


"Dengarkan aku, Rini. Aku dan dia di jodohkan. Kedua orang tua kami berteman, tapi aku tidak mencintainya. Karena cintaku hanya padamu," ungkap Robert pada Rini. Rini memejamkan mata, setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Bahagia sekaligus sakit mendengar pengakuan itu. Rasanya seperti kita berdiri di tengah taman bunga tapi tubuh kita dibakar oleh bara api yang menyala. Sekeliling memang indah, tapi rasanya begitu sakit hingga membuat kita seakan ingin cepat mati.


"Cukup, aku bilang cukup. Jangan pernah temui atau berusaha menghubungiku. Hubungan ini telah berakhir sebelum dimulai. I hate you with all my heart and mind," setelah mengatakan itu, Rini benar-benar pergi tanpa mempedulikan teriakan dari Robert. Keduanya sama-sama terluka dengan kenyataan yang tidak bisa menyatukan mereka.


"Jangan, Nak. Dengarkan ibu, Ibu akan segera pulang setelah bertemu dengan ayahmu. Percayalah, ibu akan membawa ayah pulang." Ucap Rini yang berusaha memberi pengertian kepada sang anak. Namun Abigail menggeleng keras sambil terus menangis. Bu Siti yang menyaksikan keduanya hanya bisa ikut menangis, ia sangat prihatin dan kasihan kepada sahabat serta anaknya.


'Begitu rumitnya jalan hidupmu, Rini. Engkau rela menerjang ombak besar meski itu bisa mengancam nyawamu sendiri.' batin Siti seraya menghapus jejak air matanya.


"Tidak, Bu. Tidak ...."


"Tolong jaga Abi untukku, Siti. Hanya kau orang yang aku percayai dari dulu hingga sekarang. Aku pergi dulu, terimakasih." Ucap Rini setelah menyerahkan anaknya untuk dipegangi oleh Siti. Sedangkan Siti hanya bisa menuruti kemauan Rini meski dalam hatinya ia sendiri tidak rela jika Rini meninggalkan Abigail. Bukan karena ia tak mau menjaga Abigail, tapi Rini yang begitu keras kepala mengejar cintanya tanpa menghiraukan teriakan memilukan dari darah dagingnya sendiri.


"Ayo masuk, Abi. Percayalah, Ibumu akan segera kembali setelah bertemu dengan ayahmu." Ucap Siti.


"Tapi aku tidak ingin ayah, Bu. Aku hanya ingin ibuku, aku tidak ingin seorang ayah yang menyakiti hati ibuku." Pekik Abigail. Siti memeluk tubuh Abigail, memberikan ketenangan padanya hingga setelah sekian lama menangis akhirnya Abigail tertidur.


'Betapa malangnya nasibmu, Abi. Kau lahir di tengah-tengah keluarga yang tidak seperti teman-temanmu yang lain.' Batin Siti.


Wanita itupun mengangkat tubuh Abigail dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Keesokan harinya, Siti mendapatkan telepon dari nomor yang tak ia kenal.


"Halo?"


" ....."


"APA? Baik, saya akan kesana sekarang." Ucap Siti seraya memutuskan panggilan tersebut.


"Ada apa, Bu?" Tanya Abigail yang saat itu tengah sarapan.


"Ayo kita ke rumah sakit, Abi. Ayo,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...