Doctor's Second Love

Doctor's Second Love
DSL 16 - Kesedihan Alice



DSL 16 - Kesedihan Alice


Sinar matahari mulai menyingsing, beberapa anak-anak mulai datang dan berlarian masuk ke dalam area Taman kanak-kanak Cinta Bunda.


Tawa canda terlihat di wajah polos para murid. Mereka begitu bahagia bisa bermain bersama, bercanda bersama, menikmati waktu kecil mereka di tempat nyaman seperti disana. Tak ada guratan kesedihan ataupun beban di wajah mereka. Di usia mereka inilah saat-saat yang sangat menggembirakan. Belajar, bermain, mereka nikmati sepanjang hari tanpa ada yang bisa menghentikannya.


Namun diantara mereka, ada seorang anak yang terlihat murung meski di sekelilingnya begitu bising dengan tawa riang teman sebayanya. Seolah tak ada lagi hasrat di dirinya untuk menikmati hari bersama seluruh teman-temannya. Kedua sudut bibirnya melengkung ke bawah, begitu sedih hingga menarik salah satu temannya yang tengah bermain.


"Alice? Alice?" Panggil seorang anak perempuan. Gadis ke il tampak berlarian menuju temannya yang tengah duduk sendirian di bangku taman.


"I-iya?" Jawab Alice tergagap. Ia langsung tersadar dari lamunannya. Meski raganya berada di sana, tapi pikirannya melayang memikirkan gurunya, Miss Abigail yang tiba-tiba saja tidak masuk hari ini. Ia memikirkan gurunya yang mendadak sakit padahal kemarin keduanya telah sepakat untuk bermain dan makan siang bersama. Sejak mendengar kabar Miss Abigail tidak masuk, wajah Alice langsung berubah murung. Sinar keceriaan yang biasanya terpancar di wajahnya menghilang entah kemana.


"Kamu kenapa, Alice?" Tanya Sabrina. Gadis manis berambut panjang nan hitam itu menghampiri Alice. Raut wajahnya tampak khawatir melihat temannya yang murung sepanjang hari.


"Aku sedih, Na." Jawab Alice.


"Apa yang membuatmu sedih? Ayo kita bermain bersama yang lain," ajak Sabrina. Ia ingin mengajak Alice bermain agar kesedihan di wajah Alice hilang.


Tampak Alice menggelengkan kepala, tanda ia tidak menginginkan ajakan dari Sabrina.


"Tidak, Na. Aku tidak ingin bermain sekarang. Aku sedang memikirkan Miss Abigail. Aku kangen dengannya, tapi Miss Abigail tidak masuk sekolah," ujar Alice sambil menundukkan kepala. Hatinya begitu sedih, sampai ia tidak bisa memikirkan apapun selain guru kesayangannya itu.


"Oh, Miss Abigail. Kalau begitu nanti kamu datang saja ke rumah Miss Abigail kalau kita sudah pulang sekolah. Gimana? Minta dianterin Sus kamu aja. Lagipula sebentar lagi kita akan masuk kelas, Alice. Kata Mamaku, kita tidak boleh bersedih kalau sedang belajar, nanti kita tidak bisa pintar." Sahut Sabrina dengan tersenyum. Ia ia bagaimana Mamanya selalu menasehati jika saat belajar dirinya harus dalam keadaan bahagia dan bersemangat, agar apa yang dipelajarinya bisa diterima oleh otaknya.


Alice tampak diam mendengar perkataan dari temannya itu. Karena kesedihan yang dirasakan, membuat ia tidak bisa berpikir jernih. Seketika sebuah ide muncul di benaknya. Bersamaan dengan hal itu, seutas senyum tercipta di kedua bibir mungilnya. Sabrina yang melihat itu sontak mengeryitkan dahi.


"Ada apa, Alice? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Sabrina khawatir. Dengan semangat Alice menganggukkan kepala.


"Iya, Sabrina. Aku baik-baik saja. Aku punya ide," jawab Alice disertai senyum merekahnya. Tak lama setelah itu, terdengar suara lonceng tanda masuk kelas. Alice dan Sabrina bergegas masuk ke kelas bersamaan dengan teman-teman yang lainnya.


"Grandma! Grandma!" Teriak Alice setibanya di rumah. Sejak turun dari mobil, gadis cantik itu berlarian menuju ke rumah diikuti Suster Lani di belakangnya. Suster yang mengikuti sampai terengah-engah karena tubuhnya yang besar hingga membuatnya gampang lelah jika diajak berlarian dengan majikan kecilnya.


