Doctor's Second Love

Doctor's Second Love
DSL 13 - Mempermalukan Abigail



DSL 13-


Suara hentakan sepatu heels terdengar begitu nyaring di sepanjang jalan di dalam mall. Kaki jenjang yang sangat terlihat indah menjadi pemandangan setiap pasang mata yang melihat ke arahnya. Berjalan tegap, layaknya seorang peraga busana yang mampu menghipnotis semua netra yang menatap ke arahnya, terutama kaum Adam.


Tak ada senyuman, wajahnya yang cantik terlihat sangat arogan nan mewah. Apalagi bentuk tubuhnya yang merupakan idaman setiap wanita membuatnya semakin percaya diri jika dirinyalah wanita paling sempurna smdi jagad Raya ini.


Pamela Stevia Nasution. Putri sulung pemilik restoran terbesar yang bernama Nasution's Kitchen. Selain itu, dia juga pemilik dari butik terkenal yakni Stevia's Boutique yang sebagian besar costumernya merupakan seorang yang berasal dari kalangan atas, bahkan sampai pada pejabat dan juga artis. Ketenarannya membuat dirinya masuk menjadi salah satu dari deretan pengusaha wanita yang sukses di tanah air.


Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu berjalan cepat menuju salah satu restoran tempat kedua sahabatnya berada. Dengan menggunakan kacamata hitam membuat Pamela menjadi pusat perhatian dimanapun ia berada. Sesampainya di depan papan nama sebuah restoran, ia langsung masuk ke dalamnya. Kedua matanya mencari keberadaan sang sahabat di balik kaca hitam itu. Pandangan matanya terhenti saat melihat sesosok punggung seorang wanita yang sangat ia kenali. Kedua tangannya mengepal erat, diiringi suara gemeletuk giginya yang menahan gejolak jiwanya saat ini. Seakan lupa dengan tujuannya, ia melangkahkan kakinya menuju tempat dimana wanita itu berada. Namun, baru beberapa langkah ia dihentikan dengan sebuah tangan yang memegangi pergelangan tangan kirinya.


"Mel?" Suara familiar yang terdengar di rungu Pamela. Ia menghela napas, lalu berhenti dan melepaskan kacamata nya. Ia mengalihkan pandangannya pada sang sahabat.


"Hm,"


"Gue panggil-panggil malah tidak nyahut. Tunggu dulu, kita kesana dulu," ajak Vena. Pamela melihat kembali ke arah meja yang ditempati oleh wanita itu.


"Baiklah," ujar Pamela. Akhirnya keduanya pun pergi menuju meja tempat dimana Vena dan Laura berada. Ketiganya mulai berbincang disertai memperhatikan Abigail yang masih menikmati makan siangnya yang terlambat.


"Akhirnya kenyang juga," desah Abigail seraya diringu sebuah sendawa yang keluar dari mulut mungilnya. Ia merasa puas dengan menu yang ia pesan itu. Rasanya sangat kenyang, hingga membuatnya enggan untuk beranjak dari sana.


Setelah hampir satu jam berada di sana, membuat Abigail memutuskan untuk segera pulang. Apalagi mengingat hari yang semakin sore, membuat gadis itu tak mau sampai di rumahnya kemalaman. Abigail beranjak, sambil menenteng tas belanjaan nya, ia berjalan menuju kasir. Ia membayar semua tagihan mejanya.


"Terimakasih," ucap sang kasir kepada Abigail. Setelah gadis itu membayar. Abigail tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Lalu ia berbalik dan berjalan sambil sesekali menatap barang belanjaannya dengan perasaan senang. Namun, karena Abigail yang tidak memperhatikan jalannya, membuatnya menabrak seseorang hingga terjatuh.


Bruk


"Aduh," ucap Abigail refleks saat dirinya terjatuh bersamaan dengan semua barang belanjaannya. Karena merasa dirinya bersalah, membuat Abigail bergegas bangun dan meminta maaf kepada orang yang ia tabrak.


"Maaf, maafkan saya. Saya ti ...." Ucapan Abigail terhenti saat ia melihat siapa yang ia tabrak. Tubuhnya membeku, ia tak menyangka jika dirinya akan berjumpa dengan orang yang sangat ia hindari selam hidupnya itu.


"Ka-kamu," cicit Abigail. Tubuhnya refleks mundur, berusaha menghindar darinya. Akibat kejadian itu, membuat keduanya menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung di dalam restoran tersebut.


"Kenapa, Abigail? Lo terkejut melihat gue ada di sini, hah? Dasar, anak haram seperti dirimu tidak pantas berada di tempat seperti ini. Cocoknya Lo itu pergi ke pasar tradisional sana," kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Pamela nyatanya mampu menggores luka yang ada pada hatinya. Harga dirinya lagi-lagi disakiti oleh keluarga dari ayah kandung yang sangat ia benci itu. Tak mau menjadi bahan tontonan, membuat Abigail memutuskan untuk segera pergi dari sana. Namun bukan Pamela namanya jika ia membiarkan Abigail pergi begitu saja dari pandangannya tanpa memberinya sesuatu.