"Grandma! Grandma dimana?" Teriak Alice seraya berlari kesana kemari mencari keberadaan sang Grandma.


"Grandma, ayo anterin Alice ke tempat Miss Abigail, Grandma. Hari ini Miss Abigail tidak masuk sekolah. Ayo, Grandma," rengek Alice seraya menarik-narik ujung pakaian Grandma nya.


Stella yang baru saja ingin mendudukkan bo kongnya sampai sedikit terhuyung karena tarikan sang cucu. Ia sangat heran dengan tingkah Alice yang sangat heboh ingin mendatangi rumah guru ajarnya.


"Sebentar, sebentar. Ini ada apa Sus?" Tanya Stella. Ia ingin mengetahui dengan jelas kenapa cucu kesayangannya itu sangat heboh sepulang dari sekolah. Apalagi guratan kesedihan tercetak jelas di wajah cantik Alice membuat Stella ikut khawatir.


"Ini, Nyonya. Hari ini Miss Abigail tidak masuk sekolah karena sakit. Maka dari itu, membuat Non Alice sedih sepanjang hari. Sejak dari sekolah terus merengek ingin pergi ke rumah Miss Abigail," jawab Suster Lani menjelaskan kepada majikannya itu. Terdengar helaan napas dari Stella. Entah mengapa sejak awal sekolah cucunya itu sangat menyukai gurunya yang bernama Abigail. Ada rasa penasaran di diri Stella, kenapa bisa Alice dengan mudah menyukai guru itu sedangkan Alice susah untuk di dekati.


"Ayo, Grandma. Hm? Ya ya ya?" Ujar Alice seraya menatap Grandma nya dengan penuh harap. Ia begitu khawatir dengan kondisi sang guru.


"Kenapa tidak tunggu sampai besok, Sayang? Pasti besok Miss Abigail sudah masuk sekolah. Lagipula kita kan tidak tahu dimana alamat rumahnya. Memangnya Alice tahu dimana?" Tanya Stella lembut. Mendengar ucapan tersebut membuat Alice menundukkan kepala. Ia baru sadar jika dirinya tidak mengetahui dimana alamat rumah gurunya itu. Lalu bagaimana ia bisa mendatangi rumahnya? Alice kembali sedih.


Stella lagi-lagi hanya bisa menghela napas. Sang cucu kembali murung, menjadi tidak bersemangat seperti biasanya. Ia menatap Suster Lani, tapi Suster Lani tampak menggelengkan kepala tanda bingung bagaimana caranya untuk bisa membujuk si kecil Alice.


"Alice?"


Suara berat terdengar jelas di telinga ketiganya. Mereka menoleh, tampak Adam yang baru pulang dari kantornya. Terlihat jelas tas kantornya yang ia jinjing di tangan kirinya. Laki-laki gagah meski telah berusia lanjut itu nampak mengeryitkan dahi melihat istri dan cucunya yang terlihat tidak ceria seperti biasa.


"Grandpa," dengan cepat Alice berlarian kepada Adam seraya merentangkan kedua tangan. Adam seketika berjongkok dan tersenyum memyambut sang cucu.


"Halo, Sayang. Bagaimana sekolahmu hari ini, hm? Apakah menyenangkan?" Tanya Adam kepada gadis kecil itu. Alice bungkam seraya menyembunyikan wajahnya di dada sang Grandpa. Adam melemparkan tatapan kepada sang istri, tapi Stella hanya menjawab dengan gelengan kepala. Adam pun membawa tubuh kecil itu duduk di samping sang istri. Dengan mengelus rambut lembut Alice, Adam menanyakan apa yang terjadi kepadanya.


"Kenapa murung, Sayang? Ada yang jahil denganmu di sekolah? Ngomong sama Grandpa, nanti biar Grandpa marahin,'' ucap Adam kepada Alice. Alice tampak menggeleng, lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah sang Grandpa.


"Alice ingin ke rumah Miss Abigail, Grandpa. Hari ini Miss Abigail tidak masuk sekolah. Kata Miss Rindu, Miss Abigail sakit. Alice ingin menjenguknya," ujar Alice mengadu. Apalagi ia tahu jika gurunya itu hidup sebatang kara, oleh karena itu Alice ingin mendatanginya.


"Nanti, ya. Alice bilang dulu sama Papa, Oke? Tunggu Papa pulang, ya? Ucap Adam menasehati Alice. Terdengar helaan napas panjang dari mulut mungil Alice. Adam dan Stella hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.


"Iya, Grandpa."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...