Bruk


Saat Abigail berjalan melewati Pamela, salah satu kaki Pamela menjigal langkah Abigail hingga membuat gadis berusia dua puluh tujuh tahun itu kembali terjatuh. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut Abigail selain helaan napas panjangnya. Ia berusaha bangkit, tapi terhenti saat merasakan sebuah cairan yang terjatuh mengenai kepala sampai di pakaian yang ia kenakan.


"Astaga, lihat itu."


"Betapa kasihan gadis itu,"


"Apa salah satu dari mereka adalah pelakor? Sekarang kan jamannya pelakor dimana-mana,"


Beberapa dari pengunjung disana mengomentari kejadian itu. Namun ada juga yang tampak acuh, karena sudah terbiasa dengan adegan seperti itu.


Malu, tentu Abigail sangat malu hingga setitik air mata mengalir dari sudut matanya tanpa bisa ia cegah. Ia menghapusnya, lalu berdiri tegak sambil mengambil barang-barang belanjaan nya yang berceceran. Dengan mengepalkan kedua tangannya, Abigail menguatkan diri dan memberanikan untuk menatap kearah Pamela.


"Sudah? Kalau sudah, buatkan aku pergi." Setelah mengatakan itu, Abigail kembali berjalan meninggalkan tempat itu. Pamela tersenyum tipis meski dalam hati ia sangat ingin menghabisi Abigail karena dendamnya yang sangat besar karena kehadiran Abigail dan ibunya membuat ayahnya berhianat. Menjalin hubungan gelap dengan ibu Abigail hingga membuat hidup mamanya menderita. Apalagi puncaknya kematian ayahnya, membuat dendam Pamela semakin membara. Setiap ia melihat Abigail, rasanya tangannya begitu gatal ingin mencekik leher Abigail hingga gadis itu bisa pergi meninggalkan dunia ini.


"Kau terlalu berharap tinggi padaku, ja Lang. Tidak akan aku biarkan kau pergi begitu saja," lirih Pamela. Lalu tanpa menunggu waktu lama, ia berbalik dan berteriak.


"Ja Lang murahan, wanita hina seperti mu tidak pantas menginjakkan kaki di tempat ini. Putri dari seorang pela cur tidak mempunyai tempat di dunia ini Kate tempat mu hanya ada di neraka." Suara keras dari Pamela seketika membuat langkah Abigail terhenti. Ia begitu syok, sampai tubuhnya langsung gemetaran. Apalagi beberapa dari pengunjung di sana mulai berbisik-bisik sambil menatap ke arahnya.


Pamela menyunggingkan senyum, rencana untuk mempermalukan Abigail berjalan lancar. Respon dari sekitarnya membuat Pamela menjadi yakin jika perlakuannya itu mampu menurunkan harga diri Abigail. Sedangkan Abigail, ia merasa sangat malu karena hinaan itu di dengarkan oleh semua pasang telinga disana. Ia juga sangat marah, ibunya yang tidak bersalah menjadi kambing hitam Pamela.


Abigail berbalik, ia menatap tajam ke arah kakak tirinya itu. Kini baik Abigail dan Pamela saling bertatapan seakan mampu menusuk ke dalam jantung masing-masing.


"Jangan pernah bawa-bawa ibuku dalam masalah ini. Baji ngan itulah yang menjerat dan membuat ibuku jatuh dalam tipuannya. Camkan itu," desis Abigail seraya mengangkat tangan kanan dan menunjuk ke arah tepat di depan wajah Pamela. Wanita itu mengepalkan tangan, merasa jika Abigail mulai memiliki keberanian untuk melawannya.


"Memang ibumu lah yang bersalah, ja Lang kecil. Jika kau tidak hadir dalam hidup ini, ayahku tidak mungkin pergi meninggalkan ibuku dan mati sia-sia bersama wanita murahan itu," geram Pamela semakin membara kepada Abigail. Perlawanan Abigail membuat darah dalam diri Pamela mendidih.


"Ternyata mereka saudara,"


"Anak pe lacur? Astaga, memalukan."


"Jika aku jadi dia, aku akan bunuh diri karena malu."


Karena tidak kuat mendengar desas-desus tentang dirinya yang dilontarkan oleh para pengunjung, membuat Abigail memilih untuk berlari meninggalkan tempat itu. Senyum puas terlihat jelas pada Pamela. Tak ingin ketinggalan, ia memilih untuk pergi menyusul Abigail karena ia masih belum puas sebelum ia benar-benar memberi Abigail pelajaran.


"Awas kau, Abigail."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Visual Pamela Stevia Nasution :